Oleh: museumku | 3 Februari 2015

Museum Batu Alam Berdiri di Aceh

AlamKOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Kepala Museum Giok Aceh Muhammad Usman memamerkan koleksi batu alam asal Aceh miliknya sebelum acara pembukaan perdana Museum Giok Aceh di Banda Aceh, Sabtu (31/1). Museum itu didirikan pengusaha batu alam yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Batu Aceh.

Merespons fenomena batu alam di Aceh, sejumlah pengusaha batu alam mendirikan Museum Giok Aceh di Banda Aceh. Museum itu bertujuan memberikan informasi dan promosi tentang batu alam asal Aceh, baik kepada masyarakat lokal maupun wisatawan.

Kepala Museum Giok Aceh dan Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Aceh (APBA) Muhammad Usman ketika pembukaan perdana Museum Giok Aceh di Banda Aceh, Sabtu (31/1), mengatakan, museum itu adalah museum giok atau batu alam pertama di Aceh. ”Museum ini berdiri atas inisiatif sejumlah pengusaha batu alam, yang tergabung dalam APBA,” ujarnya.

Usman mengatakan, Museum Giok berdiri karena melihat fenomena batu alam di Aceh dalam setahun ini. Batu alam asal Aceh diminati, baik oleh masyarakat lokal maupun luar Aceh. Namun, kebanyakan batu itu dibawa atau dijual ke luar Aceh. Kondisi ini dinilai membuat keberadaan batu alam Aceh semakin langka.

Selain itu, banyak masyarakat lokal yang belum tahu mengenai jenis batu alam di Aceh. ”Oleh karena itu, kami mendirikan museum ini untuk menjadi media edukasi, sosialisasi, dan promosi mengenai batu-batuan Aceh kepada masyarakat lokal ataupun wisatawan,” ucapnya.

Museum Giok dibangun di rumah toko (ruko) dua pintu dan berlantai lima, di lahan seluas 150 meter persegi di Jalan Khairil Anwar, Peunayong, Banda Aceh. Museum memiliki ruang pamer, film dokumenter, konsultasi, dan galeri seni.

Di ruang pamer, pengunjung bisa melihat berton-ton bahan mentah dan ribuan butir bahan jadi batu alam Aceh beragam jenis, antara lain naphrite jade hijau, hitam, putih, idocrase solar, lumut, neon, dan akik sulaiman.

Setiap batu memiliki keterangan mengenai asal, kandungan mineral, dan tingkat kekerasan. ”Batu-batu ini dari delapan kabupaten dan kota di Aceh. Ke depan, kami akan melengkapi koleksi batu di sini dari semua wilayah Aceh,” kata Usman.

Museum berdaya tampung 500-1.000 orang per hari. Pengunjung dikenai retribusi Rp 25.000 per orang.

Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh Nasrul Sufi mengemukakan, batu alam Aceh memang sangat dimintai masyarakat dari luar Aceh dan wisatawan yang ke Aceh. Permintaan batu alam Aceh lebih banyak dari luar Aceh dibandingkan dari lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi mengatakan, batu alam menjadi ikon wisata baru Aceh. (DRI)

(Sumber: Kompas, Senin, 1 Februari 2015)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: