Oleh: museumku | 12 November 2010

Museum Toyota: Wisata Intelektual yang Menginspirasi Spirit

KOMPAS, Rabu, 10 Nov 2010 – “Semangat atau dorongan untuk rajin dan kreatif menghasilkan banyak penemuan, yang pada akhirnya memprakarsai atau menjadi awal mula terjadinya modernisasi industri di Jepang”, demikian pesan yang ditulis oleh Sakichi Toyoda yang dikutip dari buku Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology.

Lelaki kelahiran 14 Februari 1867, di Desa Kosai, Shizuoka, ini datang dari keluarga yang sangat sederhana. Sakichi Toyoda adalah anak dari seorang tukang kayu yang miskin, namun tak pernah berhenti untuk berkarya dan berkreasi.

Kini Sakichi Toyoda dikenal sebagai penemu dan industrialis Jepang yang ikut mendirikan Toyota Industries. Keinginan yang keras untuk terus mengembangkan industri mesin menjadikan lelaki ini dikenal sebagai Bapak Revolusi industri Jepang. Julukannya adalah Raja Penemu dari Jepang. Toyoda menciptakan berbagai jenis mesin tenun. Penemuannya yang paling terkenal adalah mesin tenun sistem otomatis (Jidoka) yang dapat berhenti sendiri bila terjadi gangguan teknis. Sistem Jidoka ini yang nantinya dijadikan bagian dari sistem produksi yang disebut sistem produksi Toyota.

Perjalanan panjang mengenai semangat dan inovasi generasi keluarga Toyoda hingga menjadi inisiator terjadinya modernisasi industri di Jepang tergambar secara apik, runut, dan komunikatif di Commemorative Museum of Industry and Technology, di Nagoya, Jepang.

Siapa pun yang mengunjungi museum ini akan merasakan diorama itu bukan hanya sekadar mengenalkan perjalanan panjang keluarga Toyoda dalam mengembangkan teknologi dari mesin tenun paling sederhana hingga ke industri otomotif dan robot yang paling mutakhir. Namun menginspirasi siapa pun yang datang untuk memahami sebuah proses belajar yang panjang dan tidak pernah berhenti.

Toyoda secara apik mengajarkan kepada siapa pun bahwa sesuatu yang sederhana bukan tidak mungkin menjadi awal lahirnya sesuatu yang luar biasa. Toyoda membuktikan filosofi itu. Bagaimana sebuah mesin tenun yang berawal dari kayu mampu dikembangkan menjadi sebuah produk dengan teknologi mesin yang paling modern. Bahkan dari sebuah produk yang sederhana itulah pada akhirnya lahir sebuah industri robot yang mampu memainkan flute.


Perjalanan panjang

Tak ada salahnya jika bepergian ke Jepang, sempatkanlah untuk mampir ke Noritake Shinmachi 4-Chome Nishi-ku, Nagoya. Nikmati sebuah sejarah panjang seorang pekerja keras dari keluarga miskin dengan tekad dan kemauan yang besar.

Kompas yang berkunjung ke museum itu atas undangan Toyota Astra Motor dan Toyota Motor Corp (TMC), pada awal November 2010, memotret jejak sejarah panjang Toyota yang terukir dalam bentuk diorama. Di sana tergambar bagaimana transisi TMC sebagai perusahaan dan transisi dalam pengembangan teknologi dari waktu ke waktu terjadi.

Begitu kita masuk ke dalam museum langsung terlihat mesin tenun (circular loom). Mesin itu memberikan petunjuk di sana pendiri Toyota, yaitu Sakichi Toyoda memulai hidupnya dalam pergulatan industri mesin tenun. Toyoda secara terus-menerus melakukan inovasi untuk membuat perajin tenun menjadi lebih nyaman. Lelaki ini berpikir untuk menghasilkan mesin yang lebih baik. Toyoda berupaya keras merancang bangun mesin tenun.

Dalam usianya yang masih belia (23), Toyoda berhasil membangun dan mengembangkan mesin tenun dari kayu. Namun untuk menggerakkannya masih menggunakan tangan perajin. Mesin ini dikenal sebagai wooden hand loom.

Tahun 1896, Toyoda berhasil mengembangkan mesin tenun itu menjadi power loom. Mesin ini kemudian dikembangkan lagi menjadi circular loom. Pada tahun 1924, Toyoda melakukan inovasi dan berhasil mengembangkan mesin tenun automatic power loom. Tahun 1926, Toyoda mendirikan Toyota Automatic Loom Works Ltd yang menjadi cikal bakal Toyota Industries Corporation (TIC). Tahun 1929, Toyoda menjual paten Automatic Loom ke perusahaan Inggris, Platt Brothers & Co.

Berhasil di mesin tenun, Toyoda tertarik masuk ke pengembangan mesin kendaraan. Pada tahun 1923 dia mendirikan divisi pabrik mobil dalam perusahaannya, TIC. Dalam waktu setahun (1934), divisi ini berhasil merancang bangun mesin mobil pertamanya secara utuh. Pada tahun 1935, Toyoda meluncurkan prototipe sedan pertama (A-1) dan prototipe truk (G-1). Tahun 1937, divisi automobile dipisahkan dari TIC dan mendirikan perusahaan baru Toyota Motor Co Ltd yang sekarang dikenal sebagai TMC.

Semangat Sakichi Toyoda untuk terus berkreasi dalam industri tergambar jelas dalam rangkaian cerita di museum tersebut. Bagaimana Sakichi Toyoda secara kontinu terus dijaga dan diwariskan ke generasi penerus sampai sekarang. Semangat itu tergambar secara jelas.

Bagaimana Sakichi Toyoda meletakkan seperangkat prinsip yang selalu menjadi petunjuk kepada generasi penerus bagaimana mereka harus bekerja. Prinsip itulah yang akhirnya oleh dunia dikenal sebagai “Toyota Way” Intinya adalah respect for people and continuous improvement.

Ternyata museum bisa menjadi menarik dan bukan sekadar kumpulan naskah, arca, ataupun benda-benda kuno yang menakutkan dan tidak komunikatif. Toyota membuktikan bahwa museum bisa menjadi sebuah wisata pengetahuan dan mampu membangkitkan spirit baru bagi para pengunjungnya. “Commemorative Museum” mampu menginspirasi pengunjungnya mengenai arti dari hasil sebuah kerja keras.(BANU ASTONO)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: