Oleh: museumku | 28 Juli 2012

Serpihan: Konsepsi Pameran

An exhibition is in itself an object fraught with cultural meaning and embodying a series of choices and reinterpretation that have as much to do with the mind of the designer as with the artefacts on display

Mengamati secara dekat penggunaan media pameran yang dapat kita nikmati sekarang merupakan bentuk evolusi yang panjang yang dilalui oleh museum-museum. Jika kita cermati bentuk pameran hingga ke masa sekarang, akan tampak bentuk penyajian yang tidak lepas dari perjalanan sejarah. Gambaran yang ditampilkan sangat terkait dengan latar belakang keilmuan dari materi yang dipamerkan.

Umumnya terbagi atas gaya pameran yang dikenal dengan metode in vitro, yaitu fungsi keingintahuan terhadap koleksi yang berpola dasar pada benda langka yang tidak tergantikan. Kedua adalah pertanyaan terhadap keaslian benda dan rasa ingin menyentuh langsung terhadap objek yang dipamerkan dengan prinsip in vivo, yang sebenarnya bertentangan dengan cara penyajian yang melindungi benda agar tidak terjamah. Selanjutnya yang paling menarik perhatian adalah pendekatan in situ, yaitu membawa pengunjung kepada tempat dan tata letak benda yang ingin dilihatnya secara leluasa.

Gambaran tentang bagaimana cara orang melihat suatu pameran dalam perjalanannya sangat dipengaruhi oleh penemuan-penemuan baru di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Metode penyajiannya mengikuti upaya-upaya ilmu pengetahuan itu disampaikan.

Lambat laun perubahan dalam konsepsi pameran tidak saja terpaku pada hal-hal yang berbau saintifik, tetapi juga pertimbangan estetika dan praktikal di dalam menyajikan materi pameran, terutama keterlibatan desainer pameran yang profesional serta peran kurator di dalam mengembangkan tema dan pesan yang akan disampaikan baik secara saintifik maupun inovatif, disamping pengunjung melihat dan bergerak, juga dapat menyentuh, mendengar, mencium, dan bahkan merasakan.

Hal ini sekarang jelas menjadi kenyataan bahwa apa yang dilihat adalah suatu yang kosong karena keterbatasan pada pengetahuan terhadap apa yang dilihat. Oleh sebab itu, permasalahan ini perlu dicarikan pencerahan tentang bagaimana bentuk dan peran komunikasi yang tepat yang dapat membantu membangun hubungan yang timbal balik dengan masyarakat luas yang datang berkunjung ke museum. (Yunus Arbi)

*Pernah dimuat dalam Museografia edisi Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori