Oleh: museumku | 3 Februari 2012

Konsep Penyajian Museum (Bagian 2)

Tim Penulis:

• Yunus Arbi
• Kresno Yulianto
• R. Tjahjopurnomo
• M Ridwan Abdulroni Kosim
• Osrifoel Oesman
• Sukasno


Bab II Kebijakan Permuseuman Indonesia

Dalam rangka penyusunan naskah Konsep Penyajian Museum bagi ke 30 museum yang akan direvitalisasi fisik pada tahun ini, perlu dilakukan evaluasi dan telaah terhadap dokumen proposal revitalisasi fisik museum 2011 yang telah diajukan oleh masing-masing Museum (tabel 1 lampiran). Ketigapuluh museum terdiri atas 21 museum umum dan 9 museum khusus.

Pemerintah sudah dari awal kemerdekaan telah menempatkan museum sebagai salah satu institusi penting dalam pembangunan kebudayaan bangsa. Museum didirikan adalah untuk kepentingan pelestarian warisan budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa, dan juga sebagai sarana pendidikan nonformal, oleh karena itu pemerintah menganggap bahwa museum itu menjadi urusan yang perlu ditangani pembinaan, pengarahan, dan pengembangannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan politik, sosial dan ekonomi di bidang kebudayaan. Oleh karena itu, dari museum-museum di Indonesia diharapkan dapat terlaksana kegiatan fungsional yang khas bagi museum sebagai lembaga social cultural edukatif, yakni sebagai suaka peninggalan sejarah perkembangan alam, manusia dan kebudayaan, sebagai pusat dokumentasi dan informasi, sebagai pusat studi dan rekreasi, yang melayani kepentingan-kepentingan lingkungan sosial budayanya bagi usaha-usaha pencerdasan kehidupan bangsa dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Kebijakan permuseuman Indonesia berpangkal dari kebijakan nasional dan penyesuaian dengan kebijakan internasional (International Council of Museums). Keduanya tidak bersifat kontradiktif, akan tetapi saling mengisi, sesuai dengan tujuan hidup bernegara antartetangga. Walaupun demikian, dalam hubungan kerja sama internasional, maka kepentingan nasional selalu harus lebih didahulukan.


2.1. Landasan Kebijakan

Pemerintah sudah dari awal kemerdekaan telah menempatkan museum sebagai salah satu institusi penting dalam pembangunan kebudayaan bangsa. Museum didirikan adalah untuk kepentingan pelestarian warisan budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa, dan juga sebagai sarana pendidikan nonformal, oleh karena itu pemerintah menganggap bahwa museum itu menjadi urusan yang perlu ditangani pembinaan, pengarahan, dan pengembangannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan politik, sosial dan ekonomi di bidang kebudayaan. Oleh karena itu, dari museum-museum di Indonesia diharapkan dapat terlaksana kegiatan fungsional yang khas bagi museum sebagai lembaga social cultural edukatif, yakni sebagai suaka peninggalan sejarah perkembangan alam, manusia dan kebudayaan, sebagai pusat dokumentasi dan informasi, sebagai pusat studi dan rekreasi, yang melayani kepentingan-kepentingan lingkungan sosial budayanya bagi usaha-usaha pencerdasan kehidupan bangsa dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Kebijakan permuseuman Indonesia berpangkal dari kebijakan nasional dan penyesuaian dengan kebijakan internasional (International Council of Museums). Keduanya tidak bersifat kontradiktif, akan tetapi saling mengisi, sesuai dengan tujuan hidup bernegara antartetangga. Walaupun demikian, dalam hubungan kerja sama internasional, maka kepentingan nasional selalu harus lebih didahulukan.


Tiga landasan kebijakan yang diambil pemerintah yaitu:


1. Landasan Ideal

Landasan ideal permuseuman Indonesia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari landasan ideal pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, yaitu Pancasila.


2. Landasan Konstitutional

a. Undang-Undang Dasar !945 pasal 31:
(1) Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran.
(2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur oleh undang-undang.

b. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32:
Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini mengandung arti seperti tersebut dalam penjelasan pasalnya, yaitu “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Pasal 18 (2):
Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, atau struktur yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau yang bukan cagar budaya, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Dalam penjelasan disebutkan, bahwa oleh karena itu, kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus dilestarikan guna memperkukuh jati diri bangsa, mempertinggi harkat dan martabat bangsa, serta memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi terwujudnya cita-cita bangsa pada masa depan.

Kebudayaan Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur harus dilestarikan guna memperkuat pengamalan Pancasila, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa dan kebanggaan nasional, memperkukuh persatuan bangga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai arah kehidupan bangsa.


3. Landasan Operasional

a. Nilai budaya Indonesia, yang mencerminkan nilai luhur bangsa harus dibina dan dikembangkan untuk memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional, serta memperkokoh jiwa kesatuan.

b. Kebudayaan nasional terus dibina dan diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian bangsa yang berlandaskan Pancasila.

c. Dengan timbulnya kebudayaan bangsa yang berkepribadian dan berkesadaran nasional, sekaligus dapat dicegah nilai-nilai sosial budaya yang bersifat feodal dan kedaerahan yang sempit, serta ditanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang negatif, sedang dilain pihak ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk menyaring dan menyerap nilai-nilai dari luar yang positif, yang memang diperlukan bagi pembaharuan dalam proses pembangunan.

d. Usaha-usaha pembauran bangsa perlu lebih ditingkatkan di segala bidang kehidupan, baik di bidang ekonomi maupun sosial budaya, dalam rangka usaha memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta memantapkan ketahanan nasional.

e. Tradisi dan peninggalan sejarah yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggaan, serta kemanfaatan nasional, tetap dipelihara dan dibina untuk memupuk, memperkaya, dan memberi corak khas kepada kebudayaan nasional.

Direktorat Museum, dewasa ini dengan selalu mengacu pada pokok-pokok pemikiran di atas, telah menetapkan tiga pilar utama yang dijadikan kebijakan dalam rangka kegiatan operasional museum, yaitu:

1. Mencerdaskan bangsa
2. Kepribadian bangsa
3. Ketahanan nasional dan wawasan nusantara.


2.2. Kebijakan Penyajian atau Pameran

Pada 1980 pemerintah mengelompokan museum menjadi dua kelompok, yaitu museum umum dan museum khusus. Sejauh ini penyajian koleksi dikelompokan berdasarkan kepada jenis koleksinya. Dengan perkataan lain, museum umum adalah museum yang memiliki berbagai cabang ilmu, sedangkan museum khusus adalah museum yang hanya memiliki satu cabang ilmu.

Dalam implementasi kebijakan, peran museum sebagai tempat untuk melestarikan warisan sejarah alam dan budaya bangsa, diwujudkan dengan pendirian museum-museum umum di setiap ibukota provinsi di Indonesia. Sementara jenis museum khusus didirikan museum-museum khusus yang menggambarkan sejarah perjuangan bangsa, yang terkait dengan jenis koleksi tertentu dan yang mewakili cabang jenis ilmu tertentu.

Penyajian di museum harus melalui sebuah kajian yang matang dan juga perencanaan yang matang pula, dengan selalu berlandaskan pada tiga pilar kebijakan permuseuman Indonesia, yaitu pertama mencerdaskan bangsa; kedua kepribadian bangsa; dan ketiga ketahanan nasional dan wawasan nusantara. Tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitan kegiatan penyajian museum adalah:

1. Faktor pengunjung museum
2. Faktor kebijakan dan perencanaan
3. Faktor metode penyajiannya

Fungsi pokok museum terhadap pengunjung adalah berkomunikasi. Dasar utama dari komunikasi museum adalah filsafat dasar atau dasar ideal masing-masing museum. Filsafat dasar setiap museum berhubungan dengan tujuan museum itu didirikan dan jenis koleksi diantara berbagai museum merupakan petunjuk akan persamaan filsafat dasar.

Semestinya hubungan antara museum dengan pengunjung harus diartikan sebagai komunikasi. Museum dan koleksinya dapat dianggap sebagai komunikator. Komunikator adalah orang yang menguasai bahan dan data informasi tentang koleksi museum, umumnya disebut kurator museum. Pameran pun dapat dianggap sebagai media komunikasi, yaitu yang menyampaikan cerita atau riwayat dengan koleksi sebagai mata rantai skenario. Pengunjung museum dapat dianggap sebagai komunikan, yaitu yang melihat pameran koleksi itu.

Pameran merupakan cara yang efektif bagi museum untuk berkomunikasi dengan pengunjung. Setiap penyelenggaraan pameran, selalu diawali dengan sebuah gagasan besar tentang apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Gagasan kemudian diwujudkan dengan menyajikan berbagai koleksi yang dilengkapi dengan teks, gambar, foto, ilustasi dan pendukung lainnya Perencanaan pameran merupakan faktor penting untuk menentukan strategi kerja dan tahapan pelaksanaan hingga evaluasi, serta dibutuhkan keterlibatan banyak pihak dan keahlian dan ketrampilan khusus bagi yang terlibat di dalamnya.

Pameran juga bermakna untuk menyampaikan misi museum kepada pengunjung. Pemilihan koleksi, tema-tema pameran yang diangkat, program pendukung serta informasi dan interpretasi yang disampaikan merupakan gambaran keunikan dan kekhasan museum atau tempat diselenggarakan pameran. Sementara masyarakat turut berperan dan ikut menentukan apakah pameran tersebut mampu menyentuh, menarik, komunikatif, akrab dengan pemahaman mereka. Pameran adalah inti dari pengalaman yang ditawarkan museum kepada masyarakat. Setiap museum mempunyai karakteristiknya masing-masing, dan melalui pamerannya, museum dapat merefleksikan karakteristik tersebut melalui isi, gaya, dan cara pengungkapan. Terlepas dari jenis museum tempat pameran itu berada atau jenis informasi yang disampaikan di dalamnya, pameran museum memiliki tiga prinsip yang bersifat universal, yaitu:

1. Fungsi utama dari pameran adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu.
2. Pameran adalah media untuk berkomunikasi.
3. Pameran merupakan suatu pengalaman, bukan produk

Sejak pertengahan tahun 1970-an di beberapa negara di Eropa, kajian tentang hubungan permuseuman dengan publik mulai banyak dilakukan. Pergeseran paradigma museum dari sebuah “gudang benda purbakala” menjadi berorientasi ke publik pengunjung terjadi pada akhir dekade 90-an. Pergeseran ini mulai terjadi di Eropa dan Amerika dan lambat laun mempengaruhi Asia. Di Indonesia, pengelolaan museum yang semula berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini berada dalam naungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Berkaitan dengan itu, museum dimotivasi untuk melakukan pembenahan diri dengan mengarahkan fungsinya sebagai tempat wisata budaya. Kehadiran museum-museum ini telah meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai ruang pembelajaran yang tidak terikat (free choice learning) dan sekaligus sebagai ruang rekreasi.

Tentang kajian publik dalam kaitannya dengan museum bukan hal yang aneh mengingat bahwa koleksi museum merupakan potensi sumberdaya budaya yang harus memberi manfaat kepada publik. Koleksi museum yang merupakan salah satu potensi arkeologi publik harus bisa memberi manfaat bagi semua pihak. Pihak yang dimaksud di sini mencakup pemerintah, dunia ilmu dan masyarakat secara umum.

Museum pada dasarnya adalah suatu badan pembina budaya yang fungsi pelayanan masyarakatnya amat menonjol. Insititusi museum tugas utamanya adalah menyimpan, merawat, dan memamerkan benda-benda warisan budaya. Secara tegas International Council of Museum (ICOM) mendefinisikan bahwa museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum yang berfungsi mengumpulkan, merawat, mengkomunikasikan dan memamerkan, untuk tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, bukti-bukti material dan nonmaterial manusia dan lingkungannya.

Sebagai lembaga pelestarian benda-benda budaya, dengan demikian museum tidak saja berfungsi sebagai pusat informasi, namun sekaligus sebagai media pendidikan yang memberikan layanan edukatif-kultural bagi masyarakat luas. Oleh karena itu maka sarana pelayanan masyarakatnya yang utama adalah sistem pengelolaan yang baik dengan pusat perhatian pada pertama, registrasi dan inventarisasi koleksi yang sistematis serta mudah ditelusuri dan dirujuk silang, kedua, teknik dan metode perawatan yang dapat diandalkan dan ketiga, program pameran yang terarah sesuai dengan tujuan-tujuan yang harus ditetapkan untuk kurun-kurun waktu tertentu.

Melalui paparan itu terlihat hubungan fungsional yang akrab antara tenaga pengelola museum dengan koleksi museum. Baik yang menyangkut kegiatan pengumpulan, registrasi, katalogisasi, studi dan riset, perawatan, perbaikan dan kegiatan presentasi dan pameran koleksi, maupun yang berkaitan dengan berbagai cara pemberian informasi kepada publik museum. Sementara itu ada lagi masalah penting yang perlu mendapat kajian mendalam yakni hubungan antara koleksi museum dengan publik. Misalnya bagaimana cara yang tepat dalam mengkomunikasikan koleksi museum terhadap publik sehingga mereka apresiatif terhadap museum.

Masalah inilah yang masih kurang banyak dikaji. Padahal salah satu tugas yang diemban museum adalah mengkomunikasikan koleksi kepada publik. Hubungan dengan publik yang dimaksud di sini tidak melulu dengan pengunjung, tetapi juga segenap stakeholder museum.

Museum adalah salah satu elemen yang menyimpan warisan budaya yang menghubungkan manusia dari masa lalu ke masa kini. Warisan budaya tersebut adalah bukti peradaban manusia yang telah melewati sebuah proses sosial hingga terletak di museum, dan akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah. Oleh karena itu koleksi museum harus dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang memuat berbagai nilai dan makna dari peradaban manusia tersebut. Jika pesan yang disampaikan belum dapat diterima publik, maka misi museum sebagai pusat informasi budaya dapat dikatakan belum sepenuhnya terwujud. Dengan demikian hubungan antara pengelola museum (creator), koleksi (sumber informasi) dan pengunjung (user) harus dapat dijalin secara berkesinambungan (sustainable).

Berdasarkan pengertian dan jangka waktu pelaksanaan, serta jenis dan sifatnya pameran museum dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Pameran tetap, ialah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya selama tiga tahun. Tema pameran sesuai dengan visi dan misi museum. Idealnya koleksi yang disajikan di ruang pameran tetap adalah 25 sampai dengan 40 persen dari koleksi yang dimiliki museum. Pameran tetap yang sudah berusia lima tahun dapat direnovasi, dengan tujuan untuk meningkatkan cara penyajian koleksi dengan sistematika penyajian yang lebih disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman, serta yang lebih memberikan informasi kepada pengunjung.

2. Pameran khusus atau pameran temporer, ialah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu antara satu minggu sampai dengan tiga bulan, dengan mengambil tema khusus, dengan tujuan untuk mengundang lebih banyak pengunjung ke museum, dan untuk mengenal, serta menghayati jenis koleksi yang disajikan.

3. Pameran keliling, ialah pameran yang diselenggarakan di luar museum pemilik koleksi dalam jangka waktu tertentu, dengan tema khusus, dan bertujuan untuk memperkenalkan suatu khasanah budaya daerah yang satu kepada daerah lainnya, sehingga memperoleh hubungan antar suku bangsa atau budaya.

(Lihat Bagian 3)

Iklan

Responses

  1. […] (Lihat Bagian 2) Like this:SukaBe the first to like this post. […]

  2. buku ini di jual gak ya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: