Oleh: museumku | 11 September 2010

Museum Kita Tidak Layak Kunjung?

Kompasiana, Sabtu, 17 Juli 2010 – Mengikuti saran para ahli dan pengamat pendidikan, saya berusaha sesering mungkin mengajak anak-anak untuk berkunjung ke museum. Seringnya pas waktu liburan sekolah, tentu saja.

Museum yang pertama kali kami kunjungi, sudah beberapa tahun lalu, adalah museum reptil/komodo, museum telekomunikasi dan museum transportasi di dalam areal TMII. Kalau museum komodo, ternyata kata ‘komodo’ hanya mengacu pada bentuk bangunannya saja, bukan koleksinya. Lagipula, komodo merupakan makhluk hidup, tidak lazim dimuseumkan. Yang lebih cocok ya dimasukkan ke dalam kebun binatang, atau dibiarkan saja di habibat aslinya. Jadi ya wajar saja kalau museum komodo tidak berkesan, dan karena bentuknya yang khas, lebih banyak dijadikan ancer-ancer petunjuk jalan menuju lokasi lain dalam TMII.

Museum telekomunikasi dan museum transportasi sudah dua kali kami kunjungi. Dua-duanya sama, semakin lama bukannya semakin bagus, tapi malah semakin kumuh dan jelek. Di museum transportasi misalnya, dulu anak-anak bisa masuk ke pesawat terbang (beneran, tapi tanpa mesin) dan kereta api kuno yang ada di sana. Tapi dalam kunjungan terakhir malah tidak bisa, entah kenapa. Kunjungan jadi kurang ‘greget’, karena itu yang sebenarnya ditunggu anak-anak.

Suasana di dalam museum, benar-benar ‘khas’ museum: remang-remang cenderung gelap. Anak saya sempat komentar lucu: “wah, seperti tempat uka-uka ya..”. Tidak tahu juga ya, apakah memang museum harus ‘remang-remang’ seperti itu.

Masih di areal TMII, kami juga pernah berkunjung ke Museum Purna Bakti Yudha Pertiwi. Ini sebenarnya lebih tepat disebut ‘museum pribadi’, karena isinya adalah koleksi pribadi mantan Presiden Suharto. Koleksinya lumayan lengkap, dari seragam tentara waktu Pak Harto muda, cendera mata dari kepala negara asing, sampai hadiah dari berbagai kalangan untuk Pak Harto, termasuk dari kalangan pengusaha.

Sayangnya, barang-barang itu disusun berdasarkan jenis barang, bukan waktu kejadiannya. Andaikata koleksi itu disusun berdasarkan waktu/periode kejadian, menurut saya akan lebih menarik, karena orang bisa melihat perjalanan Pak Harto dari waktu ke waktu.

Yang cukup membuat takjub adalah ranjang/tempat tidur lengkap dari batu giok, hadiah dari seorang pengusaha. Sempat muncul pikiran usil di kepala saya, ”Wah, kalau sekarang, ini bisa masuk dalam kategori gratifikasi…”.

Di museum itu juga ada berbagai dokumen, terutama terkait yayasan pengelola museum, yang menunjukkan betapa ‘kolaborasi’ antara pengusaha dengan penguasa di negara kita memang sudah mengakar. Kalau sekarang, orang pasti sudah berteriak tentang ‘konflik kepentingan’. Tapi zaman orde baru, siapa yang berani? Ada, tapi tidak banyak. Dalam dokumen itu, kita juga bisa melihat, bahwa di antara pengusaha yang masuk dalam kepengurusan atau sebagai penyumbang pembangunan museum, hampir semua sekarang ada di penjara, pernah dipenjara, atau minimal sedang kena perkara. Artinya apa ya?

Tapi secara umum, Museum Purna Bakti cukup layak untuk dikunjungi. Ada angkutan khusus yang mengantar dan menjemput pengunjung di/ke pintu gerbang. Juga tersedia lukisan Pak Harto sedang duduk, yang memang dirancang sedemikian rupa sehingga kalau kita duduk di depan lukisan dan difoto, hasilnya akan seperti kita sedang ‘menghadap’ Pak Harto (lengkap dengan senyum khasnya).

Anak-anak juga pernah berkunjung ke Museum Satria Mandala dan Museum Nasional (Museum Gajah), tapi saya tidak ikut. Mereka pergi bersama teman-temannya, jadi saya tidak bisa cerita di sini.

Liburan sekolah yang baru lalu saya sempatkan mengajak anak-anak berkunjung ke museum-museum yang ada di Kota Tua Jakarta. Ada tiga yang kami kunjungi, yaitu Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan Museum Bank Indonesia.

Museum Fatahillah, mohon maaf, sama sekali tidak mengesankan. Pengunjung ‘crowded’ banget, berisik, banyak anak kecil berlarian ke sana kemari. Mudah-mudahan itu karena masa liburan sekolah. Koleksinya juga tidak banyak, sehingga membuat kami ingin cepat-cepat meninggalkannya.

Museum Wayang, lumayan. Koleksinya bukan hanya wayang dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga wayang/boneka dari negara lain. Kita jadi tahu, bahwa budaya wayang, khususnya model ‘wayang golek’ ternyata bukan hanya kita yang punya. Kalau wayang kulit, memang khas Indonesia.

Ada juga ‘wayang revolusi’. Dibuat dari kulit, tapi tokoh-tokohnya disesuaikan. Ada tentara, pegawai, rakyat, pedagang, dsb. Ini jelas menunjukkan bahwa sedikit banyak wayang pernah berperan dalam mengobarkan dan menjaga ‘api revolusi’ dan semangat nasionalisme.

Ruangan di museum wayang juga bagus. Yang terasa mengganggu adalah pengunjung yang dibiarkan duduk-duduk di lantai, bahkan ada yang tidur-tiduran. Anak kecil berlarian juga lumayan banyak. Pendek kata: bangunan dan koleksinya lumayan bagus, tapi suasananya ‘bukan museum’.

Di antara museum di areal Kota Tua, Museum Bank Indonesia (BI) yang paling representatif. AC-nya dingin, penyusunan koleksinya dilakukan berdasar urutan waktu sehingga memudahkan pengunjung menikmatinya. Selain koleksi uang RI dari waktu ke waktu, ada juga koleksi uang negara lain.

Yang paling menarik bagi saya adalah koleksi ‘uang daerah’. Uang daerah adalah uang yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, bukan oleh BI atau pemerintah pusat. Uang itu berlaku di beberapa daerah (antara lain Riau) pada tahun 1950-an dan 1960-an. Beberapa daerah diberi kewenangan mencetak uangnya sendiri, karena ada kesulitan mendistribusikan uang ‘nasional’, serta kecenderungan penduduk untuk menggunakan mata uang negara tetangga. Jadi, kalau dipikir-pikir, otonomi daerah di masa lalu malah jauh lebih luas dibandingkan sekarang (yang banyak diributkan orang itu).

Sayangnya, kungjungan kami ke Museum BI ditutup dengan kesan yang kurang baik. Ketika hendak buang air kecil, kami menemukan bahwa toilet di sana sangat jorok. Kami sampai ‘tidak tega’, dan memilih untuk menahan hasrat buang air kecil sampai menemukan toilet di tempat lain (yang lebih bersih).

Kunjungan terbaru ke museum kami lakukan di Solo. Pertama, museum di dalam Kraton Solo. Koleksinya sangat minim, dan terus terang, sangat tidak menarik. Kelihatannya museum itu ada karena ‘yang penting ada’ saja.

Tapi kami tidak kecewa, karena memang itu bukan target utama. Tujuan utama adalah Museum Radya Pustaka yang sempat menjadi obyek berita besar karena adanya beberapa patung kuno yang dipalsukan. (Ngomong-ngomong, bagaimana penyelesaian kasus itu ya?)

Begitu masuk, kami mendapat kesan bahwa pengelolaannya ‘profesional’. Salah satu indikatornya, karena ada tiket khusus untuk kamera yang kita bawa. Jadi bukan orang saja yang harus bayar. Beberapa turis asing, ditemani guide, juga terlihat di sana.

Tapi terus terang, koleksi Radya Pustaka jauh di bawah ekspektasi saya. Melihat pemberitaan yang luas tentang museum itu, tadinya saya membayangkan akan bertemu dengan koleksi benda kuno yang lengkap. Ternyata tidak. Bahkan beberapa di antara barang di sana hanya merupakan model/maket/tiruan, bukan barang asli. Penataannya juga tidak sistematis. Kita jadi tidak mendapatkan gambaran utuh tentang ‘pesan’ yang akan disampaikan oleh museum itu. Sayang sekali!

Secara umum dapat disimpulkan, bahwa sejauh pengalaman saya pribadi, museum-museum kita tidak atau belum dikelola secara optimal sebagai obyek wisata atau media pembelajaran. Kemungkinan besar masalahnya klasik: keterbatasan dana. Bahwa hanya Museum BI yang dapat dianggap sangat representatif (kecuali toiletnya itu), semakin menguatkan dugaan saya itu (karena saya percaya BI banyak duit).

Kalau memang itu masalahnya, tidak ada salahnya pemerintah dan/atau pemerintah daerah mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pengelolaan museum. Bahkan, kalau pemerintah kreatif, tidak semua harus membutuhkan dana besar. Di negara-negara maju sekalipun, selalu ada orang yang bersedia menjadi sukarelawan/volunteer yang bekerja di museum (terutama sebagai guide) tanpa dibayar.

Dengan kata lain, saya percaya bahwa uang/dana memang masalah, tapi bukan hanya itu masalahnya. Masalah terbesarnya adalah karena museum memang belum/tidak dianggap penting. (Edy Priyono)

Iklan

Responses

  1. […] Museum Kita Tidak Layak Kunjung? « DIREKTORAT MUSEUM […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori