Oleh: museumku | 12 November 2010

Museum Dan Sejarah Yang Tergadaikan (Refleksi Hari Pahlawan)

Oleh: Aristiana P Rahayu

KOMPAS Jawa Timur – Kamis, 11 Nov 2010 – Di balik kemegahan bangunan museum Tugu Pahlawan yang tampak dari luar, ternyata menyimpan sisi ironi di dalamnya. Ketika mengunjungi museum ini, penulis sangat yakin, banyak pula pengunjung merasakan hal serupa, yakni pengelolaannya kurang profesional, ala kadarnya.

Dari segi fisik, tak sedikit atap plafon museum yang jebol, berjamur, dan banyak lantai keramik yang lepas. Dari pelayanan pun sangat tidak profesional, tak tampak guide yang bertugas menjelaskan tentang apa dan bagaimana perjalanan sejarah yang terabadikan di museum. Kalau pun ada petugas, hanya duduk-duduk di kursi, mengobrol, tanpa peduli apa yang dilakukan para pengunjung.

Tak heran, para pengunjung museum yang ramai di hari Minggu pun terkesan sangat semrawut, bebas berlarian ke sana kemari, berpacaran, hingga klesetan (tiduran) di lantai tempat pemutaran film perjuangan (diorama elektronik).

Fakta ini menjadi nilai merah bagi Surabaya yang berjuluk Kota Pahlawan. Penanganan yang tidak profesional pada museum Tugu Pahlawan telah menyebabkan masyarakat kehilangan banyak informasi menarik tentang sejarah perjuangan arek-arek Surabaya yang luar biasa.

Di tengah masyarakat, idealnya museum adalah institusi nirlaba yang mampu melayani kebutuhan publik akan berbagai informasi berbagai peristiwa maupun benda-benda bersejarah. Di dalam perannya ini museum mampu melakukan berbagai upaya koleksi, konservasi, riset, memamerkan, dan mengomunikasikan peristiwa maupun benda-benda bersejarah ini kepada masyarakat.

Banyak peninggalan sejarah bernilai tinggi yang ada di museum Tugu Pahlawan, di antaranya rekaman pidato Bung Tomo yang begitu monumental saat mengobarkan semangat perjuangan arek-arek Surabaya.

Di tengah persoalan karakter generasi muda yang saat ini mulai dipertanyakan dan diperbincangkan, nilai-nilai luhur kepahlawanan (nasionalisme, semangat berjuang, persatuan) perlu kembali dikenalkan dan ditumbuhkan dalam diri anak-anak muda saat ini yang telah banyak terpengaruh oleh nilai – nilai instan, pragmatis, dan hedonis. Dan museum (terlebih milik pemerintah) seharusnya bisa ikut mengambil peran ini.

Maka untuk itulah tuntutan agar pengelolaan museum lebih profesional tak bisa lagi ditawar. Pengelolaan museum yang ala kadarnya sama saja menggadaikan dan menafikan nilai-nilai besar perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Meminjam idiom, bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, seharusnya dibuktikan Pemerintah Kota Surabaya, salah satunya melalui pengelolaan museum Tugu Pahlawan secara profesional.


Pembenahan

Dalam upaya peningkatan pelayanan dan kualitas museum, ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan Pemkot Surabaya, di antaranya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pembenahan manajemen, perbaikan infrastruktur, dan upaya penambahan koleksi sejarah.

Peningkatan SDM terutama guide penting artinya untuk membantu pengunjung lebih bisa memahami sejarah yang ada dalam berbagai peristiwa maupun benda peninggalan yang terdokumentasikan dalam museum.

Kondisi infrastruktur yang ada saat ini yang memprihatinkan di mana pada beberapa bagian mengalami kerusakan (plafon jebol, berlumut, keramik terlepas, dan lainnya), dapat disimpulkan bahwa museum ini tidak mendapatkan prioritas perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya. Ini sangat ironi mengingat kota ini memiliki label Kota Pahlawan.

Maka dalam memperingati Hari Pahlawan di tahun ini, alangkah bijaksananya apabila pemerintah tidak lagi menghambur-hamburkan uang untuk panggung-panggung hiburan (musik) yang tak jelas korelasinya dengan semangat kepahlawanan.

Saya kira akan lebih bermanfaat apabila dana-dana yang ada digunakan untuk melakukan upaya-upaya koleksi, konservasi, riset, memamerkan, dan mengomunikasikan berbagai aset- aset sejarah yang dimiliki saat ini yang belum tertangani secara maksimal dan professional.

Tentu semua masyarakat Surabaya berharap kota ini masih layak mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan. Semoga saja.

Aristiana P Rahayu
Mahasiswa Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi,
Universitas Airlangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: