Oleh: museumku | 11 September 2010

Mau Dibawa Ke Mana Museum Kita?

Kompasiana, Sabtu, 21 Agustus 2010 – Sejarah, bukanlah suatu hal yang dapat dilupakan begitu saja. Sejarah adalah salah satu nilai penting bagi bangsa ini. Setidaknya, saya percaya bahwa seseorang atau bangsa, tidak dapat maju tanpa melihat kembali sejarah dari orang atau bangsa tersebut. Lalu, bagaimana dengan kondisi ’sejarah’ di Indonesia?

Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat dan juga perasaan miris saya terhadap keadaan beberapa museum yang pernah saya kunjungi. Saya mungkin baru pernah mengunjungi 1% dari jumlah museum di Indonesia, jadi saya merasa tulisan ini tidak mudah untuk di generalisasikan. Namun, tulisan di media cetak Kompas, Jumat 13 Agustus 2010 hal. 45-48, yang berbicara hampir sama seperti apa yang akan saya tulis, mendorong saya untuk menulis, karena ternyata apa yang saya alami terjadi pula di daerah lain di Indonesia.

Museum yang paling menggelitik pemikiran saya adalah Museum Vredeburg, yang berlokasi di Jogja. Bangunan di museum ini sendiri dibangun pada 1760, atas permintaan Belanda terhadap Sultan. Saya akui, kondisi Museum ini sangat bagus, dalam arti bangunannnya terawat, konten atau isi dari museum tersebut masih baik. Namun, yang saya ingin komentari adalah biaya masuk ke museum tersebut, Rp 750. Ya, Anda bisa masuk dan menikmati sejarah yang berharga dengan harga di bawah Rp 1000. Untuk perbandingan saja, mohon maaf bila terkesan kasar atau tidak sopan, berapakah yang Anda bayar ketika anda haru buang air kecil di tempat umum? Selama ini, saya harus bayar setidaknya Rp 1000 untuk hal seperti itu.

Yang saya takutkan adalah pemeliharaan dari museum tersebut. Apakah menurut Anda biaya pemeliharaan benda sejarah bisa ditutup dengan biaya masuk semurah itu? Bisa, tapi dengan trade-off, yaitu jumlah pengunjung yang banyak, sebanyak mungkin. Namun dari apa yang saya lihat, kondisinya belum bisa dibilang sangat banyak, walaupun sudah banyak yang berkunjung. Bukan hanya itu, saya pertanyakan juga adalah brand image dari museum tersebut. Apa yang muncul di pikiran Anda ketika dalam perjalanan bersama rombongan teman-teman kerja, di dalam bus, pemandu wisata Anda meminta Anda untuk menyiapkan uang Rp 750 per orang untuk tiket masuknya? Beruntung Museum Vredeburg berlokasi di Jogja, kota wisata kedua setelah Bali. Bila museum ini berlokasi di wilayah yang kurang peminat wisatanya, kondisinya mungkin akan berbeda, dalam arti, bisa jadi tidak terawat.

Mungkin yang terlewat dalam benak pembaca adalah harga tiket murah tersebut untuk mendorong minat semua kalangan untuk mengunjungi museum dan menikmatinya. Namun, harga tiket murah bukan semata-mata cara untuk meningkatkan minat untuk berkunjung ke museum. Sebagai perbandingan, di Kaliurang, bagian utara dari Jogja, terdapat Museum Ulen Sentalu, museum mengenai budaya Jawa, di mana keraton Solo lebih terekspose di dalam museum ini. Harga tiket masuknya, bila dibandingkan museum Vredeburg, adalah 20x lebih mahal, Rp 15.000. Tapi, kondisinya sangat bagus. Museum ini bahkan adalah museum pribadi. Saya memang tidak punya jumlah angka yang pasti mengenai jumlah pengujung, namun sepertinya orang pun banyak yang berkunjung. Ternyata, Rp 15.000 tidak menjadi halangan bagi pengunjung untuk berkunjung ke sini. Bahkan, di Medan pun juga terdapat museum pribadi, yang berisikan binatang yang diawetkan, yang harga tiketnya Rp 25.000. Ketika saya berkunjung ke sana, semua benda terawat dengan sangat baik, begitu pula dengan bangunannya.

Seharusnya tiket murah bukan dijadikan sesuatu untuk menarik pengunjung, melainkan isi atau konten dari museum tersebut. Dengan harga yang mahal, pengunjung pun juga akan menjadi segan atau lebih menghormati sejarah atau isi dari museum tersebut. Akan lebih baik jika museum mengambil tema yang berbeda tiap beberapa bulan, agar tidak terkesan monoton. Jangan sampai museum-museum terkena efek marketing myopia. Sejatinya, bukan hanya benda sejarah yang ingin dilihat, namun juga pengalaman. Konsumen menilai sebuah pengalaman lebih tinggi dibandingkan sebuah benda. Maka dari itu, jangan hanya menyajikan benda, tapi juga pengalaman. Pengalaman bisa dicapai dengan tata gedung yang istimewa, konten yang beragam, suasana yang nyaman, dan lainnya.

Hal terakhir, muncul di benak saya, mengapa museum yang dikelola swasta terkesan lebih baik? Bukankah seharusnya pemerintah mempunyai akses yang lebih luas untuk mengambil orang-orang berkualitas yang bisa mengurus museum dengan baik? Pun pemerintah seharusnya memiliki budget yang cukup untuk mengelola sejarah. Bila sekiranya tidak, saya rasa tidak ada salah harga tiket dinaikan, bukan saja hanya untuk mengelola, tapi mengubah pandangan masyarakat bahwa sejarah itu harus dihargai lebih. (Briano Kawenang)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori