Oleh: museumku | 15 Juli 2012

Budaya Mengerti Museum untuk Mencintai Tanah Air

Oleh Syamsudin Noer Moenadi
Pemerhati Media Audio Visual, dan Dosen
yang senang mengunjungi museum

Buat apa berkunjung ke museum? Pertanyaan ini sempat terdengar pada suatu sekolah dasar di Jakarta, saat mengadakan ceramah mengenai pertelevisian (manfaat dan ancaman), dan ketika itu memutar tayangan museum yang berada di daerah. Tontonan museum itu dibuat siswa sekolah menengah pertama Jakarta, tatkala berwisata ke Bali. Dan museum yang diketengahkan adalah Museum Le Mayeur, terletak di Pantai Sanur, serta tayangannya termasuk biasa saja. Maklum pembuatnya bukan sineas profesional.

Sengaja tayangan museum tersebut diketengahkan untuk siswa kelas 5 sekolah dasar. Sebagai contoh bahwa tayangan Museum Le Mayeur merupakan tayangan edukatif, ketimbang serial sinetron yang kisahnya melulu pertengkaran. Mungkin karena banyak siswa yang tidak tahu Museum Le Mayeur, sertamerta kualitas sinematografi tayangan itu apa adanya, sehingga komentar buat apa berkunjung ke museum akhirnya mencuat.

Pertanyaan itupun sah saja, dan wajar. Kiranya ada yang berprinsip, bahwa bagi sebagian orang berkunjung ke museum ialah kegiatan membuang waktu. Pendapat inipun juga sah dan tentunya pula wajar. Padahal jika kita merenungi dengan pikiran jernih, dan berorientasi pada wacana intelektual, kiranya keberadaan museum adalah bukti perjalanan sejarah serta peradaban suatu bangsa.

Untuk itulah perlu diapresiasikan – sejak dini, sejak masuk sekolah dasar- tentang budaya mengerti museum. Apa manfaatnya berkunjung ke museum di banding bertandang ke pusat perbelanjaan mewah yang kini tumbuh menjamur di kota-kota besar. Tidak ditampik, bahwa hampir setiap lahan kosong yang ada di kota-kota besar, pastilah bakal dibangun pusat perbelanjaan atau apartemen mewah. Sesungguhnya keberadaan pusat perbelanjaan itu merupakan keberadaan sikap konsumtif ,sekaligus meyiratkan mimpi yang penuh pesona, dan pengunjung jelas terlena dibuatnya.

Tentang hal ini sebenarnya bisa meniru kota Muenchen, Jerman, yang lebih mementingkan membangun museum dibanding membangun pusat perbelanjaan. Membangun museum – bagi kota Muenchen – tidak lain membangun nasionalisme. Sementara membangun pusat perbelanjaan jelas-jelas membangun sikap boros alias kontra produktif bagi warga.. Begitulah Muenchen , benar- benar kota yang kaya akan museum. Kaya dengan nilai untuk mencintai tanah air. Terdapat sedikitnya 30 museum di kota seluas 310,44 hektar ini. Museum yang paling besar adalah Deutsches Museum ,yaitu Museum Jerman. Museum ini didirikan pada pertengahan 1903 dan merupakan museum teknologi. Sejatinya perkembangan teknologi yang digulirkan bangsa Jerman tertorehkan pada museum tersebut.

Kota-kota besar di Eropa sengaja menonjolkan museum sebagai ikon, dan justru bukan pusat perbelanjaan. Museum memperlihatkan martabat. Sedangkan pusat perbelanjaan menawarkan godaan yang bersifat hedonis. Di Amsterdam misalnya, Museum Van Gogh yang dijadikan ikon. Dalam setahun Museum Van Gogh sanggup menjadi tempat berkunjungnya 1,5 juta manusia. Di dalam museum itu ada 200 lukisan, 700 surat, dan lima ratus sketsa. Dan barang berbagai koleksi pribadi pelukis kondang Vincent Van Gogh yang dikumpulkan sang adiknya, Theo.

Secara singkat, pada saat ini, saat banyak pilihan tempat yang menarik dikunjungi dan sebagian besar berupa godaan, memang perlu digelindingkan mengenai budaya mengerti museum. Tentulah untuk bisa mengerti perihal museum diperlukan minat untuk rela berkunjung ke museum. Dan minat itu perlu ditumbuhkan sejak dini.

Sebagaimana diketahui tingkat masyarakat berkunjung museum – di Indonesia- masih sangat minim. Sebagaimana jua yang dilansir dengan pertanyaan buat apa pergi ke museum, memang museum bukan menjadi tempat pilihan – termasuk tempat pilihan berwisata.. Mereka lebih memilih datang ke mal lantaran segalanya tersedia. Di museum yang dilihat adalah benda kuno, barang masa lampau yang tidak memiliki aspek apa-apa.

Mal punya daya tarik yang berlebih, sedang museum tempat yang sunyi serta sepi. Jadi tidak memiliki manfaat apa-apa ketimbang pergi ke mal yang pengunjung pasti teriming-iming untuk melampiaskan segala sesuatunya. Menyadari masalah itu, tidak ada salahnya – sudah saatnya dan mendesak – museum melakukan langkah pengembangan. Museum jangan dijadikan tempat penyimpanan benda koleksi kuno semata.

Orientasi museum hendaknya diubah. Sebaliknya berorientasi pada keinginan masyarakat. Paling tidak ditumbuhkembangkan minat dan kesadaran masyarakat terhadap museum. Museum perlu pengembangan pasar, yang di dalamnya meliputi segmentasi pasar, target kunjungan serta keinginan pasar (baca masyarakat). Tidak ada salahnya berkiblat pada museum yang berada di kota-kota Eropa, bahwa di sana museum lebih mengarah pada penanaman cinta tanah air alias nasionalisme. Di Eropa pun, sekarang ini, museum bermodel edutainment hadir sesuai dengan perkembangan zaman.

Di Indonesia museum bermodel edutainment bisa dikembangkan. Sebab mempunyai nilai strategis. Selama ini museum di Indonesia hanya sebagai sarana edukasi, sedang hiburannya belum tersentuh. Edukasi dan rekreatif memang harus serasi, serta sejalan . Masyarakat datang ke museum dipengaruhi banyak hal. Namun pengaruh yang paling dominan, yakni menyangkut waktu, jarak dan manfaat. Di satu sisi ada pendapat bahwa masyarakat enggan berkunjung ke museum , lantaran sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Karenanya museum haruslah direvitalisasi dengan tambahan koleksi. Namun pendapat demikian tidak beralasan. Sebab, kuncinya – supaya masyarakat berkunjung ke museum- tetap pada adakah manfaat msueum bagi masyarakat itu sendiri. Andaikata tak ada manfaat buat apa bertandang ke museum.

Manfaat berkunjung ke museum itulah yang patut diidentifikasi. Pihak museum perlu tahu manfaat apa yang diinginkan dan apa pula yang didapat masyarakat – baik yang bersifat edukatif maupun yang bersifat rekreatif. Masyarakat datang ke Museum Van Gogh – sebagai misal- jelas manfaatnya, banyak yang mesti dipelajari, dan masyarakat pun bisa melakukan rekreasi. Pengunjung bisa menatap desain bagunan Museum Van Gogh yang sungguh menawan. Ringkasnya, tidaklah berlebihan suatu museum punya keberadaan yang jelas. Tidak akan buang waktu jika bertandang ke sana. Bagaimanapun, akhirnya, dibutuhkan budaya untuk mengerti museum, dan perlu sekali dilatih, apalagi untuk kepentingan cinta tanah air.

Biodata Singkat
Syamsudin Noer Moenadi
Lahir di Mojokerto, 21 Mei 1966
Pendidikan SD, SMP di Mojokerto, SMA dan Perguruan Tinggi di Jakarta.
Pengalaman sebagai jurnalis di beberapa media, termasuk bergabung di
Kompas Gramedia selama 17 tahun.
Kini sebagai dosen di beberbagai Perguruan Tinggi.
Alamat: Jalan Nilam VI/25, Sumur Batu –Jakarta Pusat.
HP: O816 824460, 021-33699254, 021-4202945

*Dimuat dalam Museografia, edisi Juli 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: