Oleh: museumku | 26 Juli 2013

Saatnya ”Ngabuburit” di Museum

Kompas, JUMAT, 26 JULI 2013 – Apa sih yang terbayang di benak kita begitu mendengar kata ”museum”? Nyaris pasti, itu sesuatu yang membosankan, kuno, dan ketinggalan zaman. Apalagi, berkat globalisasi dan modernisasi, remaja seperti kita lebih suka hal-hal yang berbau terkini dan bersifat futuristis. Jadilah kita lebih suka ke tempat hiburan, seperti bioskop, daripada ke museum.

Kemudahan mengakses informasi juga membuat kita lebih suka berselancar di internet kalau mesti mencari sesuatu yang berkaitan dengan sejarah daripada ke museum. Selain itu, kurangnya peran pemerintah, khususnya pemerintah daerah (pemda) dalam mendukung kegiatan museum juga menjadi penyebab kurangnya minat remaja pada museum.

Padahal, museum kini tidak lagi membosankan karena banyak acara diselenggarakan di sini. Selain menjadi tempat mencari informasi, museum juga bisa menjadi tempat kita nongkrong. Sebab, banyak museum yang juga menyediakan tempat istirahat atau taman untuk kita berleha-leha setelah berkeliling museum. Jadi, menghabiskan waktu di museum kini menjadi sesuatu yang nyaman.

Tim Tiener, salah satu dari enam kelompok magangers 2013 di Kompas MuDA, menelusuri beberapa museum di Jakarta, yakni Museum Tekstil dan Museum Bahari, awal Juli lalu.


Museum Tekstil Jakarta

Tempat pertama yang kami datangi adalah Museum Tekstil Jakarta (MTJ) di kawasan Tanah Abang. Museum ini antara lain menawarkan koleksi batik dari seluruh Nusantara. Ada beberapa bagian di MTJ, yakni Gedung Utama, Galeri Batik, Pendopo Batik, Taman Pewarna Alam (taman untuk nongkrong yang dilengkapi wi-fi), dan kantor staf.

Sewaktu kami ke MTJ, di Gedung Utama sedang ada pameran bertema ”Batik Nitik”. Di sini dipamerkan kain batik dari Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Lala (16), siswa SMK Theresia 1 Jakarta yang sedang magang di MTJ, berujar, ”Setiap dua minggu sekali di sini pasti ada pameran. Para pejabat (pemerintah) suka datang, apalagi Ibu Ani Yudhoyono (istri Presiden SBY) suka batik. Makanya, museum ini terawat dan rapi.”

Ibu Anti, staf MTJ, menambahkan, ia menyayangkan kurangnya perhatian remaja terhadap museum. Menurut dia, selain kesadaran remaja terhadap keindahan dan keunikan museum kurang, sistem pendidikan kita pun tidak mengarahkan remaja akrab dengan museum.

”Sistem pendidikan (Indonesia) tak menekankan pentingnya museum bagi siswa untuk proses pembelajaran sehingga fungsi museum belum maksimal,” kata Ibu Anti.

Padahal, selain bisa menikmati ruang pamer, ada sejumlah kegiatan yang ditawarkan museum bagi pengunjung. ”Kalau ke sini (MTJ), salah satu tujuan wisatawan adalah membatik di pendopo ini, terutama turis asing,” ujar Ibu Kris, pengelola Pendopo Batik MTJ.


Museum Bahari

Adapun Museum Bahari terletak di daerah Pasar Ikan, Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Ada tiga gedung di Museum Bahari, yakni gedung A, B, dan C, yang semuanya mengedepankan kemegahan dan kemahsyuran dunia maritim Indonesia. Ini mengingatkan kami sebagai warga negara maritim. Koleksi museum relatif beragam, sayangnya jumlah pengunjung bisa dikatakan minim.

Menurut Ibu Yani, staf Museum Bahari, faktor transportasi menjadi kendala terbesar untuk menarik pengunjung. ”Selama ini masalah transportasi menjadi faktor yang selalu kami bahas. Tahun ini, pihak museum menyiapkan rute bus Ancol-Museum Bahari-Galangan VOC,” ujarnya.

Pengelola juga melakukan berbagai cara untuk mempromosikan Museum Bahari, seperti membangun teater dan kafe. Akhir pekan awal Juli lalu juga diadakan ”Pasar Ikan Fair”.

”Museum ini satu-satunya di Jakarta yang ornamen gedungnya masih asli. Kayu-kayunya jati dari zaman VOC Belanda. Setiap kami melakukan pemugaran, harus lapor kepada arkeolog,” katanya.

 

*******

Kata Tokoh Kartum Setiawan

Dia adalah Ketua Komunitas Jelajah Budaya (KJB). Komunitas ini peduli kepada seni, budaya, bangunan tua, dan peninggalan sejarah bangsa. Kartum bersama teman-teman mahasiswa dan alumni perguruan tinggi di Jakarta mendirikan KJB sebagai wujud keprihatinan atas kurangnya apresiasi dan perhatian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa, dan memudarnya ciri budaya positif yang menjadi karakter suku bangsa di Tanah Air.

Kegiatan KJB meliputi Jelajah Kota Toea, Night Time Journey at Museum, Jelajah Malam, serta diskusi sejarah dan budaya. Sejumlah kegiatan tersebut banyak diikuti anak muda yang haus informasi akan sejarah dan budaya.

Anak muda yang terlibat kegiatan KJB pada umumnya sudah jenuh ke mal. Setelah mengikuti kegiatan KJB sekali, mereka biasanya ketagihan ikut kegiatan KJB lainnya.

Menurut Kartum, agar anak muda tertarik ke museum, kegiatannya harus dikemas secara menarik dan interaktif. Dengan demikian, mereka akan semakin mencintai sejarah dan budaya bangsanya. Tampilan di museum juga harus menarik dan semua kegiatan dipublikasikan secara luas.


Prabu Revolusi

Penyiar berita di salah satu stasiun televisi ini senang mengunjungi museum. ”Awalnya saya ke museum karena pekerjaan, tetapi malah jadi keranjingan. Saya penasaran, lalu berkonsultasi dengan para pakar museum. Istri saya juga mantan Duta Museum, jadi klop,” ujarnya.

Menurut penggemar Presiden Soekarno ini, penyebab remaja tak tertarik ke museum ada empat faktor, yakni persepsi yang buruk terhadap museum, rasa nasionalisme kurang, pelayanan museum yang kurang modern, dan kebersihan museum yang tak terjaga.

Prabu berharap bisa mengubah persepsi publik tentang museum dari ”gedung tua yang berhantu” menjadi ”tempat menyenangkan” untuk belajar dan berwisata. Kita harus menumbuhkan rasa nasionalisme remaja untuk mencintai museum. Museum bisa menjadi tempat all-in-one: untuk belajar, beristirahat, dan mendapatkan hiburan.

 

*******

Kata Mereka

Muhamad Imam Zahrowi (15)
”Saya enggak pernah ke museum sebelumnya karena di sekolah juga belum ada kunjungan ke museum. Saya tahunya Museum Layang-layang (di Jakarta Selatan). Saya kepengin ke museum, cuma enggak tahu lokasinya, dan enggak ada teman yang mau diajak ke museum. Padahal, ke museum kan menambah ilmu kita, ya.”

———————

Iffah Sulistyawati H (16)
”Saya suka ke museum, seru lihat-lihat banyak hal yang enggak ada di sembarang tempat. Suasana museum itu khas banget. Museum ngebosenin atau enggak itu tergantung karena ada bangunan dan fasilitasnya yang menarik dan terawat, tetapi ada juga yang sebaliknya. Tentang minat anak muda ke museum, itu tergantung individu masing-masing. Kalau dulu, demi laporan kita karya wisata ke museum. Tetapi sekarang, kita tinggal duduk di depan laptop dan dapat informasinya. Saya berharap, ke depan museum di Indonesia pengelolaan dan perawatannya ditingkatkan, juga dibikin modern supaya enak jadi tempat wisata.”

———————

Eftrida Yuliana, siswa SMAN 6 Bekasi
”Saya baru pergi ke Museum Fatahillah (Sejarah Jakarta) dan Museum Wayang (di Jakarta). Banyak orang bilang Museum Wayang bagus, tetapi jujur ya, ternyata rada ngebosenin, enggak ada yang spesial dan bikin kita penasaran. Tetapi, kalau disuruh milih, mau liburan ke mal atau museum, saya pilih museum yang belum pernah saya datangi. Ke depan saya pengin di setiap ruangan museum ada videonya, kan enggak semua orang suka baca.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: