Oleh: museumku | 14 September 2012

Anugerah Purwakalagŗha dan Museum Ideal

Babakan baru untuk memperkenalkan museum, sekaligus memberikan apresiasi kepada museum, telah dimulai. Jumat, 1 Juni 2012 lalu Komunitas Jelajah (Jejak Langkah Sejarah) menyelenggarakan Malam Anugerah Purwakalagŗha (Museum Awards) di Balai Agung (Balaikota) berupa pemberian sertifikat dan trofi kepada sejumlah museum berprestasi di Jakarta. Penghargaan dibagi ke dalam empat kategori, yakni penataan koleksi (Pemenangnya Museum Harry Darsono), sarana dan fasilitas pengunjung (Museum Art:1 Mondecor), kreativitas dan inovasi layanan (Museum Wayang), dan pelestari bangunan cagar budaya (Museum Katedral). Anugerah serupa juga diberikan untuk Museum Terpopuler (Museum Sejarah Jakarta) dan Museum Terbaik (Museum Bank Indonesia). Selain itu dilakukan peresmian Duta Museum Jakarta (penyanyi Andien) dan penghargaan khusus berupa Pengabdian Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement) kepada tokoh yang telah mendedikasikan diri untuk dunia permuseuman (M. Amir Sutaarga, 84 tahun).

Anugerah Purwakalagŗha diselenggarakan dalam rangka mendukung Hari Museum Internasional (Museum Day) setiap 18 Mei, menyambut ulang tahun Jakarta pada 22 Juni, dan menyukseskan program Gerakan Nasional Cinta Museum (2010-2014). Juga sebagai bagian dari upaya strategis meningkatkan peran museum dalam pelestarian dan penafsiran sejarah kebudayaan yang kaya dan beragam di Indonesia. Diharapkan, sebagaimana dikatakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, penghargaan ini akan memberikan kontribusi untuk kemajuan permuseuman di tanah air. Bahkan semakin meningkatkan apresiasi dan pengenalan masyarakat, termasuk generasi muda, terhadap dunia permuseuman.

Pimpinan Museum Bank Indonesia memperlihatkan trofi Museum Terbaik 2012

Pemilihan museum terbaik oleh sebuah komunitas, baru pertama kali diadakan. Jangankan untuk tingkat nasional, untuk skala lokal pun, belum pernah dilakukan. Padahal, kegiatan seperti ini memiliki arti sangat penting buat insan permuseuman, pemerintah, dan masyarakat. Di Jakarta sendiri, tercatat tidak kurang dari 63 museum. Museum-museum itu dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi DKI Jakarta, swasta, dan pribadi.

Pada tahap pertama, tim Komunitas Jelajah mendatangi seluruh museum yang ada di Jakarta. Dari catatan-catatan yang mereka berikan, ditambah sejumlah faktor tertentu, Tim Seleksi berhasil menentukan 18 museum yang memenuhi kriteria sebagai nominator untuk satu atau lebih kategori. Patut diketahui, Museum Nasional sengaja tidak dimasukkan dalam penilaian dengan pertimbangan Museum Nasional merupakan museum umum dan menjadi ‘maskot’ museum-museum di Indonesia. Tentu saja tidak “fair” jika harus dibandingkan dengan museum-museum lainnya.

Menurut Dewan Juri, “Memang agak sulit mengingat kriteria penilaian tentang museum belum pernah ada sebelumnya. Namun kami tetap bekerja semaksimal mungkin. Kedatangan kami ke museum-museum yang masuk nominasi, kami lakukan tanpa menggunakan atribut dan embel-embel ‘tim juri’. Namun betapa pun sudah maksimal, tentu saja masih banyak kekurangan. Kami berharap segala kekurangan ini dapat diperbaiki pada tahun-tahun mendatang”.

Penyelenggaraan Museum Awards 2012 berawal ketika pada 2011 Komunitas Jelajah melakukan penelitian tentang minat pengunjung terhadap museum. Kegiatan ini dipresentasikan dalam acara Bincang-Bincang Museum untuk menyambut Hari Museum Internasional pada 18 Mei 2011. “Berawal dari kegiatan tersebut, timbul keinginan untuk menyelenggarakan Anugerah Museum atau Museum Awards 2012,” kata C. Musiana Yudhawasthi, Ketua Komunitas Jelajah sekaligus Ketua Panitia penyelenggaraan Museum Awards 2012.


“Object Oriented”

Tidak dimungkiri, dunia permuseuman belum dikenal luas oleh masyarakat kita, apalagi oleh generasi muda. Paling tidak sejumlah kesan masih tetap melekat, seperti museum itu kotor, seram, dan kaku. Museum pun kerap diidentikkan hanya berfungsi untuk menyimpan benda-benda budaya masa lalu.

Sebelum era 1970-an orientasi museum adalah object oriented. Karena memamerkan benda unik dan langka, maka museum cenderung elit dan eksklusif. Namun pada masa sekarang, museum lebih mudah diakses dan bersifat terbuka. Pengelolaannya pun tidak lagi bersifat tradisional. Pada abad modern ini museum mulai bersifat public oriented. Orientasi ini mengedepankan sebuah forum, tempat terjadinya dialog, interaksi, dan kontroversi. Dalam penyajian pameran, orientasi baru ini menggabungkan visi yang dibangun kurator museum dengan harapan masyarakat.

Dewan Museum Internasional (ICOM) menekankan bahwa museum adalah lembaga nirlaba yang berfungsi mengoleksi dan merawat benda. Selain itu meneliti dan mengomunikasikan informasi yang dikandung koleksi tersebut kepada masyarakat. Jadi museum bukan lagi ‘gudang budaya’ tetapi merupakan pusat pengetahuan budaya yang menjadi pemancar ilmu pengetahuan (Sejarah Permuseuman di Indonesia, 2011).

Salah satu koleksi pada Museum Bank Indonesia

Jakarta sendiri memiliki potensi luar biasa di bidang kebudayaan. Disimak dari sejarahnya yang panjang, Jakarta terbentuk dari kristalisasi kebudayaan campuran berbagai etnis di Nusantara, seperti Jawa, Makassar, Bugis, Bali, dan Ambon sebagaimana tercermin dari nama-nama wilayah yang masih ada sampai saat ini. Begitu pula akulturasi dengan kebudayaan China, India, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris, yang meresap dalam bentuk kesenian, arsitektur, bahasa, dan lain-lain.

Seyogyanya Jakarta sebagai ibukota negara jangan pernah meninggalkan perhatian kepada museum. Apalagi hingga kini Jakarta merupakan kota yang memiliki jumlah museum terbanyak, dibandingkan kota-kota besar lain di seluruh Indonesia.

Pendirian museum dimaksudkan agar kelestarian warisan budaya bangsa lebih terjamin. Hal ini dapat berfungsi untuk membina dan mengembangkan kebudayaan bangsa, bahkan sebagai sarana pendidikan nonformal. Jadi kehadiran museum jelas untuk kepentingan masyarakat. Peran yang strategis dari museum terlihat dalam operasionalnya, yaitu berpegang pada tiga pilar kebijakan permuseuman Indonesia. Ketiga pilar itu adalah (a) mencerdaskan bangsa, (b) memperkuat kepribadian bangsa, dan (c) meningkatkan ketahanan nasional serta wawasan nusantara.

Memang kualitas museum yang ada tidak merata. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti anggaran dan sumber daya manusia. Oleh karena itu diharapkan adanya kegiatan Museum Awards dapat memotivasi museum atau pengelolanya untuk meningkatkan kualitas sebuah museum.

Jika kualitas sudah meningkat, pasti akan terbentuk museum ideal. Artinya, menurut buku Sejarah Permuseuman di Indonesia, tanpa henti museum akan memperhatikan dan terus berusaha memahami koleksi dan pengunjungnya. Bentuk ideal museum sebagai sebuah institusi adalah adanya kesinambungan antara aktivitas pelestarian, penelitian, dan komunikasi yang saling menunjang.

Museum adalah sebuah lembaga yang mempunyai ciri khas, yakni rekreatif. Meskipun begitu, museum tetap menjalankan peran sebagai lembaga yang menyandang fungsi edukatif. Dalam penjabarannya, museum yang bersifat rekreatif edukatif, tetap menomorsatukan aspek rekreasi tanpa mengabaikan aspek edukasi. Pencerdasan bangsa melalui program edukatif kultural yang dilakukan oleh museum hanya akan berhasil jika melibatkan masyarakat. (Djulianto Susantio)

*Dimuat dalam Museografia, Vo. VI, No. 9 – Juli 2012


Responses

  1. […] FF ONKEY : When…A Sociologist’s Adventures in Social Media LandYayasan Konservasi Alam Yogyakarta: Oasis Satwa Langka di Kota …Menjaga Kesetiaan Dalam HubunganSebuah kesetiaan dan mampukah kita mencintai tanpa syarat…..Hasrat Mencintai dan Kesetiaan Wanitakesetiaan wanita & pria …72 HARIAnugerah Purwakalagŗha dan Museum Ideal […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: