Oleh: museumku | 25 Desember 2014

Diskusi Hari Museum Indonesia

Harimuseum-2Diskusi Permuseuman: Hari Museum Indonesia dengan pembicara Nunus Supardi, Dani Wigatna, dan Agus Aris Munandar dengan moderator Luthfi Asiarto.

Menindaklanjuti Seminar Hari Museum Indonesia di Yogyakarta, 22-23 Mei 2010 lalu, Museum Kebangkitan Nasional pada 24 Desember 2014 menyelenggarakan diskusi bulanan bertema Hari Museum Indonesia. Tampil sebagai pembicara Nunus Supardi (Pemerhati Kebudayaan), Dani Wigatna (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman), dan Agus Aris Munandar (Guru Besar Arkeologi FIB UI), dengan moderator Luthfi Asiarto. Acara dibuka oleh Kepala Museum Kebangkitan Nasional, R. Tjahjopurnomo.

Untuk sebuah bangsa besar seperti Indonesia yang bersifat multietnik serta banyak memiliki tinggalan budaya, adanya “Hari Kebudayaan” dan “Hari Museum” tentu sangat diperlukan. Ini mengingat Indonesia tengah mengembangkan berbagai museum. Hari Museum diharapkan mampu menggerakkan dan menumbuhkan minat masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan selanjutnya memanfaatkan museum sebagai tempat rekreasi dan tempat belajar. Hari Museum diharapkan akan menjadi media untuk memberdayakan keberadaan museum, mengundang partisipasi masyarakat, dan yang lebih penting adalah mengundang perhatian dari para pengambil keputusan.

Seminar Hari Museum 22-23 Mei 2010 di Yogyakarta telah menentukan sejumlah tanggal yang berhubungan dengan sejarah perkembangan museum di Indonesia untuk dijadikan alternatif bagi penentuan Hari Museum. Selain itu juga ditentukan tiga aspek yang dipandang penting bagi museum-museum Indonesia masa mendatang, yakni pengembangan aspek keilmuan, menumbuhkan kebanggaan secara nasional, dan gagasan orang Indonesia.

Disebutkan oleh tim perumus ketika itu, telaah yang dilakukan terhadap tanggal-tanggal yang menjadi penentuan Hari Museum mengarah kepada tiga hal penting sebagai argumen, yaitu (1) tanggal tersebut tidak berkenaan dengan pembangunan museum di suatu daerah tertentu, walaupun secara kronologis ada museum tertentu yang mempunyai masa cukup tua, (2) tanggal tersebut mengacu kepada masa setelah kemerdekaan, setelah bangsa Indonesia yang merdeka menyadari perlunya lembaga museum dalam kebudayaannya, dan (3) tanggal tersebut secara filosofi dapat dipandang sebagai pengikat dan penyatu berbagai museum di Indonesia karena peristiwa penting yang dikandungnya.

Ada lima pilihan awal untuk menentukan Hari Museum, yakni tanggal terbentuknya Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), sekarang Museum Nasional (24 April), Museum Radya Pustaka (28 Oktober), Museum Sana Budaya (6 November), Bagian Urusan Museum, Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (24 Desember), dan penyelenggaraan Seminar Hari Museum (23 Mei).

Setalah disaring, maka pilihan telah mengerucut sebagaimana tabel di bawah:

Tabel-museum

Karena tiga teratas berasal dari masa prakemerdekaan dan dinilai tidak sejalan dengan kriteria, maka digugurkan. Sementara nomor 5 hanya tidak sejalan dengan kritera, juga digugurkan. Yang dianggap sesuai kritera adalah nomor 4.

Namun karena setelah hasil seminar itu Direktur Sejarah dan Purbakala Aurora Tambunan meninggal, ditambah Direktorat Permuseuman digabung dengan dua direktorat lain di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, maka penetapan Hari Museum Indonesia tertunda sampai sekarang.

Mudah-mudahan dalam Pertemuan Nasional Museum 2015 di Malang, Asosiasi Museum Indonesia (AMI) bisa mendeklarasikan Hari Museum Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: