Oleh: museumku | 19 Oktober 2016

Catatan Tercecer dari Dialog Batik 4 Oktober

batik-01Acara Dialog Batik di Museum Nasional, 4 Oktober 2016

Pada 2 Oktober 2009 UNESCO memasukkan batik dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.  Selanjutnya setiap 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional sebagaimana tercantum dalam Keppres Nomor 33 Tahun 2009.

Dalam rangka Hari Batik Nasional itulah Yayasan Batik Indonesia bekerja sama dengan Museum Nasional Indonesia menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti jalan santai, bazar, dan dialog batik. Saya sendiri diundang sebagai peserta dialog batik dengan topik “Nilai Tradisi Batik Indonesia Pusaka Dunia. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Museum Nasional pada 4 Oktober 2016.

Zahir Widadi dapat giliran pertama untuk bercerita. Menurutnya, dampak pengukuhan batik Indonesia sebagai warisan budaya takbenda membawa beberapa perubahan. Yang utama, membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengenakan batik atau busana bermotif batik. Selain itu memicu perubahan teknik pewarnaan pada kain untuk menghasilkan motif batik.

Proses pewarnaan kain batik yang sesungguhnya diawali dengan proses pelekatan malam (lilin batik) pada kain sebagai perintang warna menggunakan canting tulis, cap atau kombinasi keduanya dan dilanjutkan dengan proses pewarnaan kain dengan cara mencelupkan kain ke dalam obat warna batik untuk mendapatkan warna pada kedua belah sisi kain. Zahir Widadi ini pernah menjadi Kepala Museum Batik Pekalongan. Setelah itu beliau mendirikan Fakultas Batik di Universitas Pekalongan.

Kata Zahir, teknik di atas berubah dengan cara melekatkan warna secara langsung pada kain dengan menggunakan silk screen print atau bahkan silk screen digital print untuk membuat motif batik atau proses menyablon (printing) mewarnai kain dengan cara menempelkan pada satu sisi latar kain sehingga warna tidak tembus atau yang disebut tekstil printing bermotif batik. “Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat terjebak atas kebingungan tidak mampu membedakan antara batik dengan produk tekstil printing sekadar bermotif batik,” demikian kata Zahir.

Istilah warisan budaya takbenda memang menbingungkan masyarakat.  Saya kutip pernyataan UNESCO bahwa warisan budaya takbenda terdiri atas:

  1. Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda,
  2. Seni pertunjukan,
  3. Kebiasaan sosial, adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan,
  4. Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, dan
  5. Kemahiran kerajinan tradisional.

Dari ke-5 domain tersebut, batik Indonesia memenuhi tiga domain, yakni (1), (3), dan (5). Nah, menurut Zahir, kekuatan batik terletak pada siapa yang membuat, siapa yang mengenakan, bagaimana mengenakan, kapan mengenakan, dan di mana mengenakan. Kekuatan lain terletak pada kemahiran turun-temurun, dari membuat alat batik, bahan baku malam, zat pewarnaan alami, hingga teknik pembuatan batik.


Tulis dan cap

Rahardi Ramelan ikut berbicara. Katanya di Jawa batik merupakan budaya, tradisi, dan kehidupan.  Sayangnya, meskipun sudah diakui internasional, di Indonesia masalah batik kurang mendapatkan perhatian. Kata Rahardi, pemerintah tidak serius benar menangani batik. Terlihat selama ini batik hanya merupakan bagian dari Direktorat Kepercayaan dan Tradisi di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Rahardi, untuk melindungi batik di tanah air, seharusnya pemerintah mempersulit impor tekstil bermotif batik. Sayangnya, kita belum memiliki daftar motif batik sehingga bea cukai kebingungan. Rahardi juga menyayangkan tekstil bermotif batik diproduksi besar-besaran oleh produsen lokal, misalnya untuk pembuatan seragam batik termasuk KORPRI.

“Lucunya awak pesawat Garuda memakai batik produksi pabrik. Harusnya mereka memberi contoh dengan memakai batik tulis atau batik cap,” kata Rahardi. Menurutnya lagi, karena batik merupakan kerajinan berarti harus ada perlindungan tentang motif, misalnya didaftarkan pada Ditjen Kekayaan Intelektual.

Pada prinsipnya, mungkin kalau boleh diambil kesimpulan, yang disebut batik adalah kerajinan yang bersifat tradisional. Karena dikerjakan sebagai kerajinan, maka perajin batik lebih cocok disebut seniman, bukan buruh. Bisa saja nanti ada istilah batik kontemporer. Rahardi mengharapkan segera ada inventarisasi motif batik tradisional. (Djulianto Susantio)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: