Oleh: museumku | 18 November 2016

Konservator Museum Nasional Menangani Benda Bernilai Sejarah Tinggi

dani-05Konservasi arca batu dengan penyemprotan air bersih

Istilah cagar budaya (CB) pastinya masih terasa asing di telinga orang awam. Boleh dibilang hanya orang-orang yang menekuni dunia kepurbakalaan yang memahami istilah ini. CB meliputi benda, bangunan, situs, struktur, dan kawasan. Koleksi museum, sebagaimana museum yang lazim dikenal,  umumnya berupa benda cagar budaya (BCB). BCB bisa disamakan dengan ’barang antik’ atau ’benda kuno’.

CB terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, benda bergerak, contohnya keramik dan keris. Kedua, benda tak bergerak, misalnya candi dan keraton. Sebagai warisan budaya masa lampau, BCB tentunya wajib dilestarikan, terutama BCB koleksi museum. Soalnya adalah benda-benda masa lalu yang merupakan BCB merupakan data atau informasi yang bermanfaat untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sesuai amanat Undang-undang Benda Cagar Budaya 1992, yang kemudian direvisi pada 2010, dikatakan setiap orang wajib memelihara dan mengawetkan BCB secara tradisional maupun modern.

Ditinjau dari sifat-sifat alami bahan dasar yang digunakan, koleksi BCB bergerak dibedakan menjadi bahan organik dan bahan an-organik. Kelompok benda organik biasanya lebih peka terhadap kondisi lingkungan, terutama suhu dan kelembaban. Berdasarkan pengetahuan empiris memang BCB dari bahan organik lebih mudah rusak.

Setiap BCB jelas memiliki permasalahan masing-masing, sesuai karakteristik bahan dasar pembuatan. Dari hasil penelaahan diketahui permasalahan koleksi kayu adalah debu, lapuk, keropos, patah, noda, dan jamur. Permasalahan koleksi kertas adalah debu, noda, degradasi warna, serangga, dan jamur. Permasalahan koleksi tekstil adalah asam (menyebabkan kain mudah terlipat dan keriput).

Permasalahan koleksi logam adalah debu, lemak, korosi, retak, dan patah. Permasalahan koleksi batu adalah debu, penggaraman, lumut, kerak, retak, dan patah. Permasalahan koleksi keramik adalah debu, garam terlarut, garam tidak terlarut, dan pecah. Permasalahan koleksi kulit adalah jamur, retak, rapuh, dan mengelupas. Permasalahan koleksi lukisan adalah kotor, noda, sobek, retakan pada bagian media cat, jamur, warna pudar, dan keropos dimakan serangga.


Korosi

Dibandingkan benda-benda kayu, kertas, dan tekstil, benda-benda logam lebih dapat bertahan lama. Namun bila korosi terus-menerus dibiarkan menyerang, lama-kelamaan benda logam tersebut akan berkarat juga, bahkan parah dan akhirnya lapuk. Dengan demikian benda itu tidak dapat digunakan lagi sebagai bukti sejarah. Maka untuk mengurangi pelapukan, sesegera mungkin harus dilakukan tindakan penyelamatan terhadap koleksi tersebut.

dani-03

Konservasi koleksi logam

Cara-cara memelihara dan merawat koleksi BCB disebut konservasi.  Tujuan konservasi adalah untuk membersihkan korosi aktif yang menyerang permukaan koleksi. Selanjutnya melindungi permukaan koleksi tersebut agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.

Upaya konservasi berbagai koleksi BCB mutlak dilakukan, terlebih yang terbuat dari bahan-bahan mudah rapuh. Hal ini dimaksudkan untuk memperpanjang umur koleksi tersebut. Berbagai koleksi museum, meskipun tersimpan dalam ruangan atau dalam vitrin (lemari pajangan), tetap tidak bisa menghindari iklim. Perubahan musim, kelembaban udara, ventilasi, pencahayaan, dan pendingin udara, sering kali berpengaruh terhadap kondisi fisik suatu koleksi.

Di Museum Nasional kegiatan konservasi koleksi mencakup dua hal, yakni penanganan lingkungan dan penanganan koleksi. Koleksi museum sendiri dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni benda organik (misalnya kayu, kertas, tekstil, daun lontar, kulit, tulang, dan gading), benda an-organik (misalnya logam, batu, keramik, kaca, dan tembikar), dan benda khusus (misalnya lukisan).

Penyebab kerusakan koleksi milik Museum Nasional, pada dasarnya dipilah ke dalam lima faktor, yakni faktor elemen iklim (kelembaban udara dan temperatur udara), faktor cahaya (cahaya alam dan cahaya buatan), faktor tumbuh-tumbuhan (mikroorganisme dan jamur), faktor hewan (serangga dan tikus), dan faktor pengotoran udara (polusi).

Kualitas bahan amat berpengaruh pada tingkat kerusakan, meskipun berasal dari masa yang sama. Umumnya bahan-bahan logam terkena oksidasi sehingga berkarat, bahkan menghilangkan sebagian dari fisik benda itu. Lain halnya benda batu dan benda kayu. Batu terkena jamur sehingga berbintik putih dan kayu menderita keretakan akibat terlalu kering.

Kegiatan konservasi koleksi museum dilakukan dengan peralatan khusus, dilengkapi laboratorium yang memadai. Karena kendala dana, maka hanya museum-museum tertentu yang mampu memiliki laboratorium konservasi. Sampai sejauh ini peralatan konservasi yang cukup lengkap dimiliki oleh Museum Nasional dan Balai Konservasi (kini Pusat Konservasi) Cagar Budaya, instansi di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.


Bidang konservasi

Secara organisatoris Museum Nasional memiliki sebuah unit kerja, yakni bidang konservasi. Unit ini melakukan upaya perawatan dan pembersihan koleksi museum secara rutin. Setiap benda ditangani khusus berdasarkan jenis bahan. Terhadap koleksi arca batu, misalnya, dilakukan pembersihan secara periodik. Meskipun terlindung di bawah atap, bukan berarti koleksi-koleksi tersebut bebas dari masalah. Banyak debu menempel pada seluruh permukaan arca. Malah sering kali dijumpai sarang semut dan kotoran burung bersama kotoran kelelawar pada sejumlah arca batu.

dani-06

Konservasi koleksi kayu

Arca-arca batu umumnya ‘dimandikan’ dengan air yang dicampur zat tertentu. Konservator Museum Nasional, Ita Yulita Singgam pernah mengatakan, sebelum ‘dimandikan’ harus dilakukan pengecekan terhadap semua arca terlebih dulu, apakah stabil di tempatnya ataukah ada arca yang terbuat dari batu lunak. Jika terbuat dari batu lunak hal ini sangat membahayakan, karena arca tersebut dapat hancur jika diberi tekanan.

Pembersihan biasanya menggunakan kompresor sehingga air yang keluar dari selang memiliki tekanan yang cukup kuat untuk mengangkat debu, sarang semut, dan kotoran burung atau kelelawar. “Debu adalah musuh terbesar museum dan galeri di negara tropis seperti di Indonesia. Oleh karena itu sebaiknya secara reguler, vitrin di dalam ruangan juga dibersihkan,” kata Ita.

Kegiatan ini kelihatannya sederhana, namun sesungguhnya amat berat karena menuntut ketelitian dan prinsip-prinsip ilmiah. Agar akurat setiap koleksi harus dipotret terlebih dulu. Ini dimaksudkan untuk mengenal posisi dan mempermudah peletakan koleksi tersebut di tempatnya semula.


Logam dan kayu

Perawatan yang lebih sulit dihadapi koleksi logam dan koleksi kayu. Pada koleksi museum yang terbuat dari perunggu dan kuningan, misalnya, terjadi proses karat atau korosi secara terus-menerus. Proses ini terjadi karena faktor lingkungan atau tempat penyimpanan.

Pekerjaan konservasi yang pokok adalah membersihkan karat sehingga memberi keamanan pada koleksi itu, sekaligus memberi kenyamanan kepada pengunjung untuk menikmatinya. Pembersihan dilakukan dengan cara fisika dan cara kimia. Tindakan konservasi bertujuan untuk meminimalisasi zat-zat klorida yang terkandung dalam benda sehingga dapat menyelamatkan koleksi tersebut dari proses kehancuran. Sementara terhadap koleksi yang masih relatif baik, hanya dilakukan perawatan. Tujuannya adalah agar koleksi tidak terkena ‘penyakit’. Caranya adalah dengan mengendalikan kelembaban dan suhu udara atau mengisolasi koleksi dari pengaruh pencemaran udara.

Koleksi kayu juga memerlukan tindakan konservasi. Kerusakan pada koleksi kayu  kebanyakan disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti biologi (misalnya serangan serangga), manusia (misalnya vandalisme), dan kelembaban udara.

Perawatan koleksi kayu dilakukan sesuai dengan sifat dasar kayu yang berupa materi organik. Prinsip utamanya tidak boleh menggunakan air. Umumnya penyakit kayu disebabkan adanya mikroorganisme yang hidup dalam selulosa kayu. Materi ini merupakan makanan untuk kelangsungan hidup mikroorganisme. Maka, cara yang terpenting adalah memusnahkan mikroorganisme atau serangga yang ada di dalam koleksi tersebut.

Beda lagi dengan konservasi keramik. Perawatan keramik secara garis besar dibagi menjadi tiga tahapan, yakni preventif (membersihkan keramik dari kotoran dan debu), kuratif (membersihkan endapan garam dan kapur menggunakan bahan kimia), dan restorasi (perbaikan keramik yang rusak, pecah, dan mengganti bagian yang hilang).

Khusus untuk keramik yang rapuh, perlu dilakukan konsolidasi terlebih dulu. Biasanya dengan memasukkan suatu zat kimia pada pori-pori benda sehingga mineral-mineral yang ada dapat saling mengikat. Tujuannya untuk menguatkan kembali struktur keramik.

Perlakuan khusus juga diberikan kepada keramik-keramik temuan dari dalam laut. Hal ini karena keramik-keramik tersebut mengandung garam-garaman yang sangat  membahayakan koleksi.

Para konservator ibarat tukang servis perabotan yang bekerja dalam sunyi. Perannya sangat besar karena memperindah koleksi, memperbaiki koleksi, dan memperpanjang umur koleksi. Dibutuhkan keahlian dan pengalaman, karena yang ditangani bukan sembarang benda tetapi benda bernilai sejarah tinggi. Benda-benda itu merupakan bukti kejayaan nenek moyang untuk diwariskan kepada generasi mendatang.***

Penulis: Djulianto Susantio
Foto-foto: Museum Nasional


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: