Oleh: museumku | 26 Mei 2014

Museum Geologi Harus Bisa Menjadi Jembatan Informasi

Pentingnya merawat dan menjaga koleksi adalah tema besar dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ke-85 Museum Geologi. Koleksi adalah jiwa dari museum. Karena itu, jika tidak terawat, mustahil museum bisa menjadi jembatan informasi untuk menunjang dunia pendidikan.

”Museum Geologi harus bisa menjadi inspirasi bagi manusia di sekitarnya, baik melalui ribuan batu mineral maupun fosil bersejarah berusia ribuan hingga ratusan juta tahun lalu,” kata Kepala Badan Geologi Surono saat penutupan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-85 Museum Geologi, di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/5).

Koleksi Perlu Dirawat

Kekayaan koleksi museum, kata Surono, harus semakin diketahui sekaligus bisa dinikmati masyarakat luas. Untuk itu, pengelola Museum Geologi diminta selalu mengikuti perkembangan zaman agar kiprahnya tetap berperan vital bagi kehidupan manusia. Apalagi, museum juga berfungsi sebagai tempat penelitian untuk menggali berbagai informasi.

Hal serupa diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik dengan mengatakan, Museum Geologi memiliki koleksi yang tidak ternilai harganya. Koleksi tersebut mulai dari kumpulan data peta geologi Indonesia hingga fosil gajah purba berusia ratusan ribu tahun yang tidak ada duanya di dunia.

Dengan posisi Museum Geologi berada di bawah pengelolaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, perannya sangat vital bagi Indonesia dan dunia.

Hampir setiap hari ratusan pengunjung dari berbagai kalangan, terutama pelajar, mahasiswa, dan peneliti, memadati museum yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung, ini.

Museum sebagai tempat wisata sejarah dan edukasi ini diresmikan tahun 1929. Museum ini menyimpan data potensi geologi hingga penemuan fosil yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kini, Museum Geologi memamerkan lebih dari 2.000 koleksi berupa batuan mineral, fosil, dan peta potensi geologi.

Oleh karena itu, Jero Wacik berharap pengelola museum terus melakukan inovasi promosi sembari tidak melupakan perawatan terhadap koleksi museum.

Jika kedua aktivitas ini dilakukan dengan baik, benar, dan maksimal, diyakini museum akan memiliki peran penting bagi kemajuan umat manusia saat ini.


Direkonstruksi

Keberhasilan mendokumentasi dan meneliti fosil bersejarah dibuktikan lewat pameran fosil gajah blora (Elephas hysudrindicus).

Fosil ditemukan di Blora, Jawa Tengah, tahun 2009 dan selesai direkonstruksi empat tahun kemudian. Koleksi ini adalah koleksi teranyar sekaligus paling spektakuler sejak penelitian paleontologi dan ekskavasi fosil dilakukan museum ini tahun 1850.

Kepala Museum Geologi Sinung Baskoro mengatakan, fosil gajah blora ini adalah yang terlengkap yang pernah ditemukan di Indonesia, yakni mencapai 90 persen.

Setelah direkonstruksi, gajah purba ini memiliki panjang 5 meter, tinggi 4 meter, bobot 6 ton-8 ton, dan umur 250.000-200.000 tahun lalu.

Menurut Sinung, penemuan ini sangat penting tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Secara keilmuan, gajah blora ini mampu menjelaskan mata rantai kehidupan gajah purba.

Sebelumnya, di sekitar Jawa Tengah juga pernah ditemukan fosil gajah berumur lebih tua, yaitu Sinomastodon bumiayunensis yang berusia sekitar 1,5 juta tahun lalu dan Stegodon trigonocephalus yang berumur sekitar 1,2 juta tahun lalu. (CHE)

(Sumber: Kompas, Senin, 26 Mei 2014)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: