Oleh: museumku | 7 Juni 2014

Museum Di Tengah Kebun

Kebun-10Arca Ganesa dari abad ke-9 seberat 3,5 ton merupakan maskot museum

Biasanya di tengah kebun ada tanaman. Mungkin ini satu-satunya, di tengah kebun ada museum. Namanya saja Museum Di Tengah Kebun, meskipun ada yang mengolok-olok “museum di tengah hutan”. Berbagai jenis tanaman, memang mengelilingi museum. Jadinya museum sangat asri, jarang kita temui pada kebanyakan museum.

Museum Di Tengah Kebun berlokasi di Jalan Kemang Timur Nomor 66, Jakarta Selatan. Halaman depan bangunan ini cenderung sempit, hanya tujuh meter lebarnya. Namun begitu pengunjung berjalan 60 meter ke dalam, terlihat halaman museum begitu luas. Seluruhnya mencapai 4.200 meter persegi dengan denah berbentuk botol.

Museum Di Tengah Kebun merupakan museum pribadi milik Sjahrial Djalil (74). Ia seorang sarjana Publikasi UI dan pernah memiliki biro iklan ternama. Museum dibangun karena kecintaannya kepada negara dan didedikasikan bagi masyarakat agar mengenal peradaban bangsa.

Sebenarnya Museum Di Tengah Kebun merupakan rumah tinggal pribadi Sjahrial. Makanya tidak semua benda koleksi tersimpan dalam lemari atau rak kaca. Banyak peninggalan sejarah, terutama yang berukuran besar, tersusun di berbagai ruangan dan kebun.

Benda-benda yang berukuran lebih kecil tersusun dan tersimpan di berbagai lemari kaca dan ruang di dalam museum. Ada lagi di foyer, ruang duduk tamu, kamar makan, dapur, kamar kerja, dan kamar tidur. Gudang, garasi, dan toilet pun ditata sebagai ruang peragaan.

Museum Di Tengah Kebun memang tidak seperti museum pada umumnya. Pengaturan, peletakan, dan koleksi tidak ditata berdasarkan kesamaan masa atau sejarah, melainkan ketersediaan tempat. Jenis, ukuran, dan bentuk objek tidak ditata secara urut. Keindahan dan sinergi benda koleksi lebih diutamakan melalui keanekaragamannya daripada sistematik sejarahnya.

Kebersihan amat ditekankan pengelola museum. Semua koleksi selalu dirawat sebaik mungkin. Bahkan untuk memasuki museum, pengunjung harus menitipkan tas dan mengganti alas kaki dengan sandal karet yang sudah disediakan.


Bahan Bekas

Pembangunan rumah mulai dilaksanakan pada 1979. Agar memberi kesan historis, bangunan dibuat menggunakan bahan-bahan bekas dari gedung tua. Batu bata diperoleh dari Pasar Ikan sebanyak 65.000 buah. Balok-balok jati berasal dari tempat-tempat penjualan kayu bekas. Engsel pintu berasal dari bekas penjara wanita Bukitduri. Selesai pembangunan rumah, pemikiran pembuatan kebun dimulai.

Puluhan pohon besar dan kecil ditanam di tanah seluas 3.500 meter persegi itu. Sejak di rumah kebun inilah minat Sjahrial terhadap benda seni dan benda sejarah bertambah intensif. Apalagi ia sering melakukan perjalanan bisnis ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu juga ketika ke benua Amerika, Eropa, dan Afrika. Sebagai buah tangan, tentu saja dia membawa sejumlah koleksi yang dia anggap menarik.

Semakin tahun minatnya akan benda seni semakin besar. Maka untuk mendapatkan modal, Sjahrial menjual perusahaan biro iklannya. “Banyak koleksi didapat Om dari Balai Lelang Christie’s. Lihat saja setumpuk katalog yang sudah diberi tanda,” kata Mirza Djalil, pemandu museum yang juga keponakan Sjahrial.

Lebih dari sepuluh ruang ada di Museum Di Tengah Kebun. Secara umum koleksi museum terdiri atas benda arkeologi, benda etnografi, dan benda seni, termasuk koleksi dari mancanegara. Benda-benda itu terbuat dari batu, logam, tanah, kaca, kain, dan kayu. Koleksi tertua adalah fosil pohon berusia 248 juta tahun.

Koleksi yang tergolong adikarya adalah topeng kayu mumi dari Mesir. Diperkirakan artefak yang tersimpan di Ruang Prasejarah ini berasal dari masa abad ke-7 hingga ke-3 Sebelum Masehi. Berbagai koleksi dari China, Mesopotamia (Irak), Turki, Persia (Iran), dan Meksiko juga ada di ruang ini.

Benda-benda keramik tersimpan di Ruang Dinasti Tang dan Ruang Dinasti Ming, antara lain berupa alat upacara, alat rumah tangga, dan hiasan. Ruang Majapahit diisi berbagai benda kecil dari bahan terakota berupa kendi, buli-buli, dan arca. Koleksi logam terdapat pada Ruang Kaisar Wilhelm II, umumnya berbahan perak dan perunggu.

Museum ini memajang 2.414 koleksi, berasal dari 63 negara dan 21 provinsi. Koleksi ini dikumpulkan Sjahrial sejak 1970-an. Sekitar 90 persen dibeli Sjahrial dari Balai Lelang Christie’s. “Misi saya adalah mengembalikan benda budaya Indonesia dari mancanegara,” kata Sjahrial.


Gratis

Sjahrial Djalil yang saat ini tengah terbaring sakit sangat senang bila ada sarjana atau mahasiswa yang meneliti koleksi Museum Di Tengah Kebun. Sjahrial pun sangat berharap pemerintah memberikan perhatian, terutama masalah Pajak Bumi dan Bangunan yang demikian besar. “Kita tidak punya pemasukan tapi pajaknya besar sekali,” kata Sjahrial di atas ranjangnya.

Mengenai motivasinya mendirikan museum, menurut Sjahrial, ia ingin berbeda dari orang kebanyakan. Kalau orang menganggap sejarah adalah masa lalu dan hanya untuk dipelajari, Sjahrial ingin bangsa kita setara dengan bangsa lain karena kita kaya akan budaya.

Museum ini dikelola dengan dana pribadi Sjahrial. Jika kelak sudah tiada, ia tidak ingin museum ini diberikan kepada pemerintah. Ia takut koleksi-koleksi museum akan dijual demi kepentingan pribadi.

Sejak beberapa tahun lalu Sjahrial sudah menyediakan dana untuk mengelola museum ini. Ia mendirikan Yayasan Museum Di Tengah Kebun. Dalam ajang Anugerah Purwakalagrha (Museum Awards) 2013 yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Mei 2013 lalu, Museum Di Tengah Kebun terpilih sebagai museum terbaik se-Jakarta untuk kategori museum non-pemerintah.

Museum ini pantas dikunjungi, terutama untuk mengisi liburan panjang sekolah dan liburan akhir tahun. Buat Anda yang ingin berkunjung ke sana, patokannya adalah Masjid Nurul Huda. Museum berada di seberang masjid tersebut.

Hanya museum ini tidak dibuka setiap hari. Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke sana. Itu pun dengan perjanjian ke nomor kontak 087782387666. Jam kunjungan museum adalah 09.45-12.00 dan 12.45-15.00 untuk tiap-tiap rombongan berjumlah 7-10 orang. Masuk ke museum ini gratis, termasuk untuk jasa pemandu. Bahkan pada akhir kunjungan disajikan minuman gratis pula. (Djulianto Susantio)

Galeri Foto:

Cincin-01Koleksi Cincin Pelacur berbahan logam dari Tiongkok

Cincin-02“Pasukan Blusukan Pencinta Museum” sedang mendapat penjelasan dari Mirza Djalil, pengelola Museum Di Tengah Kebun

Kebun-05Salah satu bangunan museum


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: