Oleh: museumku | 29 Oktober 2010

Ceria, Kini Ke Museum Tak Lagi Jenuh

Jurnas.com, Kamis 21 Oktober 2010 – BERAWAL dari kejenuhan atas metode kujungan museum yang sifatnya kuno, Museum Ceria hadir di tengah masyarakat untuk memberikan sesuatu yang berbeda. Mengusung program edukasi interaktif, Museum Ceria mengadopsi sistem pendidikan museum di Australia dan Inggris serta bertekad membuat suasana kunjungan ke museum tidak lagi membosankan.

“Pada umumnya metode kunjungan metode di Indonesia hanya jalan-jalan, mengerjakan worksheet, dan mendengarkan komando dari satu arah serta terlalu banyak yang dibicarakan dalam satu kali kunjungan museum, jadi tidak fokus,” kata Ajeng Arainikasih, Direktur Museum Ceria, ketika dijumpai Jurnal Nasional di Museum Nasional, Kamis (21/10).

Menurut Ajeng, metode semacam ini kurang memberikan ilmu baru bagi anak-anak yang datang mengunjungi museum. Tidak ada sesuatu yang menempel di kepala dan ketika mereka pulang hanya memberikan kesan yang biasa saja. Maka dari itu, Museum Ceria berusaha untuk mengubah paradigma yang selama ini terjadi.

“Konsep besarnya kami ingin membuat anak-anak Indonesia menyukai museum dan warisan budaya bangsanya dari kecil. Dua hal ini saling berkaitan, jika dari kecil kita tidak kenal maka tidak akan sayang.

Berharap ketika mereka dewasa nanti akan semakin lebih peduli.” tutur Ajeng yang merupakan Museolog lulusan University of Adelaide, Australia.

Museum Ceria merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang menawarkan pengalaman berbeda dalam kunjungan museum melalui program-programnya. Ada dua program utama yang ditawarkan oleh Museum Ceria, yang pertama adalah Experince the Art of Basoeki Abdullah untuk kelas 1-3 SD yang diselenggarakan di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan dan yang kedua Indonesian Classic Mythology untuk kelas 4-6 SD yang diselenggarakan di Museum Nasional, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Program yang pertama pengunjung akan diajak merasakan pengalaman menjadi ahli sejarah seni melalui karya-karya Basoeki Abdullah dengan bermain puzzle dan mendengarkan storytelling mengenai pertarungan antara Gatotkaca dan Antasena.

Selain itu pengunjung juga diajak berpetualang mencari berbagai lukisan Sang Maestro dengan petunjuk yang ada di museum trail serta menggali bakat dengan menggambar potret diri.

Sedangkan untuk program yang kedua, pengunjung diajak mendengarkan cerita tentang kelahiran Dewa Ganesha melalui storytelling ala wayang beber, berpartisipasi dalam permainan menemukan arca-arca Sang Dewa berwujud gajah, bermain wayang mini dengan tokoh-tokoh dari cerita relief Tantri Kamandaka, dan memainkan peran dalam kisah Samudra-manthana.

Ajeng menjelaskan melalui dua program utama ini pihaknya bisa memberikan pengalaman yang lebih berkesan kepada para pengunjung. Hubungan interaktif antara fasilitator dengan anak-anak SD yang turut serta menjadi kuncinya.“Anak-anak jadi bisa berkomunikasi langsung dan temanya fokus.”

“Sebelum menentukan program yang akan dikembangkan, kami melakukan riset terlebih dahulu, lalu sesuaikan dengan kurikulum,” lanjut perempuan berusia 27 tahun yang juga Asisten Pengajar Departemen Arkeologi UI.

Ada perbedaan yang terlihat ketika anak-anak mulai berinteraksi dengan para fasilitator yang notabene masih duduk di bangku kuliah. Rasa penasaran yang tinggi terpancar dari sinar mata mereka yang kemudian dilanjutkan dengan beragam pertanyaan yang terdengar polos namun sesekali membuat pusing fasilitator karena jawaban tidak segera ditemukan.

Setiap jalan yang baru ditempuh tentu selalu berhiaskan kesulitan. Apalagi jika berhubungan dengan yang namanya mencintai warisan budaya bangsa ketika dunia anak-anak Indonesia disesaki oleh serbuan budaya lain. Maka dari itu Museum Ceria berencana akan mengembangkan program yang lebih beragam dengan tempat museum kunjungan yang lebih banyak agar wawasan anak-anak semakin kaya.

“Kita harus bergerak dari diri sendiri dulu. Apa yang bisa dilakukan, ya, kita lakukan. Kalau menunggu orang lain terus, tidak akan jalan,” pungkas Ajeng. (Daulat Fajar Yanuar)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori