Oleh: museumku | 28 Juli 2012

Menyiapkan Pameran Majapahit: Behind the Scenes

Oleh: Yunus Arbi
Direktorat Tinggalan Purbakala

Museum researchers sometimes write and exhibit organizers frequently behave, as though they never visit museums for pleasure. Shame on them.

Merencanakan pameran museum bisa dikatakan mudah, tetapi menjadi sulit ketika dihadapi berbagai persoalan siapa yang terlibat dalam persiapan, tema apa yang akan diambil, dan mengapa tema itu dipilih. Bagaimana dengan penentuan materi yang akan disajikan Untuk siapa pameran itu diselenggarakan? Cukup krusialkah bagi publik untuk memahami atau apakah materi relevan dengan kebutuhan publik di masa sekarang. Dari berbagai pertanyaan yang mengemuka, maka yang paling pokok adalah adalah pesan apa yang ingin disampaikan melalui pameran ini.

Berangkat dari “what is the big idea of the exhibit?” menjadi lontaran awal ketika akan merencanakan pameran Majapahit. Dalam suatu pertemuan di awal tahun 2006, Pak Suroso, Direktur Peninggalan Pubakala, menggagas akan mengadakan pameran Majapahit di Museum Nasional. Tema Majapahit sudah sering kali digelar di Indonesia, bahkan di mancanegara, seperti di Museum Nasional Singapura yang bertajuk “the Legacy of Majapahit” pada tahun 1994-1995 dalam rangka merayakan 700 tahun Majapahit.

Gagasan pameran bukan sekadar menyajikan berbagai peninggalan Majapahit yang mempunyai keunikan dalam bentuk, eksotika tinggalan candi, tirtha, dan lainnya. Pameran semacam itu cuma menyampaikan sejarah masa lalu saja yang sudah banyak dikenal orang. Obsesi berpameran berangkat dari keprihatinan Pak Suroso – arkeolog senior yang sudah malang-melintang dalam penelitian di situs Trowulan, Mojokerto (Jawa Timur) sejak tahun 1970an – terhadap kondisi pelestarian, penelitian yang telah dilakukan berbagai pihak, masih belum mendapat perhatian yang seimbang dalam konteks pemanfaatannya.

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia arkeologi, Majapahit yang tapaknya diduga terletak di situs Trowulan, merupakan bukti tertua sebuah kota abad ke-13 – 16 M di Indonesia. Jejaknya masih tampak jelas dari runtuhan puing-puing, jalur-jalur kanal kuna dan ragam tinggalan yang sampai sekarang warisannya masih terselamatkan. Beberapa candi, petirthaan, kolam raksasa yang berhasil dipugar, sementara banyak benda cagar budaya bergerak sekarang menjadi koleksi Museum Nasional, Museum Seni Rupa dan Keramik, di tangan kolektor, dan di Balai Penyelamatan Arca atau Museum Situs Trowulan.

Namun sebaliknya, upaya perlindungan dan pemeliharaan ini tidak dibarengi oleh kesadaran pihak lainnya untuk melakukan hal yang sama. Akibatnya, keruntuhan masa lalu itu masih terus berlanjut hingga sekarang, terutama eksploitasi lahan untuk sumber bahan baku pembuatan bata dan pemenuhan benda budaya untuk “antique market”. Lambat laun jika tidak ada penanangan yang serius, mungkin akan terjadi proses percepatan kepunahan warisan budaya masa silam. Berangkat dari kondisi ini, pameran dipandang langkah yang jitu dalam menyebarkan informasi dan membangun kesadaran bersama untuk melindunginya bersama.

Untuk mewujudkan gagasan ini dalam bentuk suatu pameran tentu membutuhkan persiapan matang, karena gagasan-gagasan liar, beraneka warna, impian untuk mewujudkan yang besar perlu diformulasikan menjadi sesuatu yang perfect step by step process. Menyiapkan pameran memerlukan standar seperti halnya proses persiapan dalam sebuah industri film atau penulisan buku, tetapi yang membedakan adalah pameran di museum melibatkan banyak hal seperti benda (realia, replika, miniatur), unsur penunjang, keselamatan benda, kumpulan kata-kata yang mengurai informasi yang tepat dan sesuai dengan tema, dan lebih penting lagi pengunjung yang tidak dapat diprediksi apakah akan menyukai, mengerti atau tidak.

Menjajakan pameran di museum, perlu mempertimbangkan sasaran pengunjungnya apakah ada pengunjung yang ditargetkan (target audience) atau pengunjung sebenarnya (actual audience). Pengunjung umumnya datang dengan empat tujuan utama, yaitu kebutuhan informasi; identitas pribadi; memperkuat nilai-nilai pribadi, interaksi sosial, seperti keluarga, teman atau lainnya; atau sekadar mencari hiburan dan relaksasi. Paling tidak dari pameran yang dilihat ada take home message yang dapat dibawa oleh pengunjung.

Oleh sebab itu, paradigma pameran bukan lagi berangkat dari cara pandang kita selaku pengelola, tetapi bagaimana menyajikan materi pameran yang mampu memberi makna ’meaning making’, dan koleksi yang mampu ’berbicara tentang dirinya sendiri’ (speak for themselves) yang suara dari masyarakat justru lebih diutamakan. Pameran merupakan bisnis menjajakan sesuatu atau benda, sebagai media komunikasi, dan pameran berisi pengalaman-pengalaman bukan sebagai suatu produk.

Atas dasar itu, maka pertimbangan sasaran pengunjung menjadi bahasan awal dalam persiapan awal, selain penentuan pendekatan pameran yang akan dilakukan. Umumnya, sebuah pendekatan yang digunakan adalah diakronik (babakan sejarah) dan sinkronik (tematik), serta pendekatan penyajian yang dialogue-driven dengan melibatkan suara dan pandangan masyarakat. Suara siapa yang didengar? Ini menjadi persoalan. Majapahit, merupakan ladang penelitian bagi para arkeolog dengan berbagai objek kajian dan semua ini harus diformulasikan sesuai tema yang akan diangkat, sekaligus memperhitungkan pula besaran ruang yang tersedia untuk cakupan jumlah materi yang diperlukan.

Langkah awal yang dilakukan adalah menghadirkan pakar tentang kemaharajaan Majapahit untuk memberi gambaran awal mengenai latar belakang sejarah, bukti-bukti tertulis, keagamaan, bangunan sakral maupun profan, dan berbagai tinggalan budaya yang membuktikan peradaban di masa silam. Di dalam proses ini juga hadir pakar dari disiplin lain, terutama dari arsitektur yang memberi kontribusi mengenai kondisi tata ruang suatu kota masa lalu. Hasilnya disepakati pendekatan pameran disampaikan secara diakronik, yaitu mengungkapkan kesejarahan Majapahit, dan sinkronik untuk menyajikan kondisi kota masa lalu.

*Pernah dimuat dalam Museografi edisi Desember 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: