Oleh: museumku | 27 November 2011

Mencintai Museum Sejak Bangku Sekolah

KUNJUNGI MUSEUM – Sejumlah siswa SD Gayamsari II Semarang, Jawa Tengah, belajar di luar kelas dengan mengunjungi Museum Ranggawarsita.(foto:SH/Retno Manuhoro)

Sinar Harapan, Sabtu, 26 November 2011 – Ivan (8) asyik menulis semua keterangan tentang kesenian calung di galeri kesenian Museum Ranggawarsita, Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Puluhan temannya asyik mengamati koleksi patung wayang orang dan benda-benda seni lainnya.

Hari itu setiap sudut ruang Museum Ranggawarsita dipenuhi suara anak-anak yang riuh bertanya tentang hal-hal yang menarik keingintahuannya kepada petugas pemandu museum.

“Hari ini kami mengajak anak-anak kelas dua untuk mengunjungi semua museum yang ada di Semarang,” kata Sulanjar (41), guru SD Gayamsari II Semarang.

Di Museum Ranggawarsita, setiap siswa diwajibkan bertanya dan mencatat semua benda yang menjadi pusat perhatian mereka masing-masing, lalu dituliskan kembali menjadi laporan sederhana. Sulanjar mengatakan, kegiatan ini sengaja dirancang sebagai salah satu program sekolah untuk mengenalkan benda-benda bersejarah dan kecintaan akan museum.

“Di Semarang ini banyak sekali museum, tetapi saya yakin tidak semua orang tua murid tertarik untuk mengajak anak-anaknya ke sana. Oleh sebab itu, museum menjadi tujuan utama dalam pembelajaran di luar kelas ini,” lanjutnya.

Usai mengunjungi Museum Ranggawarsita, rombongan bergerak menuju Museum Mandala Bakti, yang letaknya berhadapan dengan Tugu Muda penanda perjuangan rakyat Semarang.

Di Museum Mandala Bakti, anak-anak itu menyaksikan diorama pertempuran lima hari Semarang dan berbagai peralatan persenjataan TNI yang pernah digunakan dalam masa perjuangan.

Dua museum lainnya yang ada di Kota Semarang adalah Museum Jamu Nyonya Meneer yang dibangun pada 1984 dan Museum Rekor Indonesia (Muri) yang berada satu kompleks dengan pabrik Jamu Jago.

Kunjungan siswa-siswa sekolah ke berbagai museum dinilai Yetty Rochwulaningsih, sejarawan dari Universitas Diponegoro (Undip), sebagai semangat baru bagi generasi bangsa untuk lebih menghargai seluruh kekayaan Indonesia, baik yang bersifat material maupun nonmaterial.


Pengunjung Meningkat

Sementara itu, gejala naiknya minat kunjungan ke museum diakui pihak pengelola Museum Ranggawarsita Semarang terjadi pascapencanangan Tahun Kunjungan Museum pada 2010 oleh Jero Wacik yang saat itu menjabat menteri kebudayaan dan pariwasata.

“Keadaan lima tahun yang lalu saja belum seramai sekarang ini,” kata Sugiri, Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Ranggawarsita.

Dia menambahkan, pengunjung museum tidak hanya berasal dari seputar Kota Semarang saja, namun juga dari berbagai daerah lain di Jateng, seperti Klaten dan Tegal.

Bahkan setahun belakangan ini museum juga sering kedatangan para wisatawan asing dari Eropa. “Para pengunjung dari negara mancanegara itu datang melalui para penyelenggara city tour, dan memasukkan museum ini sebagai salah satu tujuan utama mereka,” sambung Sugiri.

Posisi museum di Jalan Abdulrahman Saleh yang strategis karena dekat dengan bandara dan Pelabuhan Tanjung Emas memudahkan para penyelenggara tur membawa turis ke museum.

“Ini juga berarti bahwa ada jalinan kerja sama yang baik di antara pelaku pariwisata sehingga ada sinergi pemasaran pariwisata,” sambungnya.

Data kenaikan jumlah pengunjung Museum Ranggawarsita menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada 2009 atau sebelum pencanangan Tahun Kunjungan Wisata, jumlah pengunjung 41.597 orang, pada 2010 menjadi 47.332, dan rekap sementara tahun 2011 sampai September 42.250, yang dihitung dari jumlah tiket yang terjual.

“Jumlah yang ada itu mungkin bisa lebih besar dari yang tercatat, sebab ada pula yang masuk tanpa tiket, padahal tiketnya hanya Rp 4000 saja,” katanya.

Saat ini Museum Ranggawarsita sedang merenovasi beberapa bangunan gedung utamanya sebagai langkah pembenahan, namun sayangnya seluruh perbaikan fisik itu belum disertakan penambahan sistem kamera pengawas.

Padahal seperti yang pernah terjadi di Museum Radyapustaka Solo dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta, ribuan koleksinya hilang secara bertahap meski kedua museum itu telah memasang kamera pengawas.

Singkat kata, sekolah di Semarang, Jateng, telah memperkenalkan museum sejak di bangku sekolah. Upaya positif untuk mencintai museum dan isinya, tentunya.

Penulis: Retno Manuhoro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori