Oleh: museumku | 13 Februari 2012

Sejarah Permuseuman di Indonesia (Bagian 5 – Selesai)

Judul: Sejarah Permuseuman di Indonesia

Tim Penulis: Agus Aris Munandar, Andini Perdana, Andriyati Rahayu, Annissa Maulina Gultom, Djulianto Susantio, Luthfi Asiarto, Nunus Supardi, R. Tjahjopurnomo, dan Yunus Arbi

Penata Letak: Sukasno

Penerbit: Direktorat Permuseuman

Cetakan: I

Tahun: 2011

Akhir Desember 2011, Direktorat Permuseuman menerbitkan buku Sejarah Permuseuman di Indonesia. Diharapkan buku ini bermanfaat untuk kalangan museum, mahasiswa, dan masyarakat awam. Selain dalam bentuk cetak, seluruh materi buku akan dimuat dalam blog ini. Selamat membaca.


Bab 5
PENUTUP

Permuseuman dan museum-museum di Indonesia senantiasa akan terus berkembang, berbagai konsep, teori dan juga pengetahuan pragmatis tentang permuseuman akan terus diterapkan demi untuk kemajuan museum-museum itu sendiri. Begitupun kesadaran bangsa akan kebudayaannya lambat laun meningkat, hal itu berarti tugas museum-museum Indonesia semakin penting untuk merealisasikan Tiga Pilar Permuseuman Indonesia yang telah disepakati bersama.

Permuseuman di Indonesia ternyata telah mempunyai akar tradisi yang relatif lama, bermula dari minat pribadi para kolektor, ilmuwan, dan perkumpulan-perkumpulan peminat benda masa silam yang dengan sadar menyimpan beberapa artfeafak yang dianggap penting dari sudut sejarah kebudayaan, demikian yang terjadi pada tahap pertama. Pada tahap kedua perhatian kepada benda-benda kuno tersebut semakin meningkat dan disadari perlu adanya lembaga khusus yang menangani perkara penyimpanan benda-benda antik tersebut untuk kemudian diteliti dan dipamerkan kepada khalayak. Intitusi itulah yang kelak dinamakan dengan museum.

Tahap yang kedua ini masih terjadi dalam masa pemerintahan kolonial Belanda, jadi dalam masa Hindia-Belanda telah tumbuh minat dan perhatian terhadap kajian kebudayaan Nusantara sejalan dengan politik etis yang sedang berkembang masa itu di Eropa. Pada tahap kedua ini agaknya tidak hanya para cendikiawan dan ilmuwan bangsa Belanda yang memikirkan perlu pembangunan museum, namun juga para ilmuwan pribumi dan kaum pembesar bumiputera pun menyadari perlu adanya lembaga museum sebagai bentuk penghargaan kepada keagungan masa lampau Nusantara.

Tahap ketiga perkembangan permuseuman adalah ketika Indonesia telah merdeka, dalam periode ini dapat dibagi menjadi: (a) era transisi kemerdekaan hingga masa orde baru, (b) era permuseuman dalam zaman Orde baru, dan (c) era Indonesia masa reformasi hingga sekarang ini. Pembagian tersebut memang dapat dilakukan berdasarkan data tentang permuseuman yang ada, dan cukup berbeda antara keduanya. Ciri utama dari era transisi adalah masih berubah-ubahnya regulasi permuseuman, museum-museum dalam rencana pembangunan, dan institusi permuseuman masih mencari formatnya.

Perkembangan permuseuman Indonesia apabila digambarkan dalam bentuk bagan adalah sebagai berikut:

Ciri yang dapat diangkat dari periode Orde Baru di bidang permuseuman adalah adanya regulasi yang seragam dan pembangunan museum-museum di tiap propinsi. Pembakuan itu ditetapkan dan harus dilaksanakan di museum-museum umum dan khusus yang didirikan. Adapun karakter yang paling menonjol dari permuseuman Indonesia dalam era Reformasi adalah otoonomisasi, ketika lembaga-lembaga museum di ibu kota propinsi diserahkan pengelolaan dan pengembangannya kepada pemerintah daerah senapas dengan otonomi di bidang-bidang lainnya.

Mengenai permuseuman masa mendatang di Indonesia adalah suatu bentuk untuk mempertahankan tradisi budaya Nusantara yang diasosiasikan dengan kondisi masyarakat sezaman dan untuk itu senantiasa harus melakukan aktualisasi. Museum-museum di Indonesia mendatang harus mendukung dan melaksanakan Tiga Pilar Permuseuman yang merupakan acuan bersama untuk memperteguh keberadaan bangsa Indonesia di tengah kesejagatan yang kian nyata.

Di bagian akhir ada baiknya memperhatikan pernyataan M.Amir Sutaarga seorang Mpu Permuseuman Indonesia pada beberapa decade silam, namun agaknya masih relevan hingga sekarang sebagai berikut:

“Musea di Indonesia masih merupakan anak tiri dalam pegujuban hidup kita, padahal apabila musea kita disesuaikan dengan keadaan dan tantangan djaman —ini hanja bisa, bila ia dikembangkan setjara sewadjarnja dalam waktu yang singkat—nistjaja masyarakat kita akan dapat mengambil faedah2 nja, istimewa untuk tujuan2 sosio-edukatif” (M.Amir Sutaarga, 1959).

Diakui atau tidak bahwa memang benar museum-museum di Indonesia masih harus melalui perjuangan yang sungguh-sungguh untuk dapat dijadikan kebutuhan bagi masyarakatnya. Jika hal sudah dapat terwujud, maka permuseuman Indonesia akan menjadi kebanggaan budaya bangsa.

(Selesai)


Responses

  1. Dimana saya bisa mendapat buku ini dalam bentuk cetak? Saya di Yogyakarya, terimakasih

    • Buku ini terbitan Direktorat Permuseuman yang sekarang bergabung menjadi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Alamatnya Gedung E lt. 11, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jl Jend Sudirman, Jakarta Pusat.

  2. Salam kenal

    Saya Adi mahasiswa dari Indonesia yang sedang studi lanjut di Jerman dalam bidang arsitektur dengan pengkhususan cultural and monumental heritage. Situs / web ini sangat bermanfaat dan membuka wawasan tentang permuseuman di Indonesia yang sebelumnya mungkin hanya diketahui sejumlah kalangan saja.

    Dalam kesempatan awal ini ada beberapa hal yang ingin saya ketahui dan tanyakan antara lain:

    1. Mengingat lokasi…apakah isi publikasi website ini sama persis dengan yang tercetak dalam buku? Sehingga dengan membaca dari web sama dengan membaca dari buku.

    2. Bila ingin mengetahui organisasi..yayasan..asosiasi..komunitas dan bentuk organisasi lain yang berkaitan dengan kegiatan preservasi dan konservasi cagar budaya di Indonesia…baik sebelum tahun 1945 ataupun setelah tahun 1945 hingga saat ini apakah dapat bertanya kepada Bapak/Ibu pengelola situs / web ini?

    3. Apakah Bapak/Ibu dapat membantu saya untuk memperoleh informasi tentang:
    a. sejarah perjalanan konservasi cagar budaya di Indonesia?
    b. termasuk di dalamnya adalah bagaimana cara konservasi tersebut dilakukan dari periode ke periode…adakah perbedaan cara kerja…apakah metodanya berubah…
    c. apakah ada perubahan aturan yang signifikan dari UU No 5/1992 dan UU No.11/2010 beserta aturan-2 pendukungnya baik dari Kementrian PU maupun aturan lainnya…. dan informasi lainnya.
    4. Bagaimanakah konservasi cagar budaya dilakukan di Indonesia sebelum 1945….antara 1945 hingga 2000….dan setelah 2000…..

    5. Apakah saya dapat mengajukan pertanyaan lain melalui email terpisah?

    Kebetulan saya sedang memperoleh tugas untuk hal ini sehingga banyak mengajukan pertanyaan.

    Terimakasih atas perhatian dan bantuannya.

    Salam
    Adi.

    • Saya hanya hobi menulis dan tidak bekerja di instansi arkeologi/museum. Yang Anda tanyakan kebanyakan menyangkut cagar budaya. Sebaiknya datang ke Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, di Gedung E lantai 11, kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jend Sudirman, Jakarta Pusat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: