Oleh: museumku | 3 Agustus 2010

Museum Apartheid, Jejak Kegelapan Masa Lalu Afsel

Johannesburg (ANTARA News) – “Kulit berwarna dianggap lebih baik dari penduduk asli (kulit hitam) yang hampir berada di tingkat paling dasar kehidupan manusia. Mereka menjadi objek eksploitasi dan hidup dalam kemiskinan dan penuh penderitaan.”

Demikian salah satu dari sekian banyak tulisan yang menghiasi dinding di dalam ruangan Museum Apartheid di Johannesburg.

Di sudut lainnya, juga terdapat cerita bagaimana Willie Vickerman, seorang anak yang harus menerima kenyataan dikategorikan sebagai masyakarat kelas berwarna (coloured) hanya karena ia berayah seorang kulit putih dan ibu kulit hitam.

Ketika bekerja di perusahaan kereta api, ia pun menerima posisi dan jabatan sebagai seorang kulit berwarna, memiliki tanah khusus untuk kulit berwarna, dan pajak pun dikategorikan berdasarkan warna kulit.

Masih banyak cerita-cerita yang menggambarkan ketidak adilan sistem pemerintahan apartheid yang membagi umat manusia ke dalam tiga kelompok, yaitu kulit putih (white), berwarna (coloured) dan hitam (black).

Kulit putih yang meski hanya mempunyai populasi sekitar 17 persen dari total 49 juta penduduk Afrika Selatan, tapi mendominasi hampir seluruh sisi kehidupan dan ditempatkan di kelompok paling atas, disusul kulit berwarna, sementara kulit hitam yang merupakan mayoritas karena penduduk asli (70 persen), secara ironis justru menempati tempat paling rendah,

Sebelum memasuki museum pun, yaitu saat berada di pintu masuk, pengunjung seolah-olah diajak ke alam apartheid. Di depan pintu masuk, terdapat dua jalur yang bertuliskan White dan Non-White. Pengunjung boleh memilih mau masuk di pintu yang mana, berdasarkan tiket sebesar kartu kredit yang juga bertuliskan white dan non-white.

Tentu saja itu hanya untuk sekedar mengingatkan cerita masa lalu, atau agar pengunjung bersiap untuk mengarungi sejarah kelam tersebut, karena mereka yang berkulit hitam pun bisa saja mau masuk di pintu bertuliskan white, atau sebaliknya.

Selepas pintu masuk dan sebelum melangkah lebih jauh mengarungi sejarah Afrika Selatan, mulai dari zaman prasejarah sampai lahirnya demokrasi, pengunjung akan disambut oleh deretan kerangkeng besi. Di dalam kerangkeng yang mirip kandang berukuran tidak sampai satu meter persegi yang dipakai untuk kurungan itu manusia itu, dipajang berbagai kartu identitas penduduk yang berdasarkan warna kulit.

Setelah beberapa jam di dalam Museum Apartheid, pengunjung akan merasa seolah-olah berada di sebuah perkampungan pada 1970-an sampai 1980-an, dimana polisi melepaskan tembakan dan gas air mata, atau aksi dorong-dorongan dengan anak-anak sekolah, sementara di sudut lain ada yang membopong tubuh-tubuh terluka untuk mencari perlindungan di rumah-rumah penduduk.

Museum ini menampilkan foto-foto serta teks yang sangat kuat dan menjadi salah tempat penting yang menjadi daya tarik turis di Johannesburg. Berkunjung ke Johannesburg terasa belum lengkap bila belum mampir di museum ini.

Di beberapa sudut museum, terdapat foto-foto dengan ukuran raksasa, kandang besi, serta layar monitor yang menampilkan berulang-ulang peristiwa bersejarah di masa pemerintahan apartheid.

Menurut direktur museum Christopher Till, memang sudah sepatutnya museum apartheid pertama di Afrika Selatan itu dibuka di Johannesburg, dengan berbagai pertimbangan.

“Masyarakat kulit hitam merasa terusir dari tanah mereka selama masa perang kolonial dan penerapan pajak. Petani kulit putih juga telah terpisahkan oleh Perang Boer,” kata Till.


Bagian Kasino

Pada awalnya, museum ini sebenarnya menjadi bagian dari sebuah proyek pembangunan kasino sembilan tahun lalu, karena pemenang tender pembangunan kasino diharuskan untuk juga membangun proyek sosial. Akhirnya konsorsium pemenang tender menyatakan bahwa mereka akan membangun sebuah museum yang berada di dekat arena rekreasi di kawasan Gold Reef City.

“Pihak konsorsium siap menyediakan dana sebesar 80 juta rand untuk membangun museum. Konsorsium juga berkomitmen untuk menanggung biaya pemeliharaan museum untuk masa dua tahun, sehingga secara total mereka menghabiskan dana 100 juta rand,” kata Till.

Bangunan museum mempunyai luas sekitar 6.000 meter persegi di areal seluas tujuh hektar. Selain bangunan museum, juga dibangun arena rekreasi alam berupa danau buatan.

“Sinergi antara alam, bangunan yang diplester, semen, bata merah, serta baja, menciptakan hubungan yang harmonis antara struktur bangunan dan lingkungan,” katanya.

Hampir semua ahli dari berbagai bidang ikut menyumbangkan ide mereka untuk memperkaya museum, seperti sutradara film, sejarawan, ahli museum, dan para arsitek.

Dari hasil karya mereka, terciptalah foto-foto yang menarik dengan pesan yang kuat, kliping-kliping surat kabar, serta cerita-cerita mengenai apartheid melalui film dokumenter.

Diantara koleksi yang terkenal adalah sebuah mobil polisi berwarna kuning dan biru yang disebut “casspir”. Dari mobil yang dilengkapi pelindung dan pintu kecil itu, polisi melakukan patroli di tempat-tempat kerusuhan.

Juga diperagakan 121 tali yang digunakan untuk menghukum gantung tahanan politik yang menentang kebijakan apartheid.

Koleksi dalam bentuk film dokumenter yang terkenal adalah hasil wawancara Nelson Mandela dengan BBC pada 1961, ketika ia bersembunyi dari kejaran pemerintah, serta pidato Perdana Menteri Hendrik Verwoerd dalam bahasa Inggris yang menjelaskan bahwa masyarakat di seluruh Afrika Selatan hanya bisa hidup damai dan bahagia jika berdasarkan warna kulit masing-masing.

Interior museum dibuat sedemikian rupa dengan foto-foto yang kuat, jalan ruang yang berbentuk zig-zag, pencahayaan yang suram dengan foto-foto rakyat yang menderita dibalik jeruji besi atau lebih tepat disebut kandang, sehingga setiap pengunjung bisa merasakan jahatnya pemerintahan sistem apartheid tersebut.

“Museum ini tidak hanya penting untuk menceritakan bagaimana sejarah apartheid, tapi juga penting untuk memperlihatkan kepada dunia, bagaimana masyarakat Afrika Selatan berhasil mengatasi masalah mereka. Sudah tentu ada pelajaran yang bisa diambil negara lain,” kata Till.

Politik apartheid yang menindas memang telah dihapus sejak 1994 lalu, disusul dengan kemenangan Nelson Mandela sebagai presiden dalam pemilihan umum secara demokratis untuk pertama kalinya.

Tapi peninggalan pemerintahan apartheid yang menempatkan masyarakat kulit hitam dalam kasta yang paling rendah, itu sampai saat sekarang masih menyisakan luka.

“Saya tidak pernah bercerita kepada anak-anak saya yang masih anak-anak dan sempat menghirup udara zaman apartheid. Biarkan mereka tahu dari sejarah dan biarlah itu menjadi masa lalu saya,” kata Lili Shabangu, wanita kulit hitam asal Nelspruit, salah seorang pengunjung dan ibu satu anak yang dilahirkan hanya setahun setelah dihapuskannya apartheid.

(antara.co.id)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori