Oleh: museumku | 8 Maret 2011

Strategi Edukasi Museum dan Pemasarannya: Studi Kasus Museum Sejarah Jakarta

Dian Sulistyowati


ABSTRAK

Penelitian ini membahas strategi edukasi dan pemasaran Museum Sejarah Jakarta berdasarkan kajian layanan terhadap pengunjung museum. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang didukung oleh data kuantitatif. Hasil penelitian berupa saran dan masukan bagi Museum Sejarah Jakarta bahwa dalam pembentukan strategi museum, harus mempertimbangkan antara keinginan dan kebutuhan pengunjung dengan tujuan utama museum, yaitu untuk menyampakan misi edukasinya kepada masyarakat. Dengan demikian, Museum Sejarah Jakarta diharapkan dapat menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman sekaligus rekreasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Kata kunci: Museum, edukasi, layanan pengunjung, dan pemasaran museum.


Pendahuluan

Dewasa ini, museum-museum baik di Indonesia maupun di dunia telah mengalami suatu perkembangan. Museum tidak lagi ingin disebut sebagai ’gudang’ tempat menyimpan barang-barang antik seperti anggapan masyarakat pada umumnya, tetapi museum berusaha untuk menjadi tempat dimana pengunjung dapat merasakan suatu suasana dan pengalaman yang berbeda, yang hanya akan mereka dapatkan jika mereka berkunjung ke museum. Perubahan ini membuat peran museum berkembang menjadi tempat preservasi, penelitian dan komunikasi, yang tujuannya untuk menyampaikan misi edukasi sekaligus rekreasi kepada masyarakat (Weil, 1990; Hooper-Greenhill, 1994:140).

Perubahan tersebut juga membuat misi edukasi yang diemban oleh museum mengalami pergeseran. Selama ini, peran edukasi museum adalah untuk menyampaikan misi pendidikan mereka kepada anak-anak, namun, dengan perubahan paradigma, maka museum juga harus dapat menyampaikan misi edukasinya itu kepada semua lapisan masyarakat. Museum tidak hanya sekadar menjadi tempat untuk mendidik masyarakat, tetapi menjadi tempat pembelajaran, yang termasuk di dalamnya tempat di mana pengunjung dapat memperoleh pengalaman (Ambrose dan Paine, 2006:46 -48).

Sementara itu, kenaikan jumlah pengunjung yang signifikan menjadi suatu ukuran bahwa museum telah berhasil minat masyarakat untuk datang berkunjung. Lebih jauh lagi, hal ini juga dapat memberikan suatu asumsi bahwa museum telah menjadi satu alternatif baru bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu luangnya, sekaligus sebagai tempat dimana mereka dapat memperoleh pengalaman baru. Kenaikan jumlah pengunjung ini juga dialami oleh Museum Sejarah Jakarta (MSJ), namun bila dikaitkan dengan perkembangan peran edukasi museum untuk menjangkau semua lapisan masyarakat, serta perlunya meningkatkan kualitas pemahaman pengunjung terhadap museum, membuat MSJ harus memiliki strategi dalam memenuhi kebutuhan pengunjungnya.

Dengan demikian, permasalahan yang perlu dikaji dalam hal ini adalah mengenai strategi MSJ untuk menyampaikan misi edukasi dan mengemasnya kepada pengunjung melalui kajian pemasaran di museum.


Konsep dan Strategi Edukasi di Museum

Bila berbicara mengenai edukasi di museum, maka tidak dapat dipisahkan dari teori yang mendasarinya. Hein dalam bukunya yang berjudul Learning in the Museum menjelaskan bahwa teori edukasi terdiri atas teori belajar (learning theories) dan teori pengetahuan (theories of knowledge) (Hein, 1998:16). Ada dua pandangan yang saling berlawanan dalam teori pengetahuan, yang pertama berpendapat bahwa pengetahuan itu berada di luar atau terpisah dari diri si pelajar, pandangan ini disebut dengan realisme. Sementara itu, lawan dari realisme, yaitu idealisme menyatakan bahwa pengetahuan itu berada dalam pikiran dan dibangun oleh si pelajar (Hein, 1998:17 – 18; 1994;73 – 74; 1995:21; Hooper-Greenhill, 1994:68). Dua pendapat tersebut dapat digambarkan dalam sebuah kontinum seperti berikut:


Selanjutnya, teori belajar yang mendasari pemikiran mengenai bagaimana seseorang belajar juga terdiri atas dua pandangan yang berbeda. Pandangan yang pertama berasumsi bahwa belajar terdiri atas asimilasi incremental dari berbagai informasi, fakta dan pengalaman, hingga akhirnya menghasilkan pengetahuan (behaviorisme).

Sementara itu, menurut konstruktivisme, belajar terdiri atas seleksi dan organisasi data yang relevan dari pengalaman, dalam hal ini mereka meyakini bahwa orang belajar dengan membentuk pengetahuannya (Hein, 1998: 21 – 23; 1994:74; Hooper-Greenhill, 1994:21). Seperti teori pengetahuan, teori belajar ini juga dapat ditampilkan dalam kontinum seperti berikut:


Oleh Hooper-Greenhil, dua pendekatan pada teori pengetahuan dan teori belajar ini dapat mendukung interpretasi peran dari pengajar. Jika kita berpikir bahwa pengetahuan berada di luar diri orang yang belajar, dan proses belajar tersebut menjadi bagian dari pengetahuan, maka tugas bagi pengajar adalah untuk mengirimkan pengetahuan itu kepada orang yang belajar. Orang yang belajar dianggap sebagai ‘botol kosong yang harus diisi’, pasif dan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan oleh pengajar. Sementara jika kita berpikir bahwa pengetahuan dihasilkan oleh orang yang sudah memiliki pengetahuan tersebut, dan prosesnya sebagai aktivitas pikiran dengan kerangka sosial budaya, maka peran pengajar adalah sebagai fasilitator (Hooper-Greenhill, 1994:68).

Dalam pandangan konstruktivis, peran edukator di museum adalah untuk memfasilitasi cara belajar aktif lewat penanganan objek dan diskusi, yang dihubungkan dengan pengalaman konkret. Dalam konteks edukasi di museum, dengan didasarkan pada paradigma konstruktivis, museum atau edukator dapat bertindak sebagai fasilitator. Walaupun demikian, pihak museum dapat menggunakan cara didaktik sebagai aspek lain dalam hubungannya dengan publiknya (Hooper-Greenhill, 1994:68).

Berdasarkan konsep dan teori edukasi di museum tersebut, maka dalam penentuan strategi edukasinya, museum dapat menggunakan strategi belajar aktif (active learning) yang dapat melibatkan seluruh indra dan pengalaman pengunjung lewat konsep edutainment. Dalam pelaksanaannya, dan dalam rangka memperluas akses masyarakat, museum dapat menerapkan strategi edukasi di dalam dan di luar museum, atau bahkan perpaduan keduanya. Dengan cara ini, diharapkan museum dapat membuat strategi edukasi dengan tepat, yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat.


Konsep dan Strategi Pemasaran di Museum

Perubahan paradigma dan perkembangan peran edukasi membuat museum menyadari pentingnya untuk memberi perhatian terhadap apa yang menjadi kebutuhan pengunjung museum saat ini, dan masyarakat yang berpotensi menjadi pengunjung museum mereka. Oleh karena itu museum kemudian memasukkan metode dan strategi pemasaran ke dalam pengelolaan museumnya. Hull dalam artikelnya yang berjudul “A new leaflet for the service or the beginnings of a marketing strategy”, mengatakan bahwa,
“Marketing is about listening to our public and helping them understand who we are, what we do and why museums could be important and relevant to them” (Hull, 1990:7; Hooper-Greenhill, 1996:24).

Strategi pemasaran museum saat ini dianggap dapat menjadi salah satu jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh museum berkaitan dengan upaya membuka akses kepada masyarakat luas untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di museum, sekaligus memenuhi kebutuhan pengunjung.

Menurut Kotler, strategi adalah upaya yang dilakukan oleh museum untuk mencapai tujuannya. Dalam pemasaran museum, ada tiga langkah yang mempengaruhi pembuatan strategi pemasaran, yaitu segmentasi (segmentation), penentuan pasar sasaran (targeting) dan posisi produk dalam benak konsumen (positioning). Namun, karena museum merupakan lembaga yang menawarkan layanan jasa kepada masyarakat, maka pendekatan dan strategi pemasaran yang dapat diterapkan oleh museum adalah pemasaran jasa (marketing service). Layanan jasa museum memiliki karakteristik tersendiri, yang menjadi ukuran sebuah pelayanan di museum. Karakteristik ini akan diintegrasikan ke dalam teori pemasaran museum, yaitu konsep bauran pemasaran (marketing mix) untuk menentukan strategi pemasaran yang tepat bagi sebuah museum.

Bauran Pemasaran (Marketing Mix) pertama kali dipopulerkan oleh E. Jerome McCarthy, yang terdiri dari 4P (product, place, price, promotion). Kotler dan Kotler (2008: 28), menambahkan bauran pemasaran ini menjadi tactical marketing, yang merupakan alat dan keahlian pemasaran yang digunakan untuk mencapai aktivitas pemasaran, dengan menambahkan elemen people, yang kemudian kenal dengan sebutan 5Ps. Namun, lima elemen tersebut dinilai masih belum sesuai dengan pemasaran jasa. Maka Cowell dalam McLean (1994) memasukkan dua elemen tambahan, yaitu process dan physical support ke dalam konsep bauran pemasaran. Dengan menerapkan beberapa konsep bauran pemasaran tersebut, diharapkan setiap museum dapat mengembangkan penawarannya dengan mengintegrasikan karakteristik jasa yang dimilikinya dalam sebuah strategi pemasaran.


Gambaran Umum Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta (MSJ) yang juga dikenal dengan nama Museum Fatahillah adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.2 Jakarta Barat. (Ataladjar, 2003:262 – 267; Heuken, 1982:34 – 35). Museum ini berada di lokasi yang cukup strategis, yaitu berada di daerah wisata Kota Tua Jakarta. Akses menuju museum ini dapat dicapai dengan cukup mudah oleh warga Jakarta, karena telah tersedia berbagai sarana dan prasarana, seperti jalan raya, stasiun dan jalur kereta api, serta terminal dan jalur bus Transjakarta.

Dalam menjalankan kegiatannya, MSJ memiliki visi dan misi yang dijadikan pedoman. Visi MSJ menggambarkan harapan museum di masa depan, yaitu untuk menjadikan MSJ sebagai obyek wisata unggulan. Hal ini berkaitan dengan lokasi di mana MSJ berada, yaitu di wilayah Kota Tua Jakarta yang sejak tahun 2007 telah diresmikan sebagai salah satu daerah wisata. Sementara itu, misi yang diemban MSJ selain melaksanakan berbagai fungsi museum juga bermaksud untuk memberikan pelayanan jasa informasi sejarah kota Jakarta.

Salah satu hal yang penting bagi museum adalah produk yang dimilikinya. Selain itu, karakteristik pengunjung museum juga diperlukan, karena untuk menentukan strategi edukasi dan pemasarannya, museum memerlukan informasi berkaitan dengan jenis pengunjung untuk mengetahui kebutuhan mereka terkait dengan layanan informasi yang diberikan oleh museum. Karakteristik pengunjung MSJ dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan demografi, antara lain menurut jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tujuan kunjungan ke museum.

Berdasarkan usia, sebagian besar pengunjung MSJ berusia dibawah 20 tahun, yaitu sekitar 43,8% dan paling sedikit yang berusia di atas 50 tahun yaitu hanya 8%. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar pengunjung MSJ memiliki latar pendidikan SMU sebanyak 41,4% dan paling rendah adalah tingkat SMP, yaitu sebanyak 2,3%. Kemudian berdasarkan pekerjaan, sebanyak 55,5% berprofesi sebagai pelajar, baik itu pelajar mulai tingkat SLTP hingga sarjana (tingkat S2 dan S3), dan sebanyak 7,8% masing-masing merupakan pegawai negeri sipil dan mereka yang memiliki profesi lain. Terakhir adalah berdasarkan alasan berkunjung, dapat diketahui bahwa sebagian besar sampel pengunjung, yaitu sebanyak 48,4% mengunjungi museum dengan tujuan untuk berekreasi, dan paling rendah, yaitu sebanyak 5.8% datang ke museum untuk melakukan penelitian.


Strategi Edukasi Museum Sejarah Jakarta dan Pemasarannya

Strategi edukasi yang dapat diterapkan oleh MSJ adalah strategi yang menerapkan cara belajar aktif dengan melibatkan pengunjung beserta pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki, dan disajikan lewat konsep edutainment. Untuk pengembangannya, MSJ dapat mengembangkan produknya tidak hanya di dalam museum, tetapi juga membawanya keluar museum, agar dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas.

Untuk pengemasan lebih lanjut, maka strategi edukasi ini akan dilengkapi dengan strategi pemasaran museum. Strategi pemasaran yang akan dibentuk oleh MSJ harus mempertimbangkan karakteristik pengunjung museum seperti latar belakang pendidikan, pekerjaan dan tujuan mereka mengunjungi museum. Dengan pertimbangan tersebut tentunya diharapakan strategi pemasaran yang dibuat nantinya disesuaikan dengan produk museum, karakter, keinginan dan kebutuhan pengunjung.

Berikut ini adalah pembahasan lebih lanjut mengenai analisis strategi edukasi pada produk museum serta pemasarannya, yang dapat dibentuk dan dikembangkan oleh MSJ:

1. Pameran Tetap

Pihak MSJ dapat memilih bagaimana mereka akan menyajikan pameran tetapnya, setelah mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pengunjung. Walaupun bertindak sebagai fasilitator, pihak museum dapat menggunakan cara didaktik dalam penyajian pamerannya, seperti yang saat ini telah dilakukan. Metode didaktik ini menampilkan sajian yang tertata secara sistematis dan terstruktur.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak museum dalam metode penyajian pameran mereka pertama adalah alur cerita yang disajikan harus jelas, sehingga pengunjung tahu arah pergerakan mereka setelah melihat satu sajian menuju sajian berikutnya, walaupun tanpa arahan dari pemandu. Koleksi yang ditampilkan juga harus benar-benar mewakili periode tertentu dari sejarah Jakarta, karena saat ini masih ada pengunjung yang merasa beberapa objek yang ditampilkan pada salah satu ruang pameran tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah kota Jakarta.

Penyajian koleksi dalam ruang pamer MSJ masih harus ditunjang dan dikemas lebih lanjut agar menarik dan dapat memberikan suatu nuansa dan pengalaman baru bagi pengunjung. Tampilan dalam tata pamer museum tidak perlu canggih atau terkesan mewah, karena yang terpenting adalah bagaimana informasi dapat disampaikan dengan cara yang sederhana, singkat, tetapi tetap jelas dan berkesan (Goodlad dan McIvor, 1998). Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan mengganti informasi pada label koleksi secara berkala. Seperti yang kita ketahui bahwa dari satu koleksi, dapat dimunculkan berbagai macam cerita dan makna yang dapat dikaitkan dengan berbagai peristiwa. Namun, tentunya untuk dapat membuat suatu cerita atau makna dibalik koleksi tersebut, pihak museum harus melakukan penelitian sekaligus interpretasi terlebih dahulu mengenai koleksi yang akan ditampilkan.

Sebagai alternatif, informasi koleksi juga dapat diberikan lewat konsep edutainment, yang memadukan antara unsur pendidikan (education) dengan hiburan (entertainment). Informasi ini dapat disampaikan lewat teknologi digital, yang telah dikemas dalam satu program khusus, sehingga dapat dioperasikan lewat komputer. Kemudian bila memungkinkan, dapat dimasukkan berbagai permainan yang berkaitan dengan koleksi museum, seperti misalnya menyusun puzzle menjadi bentuk salah satu koleksi museum.

Apabila tidak memungkinkan, permainan tersebut masih dapat dilakukan secara manual kepada pengunjung, terutama pengunjung anak-anak. Di sini, keahlian edukator dan pemandu yang menjadi kunci keberhasilan penyampaian informasi tersebut. Permainan ini juga dapat diikuti oleh orang dewasa untuk membimbing putra-putri atau adik mereka, sehingga semua lapisan dapat dilibatkan.

Konsep edutainment ini juga akan sangat baik sekali bila dapat diterapkan di MSJ, karena melihat tujuan kunjungan pengunjung museum hampir 50% adalah untuk rekreasi, maka hal utama yang mereka cari adalah sesuatu yang dapat menghibur dan membuat mereka nyaman. Namun, yang terpenting dari konsep ini adalah bagaimana pengunjung dapat belajar di museum dengan cara yang menyenangkan.

2. Program Museum
Strategi edukasi lain yang harus dibuat oleh MSJ adalah membuat dan mengemas program-program dengan muatan pendidikan dan hiburan yang seimbang sebagai bagian dari misi utama mereka dalam memberikan pelayanan edukasi kepada pengunjung. Program-program edukasi ini ada yang dilakukan di luar museum, dan ada yang dilakukan di dalam museum. Berikut ini adalah program-program yang dapat dibuat dan dijalankan oleh MSJ:

a. Museum Masuk Sekolah dan Museum Keliling

Program Museum Masuk Sekolah dan Museum Keliling adalah contoh program edukasi yang dilakukan di luar museum. Untuk menjalankan program ini, museum dapat menjalin kerja sama dengan pihak sekolah yang bersangkutan atau dengan instansi pemerintah, misalnya dengan Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Jadi, tidak hanya lewat penyuluhan yang terkesan sangat formal, tetapi dengan membawa koleksi museum ke sekolah-sekolah, agar dapat digunakan sebagai bahan ajar oleh para guru di sekolah. Hal ini akan menjadikan museum lebih hidup, karena mereka tidak hanya menunggu masyarakat untuk datang berkunjung, tetapi mereka yang mendatangi masyarakat tersebut.

Jika program museum masuk sekolah bertujuan untuk menjangkau segmen anak-anak di sekolah-sekolah, maka program museum keliling ditujukan untuk menjangkau segmen orang dewasa, masyarakat luas, termasuk mereka yang berada di daerah-daerah yang jauh dari museum. Program museum keliling ini dapat dibuat oleh museum dengan cara membawa dan menampilkan koleksi museum, baik asli maupun replika dalam sebuah kendaraan (seperti mini bus) yang telah dirancang sedemikian rupa, sehingga masyarakat dapat masuk ke dalam kendaraan dan melihat-lihat seperti apa koleksi yang ditampilkan tersebut.

b. Kunjungan Sekolah

Program ini termasuk program yang dilakukan di dalam museum. Saat ini, museum harus memikirkan kembali bagaimana agar kunjungan siswa-siswa sekolah itu bukan hanya sekadar formalitas tanpa makna, melainkan menjadi suatu pengalaman baru yang mendidik bagi para siswa dan para guru. Dalam kegiatan ini, museum harus dapat bekerja sama dengan para guru dan memperkenankan mereka menggunakan sumber daya yang ada di museum dengan lebih baik.

Kunjungan sekolah ke museum ini hendaknya bukan menjadi suatu akhir dari proses belajar siswa, tetapi menjadi bagian dari serangkaian kegiatan belajar mereka. Oleh karena itu, sebelum kunjungan dilakukan akan lebih baik bila ada perencanaan awal antara pihak museum dengan pihak sekolah, dalam hal ini diwakili oleh para guru, sehingga dapat merangkai suatu kegiatan edukasi yang bermakna. Tugas museum dalam kegiatan ini adalah menyediakan berbagai materi pendidikan, sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan, seperti penyediaan lembar kerja siswa (LKS), katalog, dan fasilitas pendukung lainnya.

Lembar kerja siswa yang disediakan oleh museum sebaiknya dapat mendorong para siswa melakukan pengamatan, sehingga mereka tidak akan dapat menjawab pertanyaan dalam lembar kerja tersebut tanpa melakukan pengamatan yang baik, seperti misalnya meminta mereka untuk menghitung, daripada menanyakan bagaimana pembuatan atau fungsi suatu benda (Ambrose dan Paine, 1993:39).

Museum menyadari bahwa kunjungan siswa sekolah ini merupakan jumlah kunjungan yang paling besar. Dengan demikian, ada baiknya jika pihak sekolah dapat memberitahukan terlebih dahulu kapan mereka akan mengunjungi museum. Sementara pihak museum dapat membuat sebuah booklet atau brosur yang berisi penjelasan mengenai layanan apa saja yang dapat mereka sediakan bagi sekolah-sekolah tersebut.

Booklet tersebut paling tidak memuat informasi singkat mengenai pameran di museum, bagaimana caranya apabila pihak sekolah ingin mengadakan kunjungan, layanan apa saja yang tersedia (seperti diskusi, permainan interaktif, dan sebagainya), fasilitas yang tersedia (alat tulis, ruang pertemuan, kantin, dan sebagainya), dan juga informasi mengenai akses bagi siswa yang memerlukan kebutuhan khusus.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kunjungan sekolah-sekolah ke museum seharusnya menjadi satu bagian dari serangkaian kegiatan edukasi siswa, maka harus ada tindak lanjut dari kunjungan para siswa ke museum. Tindak lanjut itu dapat berupa berbagai kegiatan seperti pembuatan karya tulis mengenai berbagai tema dari koleksi yang mereka lihat di museum, pembuatan display pameran antar kelompok dalam satu kelas atau antar kelas, membuat karya seni kolase dengan contoh desain koleksi yang ada di museum, dan lain sebagainya.

c. Workshop dan Diskusi.

Seperti halnya program kunjungan sekolah, kegiatan seperti workshop dan diskusi ini merupakan program yang dilaukan di dalam museum. Sebelum museum mengadakan kegiatan seperti workshop atau diskusi, harus ditentukan terlebih tema dan sasaran atau target yang ingin dicapai, apakah untuk pengunjung umum, anak sekolah, atau untuk para guru misalnya.

Target ini dapat disesuaikan dengan tema yang akan diambil oleh museum, misalnya tema mengenai konservasi kertas/buku langka. Museum dapat menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Nasional untuk mendatangkan seorang konservator kertas yang akan memberikan pengetahuan mengenai bagaimana merawat koleksi tersebut. Tentu yang ingin datang ke acara ini bukanlah anak-anak sekolah dasar, tetapi mereka yang memang memiliki koleksi sejenis itu, atau memang berkecimpung dalam dunia yang berkaitan dengan tema tersebut, misalnya saja para pustakawan atau kolektor buku langka.

Konsep serupa dapat diterapkan pada program diskusi, yaitu mengambil tema-tema tertentu disesuaikan dengan moment khusus. Misalnya bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, MSJ mengadakan diskusi yang mengambil tema “Kebangkitan Perfilman di Indonesia”. Tema umum ini akan lebih banyak diminati oleh masyarakat dari berbagai lapisan dibandingkan tema-tema konvensional.

d. Acara-Acara Khusus

Menurut Ambrose dan Paine (1993:43), salah satu cara yang paling efektif bagi museum untuk menyediakan layanan edukasi adalah dengan mengorganisir acara-acara khusus, yang bisa berlangsung selama sehari, seminggu, atau lebih. Acara-acara ini dapat mengambil satu tema khusus, dengan berbagai aktivitas didalamnya.

Berbagai acara dan kegiatan yang dibuat oleh museum ini dapat dilakukan di dalam maupun di luar museum, dengan mempertimbangkan sumber daya manusia dan dana yang tersedia. Salah satu contoh kegiatan yang pernah dilakukan oleh MSJ adalah Pekan Sejarah dan Arkeologi pada bulan November 2006, yang bertujuan untuk menanamkan apresiasi siswa SD dan SLTP mengenai sejarah dan warisan budaya bangsanya.

Kegiatan ini merupakan salah satu contoh kegiatan edukasi museum yang terdiri atas berbagai macam aktivitas, yang merangsang para siswa untuk belajar secara aktif. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mencakup kegiatan dialog interaktif, menonton film/video dokumenter tentang sejarah dan tinggalan budaya yang ada di Jakarta, menyaksikan pameran yang ada di museum, kunjungan/wisata kampung tua yang dipandu oleh para guide, melakukan aktivitas dengan objek koleksi yang ada di museum (demonstrasi membuat cetakan prasasti, rekonstruksi gerabah, menggambar sketsa, dan puzzle game).

Kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh untuk kegiatan edukasi lain yang dapat dilakukan oleh museum, dengan menentukan atau mengembangkan target segmen yang berbeda. Keuntungan yang didapat selain terlaksananya misi edukasi museum kepada masyarakat, juga memperluas kalangan yang ingin dijangkau oleh museum.

Program lain yang dapat dilakukan oleh museum adalah memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat luas dengan mengadakan pameran temporer di pusat perbelanjaan atau lebih dikenal dengan mall atau tempat-tempat publik lainnya. Untuk menjalankan program ini, mereka harus menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah atau pihak swasta, seperti pihak pengelola mall, pihak perbankan atau BUMN yang dapat menjamin keamanan koleksi museum, serta jika memungkinkan melibatkan pihak sekolah atau universitas untuk menyediakan guide selama pameran.

Berbagai produk museum yang bersifat edukatif tersebut harus didukung oleh tiga elemen lain dalam bauran pemasaran, yaitu promosi, staf museum, serta fasilitas pendukung. Tiga hal ini harus diintegrasikan ke dalam produk-produk museum, sehingga dapat menambah nilai produk tersebut bagi pengunjung, dan memberikan pengalaman yang menyeluruh kepada pengunjung dari kunjungan mereka ke museum. Sedangkan elemen harga, tempat dan proses tidak akan dibicarakan lebih lanjut. Hal ini karena dari segi harga, yang berarti harga tiket masuk museum, MSJ merupakan museum milik pemerintah yang telah ditentukan harga tiket masuknya dan tidak dapat dinaikkan atau diturunkan tanpa keputusan dari pemerintah daerah. Kemudian dari segi tempat, MSJ telah diuntungkan dengan lokasinya yang strategis. Sedangkan proses berkaitan dengan bagaimana layanan itu diberikan, dan hal tersebut telah tercakup ke dalam empat elemen yang menjadi pembahasan. Secara spesifik elemen promosi, staf museum, serta fasilitas pendukung akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Promosi

Promosi museum dapat dilakukan dari dalam atau dari luar museum. Promosi dari dalam mencakup semua tindakan promosi yang dilakukan oleh pihak museum, sedangkan dari luar adalah kegiatan promosi yang dilakukan oleh pihak lain diluar museum (A. Palmer, Principles of Services Marketing, McGraw-Hill, 1994 dalam McLean, 1997 : 140).

Seperti museum pada umumnya, MSJ juga mengandalkan media promosi berupa brosur untuk memperkenalkan museumnya, dibandingkan dengan media lain seperti leaflet, poster atau website. Namun, brosur juga menjadi kelemahan dari sarana promosi ini karena hampir menjadi kelemahan semua museum di Indonesia. Kebanyakan museum tidak memperhatikan brosur yang mereka buat, bahkan terkadang informasinya tidak up to date, dan tampilannya tidak menarik, padahal brosur (serta leaflet dan alat promosi lainnya) selain bertujuan untuk mempromosikan museum, juga berperan untuk memberi pengetahuan kepada pengunjung dan masyarakat luas.

Brosur dan leaflet sebenarnya tidak perlu dibuat dengan bahan yang mahal, karena yang terpenting adalah informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Sebaiknya pula, brosur dan leaflet ini tidak hanya diberikan kepada pengunjung yang datang ke museum tersebut, tapi justru di tempat-tempat umum dimana orang belum mengetahui tentang museum yang bersangkutan, seperti di terminal bandara, toko buku, tempat-tempat wisata, agen wisata perjalanan, dan lain-lain.

Sebenarnya, dengan keterbatasan dana yang dimiliki oleh MSJ, media promosi yang paling tepat adalah dengan promosi dari mulut ke mulut. Itu berarti, peningkatan pelayanan di museum harus diperbaiki dan ditingkatkan, karena pelayanan inilah yang dapat menjadi ujung tombak dibandingkan dengan produk museum lainnya. Peran pemandu dan front line staff lainnya menjadi kunci keberhasilan promosi ini. Bagaimana mereka melayani pengunjung dan membuat mereka merasa nyaman dengan kunjungannya akan menjadi pengalaman berharga bagi pengunjung yang akan mereka bagi dengan orang lain.

Suvenir juga dapat menjadi media promosi bagi MSJ, karena mereka dapat menjadikan koleksi di museumnya sebagai produk suvenir dengan cara mereproduksi menjadi bentuk-bentuk seperti gantungan kunci, kartu pos, pembatas buku, kaos, mug, pensil, dan lain sebagainya. Keragaman dan kualitas menjadi hal yang penting, karena dengan menjadi salah satu produk museum, benda tersebut telah memiliki harga jual yang tinggi. Selain itu, MSJ dapat membuat program private labeling, yaitu program yang memberikan izin kepada toko suvenir museum untuk membuat berbagai produk dengan menyertakan label berupa nama atau logo museum (Mottner dan Ford, 2003 : 3). Label museum ini diharapkan dapat meningkatkan penjualan, karena produk yang diasosiasikan dengan sebuah benda adalah salah satu taktik dalam strategi pemasaran.

Museum juga dapat mengembangkan brand yang menjadi ciri dari museum tersebut untuk ‘ditempelkan’ pada produk museum. Menurut Kotler, brand didefinisikan sebagai sebuah nama, tanda, simbol, desain, atau kombinasi semuanya yang bertujuan untuk menjadi identitas barang-barang dan layanan dari seorang atau sekelompok penjual, yang membedakan mereka dari kompetitornya (Kotler dan Kotler, 2008:138).

Seiring dengan perkembangan teknologi, museum dapat melakukan promosinya dari dalam museum tetapi dengan cakupan yang lebih luas dengan menggunakan website. Tidak hanya promosi, lewat media ini museum dapat terus mengembangkan dirinya serta menyampaikan misi edukasinya kepada masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk mengunjungi museum, atau terhalang masalah jarak. Namun, untuk mengelola sebuah website, museum harus memiliki staf khusus untuk mengelola dan meng-up date informasi dalam website tersebut. Sebagai alternatif pemecahannya, museum dapat bekerja sama dengan pihak-pihak tertentu, seperti komunitas-komunitas museum yang telah lebih dahulu mengembangkan website dalam mengembangkan jaringannya. Kerja sama yang dijalin dapat dalam bentuk pembuatan sebuah website museum, termasuk desain dan informasi di dalamnya kemudian museum yang mengelola, atau dalam bentuk tenaga yang mengelola website tersebut setiap harinya.

2. Staf Museum

Strategi berikutnya yang dapat dilakukan oleh museum menyangkut staf yang mereka miliki, bukan hanya mereka yang berhadapan langsung dengan pengunjung tetapi juga mereka yang berada di ‘belakang layar’, seperti edukator dan konservator, atau mereka yang merancang program dan promosi di museum. Staf museum menjadi kunci apakah nilai dari kunjungan seseorang dapat bertambah atau mungkin berkurang.

Staf museum dapat dinilai dari sikap, kemampuan dan pengetahuan mereka. Jika salah satu dari tiga hal tersebut dinilai kurang atau buruk oleh pengunjung, maka yang akan terkena penilaian tersebut bukan hanya staf museum, tetapi museum itu sendiri secara keseluruhan.

Sikap staf museum, terutama mereka yang berada di barisan depan (front line), menjadi penilaian awal pengunjung terhadap museum. Staf museum harus memiliki sikap ramah dan bersahabat kepada semua pengunjung museum. Sikap ini kemudian harus ditunjang oleh kemampuan dan pengetahuan mereka terhadap keseluruhan isi museum. Untuk itu sangat penting bagi museum untuk terus meningkatkan pengetahuan yang dimiliki para stafnya, terutama para pemandu yang bisa mereka peroleh dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang pemandu, pengetahuan mengenai koleksi museum, dan tentunya pengetahuan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing yang harus mereka miliki sebagai modal utama.

3. Fasilitas Pendukung

Mclean (2005:199) menyatakan bahwa, museum pada intinya memberikan pelayanan yang didasarkan pada koleksi, walaupun mereka juga memiliki posisi yang tepat untuk menciptakan sebuah suasana. Kotler dalam McLean (2005:199) menambahkan bahwa, suasana ini bisa menjadi alat untuk berkompetisi, karena bagi banyak museum, struktur fisik dan lokasi museum dapat mempengaruhi tingkat suasana yang dapat diciptakan. Fasilitas ini pula yang dapat mendukung dan menjadi nilai tambah bagi museum ketika mereka mengemas produknya, dan harus dapat diakses oleh seluruh pengunjung yang datang ke museum.

Bagi MSJ, struktur fisik pendukung yang dapat memberikan suasana atau atmosfer yang berbeda dengan museum-museum lain adalah bangunan museum dan lokasinya yang berada di wilayah Kota Tua Jakarta. Bangunan ini pula yang menjadi keunggulan bagi MSJ, dan hal ini diakui oleh sebagian besar pengunjung. Ketika mereka memasuki wilayah kota tua, mereka disuguhi nuansa masa lalu yang kental, yang tercipta dari bangunan-bangunan kuno di kanan-kiri jalan.

Suasana inilah yang oleh Kotler dapat dijadikan alat untuk berkompetisi, dan sebaiknya MSJ dapat menjaga suasana ini tetap terjaga. Selain bangunan utama, tentunya masih ada struktur fisik pendukung lain yang diperlukan untuk mendukung maksimalnya pelayanan bagi pengunjung. Sarana pendukung tersebut antara lain toilet, tempat parkir, perpustakaan, toko suvenir, area istirahat, kafe museum, dan lainnya. Fasilitas pendukung lainnya yang dapat diperbaiki bahkan dikembangkan oleh MSJ antara lain fasilitas toilet, area parkir, perpustakaan, area istirahat (rest area), toko suvenir, fasilitas makan, dan petunjuk arah (directory).


Kesimpulan

Sebagai sebuah museum, fungsi utama yang harus dijalankan oleh Museum Sejarah Jakarta adalah untuk menyampaikan misi pendidikan mereka kepada masyarakat. Walaupun sebagian besar pengunjung yang datang adalah untuk berekreasi, namun museum harus dapat menjadikan kunjungan mereka itu bermakna dan menjadi salah satu bagian dari proses pembelajaran di museum. Agar program edukasi yang dibuat dapat menarik pengunjung maupun masyarakat luas, maka diperlukan adanya strategi edukasi. Strategi ini dibutuhkan bagi museum agar mereka dapat mengemas dan mengembangkan program-program edukasinya yang ditujukan bagi pengunjung museum yang beragam.

Untuk saat ini, yang harus dilakukan oleh Museum Sejarah Jakarta adalah menerapkan cara belajar aktif di museum, dengan membuat dan mengembangkan program-program edukasi yang disesuaikan dengan keragaman pengunjung yang datang ke museum. Untuk sementara, sebaiknya program yang dibuat terbatas pada program-program yang telah ada dan dilakukan di dalam museum, seperti misalnya menyiapkan dan mengemas kunjungan anak-anak sekolah ke museum, atau membuat rangkaian tur keliling museum dengan menerapkan konsep edutainment, sehingga kunjungan ke museum dapat menjadi sesuatu yang berbeda. Dukungan dari staf museum dan peningkatan layanan fasilitas yang ada akan membantu berjalannya program tersebut dengan baik.

Pekerjaan terberat bagi Museum Sejarah Jakarta adalah untuk menata kembali penyajian pameran tetapnya hingga dapat memberikan informasi sejarah kota Jakarta yang lengkap. Hal ini karena selain masalah belum tersedianya dana dari pemerintah daerah, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap koleksi yang nantinya akan disajikan dalam konsep penataan pameran yang baru. Oleh sebab itu, Museum Sejarah Jakarta dapat mulai menjalin kemitraan dengan beberapa pihak baru, atau mengembangkan kemitraan yang saat ini sudah ada, karena untuk membuat suatu penyajian pameran yang baru maupun pembuatan program-program edukasi akan lebih mudah dijalankan apabila ada bantuan dari pihak-pihak lain. Pengemasan produk-produk museum kemudian harus didukung pula dengan promosi, layanan yang maksimal dari staf museum dan fasilitas yang ada.


Daftar Pustaka

Ambrose, Timothy dan Crispin Paine (2006). Museum Basics. Edisi II. London dan New York: Routledge.

Ataladjar, Thomas. B (2003). Toko Merah. Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman.

Black, Graham (2005) The Engaging Museum: Developing museums for visitor involvement. London dan New York: Routledge.

Bradford, Hugh (1994). “A New Framework for Museum Marketing”, dalam K. Moore (ed), Museum Management. Routledge. Hlm. 41 – 51.

Burcaw, G. Ellis (1975). Introduction to Museum Work. Nashville: The American Association for State and Local History.

Cole, Denis (2008). “Museum marketing as a tool for survival and creativity: the mining museum perspective”, dalam Museum Management and Curatorship. Vol.23, No. 2 (Juni 2008). Hlm. 177 – 192.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2006). Pedoman Pengelolaan Museum. Direktorat Museum Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Gilmore, Audrey and Ruth Rentschler (2002). “Change in museum management, a custodial or marketing emphasis?”. Journal of Management Development.

Goodlad, Sinclair and Stephanie McIvor (1998). Museum Volunteers. London: Routledge.

Hein, George. E (1998). Learning in the Museum. London : Routledge.

Heuken, Adolf (1982). Historcal Sites of Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Hooper-Greenhill, Eilean (1994). The Educational Role of the Museum. 2nd edition. London : Routledge.

——– (1996). Museums and Their Visitors. London dan New York: Routledge.

——– (2006).“Studying Visitor”, dalam S. McDonald (ed), A Companion to Museum Studies. Blackwell Publishing.

Hudson, Kenneth (1987). Museums of Influence. Cambridge University Press.

Komatsuka, Carol M. (2007). “Expanding the Museum Audience through visitor research”. dalam R. Sandell and R.R. Janes (ed), Museum Management and Marketing. London dan New York: Routlegde.

Kotler, Neil and Phillip (1998). Museum Strategy and Marketing: designing missions, building audiences, generating revenue and resources. San Fransisco: Jossey Bass.

Kotler, Neil, Phillip and Wendy (2008). Museum Strategy and Marketing: designing missions, building audiences, generating revenue and resources. 2nd edition. San Fransisco: Jossey Bass.

Lewis, Peter (1994). “Museum and Marketing”, dalam K. Moore (ed), Museum Management. Routledge. Hlm. 216 – 231.

McLean, Fiona (1994). “Marketing in museum: a contextual analysis”, dalam K. Moore (ed), Museum Management. London: Routledge. Hlm. 216 – 231.

——– (1994). “Services Marketing: The Case of Museums”, dalam The Service Industries Journal. Vol. 14, No. 2 (April 1994). Hlm. 190-203.

——– (1997). Marketing the Museum. London: Routledge

Moore, Kevin., ed. (1994). Museum management. London dan New York: Routledge.

Mottner, Sandra and John B. Ford (2003). “Measuring nonprofit marketing strategy performance: the case of museum stores”. Journal of Business Research. 58 (2005) 829– 840.

Rentschler, Ruth (2007). “Understanding different types of audiences”, dalam R. Sandall dan R.R. Janes (ed), Museum Management and Marketing. London: Routledge. Hlm. 347 – 349.

Sandell, Richard and R.R. Janes., ed. (2006). Museum Management and marketing. London dan New York: Routledge.

Toffler, Betsy-Ann dan Jane Imber (2002). Kamus Istilah Pemasaran. Jakarta: Elex Media Komputindo.


Responses

  1. mohon bantuannya. saya sedang menyelesaikan skripsi tentang peran pemerintah dalam merevitalisasi museum di Indonesia. menurut anda, teori yang tepay untuk meneliti ini apa ya? terimakasih

    • Sebaiknya datang ke Direktorat Permuseuman, di sana ada beberapa publikasi, misalnya Sejarah Permuseuman di Indonesia, Teknik Penyajian Materi, Pedoman Koleksi Museum, dsb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: