Oleh: museumku | 31 Agustus 2013

Bertandang ke Museum Batik Pekalongan

Kompas, Sabtu, 31 Agustus 2013 – Kain batik dan berbagai jenis produk olahannya sudah dikenal. Pakaian, tas, topi, dan sandal batik saat ini bisa ditemukan di beberapa toko dan gerai pakaian di sejumlah wilayah di Indonesia. Batik, hasil kreasi dan warisan budaya bangsa Indonesia, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak berpuluh tahun silam.

Meskipun demikian, belum semua masyarakat mengerti, memahami, dan bisa menghargai batik. Oleh karena itu, untuk belajar mengenal, mengerti, dan memahami batik, tidak ada salahnya menengok sebuah tempat di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yaitu Museum Batik Pekalongan.

Museum Batik Pekalongan di Jalan Jetayu Nomor 3, Kota Pekalongan, menempati gedung kuno peninggalan Belanda. Lokasi museum itu 3 kilometer arah utara pusat pemerintahan Kota Pekalongan. Museum Batik Pekalongan diresmikan pada 2006 dan menjadi salah satu pelengkap Kota Pekalongan sebagai pusat batik di Indonesia.

Meski demikian, cikal bakal Museum Batik Pekalongan sebenarnya sudah ada sejak tahun 1975. Awalnya, museum batik menempati kompleks tempat hiburan rakyat Kota Pekalongan, yang kemudian pindah ke Jalan Majapahit. Saat itu, museum batik masih kecil, dengan koleksi terbatas.

Pada 2006, Museum Batik Pekalongan menempati gedung di Jalan Jetayu. Gedung ini pada masa kolonial Belanda merupakan kantor administrasi pembayaran pabrik gula dari tujuh kabupaten/kota di wilayah eks Keresidenan Pekalongan.

Di Museum Batik Pekalongan, pengunjung dapat menikmati wisata karya seni batik, sekaligus belajar berbagai hal terkait proses dan sejarah batik di Indonesia. Untuk masuk ke museum dan menikmati wisata batik, pihak pengelola mengenakan tiket masuk Rp 5.000 per orang bagi pengunjung dewasa dan Rp 1.000 per orang bagi pengunjung anak-anak.

Museum batik didesain untuk menjadi tempat wisata sekaligus media belajar di luar kelas. Dengan melihat isi museum, diharapkan masyarakat akan lebih menghargai karya seni batik dan tergerak untuk melestarikannya.

Saat ini, jumlah koleksi batik di Museum Batik Pekalongan sebanyak 1.189 lembar, berasal dari bantuan Yayasan Batik Indonesia, sumbangan mantan pejabat, dan sumbangan masyarakat. Koleksi batik tertua adalah batik bermotif Cinderella, yang diperkirakan dibuat tahun 1900.

Di dalam museum terdapat tiga ruang pameran, yaitu ruang pamer pertama berisi koleksi batik pesisir, ruang pamer kedua berisi koleksi batik Nusantara (batik dari berbagai daerah di Indonesia), dan ruang pamer ketiga berisi koleksi batik pedalaman, yaitu koleksi batik dari Yogyakarta dan Solo.

Pada ruang pamer pesisir, terdapat kain batik aneka motif dari daerah Cirebon, Pekalongan, dan Lasem. Sebagai contoh, di ruangan itu terdapat kain motif jlamprang dari Pekalongan, motif satwa laut kepala buketan, dan batik Lasem gaya batik jepri, pola laseman.

Di ruang pamer batik Nusantara antara lain terdapat batik motif asmat dari Papua, motif vas bunga dan guci dari Palangkaraya, motif pintu retno latar gringsing dari Pacitan, dan batik Bali bermotif ramayana.

Di ruang pamer pedalaman, terdapat batik khas Yogyakarta dan Solo, antara lain motif sidomukti, parang sisik ceplok gurdo, dan parang rusak ceplok mangkoro. Juga dipajang pakaian batik milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, pakaian batik milik Hatta Rajasa dan istri, serta pakaian batik milik mendiang Ainun Habibi.


Konservasi

Selain ruang pamer, Museum Batik Pekalongan juga memiliki ruang konservasi, ruang workshop, perpustakaan, dan kedai suvenir. Ruang konservasi merupakan ruang untuk merawat kain batik, sedangkan ruang workshop menjadi tempat berlatih membatik bagi pengunjung.

Di ruang workshop, terdapat empat tenaga yang siap menyambut dan mengajari pengunjung untuk belajar membatik.

Sesuai namanya, ruang konservasi digunakan untuk merawat kain batik. Dari 1.189 koleksi kain batik milik Museum Batik Pekalongan tidak semuanya dipajang di ruang pameran karena keterbatasan tempat. Yang dipajang di ruang pameran sekitar 200 lembar.

Penggantian kain yang dipajang dilakukan setiap empat bulan sekali. Oleh karena itu, dilakukan perawatan terhadap kain yang tidak dipajang. Selain itu, perawatan juga dilakukan terhadap kain sumbangan yang baru saja diterima museum. Perawatan dimulai dari mengisap debu dan kotoran yang melekat pada kain.

Setelah dibersihkan, kain kemudian digulung dengan menggunakan pipa rol dan kertas bebas asam. Kain yang sudah digulung selanjutnya dibungkus menggunakan kain belacu dan disimpan dalam rak kayu. Penyimpanan batik juga harus dilakukan di ruang berpendingin udara agar kain tidak kering dan tidak mudah terserang serangga.

Kain batik yang terlalu kotor akan dicuci terlebih dahulu, sementara kain yang kusut juga disetrika.

Di ruang workshop, pengunjung bisa mengetahui proses pembuatan batik tulis sehingga bisa memahami tingkat kesulitan dari proses pembuatan kain tersebut.

Pembuatan kain batik sedikitnya melalui 11 tahap, yaitu nyungging (membuat pola atau motif pada kertas), njaplak (memindahkan pola dari kertas ke kain), nglowong (perekatan malam dengan canting sesuai pola), ngiseni (pemberian motif isi pada ornamen utama), nyolet (pewarnaan bagian-bagian tertentu dengan kuas), mopok (menutup bagian yang dicolet dengan malam), ngelir (pewarnaan kain secara menyeluruh), nglorod (penghilangan malam dengan merendam kain di air mendidih), ngrentegi (pemberian titik pada ruang kosong), nyumi’i (menutup bagian tertentu dengan malam), nyoga (menutup kain dengan warna coklat/soga), dan kembali nglorod.

Dengan mengetahui tingkat kerumitan membuat batik tulis, diharapkan pengunjung lebih terbuka untuk menghargai dan memahami apabila batik yang mereka peroleh bernilai mahal. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk datang ke Museum Batik Pekalongan.

Tidak hanya wisata ilmu pengetahuan batik yang akan diperoleh, tetapi pengunjung juga bisa berbelanja di sejumlah pusat perbelanjaan batik di Pekalongan.

Kompas/Siwi Nurbiajanti (WIE)Pengunjung Museum Batik Pekalongan mendapat penjelasan dari petugas tentang koleksi batik yang tersedia di ruang pamer museum. Selain ruang pamer, museum ini dilengkapi juga ruang konservasi (perawatan) dan ruang workshop, perpustakaan, dan kedai suvenir. Pengunjung pun bisa belajar membatik di sana.

Kompas/Siwi Nurbiajanti (WIE)Ruang konservasi


Oleh: Siwi Nurbiajanti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: