Oleh: museumku | 15 Agustus 2010

Transformasi Pengelolaan Museum

Oleh Hemat Dwi Nuryanto

Kompas Jawa Barat, Kamis, 12 Agustus 2010 – Pemerintah bertekad menjadikan 2010 sebagai warsa kunjungan museum. Sayang, ada ganjalan serius di balik tekad tersebut terkait dengan kondisi aktual museum di negeri ini. Gerakan Nasional Cinta Museum yang dicanangkan pemerintah seolah bertepuk sebelah tangan. Sebab, kebanyakan pengelola museum di negeri ini kurang kreatif dan inovatif dalam tata letak obyek atau koleksi museum. Sistem informasi koleksinya pun masih minimalis.

Akibatnya, citra museum tetap saja usang, membosankan, dan kurang atraktif. Eksistensi museum belum mampu mencuatkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik. Transformasi sistem pengelolaan dan sumber daya museum penting dilakukan agar museum lebih adaptif dengan perkembangan zaman dan kompatibel dengan industri pariwisata global. Sistem pengelolaan museum harus bisa mengemas koleksi sehingga mendongkrak segmentasi pasar, promosi, serta nilai estetika dan ilmiahnya.

Langkah transformasi yang penting disegerakan menyangkut sistem pengelolaan museum yang berbasis konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Penting dikembangkan sistem informasi museum atau e-museum yang menarik dan mampu merasuki jejaring sosial internet. Transformasi sistem tersebut akan menunjang profesionalitas bagi edukator (programmer) dan kehumasan (public relation) museum. Selain itu, sistem informasi yang andal akan menjadikan museum sebagai destinasi yang sangat potensial.

Transformasi pengelolaan museum tentu tidak mengurangi atau mengganggu fungsi dasar museum dalam konteks museologi yang mencakup penelitian, konservasi atau pelestarian, serta komunikasi sebagai aspek mediasi dengan masyarakat. Fungsi dasar tersebut menempatkan museum sebagai lembaga nonprofit yang bertugas menyimpan, merawat, meneliti, dan memamerkan koleksi.

Akan tetapi, era gelombang keempat sekarang ini, yang ditandai dengan pertumbuhan industri kreatif yang luar biasa pesat, menempatkan museum sebagai pusat industri budaya. Museum juga sangat ampuh sebagai sarana kontemplatif dan pemicu lahirnya daya dan karya kreatif. Jadi, makna terdalam museum bisa terwujud, yakni museum sebagai inspirator dan motivator bagi warga bangsa dalam mengarungi persaingan global.


Berbasis geospasial

Sebaiknya sistem informasi museum tidak sekadar berbentuk situs internet yang bersifat basis data ilmiah semata. Namun, sistem itu berupa sistem informasi yang cerdas berbasis geospasial dan bisa merasuki jejaring sosial dengan tampilan menarik. Selama ini sudah cukup banyak situs web yang menyediakan informasi tentang museum, contohnya bidang arkeologi. Situs web arkeologi tersebut, di antaranya, menyediakan informasi secara gratis. Akan tetapi, ada juga yang mengharuskan kita menjadi anggota dengan persyaratan tertentu dan dikenai biaya.

Konten yang disediakan dapat meliputi obyek arkeologi, foto, jurnal, peta situs, dan lain-lain. Jenis data atau informasi yang akan ditampilkan dapat berupa teks, suara, video, gambar, ataupun gabungan keseluruhan jenis data tersebut, yang lebih dikenal dengan istilah multimedia. Kebanyakan situs web museum ditampilkan dalam halaman statis. Agar lebih menarik dan berbobot, harus dibuat halaman dengan konten dinamis yang didukung dengan multimedia dan memakai aplikasi sistem informasi geografis (GIS).

Transformasi pengelolaan museum akan menjadikan museum semakin modern. Museum bisa memanjakan pengunjung dengan fasilitas ruang pamer yang atraktif dan memvisualisasikan imajinasi mengenai obyek tertentu. Konten koleksi museum tersaji dalam bentuk data spasial dan peta pintar (smart map) hasil interpretasi dari metode GIS. Dengan sistem GIS, museum arkeologi bisa memenuhi kebutuhan konten arkeologi secara baik. Proyek-proyek arkeologi dan peta situs purbakala juga dapat terpenuhi secara paripurna.

Saat ini sistem informasi museum yang sangat ideal dan patut dicontoh adalah milik Smithsonian. Kita bisa berselancar dalam situs Smithsonian yang spektrumnya sangat luas dan beragam serta disajikan secara menarik. Berbagai macam peradaban yang pernah ada di bumi, fenomena alam, dan proses inovasi ada dalam koleksi Smithsonian. Kita juga bisa napak tilas proses kreatif atau inovatif yang terkait dengan penemuan yang berkontribusi terhadap kemajuan dunia.

Napak tilas tersebut sangat penting untuk merangsang daya pikir pelajar mengenai bagaimana para penemu atau inovator kelas dunia bekerja. Semua itu tersaji dalam sistem informasi yang sangat paripurna dan mudah diakses oleh warga dunia. Dari museum aerospace yang menampilkan bermacam pesawat ruang angkasa hingga fenomena gunung berapi di bumi tersaji secara apik.


Menggugah kreativitas

Sekadar catatan, Smithsonian American Art Museum selama ini mampu menggugah kreativitas warga Amerika. Koleksi karya seni di semua media yang membentang lebih dari tiga abad tersebut merupakan wahana yang sangat ideal untuk menstimulasi kapasitas otak kanan warga Amerika dan dunia. Wahana itu juga sangat strategis untuk proses pendidikan di perguruan tinggi terkemuka, seperti Massachusetts College of Art, The Art Institute of Boston di Lesley College, School of the Museum of Fine Arts Boston, Harvard University, Princeton University, dan Yale University.

Smithsonian juga telah menggunakan aplikasi Google Earth untuk menunjang misinya. Dalam perancangan Global Volcanism Program, Google Earth dimanfaatkan sebagai sistem informasi gunung berapi di seluruh dunia dengan profil dan keunikan masing-masing. Dengan itu, kita bisa melihat perbedaan puncak gunung berapi dengan citra satelit.

Berkat proyek Smithsonian tersebut warga dunia bisa melihat profil dan panorama eksotik dari gunung berapi di kepulauan Nusantara, seperti Gunung Krakatau, Gede-Pangrango, Bromo, dan Merapi. Rancangan tersebut akan membuahkan semacam kecerdasan bisnis (business intelligence) museum dan sistem destinasi yang baik. Sistem informasi museum dan destinasi tersebut bisa mengondisikan gambar yang dapat didekati hingga ketinggian ratusan meter.

Serupa dengan program tersebut, semestinya Museum Geologi Bandung bisa merancang sistem informasi yang lebih lengkap melalui berbagai teknik koneksi data. Dengan demikian, kita tidak hanya merasakan efek terbang berkat teknologi Google Earth, tetapi juga bisa terhubung dengan berbagai manajemen pengetahuan dan basis data di seluruh dunia.

HEMAT DWI NURYANTO
Chairman Zamrud Technology

Iklan

Responses

  1. […] https://museumku.wordpress.com/2010/08/15/transformasi-pengelolaan-museum/ (28 Maret […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: