Oleh: museumku | 7 Desember 2012

Soleman Bessie, Penyelamat Koleksi Museum NTT

Soleman BessieKOMPAS, Rabu, 5 Desember 2012 – Jangan memandang berbagai benda purbakala hanya sebagai benda mati yang bisa diperlakukan semau kita. Benda kuno, apalagi yang berasal dari rumah adat dan tergolong sakral, kemungkinan ada ”roh” penunggunya. Pemanfaatan benda itu secara menyimpang bisa berujung petaka.

Setidaknya itulah pandangan sekaligus sikap hidup Soleman Bessie (57). Selama 22 tahun ia menekuni pekerjaan sebagai pengumpul dan penata koleksi Museum Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang. Keteguhan sikap dan pandangan hidup itulah yang membuat dia menolak berbagai godaan untuk menggelapkan koleksi museum.

Ia tak silau dengan iming-iming uang hingga miliaran rupiah. Soleman memilih menyelamatkan benda purbakala koleksi museum. ”Tak sulit menggelapkan koleksi yang menjadi incaran kolektor gelap. Tetapi, kalau kita sampai tergoda (menggelapkan koleksi museum), risikonya tidak main-main, napas pendek (kematian)!”

Meski sudah lebih dari setahun pensiun, dia masih berkunjung ke Museum NTT. Sebagian kunjungannya atas ajakan Kepala Museum NTT Leonard Nahak yang meminta bantuan, seperti mengerjakan pendataan kembali 1.000 item koleksi museum.

Penanganan kegiatan itu awalnya dilakukan staf aktif, tapi hingga tiga minggu mereka hanya berhasil merampungkan 100 item koleksi. Leonard Nahak lalu meminta Soleman yang saat itu sudah tujuh bulan pensiun untuk mengerjakannya.

”Dalam waktu lima hari saya rampungkan pendataan kembali 900 item koleksi museum lainnya,” ujarnya.

Kehadiran Soleman di Museum NTT juga sering atas inisiatifnya sendiri. ”Saya seperti memperoleh energi dan kehangatan baru bila kembali bersentuhan dengan sejumlah koleksi museum, terutama koleksi hasil survei dan pengumpulan saya.”

Museum NTT didirikan tahun 1977 di atas lahan seluas tiga hektar, di tepi Jalan Frans Seda, Kota Kupang. Koleksi museum berjumlah 6.199 item, berupa benda arkeologi, biologi, geologi, geografi, etnografi, peninggalan sejarah, keramik, numismatik, heraldik, seni rupa, dan teknologi.

Dua jenis kapak perunggu yang disebut kapak upacara adalah koleksi favorit Museum NTT. Kapak kuno itu ditemukan di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, tahun 1875, dan di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raiju, pada 1971. Disebut kapak upacara karena di Sabu dan Rote kapak itu telah menjelma menjadi benda sakral dan hanya dikeluarkan saat upacara adat, terutama yang berhubungan dengan budidaya pertanian.

Kapak temuan di Landu, Rote Ndao, termasuk langka karena hanya ada di Museum NTT sejak tahun 2000, dan di Museum Nasional Jakarta. Adapun kapak upacara temuan di Kampung Rai Dewa, Desa Kabila, Sabu Raijua, yang disebut kuhi rai oleh masyarakat setempat, menjadi koleksi Museum NTT sejak 1979.

Soleman sering diminta menggelapkan kuhi rai dengan imbalan sejumlah uang. Seorang kolektor gelap asal China, misalnya, tahun 1993 berkunjung ke Museum NTT hanya demi kuhi rai. Waktu itu dia diiming-imingi imbalan Rp 7 miliar.

”Saya tegas menolak godaan itu. Saya merasa sudah menyatu dengan koleksi museum. Saya juga takut tertimpa malapetaka, napas pendek (kematian),” ujarnya.


Langka

Kepala Seksi Pengkajian dan Penyelamatan Koleksi Museum NTT Rosalia Idam melukiskan Soleman sebagai sosok pekerja keras dan sederhana. ”Dia orang langka. Ingatannya luar biasa jika berurusan dengan koleksi yang catatannya terlupakan atau tercecer,” ujarnya.

Di kalangan staf Museum NTT, Soleman dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan jujur. Sebagai pegawai negeri sipil selama puluhan tahun hingga pensiun, ia tetap tinggal di rumah permanen sederhana di kawasan Oebufu, Kota Kupang.

”Setelah pensiun dia suka tinggal di kampungnya, Tuapukas (Desa Oni, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan), mengolah sawah. Sampai sekarang kami masih sering melibatkan dia terkait keahliannya itu,” kata Rosalia Idam.

Selain godaan sejumlah uang, Soleman juga menyimpan kisah menarik berkaitan dengan koleksi Museum NTT. Tahun 2007 dia dan rekannya menjajaki pengadaan pasangan patung manusia dari kuningan seukuran jari tangan orang dewasa milik rumah adat di Riung, Ngada.

Oleh karena dana imbalannya tak cukup, dia hanya mengambil satu patung. Namun, saat tidur malam, Soleman dan rekannya sama-sama bermimpi didatangi patung yang mereka tinggalkan. Agar tak dihantui malapetaka, Soleman dan rekannya kembali ke rumah adat di Riung untuk ritual adat penyilihan.


Menghargai

Perlunya menghargai benda peninggalan leluhur juga muncul dari kisah lain yang dia ungkapkan. Suatu hari pada 1998, pihaknya menjajaki tiang berukir pendamping pintu rumah adat di Pulau Pura, Kabupaten Alor, untuk koleksi museum. Setelah diberi imbalan jasa, tetua penghuni rumah itu mengizinkan salah satu tiang menjadi koleksi Museum NTT.

Sekitar dua bulan setelah kejadian itu, sang tetua muncul di Museum NTT. Dia meminta Soleman mengembalikan tiang rumah berukir tersebut. Tetua itu beralasan pengambilan tiang dari tempatnya semula telah membuat keluarganya tak nyaman.

”Tiang rumah berukir itu akhirnya kami kembalikan. Ternyata sang tetua tidak berterus terang. Keputusannya merelakan tiang rumah adat dilakukan tanpa persetujuan bersama keluarga besar di Pulau Pura (Alor) dan sekitarnya,” tuturnya.

Bagi Soleman, peristiwa tiang rumah adat dan berbagai kejadian lain merupakan contoh pentingnya menghargai peninggalan para leluhur. ”Itulah mengapa saya bilang peninggalan tua itu ’bernyawa’. Penunggunya bisa ’galak’ bila benda raganya diperlakukan secara tak pantas atau menyimpang,” kata Soleman untuk meyakinkan.

Catatan dan kesaksian Soleman layak menjadi peringatan bagi jajaran pengelola museum agar tidak tergoda rayuan kolektor gelap. Berapa besar pun jumlah uang yang dijanjikan kolektor gelap kepada mereka, tidak sepadan dengan kehilangan kita akan benda bersejarah tersebut.

”Kalau pengelola museum saja berperilaku seperti itu (tak menghargai koleksi museum yang merupakan warisan leluhur), bagaimana kaum muda mau menghargai sejarah bangsa kita?” tutur Soleman. (FRANS SARONG)


SOLEMAN BESSIE

• Lahir: Tuapakas, Desa Oni, Kecamatan Kualin, Timor Tengah Selatan, NTT, 15 April 1955
• Istri: Milka Neonane
• Anak: Lodya (24), Romly (16), Yulisa (11)
• Pendidikan:
– SD GMIT Tuapakas, 1969
– SMP Kristen Mbuni, Desa Oni, 1973
– SMA Kristen Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, 1976
– FKIP Program Studi Geografi Universitas Nusa Cendana, Kupang, 1986
• Pekerjaan: Pengumpul dan penata koleksi Museum NTT, 1988-1 Mei 2012 (pensiun).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: