Oleh: museumku | 24 Juni 2012

Laporan Pertemuan Nasional Museum 2011: Dari Benda Cagar Budaya Hingga Peran Kurator

Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 diselenggarakan di Medan, pada 2-5 Mei 2011. Kali ini mengusung tema “Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa”. Dalam sambutannya, Sekretaris Jendral Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Wardiyatmo mengatakan, museum memiliki nilai strategis untuk menjadi sarana pembangun karakter bangsa. Dalam pendekatan konseptual membangun negara, tak hanya harus memiliki pasar dan laboratorium, negara juga harus memiliki museum. “Kita perlu museum, karena kita harus memahami asal kita dari mana,” ujar Wardiyatmo.

Museum bukan hanya tempat untuk berwisata atau khusus menyimpan koleksi-koleksi benda bersejarah perjuangan zaman dulu. Namun museum bisa dijadikan sebagai media pembangunan pendidikan dan karakter. Demikian dikatakan Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, dalam sambutannya. “Saya atas nama masyarakat Sumatera Utara mengharapkan pertemuan ini menjadi cikal bakal untuk pengembangan pendidikan karakter kepada pengunjung-pengunjung museum,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gatot mengungkapkan kegembiraannya dengan dilakukannya pertemuan nasional museum di Medan. Hal ini, katanya, akan memberikan motivasi bagi pemprov dan pemerintah kabupaten/kota untuk terus melakukan pembenahan terhadap museum dan infrastruktur pendukung berbagai ajang nasional.


Benda Cagar Budaya

Dalam Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dijelaskan bahwa museum harus memiliki kurator. Museum juga harus melakukan penetapan benda cagar budaya (BCB) bagi koleksinya untuk registrasi nasional. Uraian tentang hal ini disampaikan oleh Direktur Purbakala, Junus Satrio Atmodjo. Paparannya berjudul Pengelolaan Museum Menurut Undang-Undang No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Junus mengatakan, terdapat beberapa perbedaan dan persamaan konsep cagar budaya dalam perundang-undangan, baik bagi arkeologi maupun arsitektur. Bagi UU No.11 tentang Cagar Budaya, benda (artefak/ekofak), bangunan (temasuk di dalamnya kompleks), struktur, dan bahkan situs dapat menjadi koleksi museum. Koleksi merupakan kekayaan museum sedangkan informasi adalah jiwa museum. Hal ini karena tugas museum adalah menjaga, merawat, memperbaiki, mengolah, serta mempresentasikan koleksi. Setiap benda tersebut harusnya memiliki nilai penting. “Museum sebagai sumber informasi atau pusat data harus melakukan promosi kepada masyarakat. Promosi tersebut merupakan gagasan baru serta kreativitas yang berkaitan dengan pengetahuan yang dibutuhkan oleh publik,” kata Junus. Contohnya adalah pembuatan manik-manik. Bagaimana teknologi, bahan, bentuk, rancangan, dan warna yang digunakan untuk membuat manik-manik tersebut, akan menjadi rekaman di masa akan datang.

Menurut Junus, hampir semua benda di museum belum ditetapkan menjadi BCB. Alasannya adalah semua benda di museum tidak diperjualbelikan. “Museum itu sebagai deposit atau gudang. Berbeda dengan galeri yang melakukan jual beli,” ujarnya.

Pada bagian lain Junus mengatakan, rekomendasi sebuah benda apakah cagar budaya atau bukan, ditentukan oleh Tim Cagar Budaya. Tim ahli ini adalah orang yang memiliki kompetensi baik melalui pendidikan formal dan pengalaman.

Lebih lanjut Junus menguraikan istilah pelestarian. Kata pelestarian, katanya, sekarang berbeda dengan makna yang dulu. Sekarang diartikan sebagai perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Pelestarian harus dilakukan oleh tenaga ahli yang bersertifikat. “Nantinya tenaga museum harus bersertifikat. Kalau tidak bersertifikat, mereka tidak dapat melakukan pelestarian. Selain itu harus memperhatikan etika pelestarian sehingga objek yang dilestarikan bisa dikembalikan seperti keadaannya semula,” ujarnya lagi.

Ditegaskan pula, setiap koleksi museum yang ditetapkan sebagai cagar budaya memiliki kriteria. Undang-undang juga membolehkan penetapan objek atau ruang yang belum berusia 50 tahun sebagai cagar budaya, asalkan memiliki arti khusus bagi bangsa Indonesia. Di dalam UU dijelaskan tentang peringkat BCB, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Pemeringkatan cagar budaya ini diperlukan berdasarkan keunikannya (misalnya bentuk, gaya, tata letak, dan bahan teknologi pengerjaannya) dan langka jenisnya (mewakili jenis yang sama tetapi memperlihatkan perbedaan yang mencolok). Hasil pendaftaran nasional akan diimasukkan dalam register nasional.

Menjawab seorang penanya tentang cara pendaftaran BCB, Junus mengatakan bahwa terlebih dulu perlu diteliti apakah mencerminkan kriteria sebagai BCB. Tentang pelestarian, dijelaskan setiap orang harus melestarikan BCB karena mereka akan mendapat pengurangan pajak, seperti PBB dan PPh.

Batik yang ada di galeri meskipun sudah berusia tua, menurut Junus, tidak dimasukkan ke dalam BCB. UU itu hanya berlaku untuk museum. Nanti semua BCB harus memiliki sertifikat, termasuk yang ada di museum.

BCB sendiri boleh dibawa ke luar daerah. Yang memberi izin adalah dinas di kabupaten atau provinsi. Sementara yang memberikan izin ke luar negeri adalah menteri. Pihak yang berhak menentukan BCB atau bukan adalah kurator dan tim ahli.


Museum dan Kurator

Mantan Kepala Museum Nasional, Suwati Kartiwa, membawakan makalah berjudul Signifikansi Benda Koleksi Etnografi. Museum, katanya, mula-mula didirikan pada abad ke-18 dengan mengumpulkan barang-barang milik pribadi. Koleksi Museum Nasional juga awalnya dikumpulkan dari suatu rumah.

Pada garis besarnya, Suwati mengatakan, benda etnografi adalah pencerminan budaya Nusantara. Keragaman budaya digambarkan pada koleksi etnografi yang terdapat hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan.

Selanjutnya Mikke Susanto, staf pengajar ISI Yogyakarta, mengemukakan topik Signifikansi Benda Koleksi Seni. Dikatakan, setiap pameran harus memiliki suatu teknik penyajian dan dalam suatu ruang pamer, partisipasi dari pengunjung sangat diperlukan. “Akan membosankan jika membuat pameran dengan ukuran gambar yang sama,” terangnya.

Menurut Mikke, kurator jangan dianggap berada di bawah lini seni, tetapi berada di bawah semua kajian. Apapun yang menyimpan arsip, wajib memiliki kurator, sesuai dengan bidang yang dikerjakan. Karena itu kurator perlu mengenal teknologi terbaru agar museum tidak terkesan “jadul”. ”Meskipun bangunan dan koleksi jadul tetapi tampilan tetap baru,” katanya.

Masih bertopik sama, pengajar Sejarah FIB UI, Kasijanto membahas Museum dan Sumber Sejarah. Topik ini, katanya, dapat multitafsir, apakah museum yang memerlukan sumber sejarah atau sejarah yang memerlukan museum sebagai bukti. Namun sebenarnya kedua hal itu saling membutuhkan.

Mengutip seorang pakar Perancis, Kasijanto menjelaskan, ada tiga ‘berhala’ yang disembah sejarahwan, yaitu tokoh, politik, dan kronologi. Betapa membosankannya museum jika harus dibuat selalu berdasarkan urutan kronologis. Ketiga hal tersebut akhirnya mengubah paradigma sejarah secara global.

Pada beberapa museum memang ada yang koleksinya tidak pernah ditinjau ulang, dalam arti tetap sama seperti apa adanya selama bertahun-tahun. Padahal, museum-museum di negara lain telah berani menampilkan sesuatu yang berbeda. Sebagai contoh, museum di Jerman menampilkan tentara-tentara Nazi saat melakukan pembunuhan pada Yahudi. “Jadi museum bisa menampilkan peristiwa yang bisa dikatakan mengganggu pihak lain dan menguntungkan pihak lainnya, bergantung dari sumber mana gambaran peristiwa tersebut diperoleh,” demikian Kasijanto.

Selain itu, menurut Kasijanto, muncul gerakan-gerakan yang menggali sumber lebih kepada sumber yang berasal dari masyarakat. Kelompok sejarah mikro memanfaatkan sumber-sumber yang belum terbuka, dan juga sumber-sumber sepele yang bagi orang lain tidak mempunyai nilai. Beberapa perpustakaan di luar negeri juga telah melakukan pengumpulan benda yang bagi kita tidak bernilai, misalnya saja bungkus rokok.

Di London beberapa tahun lalu ada pameran tentang orang-orang London era tahun 1920-an. Yang ditampilkan antara lain baju, musik, dan kaum gay. Di sana kaum gay mungkin biasa tetapi di sini tidak. Museum Australia biasa menggelar isu-isu sensitif. Jadi, jelas Kasijanto, museum bisa menggali sumber-sumber lain, tidak itu-itu saja.

Mengenai peran kurator, menjawab seorang peserta, Mikke mengatakan memang banyak kurator yang kurang kreatif untuk mengerti pameran. Menurut Mikke, ada dua konsep pameran, yakni bersifat estetik dan bersifat konstruktif. Yang estetik biasanya untuk barang pemberian, misalnya koleksi wayang sehingga penyajiannya tidak dapat diubah. Sedangkan konstruktif mengubah sesuai dengan perkembangan. Tidak masalah mengubah wayang untuk pameran, hanya perlu memperhatkan nilai-nilai yang seharusnya ada. “Pokoknya hal ini tergantung pada keberanian museum untuk melakukan eksplorasi,” katanya.

Jawaban lain tentang paradigma museum. Jika dulu kurator dapat menyajikan riset, namun ketika paradigma museum berubah, terjadi perubahan juga. Ada bidang-bidang tertentu yang mengkaji, meriset berkaitan dengan koleksi, semacam desainer, ahli pendidikan, dan komunikasi. Jadi, menurut Mikke, ada pembagian bidang-bidang keahlian.


Revitalisasi Museum

Saat ini, menurut Intan, kondisi museum dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan sentralistik menjadi desentralistik (Otda). Sesuai perkembangan zaman, museum pun membutuhkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berbagai permasalahan lain, juga dikemukakan Intan, misalnya pemahaman tenaga museum, perangkat kebijakan dan hukum, penanganan koleksi, dan peran kehumasan.

Misi revitalisasi tercatat ada enam, yaitu meningkatkan tampilan museum menjadi lebih menarik, meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan museum dan pelayanan pengunjung, mengembangkan program yang inovatif dan kreatif, mewujudkan dan memperkuat jejaring museum dan komunitas, menetapkan kebijakan pengelolaan museum, dan meningkatkan pencitraan museum. Sementara tujuan revitalisasi adalah meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum, mewujudkan museum yang mampu menginspirasi masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya, dan menjadikan museum sebagai pranata sosial yang mampu membangkitkan kebanggaan dan memperkukuh jati diri bangsa.

Manajemen dan profesionalisme, juga akan ditekankan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan. “Jangan sampai pameran Islam yang keluar justru koleksi prasejarah dengan alasan tidak adanya kurator,” Intan memberi contoh.

Ir. Wibowo, Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan Kemenbudpar, mengatakan salah satu prioritas nasional Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014) adalah kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi. Termasuk ke dalam bagian ini antara lain pengelolaan terpadu untuk pengelolaan cagar budaya, revitalisasi museum, dan perpustakaan di seluruh Indonesia sebelum Oktober 2011.

Menurut Wibowo, revitalisasi museum penting karena museum berfungsi sebagai ruang publik, misalnya museum sebagai tempat berkumpul, museum sebagai gudang gagasan, dan museum sebagai tempat belajar.

BOX 1

Dialog Interaktif:
Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dalam kegiatan Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2011 ini, panitia menyelenggarakan acara dialog interaktif bertopik ‘Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa’. Pada sesi pertama tampil tiga pembicara, yakni Soeroso MP (Sekretaris Dirjen Sejarah dan Purbakala), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Edi Sedyawati (Arkeolog dan Pemerhati Museum). Sebagai presenter adalah Priscilla Febrita Kilapong.

Dalam kata pengantar Priscilla menyebutkan museum berperan dalam karakter bangsa. Namun pada kenyataannya museum hanya dikunjungi para pelajar, itu pun karena paksaan dari sekolah. Kedatangan masyarakat ke museum juga sangat minim. Padahal, saat ini pemerintah memiliki program utama, yaitu Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM).

Menurut Soeroso, meskipun tiap provinsi dan kabupaten memiliki museum, memang diakui kunjungan ke museum masih minim. Hal ini tidak lepas dari pandangan bahwa museum itu kumuh dan kotor. Padahal, di museumlah kristalisasi budaya bangsa itu tersimpan. Oleh karenanya, kata Soeroso, pemerintah memiliki program GNCM dan revitalisasi museum. Tujuannya adalah untuk menjadikan museum sesuai dengan kondisi zaman. “Seharusnya museum tidak hanya menunggu dikunjungi, tapi museum harus mengunjungi masyarakat. Saya berharap mengunjungi museum adalah sebuah kebutuhan dalam masyarakat,” ujar Soeroso.

Diakui di sini belum ada rasa ketertarikan masyarakat terhadap museum. Sebaliknya di luar negeri museum menjadi kebutuhan untuk dikunjungi. Dalam pandangan Azyumardi, masalah demikian cukup kompleks. Salah satunya karena belum ada apresiasi ketertarikan masyarakat terhadap masa lalu. Menurut Azyumardi, pembangunan karakter semuanya ada di museum. Karakter bukan hanya kesadaran sejarah, tetapi juga pengetahuan sejarah. Dari sejarah muncullah kesadaran sejarah. Kalau kita tidak punya kesadaran sejarah, maka tidak akan memiliki semangat kebangsaan.

Sering kali memang terjadi mengunjungi museum tergantung pada kondisi ekonomi dan kondisi pendidikan kita. Persoalan museum, menurut Edi Sedyawati, antara lain masih minimnya informasi di dunia maya. Maka, para pengelola museum harus menyesuaikan diri dengan teknologi modern. Mereka pun harus mencari kiat-kiat agar informasi dari artefak bisa memuaskan keingintahuan pengunjung.


“Museum Goes to Mall”

Seharusnya museum bisa menjadi pemersatu masyarakat Indonesia yang campur aduk. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini masyarakat Indonesia telah kehilangan solidaritas. Banyak karakter bangsa semakin runtuh, misalnya terkait dengan pilkada. Beberapa pilkada ulang menghabiskan biaya besar. Belum lagi adanya kerusuhan, seperti pembakaran dan bentrokan fisik. Inilah gambaran disorientasi budaya, yang seharusnya bisa diminimalisasi oleh museum.

Mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan pameran di museum, Edi Sedyawati mengatakan, tergantung dari informasi apa yang akan kita sampaikan. Edi menyayangkan adanya berbagai hal positif yang tidak ada liputannya. Contohnya pada masyarakat Dompu, pemeluk Islam dan Kristen sangat rukun. Tapi hal demikian lolos dari jangkauan media. Maka diharapkan banyak media mulai mengeskpos hal-hal yang positif.

Pada sesi kedua, Soeroso memaparkan tahun 2010 ada enam museum yang direvitalisasi, yakni Museum Negeri Kalimantan Barat, Museum Negeri NTB, Museum Batak di Balige-Sumatera Utara, Museum Negeri Jambi, Museum Negeri Sumatera Utara, dan Museum Negeri Jawa Timur. Tahun 2011 ini ada 30 museum, melalui mekanisme Tugas Pembantuan (TP). Diharapkan tahun 2014, 275 museum sudah banyak yang terevitalisasi.

Sesudah revitalisasi, sebagaimana dikemukakan Edi Sedyawati, kita harus melakukan kerja sama lintas sektor. Selain itu museum perlu melakukan penelitian, antara lain tentang teknologi membuat benda-benda. Soalnya, tanpa penelitian, koleksi itu hanya benda mati dan tidak bisa berbicara.


Pemandu

Azyumardi berpendapat selain revitalisasi aspek fisik, revitalisasi program museum harus dilakukan. Misalnya pada 17 Agustus, diselenggarakan pameran kemerdekaan di mal. Dalam hal ini museum dapat menyajikan pembelajaran bangsa kita sampai sekarang.

Menurut Soeroso, revitalisasi non-fisik juga penting. Museum dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Revitalisasi non-fisik misalnya program yang menarik dan kreatif. Hal ini agar masyarakat dapat lebih mengapresiasi dan bahkan menghidupkan museum. Membuat action plan, merupakan usulan Edi Sedyawati, agar museum lebih dicintai oleh masyarakat.

Pada sesi ketiga, kehadiran Azyumardi Azra digantikan oleh Intan Mardiana (Direktur Museum). Menurut Intan, permasalahan yang paling mencolok di museum adalah Sumberdaya Manusia (SDM) untuk mengelola museum. Kita membutuhkan konservator, edukator, kurator, dan preparator. Pengetahuan tentang keahlian museum sangat diperlukan. “Ini yang menjadi problem kita di seluruh Indonesia. Ironisnya, banyak pengelola museum yang sudah kita sekolahkan atau didik, ternyata kemudian dipindahkan ke dinas-dinas lain yang tidak ada hubungannya dengan museum. Padahal, setiap tahun kita menyelenggarakan diklat dan S-2 museum,” kata Intan.

Gejala demikian juga pernah dirasakan Edi Sedyawati sewaktu menjabat Direktur Jendral Kebudayaan. Kebanyakan orang dinas pariwisata dengan seenaknya memindahkan pegawai museum yang telah didiklatkan. Terkadang kepala museum diganti seenaknya. Bahkan orang dari matematika dijadikan sebagai pegawai museum. Sebenarnya tenaga di bidang kebudayaan memiliki persyaratan khusus. Tapi sekarang sudah tidak digunakan lagi. Hal seperti ini, menurut Edi, banyak terjadi di museum-museum daerah. Agar pemerintah daerah tidak seenaknya memindahkan pegawai museum, maka menurut Soeroso, kita harus mengubah mindset pemerintah daerah. Museum bukan sesuatu yang menjemukan dan menakutkan. Kita harus menjadikannya industri mata uang yang baru.

Usulan lain adalah membuat program museum yang berbasis masyarakat. Misalnya menyelengarakan pameran yang berdasarkan keinginan masyarakat, bukan berdasarkan keinginan museum. Permasalahan tentang SDM dirasakan sekali oleh Kepala Museum Negeri Kayu Sampit, Dwi Astuti Wardani. Bahkan pemerintah daerah dan dinas kurang memiliki mindset untuk museum. “Untuk mengikuti pertemuan ini saja, pihak dinas menganggap saya hanya membuang uang negara demi mengurusi masa lalu. Meskipun kami telah meningkatkan SDM, tapi tidak ada dana untuk pekerjaan teknis di museum,” katanya.

Intan menyarankan kalau pemerintah daerah tidak mendukung, pihak museum harus bekerja sama dengan komunitas di sekitar museum. Soeroso berpandangan lain, “Kita memang mempelajari masa lalu, tapi kita bisa mengambil hikmah dari masa lalu tersebut”. Sementara menurut Edi Sedyawati, orang yang mengatakan hanya mengurus masa lalu itu pasti orangnya bodoh, karena suatu bangsa yang tidak mengetahui masa lalunya, dia tidak akan tahu tujuannya.

BOX 2


SDM dan Kompetensi Museum

Dalam sesi Sumber Daya Manusia dan Kompetensi Museum, tampil sebagai pembicara Irmawati Johan (UI), Reiza D. Dienaputra (Unpad), dan Mahirta (UGM). Museum sebagai Ruang untuk Menyampaikan Sejarah merupakan makalah yang disampaikan oleh Irmawati Johan. Ditegaskan, membicarakan museum dalam kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa memerlukan suatu kesiapan yang menyeluruh dalam dunia permuseuman di Indonesia. Ketika dunia permuseuman telah melangkah begitu pesat hampir di seluruh dunia sejak dari cabinet of curiousity hingga sekarang, museum telah menjadi ilmu tersendiri dengan beberapa istilah yang kita kenal, seperti Museum Studies dan New Museology. “Kiranya memang sudah saatnya kita untuk bersungguh-sungguh membangun permuseuman,” katanya.

Menurutnya, banyak kepentingan dilekatkan pada museum berkait dengan kehidupan berbangsa, bernegara, etnisitas, dan lain-lain. Demikian pula berbagai isu penting seperti isu jati diri, isu politik dan bahkan ekonomi sebagaimana dikatakan Jean Braudrillad tentang komodifikasi budaya. Permasalahannya adalah bagaimana menyampaikan sejarah dalam museum sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat.

Dalam paparannya itu, Irma mengatakan, display museum pada masa kini didominasi oleh dua aliran, yaitu model Platonic dan model Hermeneutic. Pada model Platonic, museum menganggap objek sebagai bentuk dari sebuah konsep yang universal. Ada dua konsep yang diajukan. Pertama, mengenali (recognition), yaitu ketika memahami sebuah objek tertentu, maka akan mengenali apa yang telah diketahui secara universal. Dengan demikian pemahaman adalah mengumpulkan kembali (recollection) dari sesuatu yang telah kita ketahui.

Yang kedua, lanjutnya, model Hermeneutic. Model ini sangat mempengaruhi museum pada abad ke- 20-an. Hooper-Greenhill juga seperti Freiderich Schleiemacher dan Wilhelm Diltey berpendapat bahwa pemaknaan dari teks dan objek sejarah hanya dapat dilakukan para sejarawan jika melepaskannya dari keadaan sekarang dan memasukkan dirinya secara penuh dan secara ilmiah pada keadaan masa lalu. Kemudian dilanjutkan oleh pendapat Heidegger yang berbeda dari kedua ahli tersebut. Menurut Heidegger, keberadaan kita pada masa kini secara mendasar tidak dapat dipisahkan dari kemampuan kita untuk memahami masa lalu.

Irma mengatakan, model pertama menekankan memori dan yang kedua menambahkan dengan empati, misalnya Museum Holocaust Jerman tentang orang Yahudi. Salah satu ciri penting dari post-museum adalah menjadikan museum sebagai tempat pembelajaran seumur hidup yang berbeda dengan pembelajaran formal seperti di sekolah dan universitas. Konsep belajar yang semula hanya menekankan pada belajar secara formal telah mengalami perubahan. Kini menjadi belajar sepanjang hidup melalui berbagai pengetahuan dan pengalaman yang dapat diperoleh di mana pun. Konsep belajar ini melihat bahwa pengetahuan adalah sebuah proses yang dapat diperoleh baik secara formal ataupun informal sehingga setiap individu dapat mencari pengetahuan yang berarti dan relevan bagi dirinya.


Model genialogi

Berbeda dengan kedua model di atas, menurut Irma, model genialogi ini mengikuti pemikiran Foucault tentang filsafat sejarah. Museum bagi Foucault adalah heterotopia yaitu sebagai ruang yang menyusun benda secara berbeda. Heterotopia diartikan sebagai ruang yang berbeda dimana seluruh budaya ditempatkan dan direpresentasikan, dipermasalahkan, dan dibalikkan.

Model ini tidak lagi melihat objek sebagai pengulangan dari ide yang pasti tentang masa lalu tetapi ingin melihat hal baru dari masa lalu. Objek di museum tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memori tetapi sebagai alat untuk berpikir produktif. Pemikiran Foucault yang mengarah pada general history bukan lagi pada total history (kronologis, universal) mengajak kita untuk melihat sejarah dapat dikomunikasikan tanpa mengacu pada didaktik ataupun estetik.


Museologi

Mahirta dari UGM memaparkan, museologi merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat. Program museologi di UGM baru ada pada 2009, bermitra dengan Washington University, Tropen University, dan Direktorat Museum. Juga bekerja sama dengan Pertamina yang memiliki respon tanggung jawab kepada masyarakat dalam hal penelitian museum dan daerah.

Program di UGM dilengkapi ruangan untuk praktik mahasiswa. Dengan model tersebut diharapkan museologi dapat berperan secara akademik dan terapan serta menghasilkan SDM yang kompetensi, seperti kreatif dan smart. Sasaran program ini adalah SDM yang memahami sejarah perkembangan permuseuman, berorientasi publik, dan melakukan kajian untuk memprediksi perkembangan museum di masa yang akan datang.

Dalam hal ini, menurut Mahirta, diperlukan kurikulum yang diaplikasikan pada kuliah yang bersifat kajian ilmu dan terapan, pemahaman teoretis trend keilmuwan, teknologi informasi, dan teknologi museum. Juga memahami isu global di bidang permuseuman. Dikatakan, kurator tidak mutlak benar atau sok, karena kebenaran itu subjektif. Beberapa isu, bisa dengan dengan cara timur (indiginious). Soalnya adalah yang punya isu tidak hanya orang tetapi juga objek. Misalnya keris dicuci dengan air jeruk dikatakan tidak karat. Nah, hal itu harus dibuktikan.

Reiza D. Diena, mengemukakan adanya lima masalah tentang museum, yakni timeline, tata ruang, tata pamer, pelabelan, serta pemasaran dan promosi. Program magister di Unpad ini bekerja sama dengan University of Rochella serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Sejak dibuka pada 2006, kini sudah ada lima angkatan. Angkatan ke-6 sedang dalam proses seleksi.

BOX 3


Registrasi Nasional Koleksi Museum

Diskusi kelompok dibagi menjadi dua. Kelompok 1 membahas Registrasi Nasional dan Database dan kelompok 2 membahas Sumber Daya Manusia di Museum. Paparan kelompok 1 disampaikan oleh Roby Ardiwidjaja. Roby mengawali penjelasannya dengan mengatakan, fakta menunjukkan pengelolaan koleksi museum di sebagian besar museum masih dilakukan secara manual. Hal ini mengakibatkan buruknya sistem pencatatan koleksi, minimnya data dan informasi koleksi, bahkan peluang koleksi mudah hilang. Padahal, koleksi museum merupakan aset penting yang harus dikelola. Dalam UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, salah satu pasalnya memerintahkan pengembangan sistem registrasi nasional, antara lain untuk benda, bangunan, dan struktur yang memenuhi kriteria sebagai cagar budaya, termasuk koleksi museum.

Menurut Roby, Sistem/Teknologi Informasi (TI/SI) merupakan solusi dalam memenuhi kebutuhan sistem pengelolaan secara profesional data dan informasi museum. TI/SI menjadi salah satu kunci keberhasilan museum dalam meningkatkan sistem pengelolaan (input-proses-desiminasi) informasi museum terkait koleksi, eksibisi, fasilitas, komunitas, dan penelitian. Juga memperkuat sistem penataan koleksi serta narasi yang informatif bagi pengunjung untuk lebih mengetahui, mengerti, dan mengapresiasi bagian dari kehidupan budayanya. Manfaat lain adalah mempermudah pengguna (internal dan eksternal) memperoleh informasi terkait museum

Roby menjelaskan, Pusdatin (Pusat Data dan Informasi) merupakan main server di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Main server dibagi menjadi SI Pariwisata, SI Inspektorat, SI Sekjen, SI Badan, dan SI Kebudayaan. Client server SI Kebudayaan dibagi menjadi SI Dirjen Sepur dan SI NBSF. Salah satu SI Dirjen Sepur adalah SI Direktorat Museum.

Data dalam bentuk aplikasi yang telah disimpan di server kemudian dipilah, data mana yang akan dipublikasikan kepada publik dan data mana yang hanya boleh diketahui oleh kalangan tertentu. Para pengguna tertentu juga diberikan password sehingga dapat mengakses data yang diinginkan. Sementara museum daerah mendapat password untuk dapat meng-update data dalam aplikasi. Sedangkan tour operator, pelajar, pengunjung, dan lain-lain dapat melihat informasi tentang koleksi (informasi layanan) yang telah disajikan di website.

Paparan kelompok 2 disampaikan oleh Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Kemenbudpar Zaini Bustaman. Menurut Zaini, persebaran museum di seluruh Indonesia memerlukan tenaga permuseuman yang dipimpin oleh magister atau doktor. Di pihak lain, fakta yang ada menunjukkan penempatan pegawai tidak matching antara disiplin ilmu dengan kualifikasi jabatan.

Yang ironis, banyak pegawai museum tidak tertarik dengan museologi. Ini karena mereka tahu wajah museum sekarang. Karena itu seorang peserta mengusulkan adanya ikatan dinas untuk pelajar SMA berprestasi. Kendala lain adalah beasiswa tidak menanggung keluarga si penerima, sehingga timbul keengganan untuk mengikuti jenjang pendidikan lanjutan.

Galeri Foto:

*Dimuat pada Museografia, Vo. IV No. 7, Juli 2011


Responses

  1. […] Lawang Sewu dan Sam Poo Kong, SemarangJURNAL KARAT # 108, 17 Februari 2012, DISKO PEMBERONTAKAN DAN WE ARE THE WORLDLaporan Pertemuan Nasional Museum 2011: Dari Benda Cagar Budaya Hingga Peran Kurator […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: