Oleh: museumku | 7 Maret 2011

Museum Ullen Sentalu: Penerapan Museologi Baru

Daniel Haryono B.A., M.Hum.

Abstrak: Makalah seminar ini yang disarikan dari Tesis dengan judul yang sama membahas tentang penerapan konsep dan teori Museologi Baru di Museum Ullen Sentalu. Penelitian dilakukan dengan analisa kualitatif berdasarkan teori yang diterapkan dalam praktek dengan kata kunci: Mutasi, Mnemonic, Memori.


Kajian Teori: Museologi Baru

Penerapan Museologi Baru, baik yang masih berupa konsep atau sudah berujud teori, kini bukan sekedar wacana lagi, tapi merupakan proses tak terhindarkan yang harus diterapkan oleh setiap museum. Sebagian besar konsep dan teori museologi terdahulu, seperti teori yang bisa dikelompokan sebagai teori Klasik dan teori Evolusi museum masih relevan untuk diterapkan, tapi sebagian lainnya harus dikaji ulang dan diperbarui dengan konsep dan teori baru untuk mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan terkini dan mendatang. Terminologi Museologi Baru merupakan terjemahan kata Nouvelle Museologique dan New Museology yang mulai dikenal di Perancis dan Inggris pada tahun 1970 – 1990an. Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan fenomena baru dalam kegiatan museum yang lebih memprioritaskan kepentingan masyarakat (people centered) (Alivizatou dalam International Journal of Intangible Heritage, 2008: 49).

Museologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk museum secara teoristik, heuristik dan holistik. Berbeda dengan museografi yang lebih terpusat pada manajemen eksibisi, tehnik pameran dan segala sesuatunya yang bersifat praktis (Magetsari, 2009). Sedangkan menurut Vergo (2000: 1,3) museologi adalah ilmu sosial yang mempelajari museum secara menyeluruh, mulai dari sejarah muncul dan berkembangnya, filosofi yang termaktub dalam visi dan misinya, hingga peran pendidikan, sosial dan politik serta kebijaksanaan yang ditempuhnya. Lebih lanjut ditambahkan oleh Magetsari (2008) bahwa museologi sebagai prima philosophia merupakan acuan untuk membahas manajemen koleksi, eksibisi, administrasi hingga bentuk dan fungsi museum serta sejarah perkembangannya.

Perbedaan paling mendasar antara Museologi Lama dan Baru adalah bila Museologi Lama (Museum Tradisional) terlalu menitik beratkan pada metodologi, seperti metode pengoleksian, perawatan dan pameran, maka Museologi Baru (Museum Modern) lebih terfokus pada maksud dan tujuan atau maknanya (Vergo, 2000: 3). Menurut Stam dalam Corsane (2005: 54) perbedaannya terletak pada munculnya peran informasi yang menjadi prioritas utama dalam visi dan misi Museum (information centered), di samping keterkaitannya dengan faktor sosial, ekonomi dan politik di sekitarnya (societal environment). Sementara itu menurut Van Mensch perbedaan yang ada sebenarnya terletak pada ‘authorship’ yang muncul secara jelas dalam Museologi Baru menggantikan identifikasi tanpa nama dalam Museologi Lama (Watson 2007: 49). Sedangkan menurut Handler dalam Watson (2007: 49) Museum Modern tak ubahnya seperti ‘social arena’ karena aktivitas museum lebih dari sekedar pengunjung mengamati koleksi atau ilmuwan melakukan penelitian, sebagaimana yang lazim terjadi di Museum Tradisional, tapi beragam aktivitas manusia yang dilakukan, mulai dari penelitian, konservasi, administrasi hingga pembuatan bermacam program, event, menu restaurant, merchandise dan beragam lainnya. Ditambahkan oleh Hauenschild bahwa Museum Modern merupakan museum dinamis yang terus bertumbuh dengan bentuk kelembagaan yang makin berkurang, terlibat dalam menjaga lingkungan di sekitarnya (ecological perspective), berorientasi pada tema (theme-oriented) dan bukan object-oriented (Hauenschild 1988: 9 – 12). Huyssen dalam Watson (2007: 389, 390) lebih lanjut menegaskannya:

Museum is no longer simply guardian of treasures and artifacts from the past discreetly exhibited for select group of expert but has moved closer to the world of spectacle of popular fair and mass entertainment

Di atas semuanya itu, perbedaan paling utama antara Museologi Baru dan Museologi Lama menurut penelitian Hooper-Greenhill (2000), Marstine (2006), Watson (2007) dan Magetsari (2008) terletak pada peran museum yang semakin besar pada pendidikan dan manfaatnya bagi masyarakat (educational and societal roles).


Kajian Lapangan : Museum Ullen Sentalu

Museum sejak awal berdirinya memiliki paradigma sebagai institusi atau gedung tempat menyimpan, merawat, melestarikan dan memamerkan warisan budaya yang berujud kebendaan (tangible). Di Indonesia, lebih detail lagi, museum identik dengan instansi milik pemerintah, cenderung terletak di tengah kota dengan menempati bangunan kuno cagar budaya, mirip perpustakaan dengan koleksi berjumlah ribuan judul (benda) dan tak ubahnya seperti gudang penyimpanan barang, sebagaimana diungkapkan oleh Dean (1996: 5) sebagai gudang dengan bentuk display yang usang (open storage with obsolete display) karena kondisi didalamnya yang tidak tertata, berdebu dan memberi kesan agak menyeramkan (dusty and spooky).

Bertolak dari paradigma seperti itu, Museum Ullen Sentalu mengembangkan paradigma baru yang merupakan antithesis dari paradigma sebelumnya. Paradigma baru tersebut bisa jadi merupakan penerapan Museologi Baru yang kini sedang digalakan untuk merevitalisasi keadaan banyak museum yang mati suri. Antithesis yang dimaksud merupakan penerapan konsep dan teori museologi yang berbeda dari sebelumnya dan kesimpulannya adalah sebagai berikut (dengan menyebutkan posisi Museum Ullen Sentalu terlebih dulu) :

1. Terletak didaerah pegunungan (resort) dan bukan di tengah kota (downtown)
2. Tidak menempati bangunan cagar budaya bergaya Classic yang biasanya merupakan landmark museum, tapi menempati bangunan baru pada landscape kosong yang dibangun dengan gaya Post-Mo
3. Dikelola dengan manajemen private corporation dan bukan state institution
4. Bersifat eclectic collection berdasarkan tema dan bukan encyclopaedic collection yang mengandalkan jumlah masif
5. Lebih banyak memaknai warisan budaya berupa kisah (memori kolektif) atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage) dan tidak selalu mengandalkan warisan budaya kebendaan (tangible heritage) atau dengan kata lain bukan object oriented tapi information oriented
6. Tidak semua koleksi terdiri dari artefak dan benda memorabilia tapi sebagian koleksi terdiri dari ambiance kebudayaan materi masa kini
7. Tidak menggunakan label atau caption untuk menjelaskan koleksi yang dipamerkan tapi mengandalkan tour guide, sehingga lebih interaktif karena dapat diakses secara visible dan audible (Hooper-Greenhill, 2000: 7)
8. Musealisasi pada koleksi yang bersifat movement dan bukan monument
9. Museum bukan lagi sekedar muse-um (tempat mempelajari muse) tapi berkembang menjadi a-muse-ment (theme park) dengan memadukan unsur education dan entertainment atau learning dan leisure
10. Pada tahap akhir (ultimate goal) yang kini sedang dikembangkan akan menjadi living museum dan bukan ‘dead’ museum dengan menyelenggarakan bermacam program dan eksibisi

Kesepuluh anti-thesis yang disimpulkan dari hasil kajian di lapangan tersebut di kemudian hari mungkin akan terus bertambah sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang terus berkembang, apalagi digunakannya metode dialektika yang akan selalu memunculkan antitesis baru dari sintesis yang telah menjadi tesis. Seluruh anti-tesis tersebut merupakan “dekonstruksi paket budaya” yang dikemukakan Donald Preziosi dalam teori Museum Modern, bahwa museum merupakan “cultural landscape” yang dominan dalam merekonstruksi masa lalu untuk masa kini, sebagaimana ditambahkan oleh Marstine (2006 : 1 – 5, 17)

New museum theory is about decolonizing, giving those represented control of their own cultural heritage. It’s about real cross-cultural exchange. (It) is not monolithic; it embraces many viewpoints. Culture is not static or frozen but continues maintain its identity by creating new objects, each with its own personality.

Berdasarkan antithesis di atas, hanya empat dari seluruhnya sepuluh antithesis yang akan dibahas secara singkat dalam seminar ini yaitu antithesis no 1, 2, 4 dan 5, dimana antithesis no. 1 dan 2 berkaitan dengan lokasi dan bentuk arsitektural museum dalam penciptaan nuansa lewat unsur Mnemonic. Sedangkan antithesis no. 4 dan 5 berkaitan dengan koleksi museum berbentuk lukisan konseptual yang diciptakan berdasarkan Memori Kolektif kerabat kraton dan masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Jogja dan Solo. Mnemonic dan Memori yang diterapkan di Museum Ullen Sentalu merupakan unsur dalam proses Mutasi dari bentuk Museologi Lama ke Museologi Baru.


Penerapan Mnemonic dalam Arsitektur Museum

Sepintas merupakan sesuatu yang ideal dan memiliki manfaat ganda, bilamana museum menempati sebuah bangunan kuno (cagar budaya) yang perlu dilestarikan. Pertama, secara tidak langsung, ikut merawat dan melestarikan landmark bangunan tersebut; Kedua, bisa jadi merupakan shortcut dalam pencitraan atau memposisikan (positioning) museum sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam pelestarian warisan budaya bangsa. Tapi kekurangannya, antara lain adalah banyak bagian atau struktur bangunan yang mengalami kerusakan (deterioration), sehingga membutuhkan biaya lebih besar dalam perawatan (maintenance) dibandingkan jika menempati bangunan baru. Kedua, tidak ada keleluasaan untuk menata alur (prosemic) dan dekorasi ruangan, karena semuanya harus disesuaikan dengan bentuk bangunan dan ruang yang ada dan bukan berdasarkan kebutuhan dan kaidah tata pamer. Beda halnya dengan Museum Ullen Sentalu yang sejak awal pendiriannya memilih lokasi yang masih kosong tapi dibangun dengan mengindahkan makna proxemic falsafah Jawa, baik dari segi lokasi, langgam arsitektur, alur dan tata pamer

Aplikasi beragam style arsitektur pada museum Ullen Sentalu yang terdiri dari bangunan utama dan beberapa bangunan pendukung tidak hanya terdiri dari unsur vernacular dan retro (nostalgia) kawasan Kaliurang, tapi juga menyisipkan topologi, toponim, morfologi dan keistimewaan kota Yogyakarta yang memiliki beragam bangunan bersejarah seperti bangunan candi Hindu – Budha, arsitektur peninggalan kolonial dan tata kota Mataram Islam yang unik, sehingga arsitektur museum Ullen Sentalu secara keseluruhan merupakan gabungan dari bermacam langgam dan jaman yang dapat dikategorikan sebagai arsitektur bergaya Post Modern (Post Mo)

Pendekatan arsitektur baru yang dikembangkan dengan menggunakan elemen atau nama bangunan yang sudah dikenal merupakan proses penggunaan Mnemonic yang ideal untuk museum. Museum adalah institusi pelestari memori sehingga setiap layout, tata ruang, style arsitektur harus mampu menjadi Mnemonic untuk mengingatkan sesuatu yang akan memudahkan pengunjung untuk memahami koleksi yang dilihatnya dan menikmati kunjungannya.

Arti kata Mnemonic adalah ‘assisting or intended to assist memory’ atau ‘dimaksudkan untuk membantu ingatan’. Selain sebagai faktor pengingat (mnemonic), arsitektur museum juga mampu menciptakan nuansa (atmosphere) lewat ambiance yang diwujudkan dalam gaya bangunan (tipologi), bentuk ruangan, nama tempat (toponim) dan layout kawasan (morfologi). Penggunaan nama (toponim) seperti Guwo Selo Giri, Kampung Kambang, Bale Nitik Rengganis serta bentuk bangunan luar dan tata ruang di dalamnya (tipologi) yang dirancang dengan memasukan salah satu atau beberapa unsur dari bentuk aslinya merupakan aplikasi konsep Mnemonic untuk mengingatkan pengunjung akan tempat atau suasana yang pernah dikenal sebelumnya.

Di museum Ullen Sentalu bentuk bangunan Mnemonic itu hanya ditampilkan sebagian dan selebihnya digabungkan dengan unsur lain yang tidak harus sejenis atau sejaman, tapi bisa dari bentuk yang sangat berbeda, seperti yang dapat disaksikan pada relief ‘Borobudur Jatuh’ untuk memperingati dikeluarkannya Borobudur dari daftar Seven Wonders of The World. Pada bagian relief, seluruhnya mengikuti pakem atau kaidah relief Borobudur yang berujud high relief atau sculptural relief dengan ciri setengah atau lebih ukuran relief menyembul keluar dari latarnya. Dalam kamus relief, ada tiga jenis relief yang dikenal di dunia yaitu bas relief atau low relief yang berujud tatahan relief hanya muncul seperempat dari permukan batu. Bentuk relief seperti ini banyak dijumpai pada candi-candi di Jawa Timur, diantaranya kompleks candi Penataran; Kedua sunken relief dari kata sink (tenggelam) yang berujud tatahan relief bukan muncul keluar tapi terpahat kedalam. Bentuk relief ini banyak ditemukan di hampir semua necropolis di Mesir dan di Indonesia berdasarkan pengamatan penulis dapat di temukan di candi Ceto dan Sukuh di Jawa Tengah atau gua Selomangleng di Jawa Timur dan beberapa pura di Bali.

Sedangkan candi-candi di Jawa Tengah, dimana Borobudur termasuk salah satunya memiliki tipe high relief mirip dengan relief-relief di hampir semua kuil di acropolis, Yunani. Pada relief Borobudur Jatuh, ditemukan perpaduan unsur Mnemonic – nostalgia dan modern – kontemporer. Relief bergambar Buddha merupakan replika relief Borobudur dari selasar di Rupadatu, sedangkan pilar berjumlah sembilan merupakan simbol kesempurnaan dan enam bidang kosong dari seluruhnya tujuh yang terbentuk oleh sembilan pilar menunjukan kehampaan dari ketujuh kejaiban dunia yang kini salah satunya hilang. Bidang ketujuh yang berisi relief Borobudur sengaja dipasang miring untuk menunjukan kejatuhan tersebut dan sama sekali tidak merepresentasikan lokasi Kaliurang yang terletak didaerah pegunungan.


4. Penerapan Memory dalam Koleksi Museum

Koleksi lukisan di Museum Ullen Sentalu bukan bentuk karya lukisan yang dipamerkan untuk mengapresiasi pelukisnya tapi lebih pada isi (content) lukisannya yang digunakan sebagai medium komunikasi dari yang intangible menjadi tangible, sebagaimana dikemukakan Lowenthal (1985: 191):
reaffirming memory and history in tangible form

Conceptual and Imaginary Narrative Painting atau disingkat Conceptual Painting adalah bentuk lukisan berdasarkan buah pikiran yang didapat dari pengetahuan lewat tulisan, penuturan atau pengalaman melihat langsung suatu kejadian yang kemudian diungkapkan dalam bentuk lukisan. Proses demikian merupakan ‘imaginative reconstruction’ dengan urutan yang sempurna (Lowenthal, 1985: 4). Beda halnya dengan Contextual Painting yang hampir semuanya mengandalkan dari yang dilihat tanpa interpretasi rumit. Conceptual Painting tak ubahnya seperti snapshot atau motion picture yang mengandalkan kerja team work untuk menuangkan intangible happening akan peristiwa masa lalu yang belum didokumentasikan atau peristiwa masa kini yang hanya dapat dilihat oleh kalangan tertentu. Dean (1996: 6) menambahkan:
Interpretation is the act or process of explaining or classifying, translating or presenting a personal understanding about subject or object (Dean, 1996 : 6)

Conceptual idea tersebut selanjutnya diintepretasikan secara imaginatif dan naratif untuk menampilkan nilai estetika dan aspek komunikatif. Contohnya adalah upacara Jumenengan yang merupakan perayaan tahunan memperingati raja bertahta yang hanya dapat dihadiri atau disaksikan oleh kerabat kraton dan tamu undangan tertentu. Melalui conceptual painting, semua kemegahan dan keindahan tata upacara kraton beserta kaidah filosofis yang terkandung di dalamnya dapat diungkapkan untuk masyarakat umum.

Bermacam upacara seperti Jumenengan sangat beragam jenisnya di kraton dan kemegahannya tidak dapat diwakili oleh koleksi museum yang hanya berujud kebendaan. Dalam pengungkapannya juga tidak mungkin dari satu sumber yang dituturkan atau ditulis oleh pelaku atau saksi sejarah, tapi melibatkan team work yang terdiri dari kaum akademisi yang melakukan riset lapangan dan literatur, pakar sejarah dan kebudayaan, juru tafsir bahasa dan simbol, para perupa yang ahli dalam gaya lukisan realism dan surrealism, untuk secara bersama-sama mengungkap lebih jauh keterangan dibalik sepotong benda budaya atau sepenggal kisah dari nara sumber. Dean (1996: 26-27) lebih lanjut menjelaskannya:
People have three principal means of gathering information through: Words, Sensations and Images. A large percentage … is visual (and) people process incoming images in six basic ways : pattern seeking and recognition, mentally rotating objects in space, identifying dynamic structures, orthographic imagination, x-ray visualization, visual reasoning

Karya lukis interpretatif seperti itu tidak bisa dikelompokkan sebagai alat bantu peraga, seperti label, caption, atau poster untuk menjelaskan obyek yang dipamerkan, tapi lebih tepat sebagai bentuk visualisasi mirip diorama (tiga dimensi) yang berujud dwimatra (dua dimensi) untuk mengungkapkan Warisan Budaya berujud Takbenda atau suatu peristiwa. Bukan pula tentang pameran seni lukis oleh seniman tertentu, sehingga dalam penyajiannya tidak pernah tercantum nama pelukisnya. Karena yang dipamerkan adalah historical portraiture painting, mirip lukisan para kepala negara Amerika di National Museum di Washington DC atau rekaman peristiwa di National Portrait Gallery di London yang memiliki banyak makna dan bisa ditafsirkan dan dijabarkan oleh para ahli sejarah dan kurator, sebagaimana diungkapkan oleh Lowenthal (1985: 212):
historical narrative is not a portrait of what happened but a story about what happened

Demikian pula dalam pengungkapannya tidak pernah mencantumkan label atau keterangan tentang lukisan tersebut, tapi hanya lewat penuturan pemandu (guided tour) yang justru mampu memberi keterangan lebih informative, naratif dan interaktif dibandingkan label teks atau caption. Karena makna budaya yang disampaikan secara verbal seringkali lebih ‘original’ dibandingkan non verbal yang mungkin terdistorsi oleh interpretasi lewat tulisan (Fletcher, 1989 : 33). Keunikan conceptual painting seperti itu dalam kamus ICOM disebut working collection yang boleh dikerjakan oleh pekerja museum atas kebudayaan materi yang dikoleksi oleh museum bersangkutan, baik yang berujud tangible ataupun intangible (ICOM, 2006: Article 2.8).

Bentuk lukisan konseptual ini, disamping terobosan-terobosan lain oleh Peter Vergo dikategorikan sebagai penerapan konsep dan teori Museologi Baru
“Beyond the captions, the information panels, the accompanying catalogue, the press handout … woven from the wishes and ambitions, the intellectual or political or social or educational aspirations and preconception of the museum director, the curator, the scholar, the designer, the sponsor… their methods and techniques of conservation… are the subject matter of the New Museology” (Vergo, 1989: 3)

Contoh Musealisasi Memory Busana Paes


Contoh lukisan konseptual dan proses musealisasi warisan budaya tak benda, salah satunya adalah lukisan Pengantin Putri Paes Ageng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Makna filosofis yang merupakan musealisasi dari konteks primer dalam lukisan ini tidak berujud label tapi disampaikan oleh kurator secara naratif, sehingga pengunjung dapat berkonsentrasi pada obyek tanpa terputus dengan teks yang harus dibaca dan berulang kali dicocokan dengan obyeknya. Narasi kurator diantaranya:

1. Kain Kampuh atau Dodot, yaitu kain yang berukuran istimewa, dengan lebar dua kali kain biasa dan panjang sekitar 4 – 5 meter. Motif Kampuh yang sering dipakai di kraton adalah Semen Romo yang merupakan simbol kesetiaan seorang istri dan bermakna filosofis agar pasangan suami istri senantiasa mendapat rejeki. Motif Semen mengandung makna ‘semi’ yaitu lambang kesuburan atau ketertiban alam.
2. Kain Cinde, merupakan corak kain khusus untuk Paes Ageng yang berfungsi sebagai pakaian dalam, sebelum Kampuh. Kain Cinde corak Yogyakarta memakai garis ‘seret’ di bagian paling bawah
3. Udet, kain semacam selendang kecil bercorak Cinde yang berfungsi sebagai sabuk atau ikat pinggang dengan panjang 2 ½ meter dan lebar 1 meter.
4. Jengil, yaitu sampul hiasan dari Udet yang dihiasi bross.
5. Slepe, adalah ikat pinggang dari logam bersepuh emas.

Asesoris pada busana Paes Ageng yang termasuk jenis Raja Keputren, di antaranya:
1. Cunduk menthul yang dipakai pada sanggul, berjumlah lima buah, melambangkan sholat lima waktu dalam agama Islam.
2. Sisir gunungan, dipakai pada atas sanggul, mempunyai simbol keagungan kepada pencipta, dimana dalam mitologi leluhur gunung adalah tempat tinggal para dewa.
3. Centhung, dipakai pada pangkal panunggul (di atas dahi). Panunggul terletak di pusat dahi dan berbentuk seperti pucuk daun sirih. Ditengahnya terdapat tiga titik yang bermakna Trimurti atau tiga kekuatan penguasa dan pengatur alam: Brahma, Wisnu, Siwa. Disekitar panunggul diletakkan prada berupa kertas emas berbentuk capung, disebut ‘kinjengan’. Sementara itu, `pengapit`, `penitis` dan `godheg` berfungsi untuk keseimbangan wajah, maka cara menggambarnya harus simetris dengan panunggul.
4. Panunggul berasal dari kata `tunggal` yang berarti terkemuka dan tertinggi. Hal ini mengandung harapan agar harkat wanita ditinggikan dan dihormati. Dengan demikian Panunggul merupakan lambang status wanita di dalam keluarga dan masyarakat.
5. Citak, terletak ditengah-tengah dahi di bawah Panunggul, merupakan pusat pandang (fokus) yang dapat menentramkan ekspresi wajah dan memberi watak pada keseluruhan Paes, simbol bahwa seorang istri senantiasa fokus pada rumah tangganya
6. Alis berbentuk tanduk rusa yang melambangkan unsur estetika dalam keseluruhan rias wajah, yaitu keindahan dan sifat elegant pengantin wanita sebagai seorang istri yang diharapkan akan dapat bergaul sesuai norma dengan masyarakat sekitarnya.
7. Gelung bokor mengkurep, merupakan jenis tata rambut berbentuk gelung. Gelung rambut ini ditutup dengan roncean bunga melati serta dililit dengan untaian melati sepanjang 40 cm yang disebut `gajah ngoling`. Gelungan ini diberi hiasan korsase mawar merah tiga buah yang dirangkai menjadi satu yang dinamakan `jebehan`.
8. Sumping, merupakan asesori yang dipakai di telinga. Sumping ini terbuat dari daun pepaya yang rasanya pahit, bermakna bahwa seorang istri harus siap menghadapi masa-masa pahit getir dalam kehidupan rumah tangga.
9. Kalung sungsang atau Sempyok yang dipakai di leher dan melambangkan tiga tingkatan kehidupan manusia : lahir, menikah dan meninggal dunia.
10. Kelat bahu, merupakan perhiasan yang dipakai di lengan atas, merupakan lambang kekuatan. Seorang istri nantinya harus kuat dan tidak mudah mengeluh dalam mengarungi rumah tangga.
11. Slepe atau ikat pinggang, merupakan simbol kesetiaan seorang istri kepada suaminya karena ikat pinggang tersebut hanya boleh dibuka oleh sang suami. Selain itu seorang istri harus dapat menjaga rahasia suaminya.
12. Cincin sebanyak dua buah yang dipakai di jari manis dan kelingking kiri dan kanan melambangkan bahwa seorang istri senantiasa terampil mengelola rumah-tangganya.
13. Bross tiga buah dipakai di sanggul dan jengil.
14. Buntal, terbuat dari daun dan bunga kuburan yang kemudian diikatkan di pinggang, mempunyai makna memohon doa restu dari leluhur. Pada ujung atas dan bawah buntal dilekatkan bunga kamboja. Pada ujung sebelah atas bermakna harapan agar pengantin lekas hamil dan memberikan keturunan, sedangkan pada ujung bawah buntal mengandung makna agar dalam persalinan kelak diberi kemudahan dan kelancaran (Ullen Sentalu, 2008: Dodot).


Daftar Pustaka

Alivizatou, Marilena
2008 ‘Contextualising Inttangible Cultural Heritage Studies and Museology’ dalam International Journal of Intangible Heritage. Vol. 3 (2008)

Dean, David
1996 Museum Exhibition: Theory and Practice. London dan New York: Routledge

Fletcher, Roland
1989 ‘The Messages of Material Behavior: a Preliminary Discussion of Non Verbal Meaning’, dalam I. Hodder (ed), The Meaning of Things: Material Culture and Symbolic Expression. Cambridge: Harper Collins

Haunschild
1988 Claims and Reality of New Museology: Case Studies in Canada, the United States and Mexico. Washington DC: Smithsonian Center for Education and Museum Studies

Hooper-Greenhill, Eilean
2000 Museums and the Interpretation of Visual Culture. London dan New York: Routledge

ICOM
2007 KOde Etik ICOM untuk Museum. Jakarta: Departmen Kebudayaan dan Pariwisata – Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala – Direktorat Museum

Lowenthal, David
2006 The Past is a Foreign Country. Cambridge: Cambridge University Press

Magetsari, Nurhadi
2008 ‘Filsafat Museologi’, dalam Museografia Vol. II No. 2
2009 ‘Pemaknaan Museum untuk Masa Kini’, dalam Diskusi dan Komunikasi Museum

Marstine, Janet
2006 New Museum Theory and Practice. Victoria: Blackwell Publishing

Stam, Deirdre C.
2005 ‘The Informed Muse: The Implications of the New Museology for Museum practice dalam G. Corsane. London dan New York: Routledge

Ullen Sentalu Museum
2008 Dodot – Paes Ageng – Museum Kuratorial Series

Van Mensch, Peter
2007 – dalam S. Watson, Museums and Their Communities. London dan New York: Routledge

Vergo, Peter
2000 The New Museology. London: Reaktion Books

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: