Oleh: museumku | 5 Maret 2011

Konsep Komunikasi dan Edukasi Museum Istana Kepresidenan

Oleh: Kukuh Pamuji


Pendahuluan

Aktivitas permuseuman kini makin berkembang sebagai akibat dari terjadinya perubahan paradigma. Apabila pada awalnya aktivitas permuseuman berpusat pada koleksi, maka dalam perkembangannya aktivitas permuseuman dipusatkan pada masyarakat. Museum bukan sekedar menjadi tempat penyimpanan benda langka dan mahal, melainkan sebagai sebuah lembaga kebudayaan yang melayani masyarakat (Magetsari, 2008). Dengan demikian, museum mulai mengembangkan dirinya menjadi institusi yang terbuka bagi masyarakat.

Perubahan tersebut juga membuat misi edukasi museum mengalami pergeseran. Apabila selama ini edukasi museum berperan untuk menyampaikan pendidikan kepada anak-anak, namun dengan perkembangan paradigma yang ada, museum juga harus dapat menyampaikan misi edukasinya kepada semua lapisan masyarakat. Museum tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk mendidik masyarakat, tetapi menjadi tempat pembelajaran, yang termasuk di dalamnya tempat di mana pengunjung dapat memperoleh pengalaman (Ambrose dan Paine, 2006).

Peran museologi baru kemudian mendasari peran museum sebagai suatu lembaga yang melayani masyarakat dengan memusatkan perhatian pada pengembangan hubungan timbal balik antara museum dengan masyarakat (Magetsari, 2008). Bagi dunia pendidikan, keberadaan museum tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perkembangan manusia, budaya, dan lingkungannya. Museum merupakan wahana untuk mengabadikan dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan maupun peristiwa-peristiwa dan benda-benda bersejarah. Sementara itu, berbagai macam informasi dan pengalaman yang ingin disampaikan oleh museum kepada pengunjungnya dilakukan melalui komunikasi museum.

Sebagai living monument, pemanfaatan Istana Kepresidenan sebagai ruang publik diatur secara ketat, sehingga berimplikasi langsung kepada pengunjung yang tidak dapat secara leluasa untuk memilih dan mengapresiasi koleksi dalam waktu yang cukup lama, seperti halnya kalau mereka mengunjungi museum yang lain. Karena itu perlu dipikirkan cara yang tepat untuk melaksanakan kegiatan komunikasi dan edukasi kepada para pengunjung, sehingga mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Istana Kepresidenan setelah mereka melakukan kunjungan. Komunikasi di Museum Istana Kepresidenan dapat dijadikan sebagai bahan untuk mendapatkan pengetahuan tentang konsep yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di museum dan model eksebisi yang interaktif.


Konsep Komunikasi Museum

Salah satu perbedaan antara museum tradisional dengan museum baru adalah bahwa pada museum tradisional terjadi proses komunikasi searah (proses transmisi), sedangkan pada museum baru lebih menekankan terjadinya proses komunikasi timbal balik. Apabila perbedaan itu kita telusuri, maka paling tidak kita dapat melihat dua ciri yang terdapat pada museum tradisional, yaitu:

1. Penyajian koleksinya masih secara transmisi searah, bukan komunikasi dua arah.
2. Berkonsentrasi kepada koleksi

Dalam perkembangan selanjutnya Knez dan Wright mengusulkan modifikasi model komunikasi museum sebagai berikut:


Selain itu, konsep mengenai komunkasi museum dapat juga dikemukakan sebagai berikut:

Communication is defined as “the presentation of the collections to the public through education, exhibition, information and public services. It is also the outreach of the museum to the community” (Walden, 1991dalam Greenhill, 1996).

Untuk berkomunikasi dengan para pengunjungnya, museum dapat menggunakan berbagai macam cara, termasuk menetapkan kerjasama dengan media lokal dan nasional, membangun jaringan pendukung lokal dan nasional, bisnis, pendidikan dan komunikasi budaya, dan penggunaan berbagai teknik pemasaran, Museum dapat membuat aktivitas program yang diorganisir oleh museum tetapi dilaksanakan di tempat umum seperti pusat perbelanjaan, sekolah, atau rumah sakit (Beevers et al, 1988; O’Neill 1990,1991; Hemmings, 1992; Plant,1992).

Beberapa museum menggunakan unit-unit mobil yangmembawa koleksi-koleksi dan kegiatan ke perusahaan perumahan, tempat bermain di sekolah, bazar, atau konser. Beberapa museum mempunyai koleksi-koleksi pinjaman yang tersedia dari sekolah-sekolah dan lembaga lain (Greenhill,1996).


Konsep Edukasi Museum

Belajar di museum merupakan salah satu cara belajar yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung, karena di museum pengunjung dapat belajar pada obyek dan informasi yang ada. Benda-benda yang ada di museum merupakan benda yang dapat dilihat dan sebagian diantaranya mungkin dapat dipegang atau diraba. Dengan demikian pengunjung dapat mengerti secara tepat tentang apa yang dipelajarinya, tidak hanya membayangkan bagaimana wujud dan karakteristik benda dimaksud.

Kontribusi unik yang diberikan oleh museum dalam fungsi edukasi adalah menyediakan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar langsung dari obyek, menstimulasi rasa keingintahuan dan ketertarikan mereka, mengenalkan cara belajar dengan menggunakan indera dan persepsi melalui pengalaman hands-on, serta mendukung belajar secara independen (Beer,1994). Untuk memenuhi tanggungjawabnya itu, museum harus meningkatkan perannya sebagai sumber pembelajaran yang dapat digunakan oleh seluruh komponen masyarakat atau kelompok-kelompok khusus yang harus dilayaninya (Edson dan Dean, 1996).


Konsep Pembelajaran Konstruktivis

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu pesat pada era globalisasi membawa perubahan yang sangat radikal.Perubahan itu telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada sistem pendidikan dan pembelajaran.Dampak dari perubahan yang luar biasa itu adalah dengan terbentuknya “komunitas global” yang tiba lebih cepat dari yang diperhitungkan. Revolusi informasi telah mengakibatkan dunia baru yang benar-benar hyperreality (Gasong, 2007).

Akibat perubahan yang begitu cepat, manusia tidak bisa lagi hanya bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas sosial yang konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi sehubungan dengan faktor-faktor tersebut dalam rangka membangun sebuah konstruksi sosial-personal yang memungkinkan. Untuk dapat bertahan dalam menghadapi tantangan perubahan dalam dunia pengetahuan, teknologi, komunikasi serta konstruksi sosial budaya ini, kita harus mengembangkan proses-proses baru untuk menghadapi masalah-masalah baru. Kita tidak dapat lagi bergantung pada jawaban masa lalu karena jawaban tersebut begitu cepatnya tidak berlaku seiring dengan perubahan yang terjadi. Pengetahuan, metode, ketrampilan-ketrampilan menjadi suatu hal yang ketinggalan zaman hampir bersamaan dengan saat hal-hal ini memberikan hasilnya.

Sangat penting untuk memperhatikan konstruktivis apabila kita menerima teori-teori pembelajaran modern.Kita tidak bisa mengelak dan perlu menerima posisi konstuktivis pada teori pengetahuan sedikitnya sampai pada taraf tertentu. Masyarakat membuat arti yang mereka miliki keluar dari pengalaman yang muncul untuk menjadi sebuah fenomena yang tidak hanya merupakan sebuah konstruksi teoritis. Terdapat bukti riset yang berlimpah untuk mendukung penyingkapan pengetahuan kita pada setiap kumpulan fenomena pada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Kita semua menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda, tergantung pada latar belakang dan pengalaman yang kita miliki (Hein,1998).

Situasi pembelajaran konstruktivis memerlukan dua komponen yang terpisah, pertama sebuah pengenalan bahwa untuk belajar diperlukan keterlibatan secara aktif dari pelajar. Oleh karena itu, pameran konstruktivis merupakan sarana bagi para pengunjung/pelajar untuk menggunakan tangan dan pikiran mereka, untuk berinteraksi dengan dunia, mengolahnya, membuat kesimpulan-kesimpulan, eksperimen, dan meningkatkan pemahaman dan kemampuan mereka untuk membuat penggeneralisasian tentang suatu fenomena yang dapat melibatkan mereka. Eksperimen-eksperimen sangat penting dalam pembelajaran konstruktivis, baik dalam ilmu pengetahuan atau subyek-subyek lain. Sebaliknya, sebuah eksperimen dari suatu demonstrasi, merupakan situasi yang dapat menghasilkan sesuatu yang mungkin dan dapat diterima. Kedua, dalam pendidikan konstruktivis kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan oleh pembelajar tidak disahihkan oleh ya atau tidaknya mereka menepati beberapa patokan eksternal dari kebenaran, tetapi apakah mereka “bisa merasakan” dalam kenyataan yang dibangun oleh pembelajar. Kebenaran gagasan-gagasan menurut konstruktivis tidak bergantung pada kesesuaian mereka pada beberapa kebenaran yang objektif, yang mempunyai satu keberadaan terpisah dari setiap pembelajar atau kelompok pembelajar. Kebenaran dibangun dari konsep-konsep nilai dalam mendorong ke arah penggunaan tindakan dan konsistensi dari gagasan yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, selagi pendidik-pendidik tradisional memperbicangkan tentang kesalahpahaman-kesalahpahaman pembelajar, konstruktivis hanya akan membicarakan tentang pribadi, atau konsep-konsep pribadi (Hein,1998)

Konstruktivis memahami karakter belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Pengetahuan itu sendiri adalah rekaan dan bersifat tidak permanen. Oleh karena itu, pemahaman yang diperoleh manusia senantiasa bersifat tentatif dan tidak lengkap. Pemahaman manusia akansemakin mendalam dan kuat jika teruji dengan pengalaman-pengalaman baru (Baharuddin dan Wahyuni, 2008).

Suatu pameran konstruktivis akan menyediakan peluang bagi para pengunjung museum untuk membangun (mengkonstruksi) pengetahuan mereka, menyediakan berbagai cara bagi para pengunjung untuk menyimpulkan secara akurat, dengan mengabaikan apakah kesimpulan mereka sesuai dengan apa yang diharapkan oleh staf kurator.

Dalam pandangan konstruktivis, peran edukator di museum adalah memfasilitasi cara belajar aktif melalui penanganan obyek dan diskusi, yang dihubungkan dengan pengalaman konkret. Dalam konteks edukasi di museum, dengan didasarkan pada paragdima konstruktivis, museum atau edukator dapat bertindak sebagai fasilitator. Walaupun demikian, pihak museum dapat menggunakan cara didaktik sebagai aspek lain dalam hubungannya dengan publik (Greenhill, 1994).


Museum Istana Kepresidenan sebagai Sarana Komunikasi

Seperti yang telah disebutkan di atas, salah satu ciri yang membedakan museum tradisional dengan museum baru antara lain adalah pada bentuk komunikasi yang terjadi antara museum dengan pengunjung. Bila kita mengacu pada konsep tersebut, maka bentuk komunikasi yang terjadi di Istana Kepresidenan saat ini cenderung berbentuk komunikasi searah, bukan komunikasi dua arah. Pengunjung sebagai penerima pesan tidak mempunyai peran yang aktif dalam proses komunikasi, mereka lebih dominan sebagai pihak yang hanya menerima informasi yang disampaikan oleh pemandu, tidak memiliki kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang koleksi benda seni maupun acara kenegaraan yang terjadi di Istana Kepresidenan.

Komunikasi yang terjadi saat ini sesungguhnya masih dapat dikembangkan dengan mengacu pada model komunikasi yang disampaikan oleh Knez dan Wright. Dalam modelkomunikasi ini komunikasi merupakan suatu rangkaian yang melibatkan tiga unsur penting yaitu museum dan koleksinya, program edukasi museum, dan para pengunjungnya. Dalam proses komunikasi ini, seorang kurator museum menentukan konten dan pesan yang akan disampaikan dalam kegiatan eksebisi museum. Pesan tersebut kemudian disampaikan menggunakan dua buah media yang berupa media primer yaitu benda koleksi (obyek) yang ditampilkan dan media sekunder berupa penjelasan tentang koleksi (obyek) yang ditampilkan. Sedangkan pengunjungyang bertindak sebagai penerima pesan, tidak hanya bersikap pasif, tetapi dapat memberikan tanggapan berupa umpan balik terhadap apa yang telah disampaikan kurator museum.

Untuk dapat merealisasikan hal ini maka Istana Kepresidenan perlu menyiapkan sebuah museum khusus yang terletak di luar Istana Kepresidenan, sehingga para pengunjung dapat mengeksplorasi materi apa saja yang ingin diketahuinya tanpa mengganggu jalannya aktivitas pemerintahan yang terjadi di dalam Istana Kepresidenan.


Museum Istana Kepresidenan sebagai Sarana Edukasi

Salah satu fungsi pokok museum adalah memberikan pelayanan pendidikan (edukasi). Program edukasi merupakan media yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang dapat dianggap sebagai bentuk kegiatan komunikasi. Konsep edukasi yang ingin diterapkan pada Museum Istana Kepresidenan adalah konsep pendidikan konstruktivis. Dalam pandangan konstruktivis, pendidik di museum memiliki peran sebagai fasilitator dalam pembelajaran aktif melalui penanganan obyek dan diskusi, yang dihubungkan dengan pengalaman konkret. Hal ini mengandung pengertian bahwa pameran yang disajikan oleh Museum Istana Kepresidenan harus dapat memberikan keleluasaan kepada para pengunjung untuk berinteraksi secara langsung dengan koleksi. Dengan demikian maka koleksi yang dipamerkan di museum harus dapat disentuh, diraba, atau dipegang sehingga dapat merangsang proses berpikir dan merangsang pengunjung untuk mencoba mengadakan eksplorasi terhadap koleksi yang diminatinya.

Konsep edukasi yang ditawarkan untuk diterapkan pada Museum Istana Kepresidenan adalah konsep pendidikan konstruktivis. Hal ini mengandung pengertian bahwa pameran yang disajikan oleh Museum Istana Kepresidenan harus dapat memberikan keleluasaan kepada para pengunjung untuk berinteraksi secara langsung dengan koleksi yang disajikan. Dengan demikian maka koleksi yang dipamerkan di museum harus dapat disentuh, diraba, atau dipegang sehingga dapat merangsang proses berpikir dan merangsang pengunjung untuk mencoba mengadakan eksplorasi terhadap koleksi yang diminatinya. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran aktif sebagai suatu bentuk strategi yang akan diterapkan harus memperhatikan unsur-unsur sebagai berikut:

1) berpusat pada pengunjung;
2) memiliki penekanan pada menemukan;
3) memberdayakan semua indera dan potensi pengunjung;
4) menggunakan berbagai macam media;
5) disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada.

Dengan demikian penataan pameran yang harus dilakukan oleh pengelola Museum Istana Kepresidenan harus memperhatikan hal-hal seperti yang dikemukakan oleh Hein, sebagai berikut:

a. memiliki banyak pintu masuk, tanpa alur yang spesifik dan tidak ada permulaan dan akhir;
b. menyediakan suatu cakupan yang luas dari model pembelajaran
aktif (active learning);
c. menghadirkan berbagai cakupan sudut pandang (points of view);
d. memungkinkan para pengunjung untuk berhubungan dengan obyek dan gagasan-gagasan melalui suatu aktivitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman hidup yang mereka miliki;
e. menyediakan pengalaman-pengalaman dan bahan-bahan yang memungkinkan mereka untuk mengadakan percobaan, dugaan, dan menarik kesimpulan-kesimpulan (Hein,1998).

Kegiatan yang dilaksanakan Istana Kepresidenan kaitannya dengan komunikasi dan edukasi :

Panduan Keliling Istana Kepresidenan Jakarta
Kegiatan ini merupakan kegiatan pemanduan yang diberikan kepada pengunjung yang datang ke Istana Kepresidenan. Panduan keliling dilakukan secara berkelompok.

Pemutaran Film Istana Kepresidenan
Kegiatan ini menampilkan sejarah Istana Kepresidenan. Durasi pemutaran film ini berkisar 15 menit untuk setiap kelompok kunjungan. Dengan pemutaran film ini maka ritme pergantian kelompok untuk berkeliling Istana kepresidenan dapat berjalan dengan teratur. Menurut konsep pendidikan konstruktivis, cara seperti ini memungkinkan pengunjung untuk membuat suatu konstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman dan imajinasi yang mereka miliki.

Eksebisi
Eksebisi yang dilakukan di Istana Kepresidenan tidak seperti eksebisi yang dilakukan oleh museum pada umumnya, karena Istana Kepresidenan merupakan living monument, maka tidak dapat dengan mudah mendisplay benda-benda koleksi yang ada seperti yang dilakukan museum pada umumnya. Terlebih lagi apabila dilihat dari fungsinya, benda-benda koleksi seni rupa di Istana Kepresidenan merupakan penghias ruang-ruang istana (Dermawan T, 2004). Penempatan koleksi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi ruang yang ada. Hal yang dapat dilakukan agar terjadi komunikasi yang yang optimal antara koleksi itu sendiri dengan para pengunjung, antara lain adalah dengan memberikan informasi tentang makna yang terkandung dalam koleksi (aspek intangible), tidak cukup hanya dengan mengandalkan label saja. Dengan demikian pengunjung akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih berarti, tidak hanya mengetahui aspek tangible-nya saja.

Corporate Identity (CI)
Para pengunjung Istana Kepresidenan dapat memperoleh Informasi melalui benda-benda cinderamata yang disediakan di toko souvenir. Bentuk komunikasi seperti ini dikenal dengan Corporate Identity (CI). Benda-benda cinderamata dimaksud antara lain berupa: kaos, topi, mug, tas, jaket, jam tangan, pulpen, dan bentuk lainnya yang semuanya menampilkan logo Istana Kepresidenan. Cara ini cukup efektif untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat luas tentang keberadaan Istana Kepresidenan. Dengan demikian maka informasi tentang Istana Kepresidenan akan semakin menyebar di masyarakat, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan jumlah masyarakat untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan


Daftar Pustaka

Ambrose, Timothy dan Paine, Crispin. (2006). Museum Basic , 2nd edition, London and New York: Routledge

Baharuddin dan Wahyuni, Esa Nur. (2008). Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Suriaman. (2000). Bimbingan Edukasi Museum dan Peningkatan Pariwisata Budaya, dalam Museografia Jilid XXIX No.1.Th.2000.

Magetsari, Nurhadi. (2008).“Filsafat Museologi”, dalam Museografia Vol.II No.2 (Oktober 2008).

Beer, Valorie. (1994). “The Problem and Promise of Museum Goals”, dalam K.Moore (ed), MuseumManagement, Routledge.

Dermawan T, Agus. (2004). Koleksi Benda-Benda seni Istana Kepresidenan, Jakarta: Sekretariat Presiden RI.

Gasong, Dina. (2007). Model Pembelajaran Konstruktivistik sebagai Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran.

Hooper-Greenhill, Eilean. (1994). The Educational Role of The Museum, 2nd edition, New York: Routledge.

Hein, George E. (1998). Learning in The Museum, New York: Routledge.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: