Oleh: museumku | 5 Juni 2012

Museum Bengkulu: Dulu, Lalat Pun Enggak Mau Hinggap

KOMPAS, Jumat, 1 Jun 2012 – Ruangan itu gelap dan pengap. Memasukinya dari lantai dua, setelah menuruni tangga, sebuah keranda di sebelah kiri dan barong landong mirip ondel-ondel di sebelah kanan segera menyambut kita. Jangankan pengunjung, petugas pun tak betah berlama-lama di ruang itu. Menyeramkan dan minim penerangan.

Itulah suasana lantai satu Museum Negeri Bengkulu sebelum direvitalisasi. Kini kondisi museum itu jauh berbeda. Lantai satu yang dahulu pengap kini berubah menjadi ruang pamer yang terang benderang, rapi, dan bersih.

Museum itu sekarang dilengkapi dengan sensor cahaya, perangkat multimedia, dan lampu sorot yang memadai. Selain dipasangi banyak lampu, cahaya matahari pun bisa menerobos melalui jendela yang berderet di bagian atas ruangan.

”Sekarang pengunjung yang berada dalam museum bisa berkeliling sambil mendengarkan lagu daerah Bengkulu yang kami putar. Ada juga layar televisi yang menampilkan penjelasan beberapa koleksi museum,” kata Kepala Museum Negeri Bengkulu Miznan, awal Mei lalu.

Perubahan itu adalah hasil revitalisasi yang didanai pemerintah pusat sebesar Rp 2,5 miliar pada September-November 2011. Museum Negeri Bengkulu merupakan satu dari 30 museum di Tanah Air yang direvitalisasi pada tahun 2011.

Jika mengandalkan keuangan daerah, kata Miznan, museum tidak akan terurus dengan baik. Jangankan untuk memperbaiki bangunan, sudah bertahun-tahun anggaran untuk pemeliharaan dan penambahan koleksi saja tidak ada. Baru tahun 2012 dana pemeliharaan dianggarkan dalam APBD meski jumlahnya belum mencukupi.

Namun, setiap tahun museum selalu dibebani untuk pendapatan asli daerah (PAD). Tahun 2010-2011 target PAD dari museum ditetapkan Rp 2,5 juta. Penerimaan museum dari retribusi mampu melampaui target itu. Tahun ini target PAD itu masih sama, Rp 2,5 juta.

”Kami selalu mengusulkan penambahan koleksi, tetapi sudah lebih dari lima tahun ini tak disetujui. Anggaran pemeliharaan pun baru tahun ini ada,” ujar Miznan.

Belum setahun sejak selesai diperbaiki, dampak positifnya sudah terasa. Dulu tingkat kunjungan sekitar 150 orang per bulan. Setelah penampilan museum itu lebih bagus, pengunjung per bulan di atas 500 orang. Misalnya, pada Februari 2012 pengunjung Museum Bengkulu mencapai 648 orang. Sebulan kemudian pengunjung museum tercatat 614 orang.

”Dulu, saat sebagian besar ruangan masih gelap, museum sepi sekali. Lalat pun enggak mau hinggap. Sekarang pengunjung lebih betah berada di museum,” ujar seorang pemandu museum itu, Erma Susri.

Ruang pamer di Museum Negeri Bengkulu berada di dua bangunan. Satu bangunan berukuran 1.000 meter persegi dan lainnya 250 meter persegi.

Museum yang beralamat di Jalan Pembangunan Nomor 8, Padang Harapan, Kota Bengkulu, itu memiliki koleksi 6.151 barang bersejarah. Barang itu antara lain berupa koleksi etnografika (2.988), keramologika (1.901), numismatika (911), filologika (138), arkeologika (90), historika (42), dan teknologika (15).

Museum itu merupakan etalase daerah. Apalagi, Bengkulu yang memiliki wilayah seluas 1,9 juta hektar menyimpan budaya dan sejarah yang kaya. Dari Kabupaten Mukomuko di utara hingga Kabupaten Kaur di ujung selatan terdapat sembilan etnis dengan beragam kekayaan budayanya. Miznan kini ingin gencar mempromosikan museum itu. (Adhitya Ramadhan)


Responses

  1. Terbukti Pemda gak peduli pada museum. Sudah itu, museum dibebani PAD lagi. Pada kemana otak para pejabat di Pemda ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori