Oleh: museumku | 30 Desember 2010

Museum dalam Design Interior Selera Fenerasi Muda

Acara dibuka oleh Walikota Bambang DH. (AMELIA/THE EPOCH TIMES)

Epochtimes.co.id, Jumat, 18 Juni 2010 – Surabaya — 2010 ini hingga 2014 nanti, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mencanangkan Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM). Maksud dari gerakan ini mewujudkan museum Indonesia yang menarik, informatif dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Salah satu wujud kepedulian dan dukungan program tersebut, warga Surabaya yang di wakili House of Sampoerna berkolaborasi dengan universitas Ciputra mengadaan pameran dengan tema “Museum Jawa Timur dalam Design Grafis dan Interior”.

Pameran yang menampilkan berbagai berbagai bentuk desain Mahasiswa Komunikasi Visual & Arsitektur Interior semester-6. Sebagai salah bentuk dorongan kepada generasi muda untuk ikut peduli, mengenal dan memberikan kontribusi berupa masukan sesuai bidang studi mereka kepada museum. Pameran akan diselenggarakan pada 18 Juni – 11 Juli 2010 di Galeri House of Sampoerna.

“Dengan semakin besarnya dukungan pemerintah Indonesia terhadap perkembangan museum sebagai destinasi wisata Indonesia, House of Sampoerna dan Universitas Ciputra tidak menyia-nyiakan peluang ini dengan menjadikan museum sebagai sebuah studi penelitian serta kreativitas menurut sudut pandang anak muda. Kami berharap ide kreatif yang dihasilkan oleh mahasiwa dapat menjadi sebuah masukkan positif bagi museum-museum Jawa Timur dalam mengembangkan dan memperluas penyebaran informasi semakin dicintai oleh bangsanya sendiri.” Kata Ina Silas, Manager House of Sampoerna dalam kata sambutannya.

Kelompok yang mere-design Museum Trowulan Mojokerto, dengan konsep “Simply Contemporer Measurable” Jessica, Audra, Carol dan Vera. (AMELIA/THE EPOCH TIMES)

“Partisipasi secara aktif generasi muda mengunjungi museum, merombaknya menjadi indah dan menarik menurut generasi muda. Hingga tidak menutup kemungkinan ide tersebut dapat direalisasikan. Mengingat para mahasiswa juga melampirkan penghitungan anggaran pelaksanaan proyek tersebut.” Imbuh Ina Silas.

Pameran yang melibatkan 6 museum yaitu, Museum 10 November Surabaya, Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH Surabaya, Museum Trowulan Mojokerto, Museum Loka Jala Carana Surabaya, Museum Cakraningrat Bangkalan dan Museum Tantular Sidoarjo, dibuka Kamis (17/6) oleh Walikota Surabaya, Bambang DH. Dihadiri oleh Rektor Universitas Ciputra, Tony Antonio, staff pengajar dan para kepala museum.

“Sebagai pendidik dalam suatu lembaga pendidikan kami dituntut agar dapat mendorong dan membangun kreativitas anak didik. Mendorong agar tumbuh rasa peduli masalah sekitarnya. Bagaimana generasi muda menyukseskan gerakan cinta museum? Memberikan suatu jalan kepada mereka.” Kata Tony Antonio, dalam kata sambutannya.

Walikota mewakili pemerintah daerah, menyambut gembira dan mendukung segala upaya dan kerjasama untuk pengembangan museum. Karena dalam museum tercatat perjalanan sejarah suatu bangsa.

“Dalam suatu kota jika banyak orang cerdas maka akan banyak orang bekerjasama. Pandai-pandailah mencari titik temu untuk bekerjasama. Saya sangat mendukung kerjasama-kerjasama semacam ini. Sehubungan dengan Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) saya sangat antusias karena museum merupakan tempat yang menyimpan catatan sejarah. Perjalanan sejarah suatu bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya.” Bambang DH, dalam sambutannya.

Kelompok yang mere-design Museum TNIAL Loka Jala Crana dengan konsep “Under Water dan Kapal Karam”, Renatta, Novi, Maria, Leonard. (AMELIA/THE EPOCH TIMES)

Karya-karya yang dipamerkan merupakan tugas akhir mahasiswa-mahasiswi tersebut. Dengan dimotori oleh Lydia Syanti Dewi, kepala Jurusan DKV dan Chendekiawati Wijaya, kepala Jurusan Arsitektur Interior, serta para dosen pembimbing, para mahasiswa melakukan riset dengan mengobservasi, studi literatur serta eksplorasi teradap kebutuhan museum di Jawa Timur dan kebutuhan masyarakat target pengunanya.

Beberapa bentuk desain interior dengan konsep baru dan berbagai strategi promosi dicetuskan sebagai usulan untuk mewujudkan sebuah museum yang dinamis dan aktratif bagi pengunjung tanpa melupakan fungsimuseum sebagai media belajar, dikenal secara meluas melalui media promosi, dengan harapan dapat meningkatkan jumlah pengunjung.

“Mengajak masyarakat mengunjungi museum tidaklah mudah, terlebih saat ini museum sudah jadi hal yang dilupakan karena banyak media pembelajaran dan sarana wisata lain. Diharapkan dengan variasi srategi promosi yang dihasilkan oleh desain Komunikasi Visual yang didahului dengan riset mendalam ini dapat membantu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.” Jelas Lydia.

Mengenai desain interior dengan konsep baru, Chendekiawati mengatakan, “Ambience interior merupakan unsur penting yang mempengaruhi minat masyarakat mengunjungi museum. Interior museum perlu ditampilkan dengan konsep dan design kreatif agar menarik untuk dikunjungi, baik untuk belajar juga untuk wisata dan memiliki nilai jual.”

Pameran yang merupakan dukungan dari program Kunjung Museum 2010 dan GNCM 2010 – 2014, diharapkan dapat memberikan gambaran sebuah museum masa depan yang datang dari sudut pandang generasi muda, serta cara promosi yang tepat sesuai target pasar masing-masing museum guna menaikkan jumlah pengunjung serta meningkatkan kesadaran, apresiasi dan kepedulian terutama generasi muda pada warisan budaya bangsa yang dipelajari di museum khususnya di Jawa Timur.

Kelompok yang mere-design Museum Cakraningrat Bangkalan Madura, dengan konsep “8 Cakra”, Daud, Cathrine dan Revina. (AMELIA/THE EPOCH TIMES)

Enam maket yang dipamerkan oleh 6 kelompok kerja (masing-masing terdiri 4 mahasiswa) sangat menarik hingga meminimalkan kesan membosankan bagi para pengunjung. Lebih mengejutkan lagi biaya yang mereka ajukan tidaklah begitu tinggi. Seperti untuk design ulang museum Trowulan Mojokerto, dengan konsep “Simply Contemporer Measurable” Jessica, Audra, Carol dan Vera mematok harga Rp. 1 M-an saja. Untuk Museum Cakraningrat Bangkalan Madura, dengan konsep “8 Cakra”, Daud, Cathrine dan Revina, menaksir harga Rp. 350 juta. Untuk Museum TNIAL Loka Jala Crana dengan konsep “Under Water dan Kapal Karam”, Renatta, Novi, Maria, Leonard mematok harga Rp. 450 juta.

Harga-harga yang masih dapat dijangkau dan tidak mahal jika dibandingkan kepentingan dari museum. Harga-harga murni tanpa mark-up tentu saja. Hal yang patut dipikirkan bagi kita semua. (Amelia/The Epoch Times)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori