Oleh: museumku | 24 Februari 2012

Istiqlal, Simbol Toleransi Beragama

Para jemaah di Masjid Istiqlal (foto:dok/SH)

Sinar Harapan, Sabtu, 18 Februari 2012 – Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Namun di balik kemegahan measjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beraga di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal ternyata beragama Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain Masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.


Obama Mampir
</strong
Frederich Silaban, arsitek yang ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri untuk membangun masjid di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare itu adalah seseorang yang beragama Kristen Protestan.

Guna menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal tersebut, Frederich Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan salat dan berdoa selama kurang lebih tiga bulan.

Selain itu, ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia. Akhirnya setelah 17 tahun masa pembangunan masjid tersebut, pada 22 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.

Sejak diresmikan, dua tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Tidak hanya sebuah simbol, nilai toleransi dua tempat ibadah beda agama itu mewujudkan nyata dalam praktik dan saling menopang kegiatan keagamaan masing-masing.

Salah satunya, bila ada kegiatan di salah satu tempat ibadah, mereka biasa berbagi tempat parkir. Selain itu, meskipun di waktu yang bersamaan sedang dilaksanakan kegiatan keagamaan, antartempat ibadah itu tidak saling mengganggu dan terganggu.

Selain selalu ramai dikunjungi umatnya masing-masing, Presiden negara-negara sahabat juga pernah menyempatkan waktu singgah untuk melihat langsung simbol kerukunan beragama di Indonesia.

Bahkan, dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, pada Oktober 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia tidak berpidato di sana, tapi melihat-lihat masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Dalam kunjungan singkat itu Obama diajak melihat beduk raksasa berukuran 1,5 x 2 meter dipandu oleh imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Ya`qub. Presiden Obama dan Ibu Negara berada di Masjid Istiqlal kurang lebih 30 menit.

Bila presiden negara tetangga saja mengagumi tingginya toleransi beragama di Indonesia, mengapa kita harus merusaknya dan selalu berupaya mendominasi kelompok lain. (Saiful Rizal)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori