Oleh: museumku | 15 Juni 2014

Museum Tak Sekadar Situs Konservasi

Museum tidak berhenti sekadar menjadi situs konservasi, tetapi harus menjadi pusat transformasi kebudayaan. Benda-benda di dalam museum terus-menerus harus dikaji sebagai artefak yang mengontekskan masa lalu dengan kekinian.

Penggagas dan pemilik Museum ARMA, Anak Agung Rai, menyatakan museumnya didirikan 18 tahun lalu dengan misi tidak sekadar menyimpan karya-karya seni rupa. ”Yang lebih penting museum menjadi cerminan kehidupan masyarakat Bali senyatanya,” kata Agung Rai, Rabu (11/6), di Ubud, Bali.

Bertepatan dengan ulang tahun ke-18 Museum ARMA, digelar diskusi yang menampilkan para peneliti kebudayaan, antara lain Dr Jean Couteau (Perancis), Prof Ron Jenkins (Amerika), Dr I Made Bandem, Dr I Wayan Dibia (Bali), serta Prof I Wayan Geriya dari Universitas Udayana Denpasar. Bertepatan dengan itu juga diluncurkan buku berjudul Saraswati in Bali A Tempel, A Museum and Mask yang ditulis Ron Jenkins.

Di Museum ARMA, kata Anak Agung Rai, digelar berbagai aktivitas kebudayaan untuk mengawal proses transformasi nilai-nilai budaya Bali pada masa lalu dan kini. ”Di sini ada lokakarya tari, melukis, pementasan seni pertunjukan, serta berbagai kegiatan lain. Semua itu dibutuhkan sebagai pengembangan kebudayaan dengan tetap berpihak pada kebudayaan lokal,” kata Agung Rai.

Jean Couteau mengatakan, proses transformasi kebudayaan di Bali memang harus disadari. Ia tidak boleh dibiarkan terjadi begitu saja, tanpa ada kontrol dari masyarakat lokal. Oleh sebab itu, kata Jean, lapis-lapis kesadaran harus dipergunakan sebagai pisau kritis dalam menelaah terminologi-terminologi kebudayaan yang baku dan dianggap sebagai kebenaran.

”Kritisasi terhadap masa lalu itu harus supaya kita menyadari apa yang sedang terjadi sekarang ini. Bali banyak membutuhkan studi dan pencermatan agar tidak terlena terhadap segala hal yang terjadi,” kata Jean.

Bali kontemporer sedang berada dalam tegangan antara kebudayaan lokal dengan penetrasi kebudayaan global yang dibawa oleh pariwisata. Di situlah, kata Jean, Museum ARMA bisa berperan secara aktif. ”Jangan sekadar jadi gudang, tetapi beri wadah terhadap kreativitas sebagai katalisator kebudayaan,” ujar Jean. (CAN)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 14 Juni 2014)


Responses

  1. Reblogged this on nurahmanafandi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: