Oleh: museumku | 12 September 2014

Perlu Digagas, Museum Pasca Modern di Indonesia

Sebagian besar dari 328 museum yang ada di Indonesia masih memiliki konsep museum tradisional dan sebagian kecil museum modern. Agar museum mampu mengimbangi perkembangan zaman dan gaya hidup masyarakat, perlu digagas museum pasca modern (postmodern museum).

”Di Indonesia belum ada postmodern museum. Hampir semuanya museum tradisional yang ada saat ini dan beberapa museum modern, seperti contohnya Museum Batak TB Silalahi. Bandingkan dengan postmodern museum yang sudah banyak di Singapura,” kata pengamat museum dan arkeolog dari Universitas Indonesia, Irmawati Marwoto, di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurut Irmawati, museum swasta dan pemerintah sangat memungkinkan didesain dan dikonsep ulang menjadi museum modern, bahkan pasca modern. Hal itu tidak sampai mengubah arsitektur, hanya konsep, tema, program, dan penataan koleksi.

”Lantas harus ada syarat konsep partisipatif dan inklusivitas untuk menjadi postmodern museum,” ungkap Irmawati.

Untuk membangun museum baru, konsep pasca modern harus dipikirkan sejak awal, termasuk arsitektur bangunannya. Kesan pertama bangunan dilengkapi dengan konsep dan koleksi.

”Kalau yang sekarang ada kebanyakan masih berorientasi pada benda. Masih berbicara mengenai masa prasejarah, kolonialisme, lalu ditata berurutan dan diceritakan berurutan. Masih linier. Kalau begini, generasi muda bisa dapat apa,” ujar Irmawati.

Museum harus menonjolkan dan menyampaikan pesan. Sebagai contoh dalam kasus Museum Nasional. Identitas nasional itu harus diceritakan. Bagaimana caranya agar semua etnis di Indonesia merasa memiliki ketika masuk ke museum. Pengunjung bisa merasakan menjadi bagian dari museum.

”Harusnya benda yang mengikuti konsep dan pesan, bukan sebaliknya,” kata Irmawati.

Satu museum milik pemerintah yang mau mengubah diri adalah Museum Sawahlunto, Sumatera Barat.

Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan, Museum Sawahlunto yang merupakan peninggalan Belanda dan didirikan pada 1850 saat ini masih hidup karena dihidupkan.

”Ada kota yang hidup lalu mati, tetapi tidak di Sawahlunto. Banyak cagar budaya yang tetap kami lestarikan dan akan kami daftarkan menjadi warisan dunia,” papar Ali.

Menurut Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto, revitalisasi dan pembangunan museum diprioritaskan untuk museum tematis atau khusus.

”Kami mau membangun Museum Warisan Dunia, baik yang benda maupun non benda. Dalam hal ini, seperti Candi Prambanan, subak, noken, batik, wayang itu akan didirikan museumnya tahun depan,” tutur Harry. (IVV)

(Sumber: Kompas, Kamis, 11 September 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: