Oleh: museumku | 27 November 2011

Museum Kesepian Ditinggal Pengunjung

SEPI-Suasana sepi terlihat di Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini, Jakarta, Jumat (25/11), yang menyimpan koleksi peninggalan mantan Presiden RI, Soeharto.(foto:SH/muniroh)

Sinar Harapan, Sabtu, 26 November 2011 – Museum agaknya masih menjadi pilihan paling buncit masyarakat Jakarta, khususnya kaum muda, untuk mengisi liburan. Hal itu lantaran museum masih dianggap hanya bangunan tua tempat menyimpan barang-barang yang juga sudah tua. Siapa peduli?

Kesan tua akan langsung terasa saat kita memasuki halaman Menara Syahbandar di Museum Bahari, Jalan Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara.

Selain menara yang kini semakin terlihat kemiringannya, dua bangunan yang salah satunya dijadikan kantor pengelola juga terlihat tua. Kesan tua itu muncul lebih karena dinding bangunan terlihat kusam tidak terawat.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terlihat di ruang pamer Museum Bahari. Meskipun kondisi bangunan terlihat lebih baik, kesan tua karena kusam, lembab, dan gelap tetap terlihat dan bisa dirasakan.

Siang itu, selain SH juga terdapat sekelompok remaja mengunjungi museum yang dulunya merupakan gudang-gudang tempat penyimpanan rempah-rempah yang akan dikirim ke Eropa ini.

Yuli (18) bersama tiga temannya sedang berkeliling dengan sepeda ontel dalam paket “Wisata Kota Toea” yang ditawarkan di Museum Fatahilah, Jakarta Barat. Hal ini merupakan perjalanannya yang kedua mengunjungi bangunan museum yang didirikan pertama kali oleh Belanda pada 1652 ini.

“Ternyata masih belum ada yang berubah seperti saat saya ke sini pertama kali bersama rombongan dari SMP saya,” kata remaja yang tinggal di Tangerang, Banten ini, mengenang.

Menurut dia, satu-satunya tempat yang menarik di kawasan Museum Bahari adalah Menara Syahbandar. Selain bisa merasakan sensasi tersendiri ketika menaiki menara yang mengalami kemiringan dua derajat ke arah selatan itu, pengunjung dapat melihat langsung kapal-kapal Pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa, ketika telah sampai di lantai teratas menara yang memiliki ketinggian 32 meter itu.

Dia menambahkan, paket wisata di kawasan Kota Tua akan lebih menyenangkan bila museum-museum yang ada di sana juga ditata dan dirawat, sehingga kesan seram dan kumuh tidak lagi terlihat.

Lain Museum Bahari, lain pula Museum Satriamandala di Jalan Gatot Subroto No 14, Jakarta Selatan. Museum ini identik dengan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Di dalamnya terdapat tiruan teks proklamasi, beberapa patung tentara, senjata, panji, serta beberapa peninggalan pahlawan Indonesia seperti Jenderal Sudirman dan beberapa tokoh pejuang bangsa lainnya.

Museum ini terlihat sangat lengkap. Sejumlah armada perang sisa-sisa perjuangan bangsa Indonesia dipajang sampai ke halaman museum. Di halaman depan dan belakang museum terdapat tank tempur, helikopter, pesawat, dan senjata berat lainnya.

Salah satu pengunjung, Zidan (8), gembira berada di museum tersebut. Ia mengaku kehadirannya di sana karena ajakan dari guru-guru di sekolahnya. Namun sesampai di museum itu ia merasa senang melihat senjata-senjata perang yang terjejer di dinding museum. “Saya senang, seru liat senjata-senjatanya,” ungkapnya.

Sayangnya, ungkapan kegembiraan tersebut sedikit terganggu dengan adanya beberapa pemandangan yang kurang sedap. Di salah satu sudut ruangan terdapat plafon yang berlubang karena lapuk. Salah satu jari dari patung pejuang pun hilang entah karena kesengajaan atau ulah tangan jahil.

Kepala Museum Satriamandala Letnan Kolonel Laut Arief Sulistyo menyebutkan, tahun ini jumlah kunjungan memang lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, hal itu karena tidak diberlakukannya lagi wajib kunjung bagi siswa sekolah.

“Pengunjung kita itu kan didominasi anak SD dan SMP, karena itu sekarang lebih sepi pengunjung sejak tidak ada lagi wajib kunjung seperti apa yang ditetapkan dinas pendidikan dulu,” tuturnya.

Asep Kambali, sejarawan dari Universitas Negeri Jakarta mengakui, daya tarik museum memang kalah jauh ketimbang mal maupun tempat wisata lain di Jakarta. Hal itu tidak lain buah dari ketidakpedulian pemerintah terhadap museum.

“Saya tidak akan menyalahkan remaja dan masyarakat umum yang masih enggan ke museum, sebab memang sulit mengajak masyarakat ke tempat yang pemerintahnya sendiri tidak peduli untuk menatanya,” katanya kepada SH, Kamis (24/11).

Dia mengatakan, museum harus ditata sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Ia menilai promosi yang dilakukan pengelola museum di Jakarta, selain kurang gencar juga sangat terlihat kaku dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Padahal bila dikemas dan dipromosikan dengan baik, ia yakin kunjungan ke museum akan lebih meningkat. Salah satu promosi yang cukup efektif saat ini, menurutnya, dengan menggunakan teknologi seperti website dan sarana sosial media yang kini sedang digandrungi masyarakat, seperti Twitter ataupun Facebook.

“Museum mana yang punya akun Twitter dan Facebook, serta website atau minimal blog agar masyarakat lebih mengenal museum?” tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini di Jakarta ada 64 museum yang seluruhnya sepi pengunjung. Itu karena kepedulian pemerintah terhadap museum sangat kurang. Padahal, dia mencontohkan, di Museum Bahari banyak benda bersejarah yang tidak ternilai harganya.

“Di museum itu pengunjung bisa melihat 26 perahu asli, 110 perahu model, 102 alat navigasi, 102 alat penangkap ikan, 42 alat pembuatan perahu, 17 meriam, dan benda-benda berharga lainnya,” tambahnya.

Pengamat Arkeologi dari Universitas Indonesia (UI) Dr Irmawati M-Johan kepada SH, Kamis, mengatakan, hampir semua museum di Jakarta dan daerah lainnya sepi pengunjung.

Anak-anak lebih tertarik pergi ke mal untuk menghabiskan hari liburnya dibanding mengunjungi tempat bersejarah seperti museum. Museum sepi pengunjung sangat mungkin, karena tidak mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan atau tempat-tempat hiburan lainnya.

Ia mengatakan, diperlukan perubahan besar dalam dunia permuseuman di Indonesia, yang dimulai dengan mengubah cara pandang dari para pelaku museum dan pemerintah.

Dia mengatakan, pemerintah sebenarnya sudah memperhatikan museum dengan adanya program “Aku Cinta Museum”. Namun, karena program ini berjangka, tentu diharapkan bahwa perhatiaan pemerintah terus berkelanjutan.

“Pasalnya, jumlah museum di Indonesia saat ini mencapai 280 yang perlu mendapat perhatian,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Dr Agus Aris Munandar dari Departemen Arkeologi FIB UI. Ia menambahkan, bila pemerintah memiliki kebanggaan pada budaya maka perhatian pada museum akan muncul, jadi tidak hanya dalam bentuk slogan saja.

Artinya, harus ada gerakan nyata dari pemerintah. Museum bukanlah sekadar kumpulan barang-barang tua. Museum sebenarnya merupakan napas kota yang mencatat perjalanan sejarah bangsa, dan keberadaannya sudah selayaknya menjadi tempat yang menyenangkan, dapat menumbuhkan inspirasi, dan bukan sebagai tempat yang membosankan.


Contoh Singapura

Sepatutnya Jakarta berkaca kepada Singapura, negeri tetangga. Mereka memiliki beberapa museum dan tempat bersejarah yang dijadikan objek wisata.

Mereka tidak memasang tarif yang murah untuk masuk ke sana. Harga tiket museum di sana bisa mencapai 10-30 dolar Singapura. Faktanya, dengan harga tiket semahal itu ratusan orang setiap hari mengunjungi museum-museum di Singapura.

Negara yang satu ini mengandalkan museum sebagai daya tarik pariwisata sehingga mereka merawat setiap museum dan tempat bersejarah yang ada dengan baik. Singapura memang tidak mempunyai sumber daya alam atau sumber daya budaya sehebat Indonesia. Namun kelebihannya, mereka memiliki sumber daya manusia yang andal sehingga mampu menjual potensi museum.

Boleh dikatakan Museum Nasional Singapura kalah jauh dibandingkan kualitas dan kuantitas Museum Nasional Jakarta. Namun penataannya mengagumkan.

Pencahayaan tempat pajangannya bagus, promosinya luas, dan penyediaan berbagai fasilitasnya meyakinkan. Selain penggunaan telepon bersuara, museum juga dilengkapi komputer layar sentuh dan perangkat audiovisual untuk membantu pengunjung.

Dalam setahun jumlah pengunjung Museum Nasional Singapura mencapai 7 juta orang, berkali-kali lipat dari Museum Nasional Jakarta. Sebagai perbandingan, harga tiket masuk di sana mencapai Rp 30.000, sementara di sini hanya Rp 2.000.

Bandingkan dengan British Museum di Inggris. Museum yang satu ini menjadi sangat berarti karena mengoleksi benda-benda budaya berkelas dunia asal Mesir, Irak,Yunani, Romawi, dan Indonesia.

Museum Sejarah Alam-nya pun begitu populer. Para pembuat film dokumenter seperti Discovery Channel dan National Geographic Channel hampir selalu mengambil referensi dari British Museum.

Bahkan British Museum memiliki anggaran untuk melakukan ekskavasi arkeologi di Mesir, Irak, dan berbagai negara lain. Berbagai ensiklopedia yang ditulis kurator British Museum sangat populer di mana-mana. Manajemen pengelolaannya selalu menjadi inspirasi bagi pengelola museum di negara-negara berkembang.

Pengelolaan British Museum sudah benar-benar profesional. Mereka memperlakukan benda-benda budaya milik bangsa lain seperti milik bangsanya sendiri. Mereka merawatnya dengan hati-hati dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Contoh lain adalah Belanda dan Prancis. Di sana tradisi mengunjungi museum sudah membudaya hebat. Jangan heran kalau untuk masuk museum saja orang harus rela antre berpuluh-puluh meter panjangnya. Padahal jika dikurskan dengan rupiah, harga tiket masuk di sana mencapai Rp 100.000.

Untuk memajukan museum dan masyarakat, sebaiknya tirulah Jepang. Secara periodik para siswa dibimbing para guru untuk belajar dari museum. Mereka beranggapan museum adalah etalase ilmu pengetahuan dalam barisan paling depan.

Bentuk museum di sana bukan cuma gedung, tetapi juga mobil keliling dengan segala kecanggihan teknologinya. Orang percaya bangsa Jepang dapat maju pesat karena tiga hal, yakni guru, museum, dan buku. (CR-18)

Penulis: Saiful Rizal/Robino Hutapea/Norman Meoko

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori