Oleh: museumku | 23 Juni 2014

Museum Mandiri, Intan yang Perlu Diasah

Museum-mandiri-01Bangunan Museum Mandiri

Sungguh miris menyaksikan kondisi Museum Mandiri. Koleksinya kotor, terkesan tidak terawat, dan acak-acakan letaknya. Maka banyak pengunjung nyeletuk spontan, “Museum kok kayak gudang”.

Mesin fotokopi yang sudah rusak, digeletakkan saja di sebuah ruangan. Mesin tik manual ada di beberapa ruangan. Begitu pula buku besar, ada di mana-mana. Tata pamer dan alur pengunjung di Museum Mandiri masih lemah. Perlu perbaikan segera agar Museum Mandiri benar-benar berfungsi sebagai museum, bukan sebagai tempat buangan benda-benda tidak terpakai.

“Museum Mandiri masih dianggap unit kecil di lingkungan Bank Mandiri. Karena itu dana operasional sehari-hari sangat minim,” kata Kepala Museum Mandiri, Abubakar.

Sungguh ironis perhatian Direksi Bank Mandiri kepada masalah sejarah dan kebudayaan. Ini bertolak belakang dengan museum tetangganya, yakni Museum Bank Indonesia. Perhatian petinggi Bank Indonesia kepada museum dan bangunan bersejarah milik Bank Indonesia di beberapa kota sudah demikian tinggi. Bahkan Bank Indonesia memiliki Departemen Museum, sehingga alokasi anggaran untuk museum dan heritage lumayan besar, termasuk untuk menghidupkan aktivitas berbagai komunitas.

Lebih ironis membaca berita “Laba Mandiri Rp 8,3 Triliun” (Kompas, 30/7/2013). Kalau saja dialokasikan satu persen dari laba, bukan mustahil Museum Mandiri akan menjadi museum termodern di seluruh Indonesia. Saat ini memperbandingkan Museum Mandiri dengan Museum Bank Indonesia, ibarat “si buruk rupa” dengan “si cantik jelita”.

Sebagai Museum Uang, memang Museum Mandiri tak bakal mampu menandingi Museum Bank Indonesia. Namun sebagai Museum Perbankan, seharusnya Museum Mandiri lah menjadi jawara. Berbagai koleksi perbankan sejak zaman kolonial Belanda ada di museum itu.


Cagar Budaya

Museum Bank Mandiri, populer dengan nama MBM atau Museum Mandiri, terletak di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1, Jakarta Barat, persis di seberang perhentian terakhir bus Transjakarta jurusan Blok M – Kota dan stasiun kereta api Jakarta Kota atau Beos.

Museum Mandiri diresmikan pada 22 Desember 2004. Arealnya mencapai luas sekitar 10.000 meter persegi. Awalnya gedung itu difungsikan untuk aktivitas perbankan dan kantor perdagangan. Gedung itu mulai dibangun pada 3 Oktober 1929 dan diresmikan pada 14 Januari 1933 sebagai gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau De Factorij Batavia.

NHM dirasionalisasi pada 1960 menjadi kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia pada 31 Desember 1968, gedung itu beralih menjadi kantor pusat Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Setelah Bank Exim melakukan merger bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), maka lahirlah Bank Mandiri pada 2 Oktober 1998. Gedung itu pada akhirnya berubah menjadi salah satu aset dari Bank Mandiri dan diresmikan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no. 475 tahun 1993.

Materi koleksi yang ada di Museum Mandiri terdiri atas perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, arsip sejarah, dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional bank dan bahan pustaka. Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai 1826-1959/1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB/NHM dan BIN, periode bank-bank bergabung tahun 1959/1960-1998 masa BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003. Koleksi museum diperoleh juga melalui pertukaran dengan Historical Archives ABN AMRO dan KITLV di Belanda.


Alur Pameran

Sayangnya, alur cerita dari lantai dasar sampai lantai satu kurang terintegrasi karena kurangnya petunjuk terhadap alur pengunjung di setiap ruangan. Alur cerita pun kurang bisa berkomunikasi dengan pengunjung, sehingga banyak pengunjung tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai koleksi. Penambahan gambar, deskripsi, dan koleksi pendukung cerita tentunya bisa memperkuat alur cerita di Museum Mandiri.

Alur penyajian pameran juga kurang jelas karena pada beberapa ruang pamer tidak didapatkan petunjuk dan fungsi ruangan sesuai dengan tema pameran. Selain itu rambu-rambu untuk alur pengunjung dan alur penyajian pameran masih kurang banyak, sehingga membingungkan pengunjung ketika berada dalam museum.

Sesungguhnya Museum Mandiri adalah intan yang perlu diasah. Potensi untuk menginformasikan sejarah perbankan, sudah tersimpan dalam ragam koleksi. Tinggal sekarang perlu orang yang mahir mengasah intan tersebut. (Djulianto Susantio)


Galeri Foto:

Koleksi-mandiri-04

Koleksi-mandiri-01

Mandiri-09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: