Oleh: museumku | 19 Oktober 2017

Museum Vredeburg: Dulu, Pusat Kegiatan Perang; Kini, Pusat Kegiatan Pendidikan, Hiburan, dan Seni Budaya

Vredeburg-05Kepala Museum Vredeburg Zaimul Azzah menerima tropi dan sertifikat (Dok. Zaimul Azzah)

Museum Benteng Vredeburg atau populer disebut Museum Vredeburg terpilih sebagai Museum Terbaik 2017 untuk Museum Milik Kementerian/Lembaga Negara di Manado, Kamis, 19 Oktober 2017. Tropi dan uang pembinaan diterima langsung oleh Kepala Museum Vredeburg, Zaimul Azzah. Sebelumnya Museum Vredeburg pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2010) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2013).

Museum Vredeburg beralamat Jl. Jend. A. Yani No. 6 (Jl. Margomulyo), Yogyakarta. Persis di seberang Gedung Agung. Bahkan tidak jauh dari kawasan Malioboro. Saat ini dikenal sebagai kawasan nol kilometer pusat Kota Yogyakarta.


Rustenburg

Sebelum menjadi museum, Benteng Vredeburg merupakan tempat pusat kegiatan perang. Tapi kini menjadi pusat kegiatan, pendidikan, hiburan, dan seni budaya. Benteng Vredeburg dibangun sekitar 1756 atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permintaan pihak pemerintah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Nicholaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada 1758 dibangun pula kompleks Taman Sari.

Vredeburg-04Gerbang masuk Museum Benteng Vredeburg (Foto: vredeburg.id)

Tujuan awal pembangunan benteng ini adalah untuk menjaga keamanan keraton. Akan tetapi, maksud sebenarnya dari keberadaan benteng ini adalah untuk memudahkan pengawasan pihak Belanda terhadap segala kegiatan yang dilakukan pihak keraton Yogyakarta.

Benteng awal berbentuk sederhana. Tembok benteng hanya berbahan tanah, ditunjang tiang-tiang dari kayu pohon kelapa dan aren dengan atap ilalang. Bangunan tersebut dibangun dengan bentuk bujur sangkar yang di keempat ujungnya dibangun seleka atau bastion.

Pada 1767 pembangunan benteng yang permanen mulai dilakukan di bawah pengawasan seorang arsitek Belanda, Ir. Frans Haak. Pembangunannya selesai pada 1787. Benteng itu diberi nama “Rustenburg”, berarti benteng peristirahatan.
Pada 1867 terjadi gempa hebat di Yogyakarta. Banyak bangunan runtuh, termasuk Rustenburg. Maka kemudian benteng dibangun kembali. Hanya namanya diubah menjadi “Vredeburg”, berarti benteng perdamaian. Hal ini sebagai ujud simbolis manifestasi perdamaian antara pihak Belanda dan Keraton.

Benteng Vredeburg berbentuk bujur sangkar. Pada keempat sudut benteng terdapat bastion. Pada zaman penjajahan Belanda, 500 pasukan menempati benteng ini. Di dalam benteng terdapat asrama pasukan, rumah-rumah perwira, rumah sakit, gudang, dan rumah residen. Secara de facto, kekuasaan Benteng Vredeburg berada di bawah Belanda. Namun secara yuridis formal, status tanah tetap menjadi milik sultan.

Vredeburg-07Diorama di dalam ruangan (Foto: vredeburg.id)

Pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), benteng tersebut digunakan untuk markas dan tempat tahanan perang. Pada revolusi fisik (1945-1949), benteng dikuasai kembali oleh Belanda. Setelah 1949 kekuasaan sepenuhnya diambil alih oleh Republik Indonesia. Fungsi pertamanya untuk markas dan permukiman instansi militer.

Suatu saat timbul gagasan untuk memanfaatkan benteng menjadi pusat informasi dan pengembangan budaya Nusantara. Gagasan ini dikukuhkan pada 9 Agustus 1980 di Jakarta. Ketika itu ditandatangani perjanjian kerja sama antara Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Selanjutnya pemugaran dan pembuatan diorama dimulai pada tahun anggaran 1985/1986. Pada 1987 Museum Benteng Vredeburg mulai dibuka untuk umum sebagai museum khusus perjuangan nasional.


Diorama

Secara garis besar koleksi Museum Vredeburg dibedakan menjadi dua bagian, yakni koleksi di luar ruang dan koleksi di dalam ruang. Koleksi di dalam ruangan berbentuk diorama. Pada awalnya direncanakan 93 diorama. Mungkin sekarang sudah bertambah.

Vredeburg-02Diorama pada ruang dalam (Foto: vredeburg.id)

Berbagai diorama itu antara lain penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta 1908, Lahirnya Muhammadiyah, Berdirinya Taman Siswa, Kongres Jong Java 1928, dan Kongres Perempoean Indonesia 1928.
Di dalam lemari pajangan juga bisa dilihat beragam senjata yang digunakan tempo dulu, peralatan rumah tangga, pakaian, dan peralatan dapur. Koleksi di luar ruang berupa meriam.

Museum Vredeburg dilengkapi beberapa fasilitas, seperti perpustakaan, studio mini, ruang audio visual, kantin, dan taman bermain. Berbagai acara sering digelar di museum ini, seperti Vredeburg Fair, Jalan Santai, seminar, napak tilas, dan musik. Yang jelas, program publik di museum ini amat beragam.

Museum Vredeburg buka setiap hari, kecuali Senin. Kebanyakan museum di seluruh dunia memang tutup pada Senin karena untuk memberikan kesempatan kepada staf museum untuk merawat koleksi. Pada Selasa sampai Kamis jam buka museum 07.30-16.00. Pada Jumat sampai Minggu jam buka diperpanjang 07.30-16.30. ***

Museum Vredeburg
Jl. Jend. A. Yani No. 6 (Jl. Margomulyo),
Yogyakarta
Telepon: +62 274 586934
Faksimili: +62 274 510996
Surel: vrede_burg@yahoo.co.id
Laman: http://www.vredeburg.id

Vredeburg-08

Koleksi meriam di halaman museum (Foto: antaranews.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: