Oleh: museumku | 1 November 2014

Museum dr. A.K. Gani Sekarat…

Gani-03Pintu masuk Museum A.K. Gani

Kelihatannya mendirikan museum relatif gampang. Bila ada tempat, lantas punya koleksi, kemudian dipamerkan kepada publik, jadilah museum. Itulah memang pengertian museum oleh orang awam. Padahal dalam arti sesungguhnya, pendirian museum memiliki persyaratan cukup ketat. Selain koleksi dan lokasi atau bangunan, museum harus memiliki sumber daya manusia dan sumber pendanaan tetap. Bahkan khusus museum pribadi atau museum swasta, harus berbadan hukum, misalnya yayasan.

Bila persyaratan tersebut belum terpenuhi, tentu saja belum pantas disebut museum. Mungkin lebih cocok dinamakan tempat peragaan koleksi. Namun apa pun istilahnya, upaya gigih masyarakat untuk mendirikan museum perlu diberikan apresiasi.

Museum sendiri memiliki berbagai fungsi, yang terasa kental adalah sebagai sarana pendidikan dan sarana pariwisata. Dalam pengelolaannya, museum bersifat nirlaba. Sering juga museum difungsikan untuk membina generasi muda dalam rangka pembentukan karakter bangsa tanpa memperhatikan untung rugi secara ekonomis.


Nirlaba

Karena bersifat nirlaba itulah, museum pribadi atau museum swasta kerap bermasalah. Biaya operasional sehari-hari—seperti untuk membayar listrik, air, telepon, dan gaji pegawai—membuat sejumlah museum terpaksa ditutup. Kalaupun masih buka, kondisinya sudah kembang kempis, seperti yang kini dialami Museum dr. A.K. Gani di Palembang.

Museum Pahlawan Nasional Mayor Jenderal TNI (Purn.) dr. A.K. Gani berdiri pada 2004 dan dikelola oleh Yayasan Hj. R.A. Masturah A.K. Gani. Saat ini, di antara beberapa orang keluarga A.K. Gani hanya dua orang yang peduli pada sejarah dan museum, yaitu G.I. Priyanti Gani sebagai Direktur Museum dan H. Iskandar Gani sebagai Ketua Yayasan.

“Lebih banyak keluarga yang ingin menjual museum ini daripada merawatnya,” kata Iskandar Gani. Melihat museum ini jelas ada kesan memprihatinkan. Konflik keluarga menyebabkan patung dada dr. A.K. Gani di halaman depan terhalang tembok pembatas yang didirikan oleh pengelola pompa bensin. Tadinya tanah itu punya museum, namun kini sudah berganti kepemilikan.

Museum menempati bekas rumah pribadi dr. A.K. Gani yang dibangun pada 1956. Sayang tidak ada papan nama yang menunjukkan adanya museum. Hanya orang-orang tertentu yang tahu bahwa di belakang pompa bensin ada museum. Menurut Iskandar Gani, tidak setiap hari orang datang ke museum. Biasanya menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus baru banyak pelajar dan mahasiswa ke sini.

Setiap bulan hanya belasan orang datang ke museum. Ironisnya, dalam beberapa bulan terakhir ini, museum semakin sepi dan dijauhi masyarakat. Pintu museum pun baru dibuka kalau ada pengunjung.

“Biaya pengelolaan lumayan besar. Tadinya ada lima orang yang bertugas di museum, tapi sekarang tidak ada lagi. Padahal mereka hanya diberi honorarium Rp200.000 sebulan. Kami sudah tidak mampu lagi,” kata Iskandar.

Akibat kekurangan anggaran, museum menjadi tidak terpelihara. Penerangan di dalam museum hanya sebagian kecil yang menyala. Ruangan kotor dan berdebu karena sudah beberapa lama tidak dibersihkan. Apalagi di sebelah museum sedang ada pembangunan rumah.


Koleksi

Sebagai museum pribadi, Museum dr. A.K. Gani memamerkan berbagai koleksi yang berhubungan dengan sang tokoh. Koleksi artefak terbanyak adalah barang-barang yang pernah dipakai semasa hidup dr. A.K. Gani, seperti alat-alat kedokteran dan alat-alat perang. Lalu ada sepeda tua yang dipakai untuk mendatangi pasien-pasien di tempat-tempat yang jauh. Mobil jeep yang pernah menemani dr. A.K. Gani bergerilya, dipajang di luar pintu masuk museum.

Koleksi lainnya berupa foto-foto hitam putih, lukisan, surat-surat asli keputusan presiden, piagam penghargaan, dan sekitar 2.000 judul buku. Melihat museum, dari segi konservasi jelas tidak layak. Lemari pajangan kotor dan berdebu. Sejumlah koleksi foto berserakan di lantai. Belum lagi koleksi foto yang hanya ditempel dengan lem.

“Kalau tidak mendapat dana, kemungkinan besar buku-buku ini akan disumbangkan ke Perpustakaan Universitas Sriwijaya,” tutur Iskandar.

Adnan Kapau Gani (1905-1968) lahir di Sumatera Barat. Ia aktif di Kongres Pemuda 1928 mewakili pemuda Sumatera. Ia pernah menjadi Residen Palembang pertama dan Gubernur Sumatera Selatan pertama. Selain di dunia medis, ia juga aktif di kemiliteran. Ia adalah tokoh pertempuran lima hari lima malam di Palembang.

Semasa pemerintahan Presiden Soekarno, ia merintis pembangunan Jembatan Ampera dan pabrik Pupuk Sriwijaya. Ia menolong Soekarno dengan menyelundupkan sembilan kilogram emas dan 300 kilogram perak dari Sumatera sebagai pembayaran 200.000 pasang pakaian seragam. Ia juga menyelundupkan 8.000 ton karet sehingga Belanda menjulukinya “Raja Penyelundup”. Sebaliknya rakyat Indonesia mengenalnya sebagai “Menteri Kemakmuran”. Pada 2007 A.K. Gani dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.


Sekarat

Sebenarnya Museum dr. A.K. Gani merupakan tempat pembelajaran sejarah yang patut diberi apresiasi. Banyak generasi muda yang tidak mengalami masa revolusi fisik, bisa meneladani kepemimpinannya lewat materi yang tersaji di museum. Sayang tidak ada perhatian dari pemerintah kota dan pemerintah provinsi untuk menjaga kelanggengan museum.

“Bantuan sih ada tapi tidak rutin. Biasanya bersifat simultan, misalnya kalau ada undangan dari Kementerian atau Direktorat Permuseuman,” kata Iskandar. Ia mengharapkan, karena ada Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan tahun 2008, seharusnya otomatis pemerintah provinsi membantu kelestarian museum. Apalagi isi museum adalah aset sejarah yang sekarang tidak ada lagi.

Museum dr. A.K. Gani sedang sekarat. Kontras sekali dengan kondisi RS dr. A.K. Gani yang juga berlokasi di Palembang. Mudah-mudahan masyarakat peduli, terutama pengelola RS dengan memberikan subsidi silang. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.

Naskah dan foto: Djulianto Susantio

Galeri Foto:

Gani-04Patung dada dr. A.K. Gani terhalang tembok pembatas pompa bensin

Gani-07Mayor Jenderal TNI (Pur) dr. A.K. Gani

Gani-06Koleksi bersejarah yang dipajang seadanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: