Oleh: museumku | 14 Maret 2011

The Mystery of Batavia, Petualangan Interaktif

Petualangan bermula dari sini: mural tak selesai dalam kamar rahasia di Kota Tua. Ditemukan secara tak sengaja oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia pada 2010. Dari situ, selama setahun penuh, para kolaborator antarbangsa, lintas-profesi, dan multi-generasi ini, yang terdiri dari seniman Inggris dan Indonesia, sejarawan, penulis, artis, animator, desainer game, dan aktor teater mencoba menerjemahkan misteri lukisan yang memotret penduduk multietnik Batavia di zaman pemerintahan Belanda ini.

Dan hasilnya adalah cerita petualangan detektif abad ke-19 yang melibatkan mitos Pedang Pangeran Jayakarta yang hilang. Pedang yang dipercaya membawa tuah tak terhingga pada sesiapa yang menguasainya atau menjadi penjaga kota dari segala malapetaka. Empat seteru: Bek Cina, Rompak Arab, Bangsawan Eropa, dan Marsose Maluku ada di pusaran seteru. Apakah mereka yang akan menyeret Batavia pada bencana atau justru jadi penyelamat kota?

“Cerita silat peranakan gaya baru” ini akan dieksplorasi kembali dan disajikan dengan sentuhan kreativitas dan teknologi masa kini untuk generasi baru penikmatnya. Dalam bentuk seni perpaduan video mapping projection, interactive animated performance, komik digital, game online, dan permainan interaktif macam treasure hunt event. Ramuan multibentuk ini tak pelak adalah pengalaman baru dalam menikmati seni dan benda peninggalan budaya bagi penonton abad ke-21!

12 Maret 2011 ini, British Council bekerja sama dengan Pemerintah Kota Jakarta dan Logika Interaktif menghadirkan petualangan epik interaktif Mystery of Batavia untuk Anda, langsung dari di Kota Tua.


Glosari

Video Mapping Projection: Proyeksi visual bisa berupa teks, foto, animasi, gambar bergerak, pada bidang bangunan apa pun. Elemen dan tekstur bidang ini dimanfaatkan seniman proyeksinya untuk mendapatkan sensasi visual yang baru, hingga tampak nyata dan hidup. Video Mapping Projection dikembangkan oleh para DJ video di klub-klub di Inggris dan Jerman sekitar tiga tahun lalu.

Interactive Animated Performance: Seni pertunjukan yang melibatkan teknologi gambar bergerak, seni pertunjukan teater, dan interaksi aktif penontonnya. Penonton bukan cuma penikmat, tapi juga partisipan aktif dalam pertunjukan.

Online Games: Permainan digital yang bisa diakses/dimainkan di layar komputer lewat medium Internet.

Komik digital: Gambar bercerita yang terbit, didistribusi, dan dinikmati lewat Internet di layar komputer.

Treasure Hunt Event: Permainan mencari dan merangkai petunjuk-petunjuk untuk memecahkan teka-teki yang mengantarkan pada tujuan: menemukan harta berharga yang hilang.


Profil Harijadi S., pelukis mural

Harijadi Sumodidjojo, dikenal dengan nama Harijadi S dalam dunia seni rupa, lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1919. Ayahnya seorang guru, penggemar ilmu kebatinan sementara ibunya adalah petani. Waktu muda dia jadi anggota Tentara Pelajar Brigade 17 di wilayah Kedu Selatan. Agar bisa jadi tentara inilah, Harijadi memakai tahun kelahiran 1921, agar usianya lebih muda.

Harijadi mendapatkan cat lukis pertama kali dari sahabat sekaligus seniman pelukis Sudarso. Lantas dia mulai melukis komersil pada 1939 untuk poster film yang tengah beredar di bioskop dan melukis potret dengan tinta cina.

Pergaulannya dengan seniman, seperti Affandi dan S. Sudjojono membuahkan organisasi Seniman Indonesia Muda (SIM) di Yogyakarta yang berdiri pada 1946. Di SIM, Harijadi menjadi wakil ketua. Namun dia memutuskan keluar lantaran SIM menjadi terlalu politis. “Mereka setiap hari maunya bikin poster buat partai. Nggak bisa begitu,” kata Harijadi.

Bung Karno mulai membeli lukisan Harijadi pada 1944. Dan sejak itu dia jadi “anak emas” Bung Karno. Ditunjuk menjadi pelaksana pembangunan relief di Bandara Kemayoran Jakarta dan Bandara Adisutjipto Yogyakarta, juga relief di Hotel Indonesia dan Hotel Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta. Harijadi juga ditugaskan untuk mempersiapkan pembangunan Museum Sejarah Tugu Nasional (Monumen Nasional, Monas sekarang). Untuk keperluan ini Bung Karno mengirim Harijadi ke Meksiko pada Mei 1965.

Di Meksiko Harijadi S. kerap berbincang dengan José David Alfaro Siqueiros seniman besar mural Meksiko. Siqueiros adalah pelukis realis kiri yang dikenal lewat mural-muralnya yang berskala besar dan menjadi salah satu tokoh kunci, selain Diego Rivera, dalam kebangkitan mural Meksiko.

Pada 1974, Harijadi bersama sahabatnya S Sudjojono menerima tugas dari Pemerintah Provinsi Jakarta untuk membuat lukisan sejarah di satu ruang Museum Sejarah Jakarta. S. Sudjojono ditugaskan membuat lukisan penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung. Sementara itu Harijadi melukis situasi Batavia pada kurun 1880-1920. Pemerintah Provinsi memberi plafon Rp12 juta untuk pekerjaan ini.

Luas bidang yang akan dilukis tadinya cuma 20m persegi di atas medium kanvas. Tapi, karena tak puas hati, Harijadi minta lukisan ditorehkan di seluruh permukaan dinding seluas hampir 200m persegi. Desain awal segera dipindahkan ke tembok, proses melukis pun dimulai. Tapi kian hari dinding makin lembab. Cat tak bisa menempel. Akhirnya pekerjaan pun tak dilanjutkan. Menyisakan bagian atas mural setinggi enam meter ini sekadar sketsa tanpa warna. Kontras dengan bagian bawahnya yang meriah warna.

Lukisan berawal dari sebelah kiri, tempat lukisan latar alam yang subur dengan wajah-wajah pribumi yang resah seperti menggugat: siapa yang memiliki tanah subur ini? Lukisan lantas menangkap gambar Stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok, pecinan, dan Pintu Gerbang Amsterdam yang lenyap dihancurkan pada zaman kemerdekaan. Ciliwung juga ditangkap sebagai jalur transportasi penting saat itu, selain menjadi tempat favorit para gadis untuk mandi. Harijadi juga melukis evolusi transportasi Batavia saat itu dalam mural, di mana sado bertenaga kuda, sepeda, mobil sederhana, dan trem berkompetisi di jalan.

Suasana pesta dan campur-baur etnik, Eropa, Tionghoa, Melayu, Arab, yang memperkaya Batavia direpresentasikan dalam lukisan pengantin Tionghoa. Juga pesta makan malam yang dihiasi musik para budak, aneka panganan masa itu, dan pergaulan ningrat pribumi dengan penguasa Eropa saat itu. Yang keras memelihara hukum dan ketertiban. Kita bisa melihat hukuman gantung untuk para penjahat. Meski begitu, toh kita masih bisa copet kelas teri masih berkeliaran dalam pesta topeng dan ondel-ondel.

Tak ketinggalan, Batavia sebagai sentra ekonomi diwakili oleh gambar pasar buah, pedagang pikul dan gerobak dorong, tukang cukur, dan saudagar Arab yang mengawasi pasokan hasil laut. Ekonomi Batavia terus berkembang dan menguntungkan sebagian orang. Tapi juga berarti kemalangan bagi sebagian yang lain. Yang ditangkap dengan adegan penggusuran di akhir mural di bagian paling kanan.

Adegan ini seperti menegaskan keberpihakan Harijadi pada rakyat kebanyakan. Kita bisa melihat komitmen ini pada lukisannya yang lain. Harijadi memilih melukis para pengungsi yang panik dengan latar belakang Gunung Merapi yang meletus. Yang sedikit saja porsinya. Bandingkan dengan Affandi yang melukis Gunung Merapi yang sedang meletus sebagai gambar utama, tanpa kehadiran manusia di dalamnya. “Sejak awal pekerjaan kesenian saya untuk rakyat, dan karya seni saya hanya untuk menegaskan aspirasi rakyat,” katanya.

Meski begitu, toh Harijadi juga seniman eksentrik yang penuh vitalitas. Dia hobi membalap dan jadi juara II Permi TT (Time Trial) Race kelas 350cc yang berlangsung di Surabaya pada 1956. Koleksi otomotifnya termasuk sepeda motor merek BSA Gold Star dan mobil sport Morris Garage TD. Keduanya keluaran Inggris. Penggemar keroncong yang senang bernyanyi ini juga selalu tampil necis bersepatu dan kacamata Ray Ban.

Harijadi juga kerap tampil sebagai aktor di layar lebar. Menurut “Katalog Film Indonesia 1926-2005” tulisan J.B. Kristanto, penampilan perdananya adalah di “Badai Selatan” produksi Ibukota Film (1960) yang disutradarai Sofia Waldy dan dibintangi WD Mochtar, Ida Nursanti, Tan Tjeng Bok, serta putranya, Lintang Nugroho yang saat itu masih berumur 4 tahun. Ia juga berakting di film “Pencopet” (1973) bersama Sophan Sophian dan “Nyoman Cinta Merah Putih” (1989) yang disutradarai Judy Soebroto. Demikian informasi yang bisa saya kirimkan, sejumlah data berasal dari “Katalog Film Indonesia 1926 – 2005” tulisan JB Kristanto.


Mural Harijadi S. di Ruang Etnografi, Museum Sejarah Jakarta, Kotatua Jakarta

Awal cerita
Lukisan situasi Batavia kurun 1880 – 1920 ini bermula dari sisi kiri. Bagian ini melukiskan latar alam yang subur dengan wajah-wajah pribumi yang resah karena pemerasan yang dilakukan para jago.

Luas mural
Luas bidang yang akan dilukis tadinya cuma 20m persegi di atas medium kanvas. Tapi, karena tak puas hati dan merasa tertantang, Harijadi minta lukisan ditorehkan di seluruh permukaan dinding seluas hampir 200m persegi.

Tempat-tempat bersejarah
Dalam mural terdapat lukisan Stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok, pecinan, dan Pintu Gerbang Amsterdam yang lenyap dihancurkan pada zaman kemerdekaan. Ciliwung digambarkan sebagai jalur transportasi logistik yang penting saat itu, selain menjadi tempat favorit para gadis untuk mandi.

Ongkos lukisan
Untuk membuat lukisan ini, Harijadi S mendapatkan honor bersih Rp5 juta dari plafon Rp12 juta. Sebagai gambaran harga celana jeans merek Levi’s yang kesohor itu adalah Rp7.500. Jika satu dollar saat itu setara dengan Rp400 maka honor yang diterima Harijadi setara dengan Rp100 juta lebih saat ini.

Inisiatif lukisan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berinisiatif menambah fitur Museum Sejarah Jakarta dengan lukisan sejarah. Untuk itu, mereka meminta Harijadi S bersama sahabatnya S Sudjojono membuat lukisan tersebut. Sudjojono melukis tema penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, sementara itu Harijadi melukis situasi Batavia pada kurun 1880-1920. Harijadi menyambut tugas ini karena merasa tertantang . Dia juga merasa mampu melukis ukuran besar, karena pernah melihat contoh-contoh mural terbaik saat berkunjung ke Meksiko.

Mural tak selesai
Proses melukis dimulai pada 1974 dengan serangkaian riset mendalam, termasuk untuk mengetahui jenis hukuman apa yang berlaku di Batavia saat itu. Setelah memindahkan desain ke tembok, proses melukispun dimulai. Tapi dinding ruangan kelewat lembab. Kondisi ini menyebabkan cat sukar menempel. Dan akhirnya mural setinggi enam meter ini cuma berwarna di bagian bawahnya saja. Sementara itu bagian atasnya dibiarkan sebagai sketsa tanpa warna. Pengerjaan berhenti pada 1975.

Dari mana Harijadi belajar mural?
Harijadi terbiasa membuat poster film dan lukisan potret. Selain itu ada kemungkinan dia terpengaruh dengan seniman besar mural Meksiko, José David Alfaro Siqueiros, saat berkunjung ke Meksiko pada 1965 atas tugas dari Presiden Soekarno. José David Alfaro Siqueiros adalah pelukis realis kiri yang dikenal lewat mural-muralnya yang berskala besar dan menjadi salah satu tokoh kunci, selain Diego Rivera, dalam kebangkitan mural Meksiko.


Seniman Nyentrik

“Sejak awal pekerjaan kesenian saya untuk rakyat, dan karya seni saya hanya untuk menegaskan aspirasi rakyat,” kata Harijadi untuk menegaskan keberpihakan pada manusia dan paham realisme-sosialis yang dianutnya. Meski begitu dia juga penikmat barang-barang asal negeri kapitalis. Termasuk dalam koleksinya adalah sepeda motor merek BSA Gold Star dan mobil sport Morris Garage TD. Keduanya keluaran Inggris. Penggemar keroncong dan balap motor ini juga senang bernyanyi ini dan selalu tampil necis bersepatu, lengkap kacamata Ray Ban.

(sumber: British Council)

(Lihat thriller


Responses

  1. […] satu program ini Mystery of Batavia. Nggak usah saya jelaskan panjang lebar ya. Langsung aja klik museumku.wordpress.com atau bisa juga langsung klik website […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori