Oleh: museumku | 25 Juli 2012

Teori Penyusunan Instrumen Penelitian Pengunjung

Oleh: Isman Pratama Nasution
(Departemen Arkeologi FIB-Universitas Indonesia)


1. Pendahuluan

Perihal pentingnya suatu museum melakukan suatu penelitian atau riset, khususnya terhadap pengunjung tergambar dari uraian Neil Kottler dan Philip Kotler dalam bukunya yang berjudul Museum Strategy and Marketing menyatakan bahwa “Museum di masa lalu dikenal dengan perlakuannya yang dingin kepada pengunjung. Mereka memberikan sedikit atau bahkan tanpa orientasi, beberapa pegawainya ditugaskan untuk menyambut dan membantu pengunjung dan tidak ada upaya untuk menambah bagian yang berarti di dalam ingatan pengunjung. Situasi ini telah berubah dalam perkembangan sejumlah museum. Museum-museum hari ini meneliti persepsi dan sikap dari masyarakat, karakteristik pengunjung dan bukan pengunjung dan komentar-komentar pengunjung tentang pengalaman mereka. Penelitian-penelitian telah menolong para manager museum merancang kembali program-programnya dan menyebarkan kembali sumber-sumber mereka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dari kepuasan dari pengunjung. Manager harus datang untuk menghargai fakta bahwa kualitas dari museum akan pengalaman akan sebagian besar ditentukan apakah pengunjung akan mengunjungi lagi atau akan merekomendasikan museum untuk pengunjung potensial yang lainnya” (Kotler & Kotler,1998:43).

Disamping itu, dari pengertian kata museum sendiri yang menurut Lembaga Permuseuman Internasional (ICOM) adalah lembaga non-profit yang bersifat permanen yang melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang bertugas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan tak benda beserta lingkungannya, untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan hiburan (Ali Akbar, 2010:2); maka aktivitas penelitan atau riset sangat diperlukan dan tercakup di dalamnya. Meskipun jika kita perhatikan bunyi Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 1995 yang menyatakan bahwa “museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti materiil hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa” (Ali Akbar, 2010:2) tidak mencantumkan kata penelitian atau riset dalam aktivitasnya sesungguhnya lembaga ini (museum) tetap didalamnya terdapat aktivitas penelitian, selain penyajian koleksi dan aktivitas lainnya. Karena suatu benda koleksi museum yang disimpan, dirawat , diamankan dan dimanfaatkan membutuhkan aktivitas penelitian agar bermakna dan lestari. Dalam konteks ini, penelitian yang dimaksud adalah penelitian terhadap benda koleksi, bukan penelitian terhadap pengunjung.

Selain pendapat Kotler dan Kotler diatas, jika pengertian museum dari sejumlah ahli yang memberikan pendapatnya tentang makna dari kata museum itu, dikupas misalnya diantaranya adalah Ali Akbar dalam bukunya yang berjudul Museum di Indonesia Kendala dan Harapan (2010) memberikan definisi tentang museum sebagai tempat menyimpan koleksi baik alam maupun budaya dan aktivitas yang bertujuan untuk dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat umum, maka terkandung makna pemanfaatan museum dapat digunakan untuk aktivitas penelitian yang dilakukan di museum, baik terhadap koleksi benda museum, pengunjungnya, masyarakat di sekitar museum, maupun terhadap aktivitas pengelolaannya yang meliputi organisasi, kepemimpinan, sarana dan prasarana, pameran, dan lainnya.

Lebih lanjut Ali Akbar (2010) menjelaskan bahwa museum dapat berupa ruangan, anjungan, keraton, istana, benteng, kompleks makam, rumah adat, rumah pribadi, tempat bersejarah, monument, laboratorium pusat atau unit atau tempat apapun sepanjang pengelola menyebutnya sebagai museum. Tempat-tempat tersebut dapat saja berbadan hukum ataupun tidak dan dapat saja dikelola oleh pemerintah, ataupun perusahaan, perorangan, organisasi resmi, perkumpulan mandiri, dan lainnya (Ali Akbar 2010:2). Dengan demikian, penelitian dapat dilakukan pada bangunan yang disebutkan tersebut, baik anjungan, keraton, benteng, rumah adat, rumah pribadi dan tempat bersejarah lainnya.

Dengan demikian makna dari kata museum adalah suatu tempat dimana koleksi budaya milik manusia dari suatu masa dan wilayah disimpan, dipamerkan dan dirawat keberadaannya untuk berbagai kepentingan aktivitas masyarakat seperti pendidikan, rekreasi dan kesenangan semata, ditambahkan dengan aktivitas penelitian baik yang dilakukan oleh intern museum sendiri maupun masyakarat khususnya pengunjung yang datang untuk penelitian.

Memang di dalam buku Pedoman Museum Indonesia (2010), diuraikan bahwa museum melaksanakan kegiatan pemanfaatan melalui penelitian dan penyajian. Penelitian yang dilakukan adalah untuk pengembangan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan dan teknologi. Diperlukan izin dari kepala museum untuk melakukan penelitian di museum dan copy dari hasil penelitian diserahkan kepada museum (Direktorat Museum, 2010:17).

Dalam tulisannya yang berjudul “Analisis Kepuasan Pengunjung Museum: Perlukah Dilakukan” Kresno Yulianto menguraikan secara sekilas perihal riset pengunjung yang pernah dilakukan di Indonesia yang diketahuinya yang dilakukan oleh Rosinta (2007), Gunawan (2010), dan Yusiani (2010). Pada bagian penutupnya Yulianto menyimpulkan bahwa museum perlu menganalisis kepuasan pengunjungnya (Yulianto, 2010:87). Dengan demikian, bisa dinyatakan penelitian pengunjung, sejalan dengan perubahan paradigma museum sendiri, bahwa orientasi museum yang semula kepada benda koleksi museum kini telah bergeser menjadi orientasi kepada masyarakat, khususnya pengunjung.

Dalam paper ini, focus uraian secara ringkas tertuju pada apa yang dimaksud dengan penelitian pengunjung, dan pentingnya hasil penelitian pengunjung, serta yang utama adalah penyusunan instrument penelitian kepada pengunjung serta contoh-contohnya.


2. Penelitian terhadap Pengunjung

Istilah penelitian terhadap pengunjung (atau penelitian pengunjung) atau riset pengunjung dalam berbagai literature yang mengkajinya dan dalam konteks museum seringkali diberi label yang cukup bervariasi dengan maksud yang sebenarnya sama. Beberapa istilah tersebut misalnya yang dapat ditemui seperti “visitors studies”, “market research”,”survey pengunjung”, dan sebagainya.

Graham Black dalam the Engaging Museum Developing Museums for Visitor Involvement di awal tulisannya menyatakan bahwa analisa terhadap pengunjung dan pengunjung potensial ke museum biasanya diberi definisi sebagai “market research”, walaupun batasan ini tidak menegaskan sepenuhnya partisipan yang diteliti (Black,2005: 9). Namun demikian, jenis aktivitas ini mencerminkan hanya sebagian dari pekerjaan yang sekarang dilaksanakan oleh museum karena mereka mencoba untuk mengembangkan suatu pemahaman yang penuh dari pengunjung, motivasinya, kebutuhan-kebutuhan dan harapan-harapannya, cara mereka mengekplor dan menarik dengan pameran-pameran, staf dan lainnya, dan apa yang mereka peroleh dari pengalamannya. Penjelajahan ini sekarang dibawah judul “visitors studies” (studi tentang pengunjung) (Black,2005: 9). Selain itu, istilah yang sering juga digunakan adalah survey pengunjung yang dilakukan oleh seorang individu sebagai peneliti maupun oleh lembaga tertentu khususnya oleh pihak museum sendiri untuk meningkatkan layanan terhadap pengunjungnya.

Dapat juga digunakan istilah kajian pengunjung yang mempunyai makna mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan pengunjung, yang berkenaan dengan motivasinya, persepsinya, karakteristiknya, perilaku dan nilai yang dimilikinya. Dalam tulisan ini akan digunakan istilah kajian pengunjung sebagai batasan yang sepadan dengan istilah visitor studies, atau survey pengunjung.

Tujuan dari kajian pengunjung ini adalah untuk mendapat informasi, pesan, kesan, dan pengalaman yang diperoleh pengunjung, setelah mendatangi suatu museum, baik dalam rangka mengisi waktu luang keluarga, rekreasi atau hiburan maupun dalam rangka pendidikan dan penelitian. Kepada pengunjung akan diajukan suatu daftar pertanyaan yang ditanyakan untuk suatu kepentingan yang beranekaragam yang dimaksud oleh si peneliti atau penanya, baik melalui tehnik wawancara, mengisi kuesioner , Focus Group Discusion (FGD), maupun observasi (pengamatan).

Agar suatu kajian terhadap pengunjung dalam pelaksanaannya mencapai hasil yang baik, peneliti harus memiliki suatu kerangka penelitian atau disain penelitian yang baik. Didalamnya diuraikan latar belakang dan permasalahan yang jelas, tujuannya jelas, ada teori dan metode yang digunakan, serta ada referensi yang mendukungnya.

Ada berbagai topik atau tema yang dapat dijadikan pokok utama kerangka penelitian yang secara umum sasarannya dapat ditujukan pada dua jenis kelompok saja yaitu menyangkut kepada pengunjung tetap museum maupun tidak tetap, dan bukan pengunjung museum (atau masyarakat) yang potensial menjadi pengunjung museum.


3. Teori Penyusunan Instrumen Penelitian Pengunjung

Instrumen penelitian adalah perangkat untuk menggali data primer dari responden sebagai sumber data terpenting dalam sebuah penelitian survey. Instrumen penelitian dalam ilmu social umumnya berbentuk kuesioner dan pedoman pertanyaan. Semua jenis instrument penelitian berisi rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau permasalahan yang menjadi tema pokok penelitian (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:59).

Pembuatan instrument penelitian merupakan satu mata rantai dalam kegiatan penelitian setelah penelitian merumuskan secara jelas dan tegas permasalahan dan tujuan penelitian. Dari instrument penelitian akan diperoleh rangkaian jawaban responden yang akan menjadi data untuk diolah, ditabulasi, dianalisis statistic, analisis teoritis, uji hipotesis, dan akhirnya diperoleh kesimpulan dari penelitian itu (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:59).

Daftar pertanyaan dalam instrument penelitian memiliki karakter dan persyaratan serta disiplin yang berbeda dengan model tanya jawab dalam dialog, dengar pendapat, curah saran, debat, diskusi, interogasi, apalagi sekadar berbincang santai alias ngobrol. Oleh karena rangkaian pertanyaan dalam kuesioner, angket ataupun interview guide bertujuan untuk menggali data secara akurat dan sahih sesuai permasalahan dalam penelitian, instrument penelitian harus disusun sedemikian rupa agar tidak berkesan menjebak, terlalu mengarahkan, terlalu menggiring, menyugesti, menggurui, menguji, melecehkan, menguak rahasia pribadi atau menyingkap hal-hal yang tidak relevan (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:59).

Agar dalam pelaksanaan penggalian data atau wawancara berjalan dengan akrab dalam menyusun instrument penelitian peneliti harus menjaga suasana bahasa/tata krama berbahasa agar tidak memancing emosi responden. Responden harus dijaga suasana batin yang obyektif, empiris, rasional, dan dengan sukarela memberi jawaban apa adanya. Karena itu, perlu dihindari hal-hal yang bisa menimbulkan kemarahan, rasa malu, jemu/kemalasan pada responden. Jangan sampai responden menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak penting, tak berguna, mengada-ngada,khawatir dikaitkan dengan hal-hal lain (pajak, masalah politik, urusan polisi) (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:60).

Agar dapat menyusun instrument penelitian yag bagus peneliti harus memahami betul apa yang ditanyakan, apa saja alternative jawaban yang memang mungkin, dan apa hubungan pertanyaan itu dengan permasalahan atau tujuan penelitian (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:60).

Ada dua jenis instrument penelitian yang dikenal yaitu kuesioner dan pedoman wawancara. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan terstruktur dengan alternative jawaban yang telah tersedia sehingga responden tinggal memilih jawaban sesuai dengan aspirasi, persepsi, sikap, keadaan, atau pendapat pribadinya. Pedoman pertanyaan atau pedoman wawancara umumnya berisi daftar pertanyaan yang sifatnya terbuka atau jawaban bebas agar diperoleh jawaban yang lebih luas serta mendalam. (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:60-61). Dalam pedoman wawancara, rangkaian pertanyaan tidak dilengkapi dengan jawaban yang telah ditentukan seperti di dalam kuesioner. Karena peneliti mengharapkan jawaban yang lebih luas, lebih rinci, lebih detail, lebih lengkap, dan lebih dapat keadaan seutuhnya (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:61)

3.1 Cara penggalian data dengan kuesioner
Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk memperoleh data dengan menggunakan kuesioner. Masing-masing cara memiliki keunggulan dan kelemahan. Efisiensi dan efektivitas masing-masing cara tergantung pada kebutuhan data yang diinginkan dan diperlukan peneliti. Beberapa cara penggalian data itu sebagai berikut:

  1. Melalui wawancara langsung
  2. Kuesioner diisi sendiri oleh responden
  3. Dengan system angket yang diposkan
  4. Melalui wawancara via telepon (Bagong Suyanto & Karnaji,2011:62-64)

Selain itu, pada saat sekarang, dimungkinkan melalui media internet untuk memperoleh data kepada responden.

3.2 Jenis pertanyaan dalam kuesioner
Ada beberapa jenis pertanyaan yang dapat diajukan dalam pembuatan kuesioner, yaitu:

1. Pertanyaan tertutup
Dalam jenis pertanyaan yang tertutup, jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu, responden tidak diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang lain.
Contoh: Pada hari minggu, waktu luang anda gunakan bersama keluarga kemana ?
a. Ke museum
b. Ke mall
c. Ke kebun binatang
d. Ke rumah sanak saudara
e. Ke bioskop
f. Ke restoran
Responden tidak dapat memberi jawaban lain (respon) di luar jawaban yang telah ditetapkan, sehingga menutup jawaban lain.

Perihal kelebihan dan kekurangan dari jenis pertanyaan tertutup ini atau pertanyaan yang telah ditentukan, menurut James A Black dan Dean J Champion (1992), adalah kelebihannya pada soal-soal tertutup, yaitu 1) soal-soal respon yang ditentukan mudah diskor dan dikode 2) tidak ada tulisan yang diminta dari responden 3) soal-soal respon yang ditentukan memudahkan penyelesaian kuesioner 4) jika kuesioner diposkan kepada responden, ada kecenderungan kuat bahwa para responden akan mengembalikan lebih sering jika hanya sedikit soal atau tidak ada jawaban teertulis yang diminta.

Adapun kelemahannya adalah 1) ketidakmampuan secara potensial pada peneliti untuk menyediakan bagi responden semua alternative respon yang relevan 2) khususnya yang digunakan untuk pengukuran sikap, bisa mengarahkan seorang responden kepada ketergelinciran ke dalam suatu set respons.

2. Pertanyaan terbuka
Pada jenis pertanyaan terbuka, responden dapat memberikan jawaban yang diinginkannya tanpa panduan jawaban yang sudah disediakan. Oleh karenanya responden dapat dengan leluasa menjawab pertanyaan tersebut dan mengemukakan pendapat nya masing-masing.
Contoh: Mengapa anda datang ke museum ?
Jawaban : ……………………………………………

Kelebihan dan kekurangan dari soal terbuka ini,menurut James A Black dan Dean J Champion (1992) diantaranya adalah untuk kelebihannya yaitu 1) soal-soal terbuka terutama berguna bila mana peneliti memiliki sedikit atau tidak memiliki informasi mengenai sampel yang diselidiki; 2).di dalambeberapa contoh tertentu, soal-soal terbuka bisa membantu peneliti mendapatkan pemahaman mengenai tingkah laku suatu kelompok yang diselidiki. Sedangkan kekurangan dari pertanyaan jenis ini adalah; 1) kesulitan untuk mengelompokkan atau mengkode respons, 2) suatu bias terdapat pada soal-soal respons terbuka yang berasal dari beberapa sumber; 3) soal-soal ini memakan waktu untuk menyelesaikannya (Black & Champion,1992: 332-333).

3. Pertanyaan semi terbuka
Pada jenis pertanyaan semi terbuka ini, jawaban telah disediakan oleh peneliti namun masih dimungkinkan responden untuk menjawab pertanyaan tersebut apabila jawabannya tidak ada dan tidak sesuai dengan pendapat nya.
Contoh: Bagian manakah dari museum ini yang tidak menarik menurut anda ?

  1. Ruang pameran tetap
  2. Ruang pameran temporer
  3. Ruang auditorium
  4. Ruang edukasi
  5. Lainnya, sebutkan………………………………..

(Bagong Suyanto & Karnaji,2011:64-66).

Pertanyaan yang semi terbuka ini tampaknya sebagai jalan untuk mengatasi kekurangan yang ada pada pertanyaan tertutup, sehingga responden masih diberi ruang untuk mengemukakan pendapatnya dan mengisi jawaban. Oleh karenanya pertanyaan semi terbuka ini merupakan gabungan dari jenis pertanyaan yang tertutup dengan jenis pertanyaan yang terbuka.

3.3 Isi pertanyaan
Dalam kuesioner, isi pertanyaan yang diajukan biasanya berkisar pada empat hal, yaitu

  1. Pertanyaan tentang fakta konkret mengenai pribadi responden, yang meliputi nama, umur, tingkat pendidikan, status perkawinan, jumlah penghasilan, agama, jumlah anak, suku bangsa, pekerjaan dan sebagainya.
  2. Pertanyaan tentang pendapat dan sikap. Didalam pertanyaannya biasanya menyangkut kepada masalah norma dan keyakinan responden terhadap suatu hal.
  3. Pertanyaan tentang informasi, yaitu, pertanyaan yangmemang menyangkut apa yang diketahui oleh responden dan sejauh mana hal tersebut diketahui.
  4. Pertanyaan tentang persepsi diri. Isi pertanyaan ini biasanya berupa penilaian perilaku responden sendiri dalam hubungannya dengan orang lain (Singarimbun dan Effendi, 1985:131 dalam Bagong Suyanto & Karnaji,2011:66).

3.4 Petunjuk Penyusunan Pertanyaan
Perihal petunjuk untuk menyusun pertanyaan atau kuesioner yang baik dan komunikatif, beberapa ahli mengemukakan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Diantaranya Bagong Suyanto & Karnaji (2011:66) menyebutkan ada tujuh syarat yaitu:

  1. Pilihlah kata-kata yang sederhana dan dimengerti oleh semua responden.Hindari pilihan kata-kata yang asing dan kurang lazim digunakan dalam berkomunikasi.
  2. Usahakan pertanyaan diajukan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak mengandungmakna ganda atau mendua.
  3. Usahakan pertanyaan disampaikan secara sopan dan tidak terkesan ingin menguji kemampuan responden
  4. Hindarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung sugesti dan seakan-akan sudah menggiring responden untuk memberikan jawaban tertentu.
  5. Susunan pertanyaan usahakan berjenjang mulai dari pertanyaan yang mudah menuju ke pertanyaan yang semakin sulit
  6. Susunan pertanyaan usahakan sistematis dan sudah terklasifikasi per masalah
  7. Pilihlah jawaban dari berbagai pertanyaan yangdiajukan jengan diberi urutan abjad, tetapi gunakan penomoran angka.

Sedangkan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Metode Penelitian Komunikasi (2002) mengemukakan suatu petunjuk pembuatan kuesioner atau kerangka wawancara yang mengutip dari Miller (1977:74-77) sebagai berikut: Pertanyaan dalam kuesioner harus disusun dengan secermat mungkin:
A. Perjelas lagi hubungan antara metode dengan masalah dan hipotesis. Buatlah matriks yang menghubungkan antara masalah, hipotesis, variable, indikator dan pertanyaan.

B. Rumuskan pertanyaan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Sesuaikan bahasa dengan tingkat pengetahuan responden
  2. Gunakan kata-kata yang mempunyai arti yang sama bagi setiap orang
  3. Hindari pertanyaan yang panjang karena pertanyaan panjang seringkali mengaburkan dan membingungkan
  4. Janganlah beranggapan bahwa responden memiliki informasi faktual
  5. Bentuklah kerangka pemikiran yang ada dalam benak anda
  6. Sarankan semua alternative atau tidak sama sekali
  7. Lindungi harga diri responden
  8. Jika anda terpaksa menanyakan hal yang kurang mengenakkan responden, mulailah bertanya tentang hal-hal yang positif
  9. Tentukan apakah anda memerlukan pertanyaan langsung, tak langsung atau pertanyaan tak langsung yang disusul dengan pertanyaan langsung
  10. Hindari kata-kata yang bermakna banyak
  11. Hindari pertanyaan yang bersifat mengarahkan responden pada jawaban tertentu
  12. Pertanyaan harus dibatasi pada satu gagasan saja

C. Organisasikan kuesioner secara sistematis

  1. Mulailah dengan pertanyaan yangmudah dan disenangi oleh responden.ajukan pertanyaan yang membanngkitkan minat
  2. Jangan mengkondisikan jawaban pada pertanyaan berikutnya dengan pertanyaan sebelumnya
  3. Gunakan urutan pertanyaan untuk melindungi harga diri responden
  4. Pertanyaan terbbuka sebaiknya dikurangi
  5. Topic dan pertanyaan harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami oleh responden

D. Lakukan praujikuesioner
Pilihlah sejumlah responden yang represesntatif.Ajukan pertanyaan-pertanyaan itu dan lihat kemungkinan salah paham atau makna yangmembingungkan. (Jalaluddin, 2002:87-89)

3.5 Uji coba Kuesioner
Sebelum kuesioner digunakan dalam suatu penelitian, hendaknya dilakukan uji coba atau pre-test terlebih dahulu, dengan maksud memperoleh kuesioner yanglebih sempurna dan lengkap. Adapun beberapa hal dari kegunaan uji coba ini, menurut Bagong Suyanto dan Karnaji adalah :

  1. Untuk mengetahui apakah ada pertanyaan tertentu yang perlu dihilangkan dan pertanyaan apa yang perlu ditambah.
  2. Untuk mengetahui apakah ada pertanyaan tertentu yang kurang bisa dipahami oleh responden dan apakah pewawancara dapat menyampaikan pertanyaan itu dengan mudah.
  3. Untuk mengetahui apakah susunan pertanyaan perlu diubah.
  4. Untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan wawancara (2011:67-68).

Dalam pelaksanaannya, kegiatan uji coba ini tidak ditentukan batasan dari jumlah responden yang harus diwawancarai, dan juga hendaknya dilakukan pada pihak yang bukan menjadi responden yang hendak dikaji.

3.6 Fungsi Kuisioner
Secara umum, semua tipe kuesioner menampilkan sekurang-kurangnya dua fungsi, menurut James A Black dan Dean J Champion (1992), yaitu deskripsi dan pengukuran. Dalam hal deskripsi, informasi yang didapatkan melalui penyebaran kuesioner bisa memberikan gambaran tentang beberapa ciri individu atau kelompok, misalnya jenis kelamin, usia, tahun pendidikan, pekerjaan, pendapatan, agama, dan keanggotaan politik atau keanggotaan di dalam kelompok masyarakat.

Menggambarkan unsur-unsur tersebut mempunyai beberapa maksud. Misalnya suatu pengetahuan tentang distribusi usia dari suatu kelompok pengunjung museum misalnya, dapat memberikan gambaran kepada peneliti yang akurat tentang berbagai perilaku di dalam kunjungan tersebut dalam kaitannya dengan usia. Ciri-ciri pendidikan dari berbagai kelompok bisa membantu menerangkan beberapa sikap tertentu yang ditunjukkan oleh mereka (Black & Champion, 1992:325-326). Oleh karenanya tampak bahwa deskripsi yang cermat tentang berbagai unsure disuatu linkungan bisa menguntungkan peneliti dalam berbagai cara. Pemahaman, penjelasan, dan perkiraan adalah sedikit banyak sumbangan yang diberikan oleh kuesioner pada penyelidikan social.

Satu fungsi utama dari kuesioner yang lain adalah ukuran dari berbagai variable individu atau kelompok, terutama sikap-sikap. Kuesioner dapat mengandung soal yang tunggal atau majemuk yang dirancang untuk mengukur berbagai fenomena sikap, seperti jarak social, persepsi tentang sesuatu hal, derajat prasangka, dan lainnya.


4. Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif

Dalam pembuatan instrument penelitian, perlu diperhatikan adanya dua jenis pendekatan yang lazim dilakukan dalam suatu penelitian yaitu pendekatan kuantitatif, dan pendekatan kualitatif. Kedua pendekatan ini sangat menentukan jenis instrument yang digunakan dalam kegiatan penelitian, khususnya dalam kajian terhadap pengunjung museum.

Dalam pendekatan kuantitatif, penelitian membuat daftar pertanyaan yang disebut kuesioner dan hasilnya dapat diukur atau bisa dihitung dan pengunjung yang menjawab pertanyaan disebut sebagai responden. Adapun jawabannya disebut dengan respon. Sedangkan dalam pendekatan kualitatif, peneliti membuat daftar pertanyaan yang in-depth untuk mendapatkan jawaban secara kualitatif mendalam dan luas. Jawabannya diukur secara tidak langsung seperti ketrampilan, aktivitas, sikap dan persepsi, dan sebagainya. (Marzuki,2002:55) Orang yang menjawab pertanyaan jenis kualitatif ini disebut informan. Adapun hasil jawabannya disebut informasi. Dengan demikian, ada perbedaan istilah untuk pengunjung yang digunakan sebagai sasaran dari kajian pengunjung di museum.

Pada beberapa kajian, kedua pendekatan tersebut ada yang digunakan secara bersama-sama sehingga kajiannya disebut pendekatan yang kuantitatif-kualitatif. Dengan demikian, ada dua kelompok sasaran pertanyaan yang disebut responden dan juga informan.

Metode yang digunakan oleh kedua pendekatan inipun berbeda-beda. Dalam penelitian kualitatif metode yang digunakan dapat berupa study kasus, etnografi, fenomenologi, grounded theory, etnometodologi, dan sebagainya (Agus Salim, 2006). Dalam kualitatif, salah satu kegiatan penelitian yang dilakukan adalah pengamatan (observasi) terhadap perilaku pengunjung. Disamping berupaya mendengar apa yang mereka bicarakan tentang sesuatu di dalam museum, dan juga menguji kemampuan mereka melalui suatu permainan yang menarik yang ada di dalam museum (Hein, 1998).

4.1. Metode Observasi
Observasi adalah suatu metode untuk mendapat data dengan melakukan suatu tindakan pengamatan terhadap orang yang menjadi sasaran penelitian. Sebagai alat pengumpul data, kuesioner dan wawancara seringkali tidak sepenuhnya memuaskan peneliti. Oleh karenanya beberapa peneliti melakukan tindakan observasi. Pengertian observasi sendiri secara lebih sempit adalah mengamati dan mendengar perilaku seseorang selama beberapa waktu tanpa melakukan manipulasi atau pengendalian, serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi syarat untuk digunakan ke dalam tingkat penafsiran analisis (James A Black dan Dean J Champion 1992:286).

Observasi baru dapat dikatakan tepat pelaksanaannya bila memenuhi ciri-ciri sebagaimana yang diuraikan oleh Black dan Champion (1992:286) berikut ini yaitu:

  1. Dapat menangkap keadaan social alamiah tempat terjadinya perilaku
  2. Dapat menangkap peristiwa yang berarti atau kejadian-kejadian yang mempengaruhi relasi social para partisipan
  3. Mampu menentukan realitas serta peraturan yang berasal dari falsafah atau pandang masyarakat yang diamati
  4. Mampu mengindentifikasi keteraturan dan gejala-gejala yang berulang dalamkehhidupan social dengan membandingkan dan melihat perbedaan data yang diperoleh dalam studi dengan data studi dari keadaan lingkungan yang lainnya.

Untuk memperoleh informasi melalui observasi digunakan berbagai cara diantaranya adalah: membuat catatan anekdot atau catatan informal, memberi tanda pada suatu daftar cek yang sudah dipersiapkan, mengecek dan menetapkan nilainya pada skala yang sudah dipersiapkan, pencatatan dengan bantuan suatu alat seperti alat perekam (camera, tape recorder, dan lainnya) (Marzuki, 2002:60).

5. Pengunjung Museum
Sebagai obyek sasaran dari kajian pengunjung museum, yaitu masyarakat, peneliti dalam menyusun instrument penelitian perlu memperhatikan beberapa hal terutama yang berkaitan dengan pengunjung museum. Perihal pengunjung museum ini, Direktorat Museum dalam Pedoman Museum Indonesia (2010), menguraikan pengelompokan berdasarkan intensitas kunjungan dan tujuan dari pengunjungnya.

Berdasarkan intensitas kunjungan dari pengunjung museum, dapat dibedakan menjadi dua kelompok saja yaitu
a. Kelompok orang yang secara rutin berhubungan dengan museum seperti kolektor, seniman, desainer, ilmuwan, mahasiswa dan pelajar.
b. Kelompok orang yang baru mengunjungi museum.

Berdasarkan tujuan dari pengunjungnya, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:
a. Pengunjung pelaku studi
b. Pengunjung bertujuan tertentu
c. Pengunjung pelaku rekreasi (Direktorat Museum, 2010;22-23).

Di samping pengelompokan di atas, berdasarkan kebutuhan pengunjungnya dan layanan yang diharapkan, ada tiga tipe pengunjung yang dapat diketahui yaitu:

  1. Tipe individual
  2. Tipe kelompok dewasa
  3. Tipe kelompok keluarga (Direktorat Museum, 2010;60).

Di Indonesia, umumnya pengunjung yang datang ke museum adalah dari kelompok pelajar. Kelompok ini terbesar dalam jumlah dikarenakan adanya program wajib kunjung museum yang diberlakukan oleh beberapa pihak atau lembaga seperti pemerintah daerah, sekolah, dan swasta.

Perihal tanggapan masyarakat luas terhadap museum, termasuk pengunjung museum sendiri, terdapat anggapan keliru yang memberi stigma negative, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Agus Aris Munandar dan kawan-kawan (Munandar, dkk 2004), yaitu;
a. Museum adalah lembaga yang berkenaan dengan kemasalaluan
b. Museum tidak mempunyai dinamika
c. Museum merupakan tempat menyimpan benda-benda kuno
d. Masyarakat masih belum merasakan manfaat dari kehadiran museum.

Dalam kajian terhadap anggota masyarakat yang dijumpai Ali Akbar dalam bukunya disebutkan bahwa museum dapat diintisarikan ke dalam 14 kata yaitu 7K dan 7S. Adapun makna 7K adalah Kuno, Kusam, Klenik, Ketinggalan, Kurang, Kritik, dan Kasihan. Sedangkan 7S adalah Seram, Suram, Serius, Statis, Sekali, Sia-sia, dan Sepi (Akbar 2010:11-12). Sudah tentu, stigma ini merupakan pandangan dan pendapat dari sebagian kecil masyarakat yang perlu mendapat perhatian semua pihak, khususnya pengelola museum sendiri, agar melakukan perbaikan dan perencanaan yang lebih baik lagi ke depan dengan melakukan berbagai program, salah satunya melalui kajian pengunjung.

Disamping pengelompokan dari pengunjung, ada beberapa hal lain lagi yang perlu diperhatikan, yaitu perilaku dari pengunjung museum. Menurut Kotler and Kotler (1998) ada beberapa factor yang mempengaruhi perilaku mengunjungi museum yaitu ;
1. Kebudayaan dan suku bangsa
2. Kelas social
3. Lingkaran kehidupan
4. Gaya hidup
5. Kelompok reference
6. Sosialisasi
7. Trend social

Pada umumnya masyarakat itu berbeda-beda dalam hal kesadarannya terhadap museum, minatnya terhadap daya tarik museum, sikapnya kepada museum dan juga kecenderungannya untuk berkunjung ke museum. Mempengaruhi tingkat kepentingan mereka, kesadaran, dan kecenderungan pada pameran kebudayaan, kelas social, sosialisasi, dan factor-faktor kepribadian. Merupakan tantangan penting bagi pemasar museum adalah untuk mengembangkan pemahaman tentang bagaimana latar belakang orang dan sikap sebelum dan persepsinya yang mempengaruhi perilaku mereka mengunjungi museum (Kotler and Kotler,1998;115).

Dari uraian tersebut dapat dicatat bahwa latar belakang pengunjung, sikap pengunjung dan persepsi yang dimilikinya menjadi perhatian yang utama di dalam menyusun suatu instrument penelitian yang akan dilakukan kepada pengunjung museum.


6. Penutup

Melalui museum, pesan dan makna yang dikandung dari koleksi yang dipamerkan disampaikan kepada masyarakat. Karya manusia yang menjadi koleksi museum dapat memberikan pengetahuan dan bayangan tentang berbagai aktivitas yang terkait dengan koleksi yang pada akhirnya dapat memberikan dorongan munculnya kesadaran untuk menghargai karya budaya manusia serta memberi inspirasi yang berguna bagi pengunjung serta memberi dampak yang besar bagi suatu perkembangan masyarakat. Selain itu, tentu museum dengan koleksinya dapat menjadi ruang untuk rekreasi keluarga dan memberi kesenangan yang membebaskan manusia dari rutinitas sehari-hari.

Dalam realitasnya, ada berbagai jenis museum dengan berbagai jenis koleksi yang dimilikinya tersebar di berbagai belahan dunia. Secara umum museum dapat dibedakan menjadi dua kelompok saja yaitu museum public dan museum private. Museum public merupakan museum yang menjadi milik masyarakat umum yang dapat dikelola oleh pemerintah atau lembaga masyarakat, yang menyajikan koleksi yang memperlihatkan keanekaragaman budaya bangsanya. Sedangkan museum private adalah museum milik individu yang menampilkan koleksi pribadi yang dapat juga dikunjungi dan dilihat koleksinya. Kedua jenis museum tersebut dijumpai di berbagai kota dan negara didunia dengan berbagai macam koleksi museum yang khas dan berbeda satu dengan lainnya.

Setiap museum menyajikan hal yang berbeda dan khas, namun demikian memiliki kesamaan dalam hal isinya yaitu semua museum hanya menyajikan dua hal saja yaitu koleksi dan informasi. Untuk mendukung hal tersebut ada dukungan yang juga penting seperti tempat atau sarana, pemandu atau staf museum serta beberapa aktivitas penunjang yang pada museum baru selalu menampilkannya dalam berbagai bentuk seperti seminar atau ceramah, pelatihan atau workshop, pameran tidak tetap maupun tematis, ruang audio visual atau ruang diorama, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk baru yang khas dimiliki oleh sebuah museum.

Sebuah museum sebagai suatu lembaga yang non profit, ditunjang oleh sebuah organisasi dan perangkatnya yang menjalankan seluruh aktivitas di museum agar museum dapat berjalan dan koleksi yang dimilikinya juga terawat dengan baik serta dikunjungi oleh masyarakat atau pengunjung, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun umum atau para wisatawan. Sebuah museum menjadi hidup, jika pengunjung yang datang selalu kembali datang dan turut mendukung aktivitas yang ada di dalam museum. Dengan demikian pengunjung menjadi penting bagi museum dan pengelolanya untuk meningkatkan layanan serta keadaan di dalam museum. Salah satu upaya adalah mendapatkan informasi atau pendapat dari pengunjung tentang museum dan segala hal yang terkait melalui aktivitas yang disebut penelitian terhadap pengunjung atau kajian pengunjung.

Untuk memahami audiens museum, penting bagi pengelola untuk mempelajari mengapa banyak orang yang tidak pernah mengunjungi museum, mengapa orang yang lain kadang-kadang mengunjungi museum, dan yang lainnya tetap berkunjung ke museum secara teratur. Para pengelola seharusnya menyelidiki proses bagaimana audien museum membuat keputusan tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu luangnya. Oleh karena itu, museum-museum harus menawarkan aktivitas-aktivitas dan pengalaman yang unik dan istimewa di museum, dan pengelolanya harus menambah hal yang dapat dilihat dan menarik pengunjung untuk bersaing dengan aktivitas alternative pengisi waktu luang lain yang lebih menarik dan audiens yang lebih luas (Kotler and Kotler, 1998)

Uraian mengenai tehnik di dalam mendapatkan data dari pengunjung museum, telah diuraikan sebelumnya melalui beberapa cara, baik menggunakan metode wawancara maupun observasi, dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu mendapatkan bahan dari pengunjung museum perihal museum untuk meningkatkan lebih baik lagi museum, baik dalam program-programnya maupun sarana dan prasarana yang tersedia.


Daftar Pustaka

Agus Salim
Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Buku Sumber untuk Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Tiara wacana. 2006.

Ali Akbar
Museum di Indonesia. Kendala dan Harapan. Jakarta: Papas Sinar Sinanti. 2010.

Agus Aris Munandar, dkk
“Rangkuman Laporan Penelitian Pengembangan Museum dalam Rangka Peningkatan Apresiasi Masyarakat”. Jakarta: Asdep Litbang Deputi Peningkatan Kapasitas dan kerjasama Luar negeri Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. 2004.

Bagong Suyanto dan Sutinah (editor)
Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Edisi Revisi.cetakan ke-6. Jakarta: Kencana, 2011.

Bernhard Graf.
“Visitor studies in Germany: methods and examples” dalam Towards the Museum
of the Future New European Perspectives. Edited byRoger Miles and Lauro Zavala
London and New York: Routledge. 2002. Hal. 75-81.

Direktorat Museum
Pedoman Museum Indonesia. Jakarta : Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. 2010.

Eilean Hooper-Greenhill
“Studying Visitors” dalam A Companion to Museum Studies Edited by
Sharon Macdonald. UK and USA: Blackwell Publishing.2006. P. 362-376.

Fionna Maclellean.
Marketing in the Museum. London and New York: Routledge. 2003.

George E. Hein
Learning in the Museum. New York: Routledge. 1998.

Graham Black
The Engaging Museum Developing Museums for Visitor Involvement. Routledge. 2008.

James A Black & dean J Champion
Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung : Eresco. 1992.

Marzuki
Metodologi Riset. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Neil Kotler & Philip Kotler
Museum Strategy and Marketing. Designing missions, Building audiences, Generating revenue and resources. San Francisco: Jossey-Bass 1998.

*Pernah dimuat dalam Museografia, edisi Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: