Oleh: museumku | 18 Juni 2012

Membangun Kenangan dan Pengalaman di Museum Bank Mandiri

Kartum Setiawan*
Ketua Komunitas Jelajah Budaya dan Peneliti Museum Bank Mandiri,
kini aktif dalam organisasi Masyarakat Museologi Indonesia


Pendahuluan

Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara ternyata menyimpan berbagai ragam budaya, bukan hanya pusat perbelanjaan yang semakin menjamur menghias setiap sudut kota. Jakarta juga dapat dijadikan sebagai kota museum, karena museum terbanyak di Indonesia berada di Ibukota Jakarta. Museum-museum yang beragam ini akan menambah khasanah budaya bangsa yang dapat dijadikan sebagai identas sebuah negara.

Menurut Edy Dimyati Jakarta memiliki sedkitnya 47 museum, yang terbagi ke dalam lima wilayah yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara (Edy Dimyati, 2010). Walaupun kalau kita telusuri museum lebih dari yang telah disebutkan di atas. Semakin tumbuhnya pendirian museum di Jakarta maupun di Indonesia merupakan sebuah kesadaran sejarah yang patut kita banggakan. Museum-museum tersebut bukan hanya milik pemerintah, tetapi tidak sedikit yang dikelola atau didirikan oleh swasta. Setali tiga uang dalam beberapa tahun ini pemerintah melalui perguruan tinggi membuka jurusan museologi dalam upaya mendukung SDM yang dapat menghidupkan museum. Sehingga yang berkembang di masyarakat bahwa museum hanya sebagai gudang akan terkikis oleh peran museum yang dekat dengan masyarakatnya. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh pengelola museum adalah visi dan misi yang akan disampaikan kepada masyarakat, karena ini merupakan dasar dari sebuah pendirian museum.

Salah satu yang membedakan satu museum dengan museum adalah koleksi yang dimiliki oleh museum tersebut. Menurut Timothy Ambrose dan Crispin Paine dalam Museum Basic dijelaskan bahwa museum dapat dikelompokkan ke dalam jenis koleksi yang dipamerkan. Sedikitnya ada 10 klasifikasi yaitu, museum umum, museum arkeologi, museum seni, museum etnografi, museum sejarah, museum alam, museum teknologi, museum geologi, museum industri dan museum militer. Selain koleksi, museum dapat dikelompokan menurut pengelolaannya seperti museum pemerintah, museum kota, museum universitas, museum yayasan, museum swasta (Ambrose dan Paine, 2006).

Pengkelompokan berdasarkan museum umum terdiri atas kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, ilmu dan teknologi. Sementara itu, museum khusus adalah museum yang menyimpan koleksi dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan satu jenis koleksi baik itu seni, ilmu dan teknologi (Direktorat Museum, 2008).

Menurut pengelolaannya museum yang berada di wilyah DKI Jakarta terbagi dalam tiga bagian, yaitu:

  1. Museum yang dikelola oleh Direktorat Museum Kebudayaan & Pariwisata RI, di antaranya; Museum Nasional, Museum Naskah Proklamasi, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda, Museum Basuki Abdullah.
  2. Museum yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta, di antaranya: Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Seni Rupa & Keramik, Museum Wayang, Museum Taman Prasasti, Museum Juang, Museum tekstil, Museum Husni Thamrin dan Museum Monumen Nasional.
  3. Museum yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta ataupun perorangan, di antaranya: Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum POLRI, Museum Purna Bhakti, Museum Layang-Layang dan lainnya (Direktorat Museum, 2008).

Museum-museum tersebut memiliki suatu koleksi yang beragam dan berbeda yang menjadi identitas dan keunikan dalam museum tersebut. Misalnya Museum Polri yang memiliki koleksi yang berhubungan dengan institusi Polri, seperti: senjata Polri, baju Polri dan lainnya. Demikian juga dengan museum perbankan yang memiliki koleksi berkaitan dengan kegiatan perbankan, seperti: alat hitung, uang dari masa ke masa, dan kegiatan perbankan lainnya. Beberapa museum perbankan menyajikan sejarah perkembangan perbankan dari masa pemerintah kolonial Belanda hingga Indonesia merdeka, antara lain: Museum Bank Mandiri (MBM), Museum Bank Indonesia (MBI), Museum BNI, Museum BTN dan Museum BRI di Purwokerto Jawa Tengah. Museum perbankan tersebut masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, misalnya perbedaan antara fungsi perbankan yakni sebagai bank umum dan bank sentral dan persamaan diantara bank umum adalah sama-sama mengeluarkan produk bank.

Selain persamaan dan perbedaan tersebut di atas, Museum Bank Mandiri sedikit lain jika dibanding dengan museum perbankan lainnya. Museum Bank Mandiri merupakan satu-satunya museum yang mempunyai sejarah panjang, bukan hanya dari proses nasionalisasi bank milik Belanda, tetapi juga hasil dari merger beberapa bank yang membentuk Bank Mandiri. Pada sisi yang lain penyajian koleksi sudah seharusnya mencerminkan perjalanan dari bank-bank tersebut. Sesuai dengan tujuan museum sebagai lembaga pendidikan informal yang menyenangkan museum dituntut membuat sesuatu yang menarik pengunjungnya. Karena museum merupakan lembaga pendidikan informal, maka di dalam museum kta tidak dapat dilihat sebuah sistem pendidikan. Pengunjung tidak perlu membuktikan bahwa ia telah belajar, karena tidak ada angka dan dinilai sehubungan dengan keuntungan yang diperoleh dari kunjungan ke museum. Museum sebagai lembaga informal mengandung unsur pemilihan yang sangat bebas, baik perhatian atau tanpa perhatian pengunjung terhadap koleksi yang disajikan oleh museum. Pengunjung sendiri yang menentukan (Amir Sutaarga,1991/1992).


Penerapan pendidikan di museum

Museum Bank Mandiri sebaga museum perbankan yang menyajkan koleksi berkaitan dengan produk perbankan dapat menerapkan teori pendidikan Hein sebagai acuan pelaksanaan tema pameran museum. Teori pendidikan Hein dapat digambarkan dalam bentuk ortagonal yang memperlihatkan empat bidang pendekatan (Hein,1998). Hein menggambarkan teori pendidikan itu dalam bentuk kuadran seperti tampak gambar berikut:


Bagan : Kuadran pendekatan pendidikan di museum
(Sumber: Hein, 1998)


A. Museum dalam teori pendidikian Didaktik Ekspositori

Pendekatan pertama Hein terdapat dalam diagram sebelah kiri atas yang disebut teori pendidikan Didaktik Ekspositori. Teori ini banyak digunakan oleh kalangan pendidikan sehingga masyarakat dapat belajar secara akademis, bahasa, dan ketrampilan. Koleksi museum diatur sedemikian rupa untuk mendukung pengungkapan pendidikan didaktik. Dalam museum ilmu pengetahuan dan sejarah alam, penyajian koleksi diklasifikasikan, rekaman, pajangan dan sering dipamerkan berdasarkan genus dan spesiesnya. Sementara untuk museum sejarah disajikan secara kronologis atau sesuai dengan urutan waktu, sedangkan pada museum seni menggantungkan hasil karyanya dengan gaya atau asal negaranya.

Kontribusi yang mendidik, dengan pendidikan yang terbuka berasal dari pameran yang diatur secara berurutan, dari awal hingga akhir yang jelas dan menjadi harapan pengunjung museum. Label dan panel yang bersifat mendidik dengan menyaring teks untuk dipelajari. Informasi yang disajikan diatur sebagai tahapan kecil yang berlainan, dari yang paling sederhana menjadi yang paling kompleks. Fokus pameran terutama pada isi yang diajarkan. Program untuk sekolah menekankan pada keahlian dari subjek yang spesifik, pengajaran melalui penyusunan dari yang sederhana ke kompleks (Hein dan Alexandra,1998) dengan isi yang dipelajari dari program pendidikan mempunyai tujuan pembelajaran yang lebih spesifik (Hein, 1998). Penyajian eksibisi dalam teori ini hampir dilakukan pada museum-museum yang ada di Indonesia yang lebih menitikberatkan pada keterangan panel. Secara spesifik museum didaktik expository menurut Hein terdiri atas :

a. Pameran sebagai contoh yang jelas, dengan susunan mulai dari awal hingga akhir
b. Komponen didaktik terdiri dari label dan panel yang menjelaskan apa yang dipelajari dari pameran tersebut
c. Penyusunan dilakukan berdasarkan subject yang sederhana hingga kompleks
d. Program sekolah menggunakan kurikulum tradisional yang disusun berdasarkan urutan yang paling sederhana hingga kompleks
e. Program pendidikan dengan isi spesifik pada pembelajaran


B. Museum dalam teori pendidikan dalam Stimulus Respon

Pendekatan kedua terdapat pada diagram sebelah kiri bawah yaitu teori Stimulus Respon dari program pendidikan di museum dengan penekanan kebiasaan berpikir dengan konsep target yang dikuatkan. Contohnya pameran interaktif, menawarkan penghargaan pada pengunjung untuk memberikan jawaban yang benar. Tekanan dari bawah, mengangkat penutup, atau menyentuh jawaban dari sebuah layar komputer adalah sebagai jalan yang positif:”ya, ini adalah jawaban yang benar.”

Kontribusi pendidikan Stimulus Respon berasal dari pameran dengan tes untuk pengunjung dengan maksud untuk objek atau untuk pengalaman mendatang. Memenuhi komponen pameran dan menguatkan jawaban yang benar dan mencari kesalahan dalam pra konsep yang biasanya. Sekolah dan program museum digunakan oleh ahli dan referensi untuk kewenangan penguatan kesimpulan (Hein dan Alexandra,1998). Menurut Hein teori pendidikan stimulus respon mempunyai karakteristik yang sama dengan didaktik ekspositori dalam pameran seperti :

a. Komponen didaktik terdiri atas label dan panel yang menjelaskan apa yang akan dipelajari dalam pameran
b. Pameran menjadi contoh, pada bagian awal dan akhirnya jelas dengan disusun berdasarkan pedagogi (Hein, 1998).

Menurut negara-negara Barat, konsep stimulus respon banyak digunakan pada negara-negara yang mempunyai ideologi sosialis sebagai bentuk indoktrinasi pada pengunjungnya (Hein,1998). Sementara itu museum-museum yang ada di Indonesia dapat dilaksanakan pada jenis museum seni seperti Museum Seni Rupa & Keramik (Suci Wulandari, 2004).


C. Museum dalam teori pendidikan Diskoveri

Teori Hein ketiga terdapat pada diagram sebelah kanan atas atau Diskoveri. Teori ini merupakan pembelajaran aktif dengan posisi yang realistis dari ilmu pengetahuan dengan kombinasi dari keuntungan yang didapatkan untuk menemukan kenyataan dengan “menemukan dirinya sendiri” untuk belajar melalui apa yang dikerjakannya sebuah pendekatan natural bagi museum, sejak objek nilai museum dan pembelajaran dari objek. Ini didukung oleh perkembangan keseluruhan literatur dari pembelajaran dan bagaimana kesulitan itu mengubah mereka. Pameran banyak didesain menjadi lebih interaktif, mengikat secara intens, tantangan yang merangsang pengunjung untuk mencapai pengertian yang baru. Suatu waktu pengunjung dapat membuat replika dari eksperimen ilmuan terkenal atau bermain peran dalam simulasi kejadian sejarah. Semua ditentukan dari awal sesuai dengan rencana awal.

Kontribusi dari pendidikan Diskoveri berasal dari pameran yang memperbolehkan untuk mengeksplorasi semua komponen pameran masa lalu dan yang akan datang. Sebagaimana teori pengembangan belajar yang fokus pada pelajar, pameran berdasarkan desain yang mengakomodasi tingkatan yang lebih luas dari gaya dan tipe pembelajaran. Label dan panel teks merupakan ungkapan pertanyaan, dari kecermatan pengunjung menemukan yang dicari. Maksudnya adalah terpenuhinya penilaian pengunjung secara benar dari semua kesimpulan. Program sekolah mengikat murid dalam aktivitas yang intens sebagai pedoman belajar. (Hein dan Alexandra,1998:41-2). Teori pendidikan diskoveri sangat berbeda dengan teori pendidikan didaktik ekspositori, menurut Hein diskoveri terdiri atas:

  1. Pameran yang dapat dieksplorasi baik sebagian maupun keseluruhan pameran
  2. Lebih banyak menggunakan model pembelajaran yang aktif
  3. Komponen didaktik terdiri dari label dan panel dengan pertanyaan yang jawabannya ditentukan oleh pengunjungnya sendiri
  4. Pengunjung dapat melakukan interpretasi sendiri terhadap kebenaran dari pameran tersebut
  5. Program bagi anak sekolah memungkinkan aktifitasnya dapat menentukan kesimpulan sendiri
  6. Workshop disediakan bagi pengunjung dewasa yang membutuhkan penjelasan dari ahli, sehingga pengunjung dapat memahami makna benda tersebut (Hein, 1998: 33).

Bentuk teori pendidikan diskoveri dapat dilaksanakan pada museum yang lebih banyak menampilkan perkembangan teknologi, seperti Museum Energi dan Listrik yang mana pengunjung dapat menggunakan koleksinya untuk melakukan sebuah eksperimen.


D. Museum dalam teori pendidikan Kontruksitivisme

Pendekatan keempat terdapat sebelah kanan atas yaitu teori kontruksitivis yang merupakan kombinasi dari pembelajaran aktif dalam membentuk kepribadian yang cepat untuk pencapaian dalam museum. Museum di-setting sebagai pembelajaran informal, sebagai pandangan ketika kehadirannya atas sukarela dan tidak ditentukan, karena kecintaan mereka saja. Dalam sebuah museum pengunjung berkeliling atas kemauan mereka sendiri, menjadi lebih hidup, menyelinap melalui mereka, meletakkan sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang paling utama, dan menemukan ide baru yang berhubungan dengan kesenangan.

Definisi konstruksitivis pada pembelajaran, yang mencakup hasil yang tidak diantisipasi, juga khususnya kecermatan pada aktivitas pengunjung museum dengan berinteraksi pada objek dan material, kehilangan asosiasi dengan kurikulum yang khusus menjadi lebih baik. Membawa pelajar pada situasi dengan latar belakang yang personal, dengan kontribusi pada interaksi sosial, berdampak pada lingkungan, dan bagaimana mereka menyusun pembelajaran-semua bermain dalam peran utama pendidikan museum.

Pameran museum pada dasarnya untuk merekonstruksi pengalaman pengunjung. Kontribusi pada kuadran konstruksi berasal dari pameran yang memiliki banyak jalan masuk, tak ada jalan khusus dari awal hingga akhir. Tak ada desain khusus yang mengikat perbedaan pada model pembelajaran yang aktif. Label dan panel teks dipertunjukkan sebagai tingkatan dalam pandangan. Kesempatan tersebut dirasakan pengunjung agar tersambung dengan objek dan gagasan melalui aktivitas yang memenuhi pengalaman hidup mereka. Program sekolah akan memenuhi pengalaman yang menjadi masukan untuk eksperimen, mengambar perkiraan dan menyimpulkannya (Hein dan Alexandra,1998:40). Pameran pada teori ini terdiri atas:

  1. Memiliki banyak jalan masuk, tidak ada arah yang lebih spesifik baik di awal maupun di akhir;
  2. Akan banyak menyediakan model belajar yang aktif;
  3. Akan banyak menyediakan sudut pandang;
  4. Meningkatkan pengunjung untuk mengaitkan dengan objek dan pikiran melalui berbagai kegiatan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya;
  5. Menyediakan banyak pengalaman dan objek yang memungkinkan siswa melakukan program sekolah untuk eksperimen, dan mengambil kesimpulan sendiri (Hein, 1998:35).

Dari keempat teori pendidikan di atas yang Museum Bank Mandiri dapat menggunakan teori konstruktivisme. Teori ini dapat diterapkan pada Museum Bank Mandiri, sebagai museum sejarah perbankan. Eksibisi diharapkan dapat merekontruksi setiap pengunjung yang datang ke museum. Selain itu tema pameran yang digunakan adalah kebijakan dari Bank Mandiri dan bank-bank sebelumnya, sehingga tema pameran dapat mengkonstruksi sejarah perbankan nasional.


Belajar Melalui Pengalaman di Museum

Masyarakat dengan berbagai latar belakang datang ke museum untuk melakukan penelitian belajar tentang objek, karya seni yang telah menjadi bagian dari budaya. Pengetahuan disajikan dalam konteks menggunakan label yang menggambarkan objek ke museum pengunjung. Pengalaman museum ini kebanyakan pasif dalam arti bahwa pengunjung tidak dapat berinteraksi dengan artefak pada layar atau informasi yang berkaitan dengan mereka. Pengunjung melihat artefak pada layar dan membaca informasi melalui label. Kadang-kadang pengunjung ditawarkan tur museum oleh pengelola, tetapi hal itu terbatas pada kunjungan kelompok, dan tidak semua museum menawarkan ( Helle, 2009)

Pada saat ini pengunjung ke museum tidak lagi merasa puas hanya melihat pameran di dalam kaca. Pengunjung berharap untuk terlibat secara aktif dengan pameran, belajar secara informal dan di hibur secara bersamaan. Museum di seluruh dunia akan mencari cara untuk meningkatkan akses terhadap pameran sehingga mereka dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Ada banyak cara untuk menampilkan koleksi yang menarik bagi masyarakat: misalnya, penggunaan teknologi baru, penyimpanan terlihat atau interpretasi hidup semua berlaku sempurna (Caulton, 1998). Untuk menunjang sebuah pameran pengelola museum dapat menggunakan koleksi sebagai bagian dari pameran yang interaktif sehingga pengunjung dapat merasakan atau mencoba koleksi melalu sentuhan tangan. Pendekatan ini dalam konteks museum di kenal dengan Hands-on. Sebuah pameran interaktif yang baik akan bekerja pada tingkat keragaman bagi pengunjung yang berbeda usia dan kemampuan. Melalui pameran ini pengunjung dapat melakukan eksperimen (amazng race) atas pilihanny. Pameran hands-on tidak harus berteknologi tinggi agar bersifat interaktif, namun secara langsung melibatkan pengunjung. Pameran dirancang untuk membantu pengunjung dalam mengeksplorasi koleksi (Caulton, 1998). Di samping itu pameran sejarah yang naratif membuat pengunjung masuk ke berbagai era sejarah, seolah mengalaminya. Saat ini berkembang tren untuk menstruktur eksibisi berdasarkan tema, konteks dan sudut pandang sejarah (Kotler, 1998)

Saat ini museum dapat menggunakan konsep kontruktivisme yang mana pengunjung belajar dengan tangan atau dengan subjek di depan pengunjung. Memasuki museum pengunjung dapat berpartisipasi berdasarkan pengalaman yang dilakukan secara sukarela. Museum Bank Mandiri dapat menyajikan koleksi yang dapat di pegang dan dirasakan oleh pengunjung. Pengalaman ini menjadi bagian dari kontruktivisme yang mana pengunjung dapat mengambil kesimpulan sendiri.


Belajar dari Museum perbankan

Museum Bank Mandiri merupakan museum swasta yang dibawah pengelolaan Bank Mandiri berdasarkan keputusan Direksi pada tanggal 7 September 2003. Pilihan yang sangat tepat adalah menggunakan bangunan bersejarah di kawasan kota toea sebagai museum. Dari beberapa bangunan milik Bank Mandiri di kawasan kota tua, maka terpilihlah gedung yang berada di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Barat. Selain berada di kawasan bersejarah yang mana pada masa lalu atau lebih dikenal sebaga Oud Batavia, pada tempat ini sedikitnya ada lima museum lainnya yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Seni Rupa & Keramik serta Museum Bank Indonesia. Keberadaan Museum Bank Mandiri dapat dijadikan sebagai pilihan kunjungan selain museum-museum tersebut. Selain itu sebaiknya museum-museum yang jaraknya berdekatan ini dapat memberlakukan tiket terusan, sehingga harapan masyarakat untuk berkunjung ke museum akan tercapai. Karena pengalaman penulis selama melakukan penelitian membuktikan tidak semua masyarakat yang berkunjung di museum mengetahui antar museum di kota tua Jakarta.

Berangkat dari rangkaian sejarah bank pendahulu maupun bank-bank merger yang melebur menjadi Bank Mandiri, maka diperlukan upaya untuk menjaga rangkaian sejarah tersebut tidak terputus. Inilah yang melatarbelakangi pendirian sebuah museum perbankan. Bank Mandiri mendirikan sebuah museum perbankan yang memelihara, merawat tinggalan budaya materi bank-bank pendahulunya hingga menjadi Bank Mandiri. Koleksi tersebut diharapkan bermanfaat tidak saja untuk mengenang kembali nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung didalamnya, tetapi juga sebagai pemicu kemajuan dunia perbankan nasional pada umumnya dan Bank Mandiri khususnya. Gagasan tersebut di atas menjadi pertimbangan Manajemen Bank Mandiri dalam merencanakan sebuah museum yang menyajikan sejarah perkembangn terbentuknya Bank Mandiri. Lokasi yang diperuntukan sebagai museum adalah bangunan yang berada di area Taman Stasiun Jakarta – Kota dan tercatat sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No.475 tahun 1993.

Museum ini menempati sebuah bangunan dengan area seluas 10.039 m² yang dulu difungsikan untuk aktivitas perbankan dan kantor perdagangan dengan fokus pada sektor perkebunan. Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda, J.J.J de Bruyn AP, sedangkan arsitek pelaksananya adalah Cornelis van der Linde dan A.P. Smith. Pada tanggal 3 Oktober 1929 gedung mulai dibangun oleh kontraktor NV Nedam dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 14 Januari 1933 sebagai gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia.

Bangunan bergaya Nieuw Zakelijk atau Art Deco ini masih asli seperti tahun 1930an, hanya dilakukan pengecatan ulang, sedangkan struktur bangunan masih aslinya. Setelah NHM dinasionalisasi, bangunan ini difungsikan sebagai Kantor Pusat BKTN hingga Bank Exim dan dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 serta bergabungnya empat bank berplat merah, Bank Ekspor Impor Indonesia ( BankExim), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya ( BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri pada tanggal 31 Juli 1999. Sejak saat itu bangunan dan kekayaan yang melekat menjadi milik Bank Mandiri. Bangunan itu berfungsi hingga tahun 1994 sebagai Kantor Pusat Bank Exim, setelah beberapa lama tidak digunakan dan dengan dilestarikannya kawasan “Kota Tua” gedung ini difungsikan sebagai museum perbankan, yaitu Museum Bank Mandiri (Intan Mardiana, 2006).

Lokasinya cukup strategis, dekat dengan pusat perdagangan di Jakarta, yaitu Pasar Pagi, Glodok, dan Mangga Dua. Sementara itu akses kendaraan umum mudah dijangkau dari segala arah, persis di depannya adalah stasiun Kereta Api “Beos” Jakarta-Kota dan pemberhentian terakhir Transjakarta. Setelah di buka untuk umum sebagai museum pada awal Januari 2005 dan berdasarkan surat keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta No. 237 tangal 19 Desember 2005 Gedung Museum Bank Mandiri mendapat penghargaan “Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya ”.

Koleksi merupakan bagian dari museum yang tidak terpisahkan. Adapaun persyaratan bagi sebuah koleksi museum antara lain benda asli, reproduksi atau miniatur yang mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayan yang mencerminkan proses perkembangan lahirnya Bank Mandiri, serta keberadaanya merupakan bukti pelaksanan fungsi dari kegiatan bank yang mewakili suatu fenomena atau kecenderungan tertentu dan dapat diidentifikasi asal – usul, gaya, periode waktu, geografis maupun fungsi kegunaannya sehinga dapat dijadikan suatu monumen sejarah atau diperkirakan menjadi monumen sejarah di masa depan. Selain itu harus memiliki keunikan dan merupakan benda yang memiliki keindahan (master piece).

Koleksi yang dimiliki Museum Bank Mandiri berasal dari dalam dan luar Bank Mandiri. Koleksi yang berasal dari Bank Mandiri di antaranya berasal dari kantor Pusat Bank Mandiri, Kantor Cabang, Wisma, Learning Center serta Arsip Bank Mandiri. Sementara itu koleksi dari luar berasal dari hibah pensiunan BBD, BDN, BankExim dan Bapindo. Selain koleksi hibah juga diperoleh melalui pertukaran dengan Historical Archies ABN AMRO dan KITLV di Belanda.

Koleksi Museum Bank Mandiri merupakan koleksi yang mempunyai nilai sejarah perbankan. Materi koleksi yang ada di Museum Bank Mandiri terdiri atas jenis perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku tabungan dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional Bank dan bahan pustaka. Koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, brandkast, safe deposito box dan anak kunci lemari maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi, dan saham. Di samping itu, ornamen bangunan, interior dan furniture asli dari gedung museum yang merupakan benda cagar budaya juga merupakan bagian dari koleksi museum. Berdasarkan koleksi yang berasal dari produk perbankan dari bank-bank sebelumnya yang merupakan bank umum, maka dapat simpulkan pertama, koleksi yang ada sangat dekat dengan masyarakat misalnya koleksi buku tabungan, kartu ATM, saham, cek, dan surat berharga lainnya, kedua koleksi yang hanya dimengerti oleh pegawai bank seperti peralatan perbankan (back office). Oleh karena itu informasi yang disampaikan harus komunikatif sehingga pengunjung awam dapat memahami pesan yang disampaikan oleh museum perbankan.

Adapun koleksi pendukung operasional lainnya adalah sarana promosi, komunikasi, ekspedisi, kesekretariatan, seragam pegawai dan perlengkapannya, peralatan teknologi informasi, komponen bangunan dari miniatur gedung kantor, serta perlengkapan security dan rumah tangga lainya. Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Bank Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai tahun 1826-1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB, dan BIN. Periode bank-bank bergabung tahun 1960–1998 masa BBD, BDN, BankExim, dan Bapindo, serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003 (Intan Mardiana, 2006). Jika dilihat asal koleksi yang berasal dari bank era kolonial, bank bergabung serta Bank Mandiri maka sebaiknya penyajian tata pamer mewakili semua konten bank. penyajian yang seimbang selain bertujuan untuk menampilkan fakta dan data, juga menghindari ketidakpuasan diantara bank tersebut. Ruang pamer dapat dibuat secara tematik berdasarkan era bank tersebut. Tujuan dari pemisahan ini adalah untuk mengetahui produk perbankan andalan dari masing-masing bank, baik masa NHM, NIHB,Escomptobank, BIN serta bank bergabung BankExim, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Indonesia serta Bank Mandiri. Untuk mendukung pameran dilengkapi fasilitas multimedia yang mana pengunjung generasi muda akan lebih muda untuk mencerna pesan yang ingin disampaikan museum.

Apabila pada tema pameran di atas pengunjung hanya membaca label, panel dan melihat koleksi yang dipamerkan atau menggunakan multimedia dalam bentuk film, maka Museum Bank Mandiri yang mengunakan bangunan sejak awal untuk kantor perbankan, maka fungsi museum dapat digunakan sesuai dengan jamannya. Museum Bank Mandiri dapat menerapkan konsep pendidikan kontruktivisme yang mana pengunjung bebas untuk belajar koleksi yang tersimpannya. Beberapa ruangan yang dapat dijadikan sebagai ruang interaktif dan sudah dilakukan untuk ruang rekontruksi saat ini diantaranya ruang Kluis, bankinghall dan ruang kerja direksi. Pada ruangan ini pengunjung dapat melakukan aktivitas perbankan sesuai dengan fungsi awal bangunan.


Amazing Race tantangan bagi pengunjung museum

Salah satu ruangan yang menjadi daya tarik pengunjung museum terdapat dilantai bawah yang mana pengunjung dapat masuk ke sebuah ruangan kluis atau khasanah. Secara umum kluis atau khasanah merupakan ruangan yang dibuat secara khusus difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan uang, surat berharga dan penitipan sementara yang lebih dikenal Save Deposit Box (SDB). Sehingga ruangan ini sesunguhnya sangat rahasia, itulah salah satu alasan orang mau menyimpan uang di dalam bank karena faktor keamanan. Ruang Kluis memiliki keistimewaan tersendiri karena bukan hanya tempat penyimpanan biasa, melainkan dilengkapi dengan pintu baja yang besar, kuat, kunci kombinasi, dan ditempatkan dalam suatu ruang khusus yang tidak mudah dilalui. Itulah sebabnya, ruang SDB menjadi salah daya tarik nasabah untuk menentukan pilihannya.

Bangunan Museum Bank Mandiri merupakan gedung yang sejak awal digunakan sebagai kantor pusat NHM di Batavia dengan sebutan de Factorij. Setelah digunakan sebagai museum sebagian ruangan dikondisikan seperti awal bangunan difungsikan. Oleh karena itu beberapa ruangan dimanfaatkan sebagai ruang pamer yang menyatu dengan fungsi ruangan pada saat itu, sehingga untuk menunjang teori kontruktivisme beberapa ruangan dapat dijadikan sebagai “Discovery room” atau Ruang Penemuan.

Ruang Kluis di lantai dasar Museum Bank Mandiri terbagi menjadi tiga ruangan yaitu ruang surat berharga (Effecten Kluis), ruang penyimpanan uang ( Kast Kluis), dan ruang Safe Deposit Box (SDB) dengan kapasitas 2000 loker yang disewakan kepada nasabah. SDB ini mempunyai dua kunci yang dipegang oleh pihak Bank dan nasabah/penyewa SDB, sehingga faktor pencurian dan pemalsuan barang-barang milik nasabah sulit dilakukan. Ruangan tersebut tertutup dengan sebuah pintu yang besar terbuat dari bahan baja dengan berat sekitar lima ton. Selain itu di sisi selatan ruangan khazanah terdapat fasilitas privateroom (kamar pribadi) sebanyak 12 kamar.

Sebagai ruang penemuan pada ruangan ini pengunjung pertama-tama dapat merasakan membuka pintu brankas dengan memutar sesuai dengan kode yang telah diberikan oleh petugas museum. Setelah itu pengunjung masuk ke ruang SDB untuk membuka kunci bersama-sama dengan petugas museum atau sesama pengunjung, sehingga ada pengalaman bagi pengunjung untuk membuka SDB. Kunci SDB dapat diminta kepada petugas loket dengan cara membeli ala kadarnya. Pada saat masuk ke dalam SDB pengunjung mencari nomor loker yang disamakan dengan nomor kuncinya yang diperolehnya. Untuk membuka SDB diperlukan dua kunci, sehingga dua pengunjung dapat merasakan membuka SDB. Loker SDB dapat di isi berupa pin, postcard dan lain-lain sebagai kenang-kenangan dari museum. Untuk mendapatkan kunci loker pengunjung dapat memperoleh dari petugas museum pada saat pengunjung baru masuk museum.

Sementara itu, pada ruang tempat penyimpanan uang (kas kluis) pengunjung dapat merasakan mengangkat dan mengangkut uang di dalam peti kayu yang dilakukan dua orang. uang tersebut dapat dibuat replica sesuai dengan jamannya. Ruang lainnya adalah penyimpanan surat-surat berharga (effecten kluis) seperti saham, bilyet giro, deposito dan lain-lain. Pada ruangan tersebut pengunjung dapat melakukan aktivitas memotong kupon deposito. Dengan kegiatan interaktif ini pengunjung dapat melakukan banyak hal di dalam ruangan tersebut.

Ruangan berikutnya yang ditata sesuai fungsi awal adalah ruang kerja direktur utama yang berada di lantai I Museum Bank Mandiri. Sejak era NHM hingga Bank Exim ruangan itu digunakan untuk ruang kerja direksi. Ruangan tersebut baru dibuka untuk umum, pada saat dijadikan sebagai museum 2005. Ruangan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai “Ruang Pembelajaran” pada periode 1933, sehingga koleksi yang ada di ruangan ini antara lain telepon model tahun 1930an, meja dan \ursi, tas dan alat tulis lainnya. Pada ruangan tersebut, pengunjung dapat melakukan aktivitas layaknya direksi NHM saat itu. Pengunjung yang masuk ke ruangan disediakan pakaian dengan model direksi tahun 1930an, sehingga dapat merasakan menjadi seorang direktur utama bank.

Bagi pengunjung anak-anak, memasuki ruangan ini dapat dijadikan sebagai motivasi untuk memiliki cita-cita sebagai bankir, karena paradigma masyarakat Indonesia masih sedikit anaknya yang bercita-cita menjadi seorang bankir, biasanya anak-anak cenderung ingin menjadi seorang dokter, insiyur, polisi dan lain-lain. selain itu bagi pengunjung dewasa kegiatan di dalam ruangan ini dapat diabadikan dalam bentuk foto, sehingga pengunjung memperoleh kenangan tersendiri

Ruang discovery lainnya untuk pembelajaran adalah banking hall termasuk ruang khusus transaksi bagi etnis Tionghoa. Pada masanya ruangan ini digunakan untuk transaksi antara nasabah dan petugas bank (teller). Pengunjung di dalam ruangan ini banyak hal yang dapat diperankan antara lain transaksi nasabah yang sedang menabung, peminjaman uang, pengiriman uang dan kegiatan lainnya. Sedangkan kegiatan back office misalnya pengunjung menghitung dengan mesin hitung, mengetik dengan mesin tik, dan mencatat dalam buku besar. Sehingga pengunjung dapat merasakan dan mengalami langsung kegiatan langsung perbankan di masa lalu.

Kegiatan rutin yang sudah diadakan adalah rekontruksi yang diperankan oleh pegawai Museum Bank Mandiri. Pada ruang transaksi khusus untuk etnis Tionghoa atau ruang Kasir China. Tetapi untuk mengajak peran pengunjung sebaiknya ia juga turut terlibat dalam peran rekontruksi aktivitas perbankan dengan setting perbankan itu, misalnya pengunjung dapat berperan menjadi petugas kas atau nasabah. Kaitan dengan peran tersebut pengunjung dapat menggunakan peralatan yang pernah digunakan pada era tersebut, seperti menghitung dengan sempoa, mengetik dengan mesin tik manual, mentandatangani surat berharga dan menghitung uang secara manual.

Sebagai museum yang menyajikan perkembangan perbankan unsur pakaian merupakan hal yang dapat ditampilkan di dalam museum. Pakaian sebagai bentuk dari image bank merupakan bagian dari sejarah identitas bank. Pakaian pegawai bank baik yang ada di kantor pusat, cabang dan kas mempunyai standar yang sama. Museum Bank Mandiri sebagai museum sejarah perbankan yang merupakan gabungan dari empat bank dapat menggunkan kembali model pakaian tersebut untuk digunakan oleh pegawainya. Misalnya untuk hari Selasa pegawai menggunakan seragam era kolonial, hari Rabu periode Bank Berjuang, hari Kamis seragam BBD, hari Jumat seragam dari BDN, hari Sabtu seragam Bank Exim, hari Minggu menggunakan seragam Bapindo. Model baju yag digunakan oleh pegawai museum tersebut dapat menjadi trend atau ikon bagi Museum Bank Mandiri. Hal ini juga mendorong pengunjung untuk datang kembali pada hari yang lain, dengan harapan dapat melihat seragam bank dari masa ke masa.

Sebagai museum perbankan pengunjung dapat diajarkan mengenai konsep perbankan umum, sehingga masyarakat akan semakin dekat dunia perbankan. Hal ini akan menguntungkan keduanya, masyarakat mendapat informasi yang sangat jelas mengenai system perbankan, sedangkan bagi bank tentu saja akan menambah kepercayaan masyakarat untuk menyimpan uangnya di bank tersebut.


Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat simpulkan, bahwa penyajian koleksi Museum Bank Mandiri dapat mengambil salah satu teori Hein dalam hal ini teori yang paling tepat adalah teori pendidikan konstrkutivisme yang mana pengunjung diberikan kebebasan untuk pembelajaran di dalam museum. Pengunjung dapat mengambil kesimpulan sendiri menurut latar belakangnya. Penyajian koleksi dikelompokan berdasarkan bank-bank pendahulu, bank berbagung dan Bank Mandiri yang bertujuan agar pengunjung dapat memahami pameran yang disajikan. Penyajian dan pemilihan koleksi berdasarkan keunggulan masing-masing bank akan memudahkan pengunjung memahami peran bank dimasa lalu, misalnya bank yang khusus melayani perdagangan, pertambangan, pertanian, kehutanan dan kegiatan ekspor impor. Selain kelebihan bangunan Museum Bank Mandiri sebagai warisan bangunan yang sejak awal digunakan untuk perkantoran perbankan sangat mendukung untuk dijadikan sebagai ruang penemuan (Discovery room). Adanya ruang penemuan membuat kesan museum tidak mati, dengan kata lain museum penuh dengan tulisan “ Don’t Touch” yang membuat pengunjung jauh dengan museumnya. Pada ruangan ini pengunjung dengan bebas mengeksplorasi kegiatan perbankan, sehingga tujuan pendidikan museum akan tercapai. Bagaimanapun juga pengalaman menyentuh langsung akan lebih terkenang, jika dibandingkan dengan informasi label.


Daftar Pustaka

Ambrose, Timothy dan Crispin Paine, Museum Basic, Routledge: London, 2006.

Amir Sutaarga, Pengantar Didaktik Museum. Jakarta : Ditjenbud Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Dirjen Kebudayaan Depdikbud. 1991/1992

Direktorat Museum, Pedoman Museum Indonesia. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata: Jakarta, 2008

———-, Monografi Museum Jawa & Bali, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata: Jakarta, 2008

Edy Dimyati, Panduan Sang Petualang 47 Museum Jakarta, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2001

Hein, George E. Learning in The Museum. National Science Foundation: New York, 1998.

Hein,George E dan Mary Alexander. Museums Places of Learning, AAM, Washington DC,1998

Helle Frederiksen, Augmenting the museum exper1ence Computation as a medium in Roskilde Museum, Master Thesis: Roskilde Universitetscenter, May 2005

Intan Mardiana (ed), Museum Bank Mandiri (Menapak Sejarah Menyongsong Masa Depan). Bank Mandiri Press: Jakarta, 2006.

Kotler,Neil & Philip Kotler, Museum Strategy and Marketing, Jossey Bass: San Franscisco,1998

Marstine, Janet (ed), New Museum Theory and Practice, Blackwel: Australia, 2006

Suci Wulandari, “Analisis fakto-faktor yang mempengaruhi Keinginginan Berkunjung ke Museum dan Implikasinya Terhadap Startegi Pemasaran Museum” Tesis Program Magister, FIB UI 2004


*Artikel dalam Museografi edisi Juli 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: