Kronik

Dalam rangka melaksanakan Program Pengembangan dan Pengelolaan Budaya tahun 2010, Direktorat Museum telah melaksanakan beberapa kegiatan dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalisme pengelola museum dalam penyimpanan, perawatan, pengamanan, pendokumentasian, dan penyajian benda cagar budaya melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. PERTEMUAN NASIONAL MUSEUM SE-INDONESIA DI HOTEL GRAND LEGI, MATARAM, NUSA TENGGARA


Kegiatan Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia di Hotel Grand Legi, Mataram, Nusa Tenggara Barat dilaksanakan 29 Maret–1 April 2010. Tema yang diambil “Revitalisasi Museum Indonesia Tahun 2010”. Kegiatan ini merupakan ajang untuk berdiskusi dan bertukar informasi bagi para pejabat pemerintah daerah, para kepala museum provinsi dan daerah, serta para pemerhati museum. Pertemuan tersebut dilaksanakan dengan pertimbangan pengelolaan museum di Indonesia secara umum masih menghadapi masalah di bidang organisasi, manajemen koleksi, pelayanan dan kebutuhan pengunjung museum, sistem pemantauan museum, program penelitian, pemasaran, dan hubungan masyarakat. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Hari Untoro Drajat pada 29 Maret 2010 malam yang diikuti pergelaran kesenian setempat.

Setelah makalah kunci oleh Hari Untoro Drajat, makalah kedua dipaparkan oleh Direktur Museum Intan Mardiana. Menurutnya, kebijakan daerah terhadap pengelolaan museum sangat bervariasi. Pada umumnya museum memiliki kendala berupa keterbatasan SDM, anggaran, kebijakan, dan belum mendapat dukungan nyata dari pemda

Makalah berikutnya disampaikan oleh Prof. Azyumardi Azra berjudul “Museum: Revitalisasi Wawasan Nusantara”. Menurutnya, mulai 1990-an persepsi bahwa museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda antik, kuno, bersejarah, dan arsip-arsip tentang masa silam, sudah berubah. Sejak saat itu mulai berkembang wacana tentang ‘museum sebagai agen perubahan sosial’ dan ‘peranan museum dalam membangun jatidiri nasional’, ‘warisan budaya dan museum membentuk jatidiri nasional’, dan beberapa tema senada. Selanjutnya adalah makalah bertema “Pencitraan Museum”, disampaikan oleh Triesna Wacik. Dikatakan bahwa museum adalah lembaga yang universal di dunia, bernaung di bawah ICOM (International Council of Museums). Museum menjadi pranata sosial, yaitu infrastruktur yang harus ada di suatu negara. Karena itu kini semua negara boleh dikatakan memiliki museum. Perkembangan museum pun sangat pesat dengan jenis museum yang sangat bervariasi. Ini karena semua benda bisa menjadi koleksi museum. Menurut Triesna, esensi museum adalah lembaga pelayanan publik.

Sesi berikutnya menampilkan dua pembicara, Faebuadodo Hia dan Naning Adiwoso. Dalam makalahnya “NSPK (Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria) tentang Permuseuman dalam Otonomi Daerah” Hia mengawali dengan tujuan otonomi daerah, yakni menjadikan pemda sebagai instrumen untuk menciptakan kesejahteraan. Sesi terakhir menampilkan Ade Garnandi, praktisi desain interior dan M. Ridwan AK, seorang business development. Menurut Ade, di Indonesia banyak museum yang membutuhkan revitalisasi dalam menghadapi kemajuan zaman. Banyak cara untuk membuat museum menarik, atraktif, dan menjadi sasaran pengunjung.

2. PENYUSUNAN BLUE PRINT DAN RENCANA AKSI DALAM RANGKA KEGIATAN REVITALISASI MUSEUM INDONESIA 2010-2014

Kegiatan Revitalisasi Museum pada tahun 2010 ini meliputi Museum Negeri Provinsi Jambi, Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat, Museum Negeri Provinsi Jawa Timur, dan Museum Negeri Provinsi NTB.

Buku ini merupakan bentuk arahan dan panduan untuk program Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam mewujudkan program prioritas 11 Kabinet Indonesia Bersatu II yang berkaitan dengan permuseuman di Indonesia.

Hingga saat ini museum belum memperlihatkan orientasi yang memberikan manfaat kepada para pemangku tanggung jawab (stake holder) lintas sektor dan lintas disiplin, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, maupun komunitas, termasuk para pengunjung yang bergerak di bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi, pemasaran, bahkan dalam pengelolaannya belum disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

Dengan adanya buku ini diharapkan museum-museum memiliki sebuah pedoman yang jelas akan gambaran permasalahan beserta pemecahan permasalahan permuseuman, yang meliputi aspek fisik, pengelolaan, komunikasi pemasaran, program kreatif, kebijakan dan pemangku tanggungjawab.

1. PENYUSUNAN BASIS DATA MUSEUM
Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum, Museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. BCB yang telah menjadi koleksi menyimpan informasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Oleh karena itu museum perlu memberikan informasi yang akurat baik berupa koleksi maupun informasi aktivitas museum melalui sistem informasi yang baik. Sistem informasi yang baik merupakan cara yang strategis untuk mengoleksi data dan informasi museum.

Hingga saat ini masih belum ada data informasi tentang koleksi dan aktivitas museum yang dikelola secara seragam dan akurat sehingga menyulitkan semua pihak yang berkepentingan, terutama apabila terjadi kehilangan koleksi.

Dalam rangka menciptakan keseragaman dan keterpaduan sistem informasi museum secara nasional, Direktorat Museum melakukan kegiatan penyusunan basis data museum dan koleksi di Indonesia. Kegiatan tersebut telah dilakukan pendataan di Museum Negeri Provinsi Jawa Timur, Mpu Tantular, pada 27 s.d. 30 April 2010. Pendataan meliputi koleksi yang berjumlah 14.884 buah, SDM sejumlah 56 orang, dan jumlah pengunjung dari tahun 2007 s.d. 2009 sebanyak 70.410 orang.

2. SEMINAR HARI MUSEUM INDONESIA


Seminar Hari Museum Indonesia dilaksanakan 22-23 Mei 2010 di Yogyakarta. Seminar ini diadakan untuk menetapkan hari museum Indonesia. Para pembicara dan tim perumus dalam seminar ini adalah (1) Prof. Dr. Edi Sedyawati, (2) Prof. Dr. Djoko Suryo, (3) Prof. Dr. Inajati A., (4) Drs. Nunus Supardi, (5) Drs. Luthfi Asiarto, (6) Dr. Daud Aris Tanudirjo, (7) Dr. Endang Srihadianti, (8) Dr. Agus Aris Munandar, dan (9) KRT Thomas Haryonagoro.

Dalam seminar ini dirumuskan bahwa perlu adanya hari museum Indonesia. Melalui pemungutan suara, para peserta memilih hari museum Indonesia jatuh pada 24 Desember setiap tahunnya. Pilihan ini berdasarkan terbentuknya Djawatan Kebudajaan “Urusan Museum” pada tanggal 24 Desember 1957.

3. SOSIALISASI GERAKAN NASIONAL CINTA MUSEUM DI JAKARTA


Dalam rangka mendukung kegiatan Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010 dan Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2014, Direktorat Museum didukung oleh Ibu Negara, bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Museum dengan mengusung tema “Ayo Ke Museum Bersama Ibu Negara”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 17 Juni 2010 dengan melibatkan 510 siswa dan 102 orang guru dari 102 sekolah di Propinsi DKI Jakarta dan Cikeas Bogor.

Pada kegiatan ini para siswa dibagi untuk mengunjungi 7 museum, yaitu:

Museum Nasional: 100 siswa
Museum Bank Indonesia:110 siswa
Museum POLRI:50 siswa
Museum Satria Mandala:100 siswa
Museum Indonesia:50 siswa
Museum Transportasi:50 siswa
PP IPTEK:50 siswa

Tujuan Kegiatan “Ayo Ke Museum Bersama Ibu Negara” adalah untuk menanamkan kecintaan siswa sekolah dan apresiasinya kepada museum, serta menyenangi nilai kesejarahan, IPTEK, dan karya budaya bangsa sejak dini. Dengan kegiatan ini diharapkan agar generasi muda sebagai penerus bangsa lebih mengenal dan peduli terhadap nilai luhur budaya kita, serta mencintai dan bangga terhadap Bangsa Indonesia yang multietnis dan multikultur. Selain itu juga untuk membangkitkan museum sebagai sahabat keluarga dalam hal pewarisan nilai-nilai budaya, norma, dan identitas Bangsa Indonesia. Semangat para keluarga Indonesia diperlukan untuk melestarikan nilai-nilai kebangsaan.

Penyelenggaraan kegiatan “Ayo Ke Museum Bersama Ibu Negara” merupakan momentum yang strategis dalam meningkatkan citra museum kita dan mengajak para siswa sekolah untuk senang berkunjung ke museum. Museum sebagai media pendidikan dan sumber ilmu pengetahuan akan terus dikembangkan dan dikelola dengan dinamis, agar dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dan generasi muda dalam berkarya di berbagai bidang dan aspek kehidupan.

Agenda dalam kegiatan “Ayo Ke Museum Bersama Ibu Negara” antara lain adalah:

a. Seluruh peserta berkumpul di Istana Merdeka
b. Arahan Ibu Negara kepada seluruh peserta di Istana Merdeka.

4. PELATIHAN KETERAMPILAN TENAGA MUSEM BIDANG PROGRAM MUSEUM UNTUK PUBLIK


Pelatihan Keterampilan Tenaga Museum Bidang Program Museum untuk Publik ini adalah salah satu upaya Direktorat Museum untuk mendukung revitalisasi museum di Indonesia. Selain itu, didasari oleh adanya kebutuhan bagi museum mengenai tenaga yang terdidik dan terlatih dalam bidang ilmu permuseuman. Hal ini juga didukung oleh perubahan paradigma pengelolaan museum yang semula berorientasi pada koleksi telah bergeser pada kebutuhan publik. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga profesional museum yang dapat merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program publik di museum. Program publik tersebut berupa berbagai aktivitas edukatif dan interpretatif yang dapat menunjang pameran museum.

Program publik tersebut mencerminkan visi, misi, dan tujuan museum yang relevan dengan koleksi, informasi, dan pengunjung museum yang dievaluasi secara periodik.

Berkaitan dengan revitalisasi museum, maka peserta Pelatihan Keterampilan Tenaga Museum Bidang Program Museum untuk Publik ini berasal dari 4 museum yang akan direvitalisasi tahun 2010 dan 9 museum yang akan direvitalisasi tahun 2011. Museum-museum tersebut adalah Museum UPT Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Museum-museum Negeri Provinsi di Indonesia dengan keseluruhan 30 orang peserta.

Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Keterampilan Tenaga Museum Bidang Program Museum untuk Publik ini dilaksanakan di Hotel Utami Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 12 Juli-22 Juli 2010. Kegiatan ini bertujuan untuk:

1. Memahami hubungan museum dan Pembangunan Karakter Bangsa;
2. Memahami revitalisasi museum Indonesia;
3. Mengetahui prinsip dasar pemasaran dan promosi di museum;
4. Mampu membuat perencanaan dan menyelenggarakan program museum untuk publik;
5. Mampu mengevaluasi dan memecahkan permasalahan program museum untuk publik.

Untuk mencapai tujuan tersebut pelatihan ini diselenggarakan dalam bentuk perkuliahan di kelas. Selain itu, peserta juga diberikan berbagai praktek di dalam kelas dan kunjungan lapangan. Peserta mengunjungi tiga museum, yaitu Museum Angkatan Laut, Museum Negeri Provinsi Jawa Timur, dan Pusat Informasi Majapahit. Adapun materi ajar dalam pelatihan ini adalah sebagai berikut:

1. Museum dan Pembangunan Karakter Bangsa 2 Jam
2. Revitalisasi Museum Indonesia 3 Jam
3. Museologi 4 Jam
4. Manajemen Museum 2 Jam
5. Pemasaran dan Promosi 4 Jam
6. Evaluasi Program dan Pengunjung 4 Jam
7. Praktek Evaluasi Program dan Pengunjung 10 Jam
8. Perencanaan Program untuk Publik 8 Jam
9. Praktek Perencanaan Program untuk Publik 63 Jam
Total Keseluruhan 100 Jam

Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah 30 tenaga museum yang yang mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program museum untuk publik.

5. SOSIALISASI GERAKAN NASIONAL CINTA MUSEUM
Sosialisasi Gerakan Nasional Cinta Museum di bulan Juli dilaksanakan di Medan dan Bandung. Kegiatan di Medan dilaksanakan pada 19-20 Juli 2010 di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Sementara kegiatan Sosialisasi Gerakan Nasional Cinta Museum di Bandung dilaksanakan di Museum Negeri Provinsi Jawa Barat “Sri Baduga” pada 26-27 Juli 2010. Kegiatan ini berupa pemilihan duta museum yang melibatkan siswa berprestasi atau aktif dalam kegiatan OSIS di sekolah masing-masing.

Tujuan dari pemilihan duta museum ini adalah untuk membangkitkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat pada umumnya dan anak sekolah pada khususnya terhadap warisan budaya dan nilai luhur budaya bangsa serta untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat terhadap pengembangan museum Indonesia. Dengan adanya program ini, diharapkan siswa yang menjalani pelatihan dapat menyebarkan informasi mengenai museum dan mengajak masyarakat di lingkungan mereka untuk mengunjungi museum.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah:
a. Arti dan makna penting museum
b. Pengelolaan museum, meliputi pengelolaan koleksi, preparasi,
bimbingan dan edukasi, dan publikasi museum
c. Manfaat museum, meliputi fungsi museum sebagai sarana rekreasi dan edukasi serta program pemerintah berkaitan dengan museum, yaitu Tahun Kunjung Museum, Gerakan Nasional Cinta Museum, dan Revitalisasi Museum
d. Pengetahuan museum setempat

Setelah mendapatkan materi pengajaran, para peserta yang dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing harus mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari. Kemudian mereka dikukuhkan oleh masing-masing kepala museum.

6. PENERBITAN MAJALAH/JURNAL
Pada Agustus ini telah dilaksanakan pencetakan Majalah Ilmu Permuseuman ‘Museografia’ Vol IV No. 5 – Juli 2010. Tujuan utama penerbitan Museografia ini adalah untuk menyumbangkan gagasan dan pemikiran demi pertumbuhan dan perkembangan ilmu permuseuman, pembinaan dan pengembangan permuseuman di Indonesia dan menciptakan suatu sarana komunikasi dan proses tukar pikiran berdasarkan penalaran dan pengalaman bagi kaum profesional, pengelola dan peminat permuseuman.

Majalah Museografia ini memuat berbagai tulisan yang terdiri dari: Dari Redaksi, Serpihan, Artikel, Laporan, serta Kronik Permuseuman 2010. Penulis dalam Museografia adalah:
1. Azyumardi Azra “Museum: Revitalisasi Wawasan Nusantara”;
2. Agus Aris Munandar “Museum dan Kebudayaan di Indonesia”;
3. Archangela Yudi Aprianingrum “ Museum Postmodern: Interpretatif, Komunikasif dan Kreatif”;
4. Undri “Museum dan Penanaman Nilai-nilai Kesejarahan”;
5. Siti Khoirnafiya “Masyarakat dan Museum: Peran Komunitas Museum dalam Gerakan Nasional Cinta Museum”;
6. Dian Sulistyowati “Strategi Edukasi Museum dan Pemasarannya di Museum Sejarah Jakarta”;
7. H. Abdul Rauf Suleiman “Museum Negeri Propinsi di Era Otonomi Daerah”;
8. Anne Putri Yusiani dan Ajeng Ayu Arainikasih “Museum Timor Timur TMII: Museum Etnografi, Monumen Peringatan atau Sejarah Kontroversial?”;
9. Roby Ardiwidjaja “Museum dan Teknologi Informasi: Strategi Pengembangan Sistem Informasi Museum”.

7. WORKSHOP PELAYANAN MUSEUM


Workshop ini dilaksanakan pada 27 September sampai dengan 2 Oktober 2010 di Hotel Pramesthi, Bogor. Pelaksanaan workshop ini merupakan sarana bagi staf museum untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilannya di bidang pelayanan museum.

Dalam penyelenggaraan Workshop Pelayanan Museum, telah dilaksanakan beberapa kali rapat persiapan. Rapat persiapan melibatkan seluruh panitia, dan pihak terkait guna perencanaan dan pembagian tugas. Topik bahasan pada rapat tersebut antara lain menentukan pengajar, peserta dari museum-museum provinsi dan museum-museum UPT Direktorat Museum, dan museum negeri yang akan direvitalisasi serta museum swasta, penyiapan bahan-bahan dari pengajar (meliputi makalah pengajar dan power point yang akan dipresentasikan), penyiapan evaluasi untuk peserta, serta rencana praktek kepemanduan di museum komplek TMII, yaitu Museum IPTEK, Museum Listrik dan Energi Baru, Museum Minyak dan Gas bumi “Graha Widya Patra”, dan Museum Indonesia.

Kegiatan penyiapan bahan-bahan workshop pelayanan museum terdiri dari kegiatan administratif maupun penyiapan bahan teknis sebagai sarana penyelenggaraan kegiatan. Registrasi peserta diselenggarakan pada 27 September 2010, pukul 16.00 WIB. Setelah registrasi pukul 17.00, ketua panitia memberikan pembekalan kepada peserta. Pembekalan tersebut berupa informasi penyelenggaraan pelatihan, mulai dari pembukaan, proses belajar mengajar di kelas dan praktek kepemanduan di lapangan, sampai dengan penutupan pelatihan.

Acara pembukaan Workshop Pelayanan Museum dilaksanakan di aula Hotel Pramesthi Cibogo Bogor. Acara pembukaan kegiatan ini dimulai pada 27 September 2010, pukul 19.00 WIB, dihadiri oleh Direktur Museum, Kepala Museum UPT Kemenbudpar, serta undangan lainnya. Acara pembukaan dimulai dengan pembacaan susunan acara oleh Ibu Purnamawati sebagai MC. Susunan acara pembukaan.

Laporan Panitia oleh Drs. Budihardja, M.M. Beliau menyampaikan Kegiatan Workshop Pelayanan Museum merupakan realisasi program tahun 2010 Direktorat Museum dalam upaya merevitalisasi museum Indonesia, khususnya pada bidang manajemen SDM. Semoga program ini dapat terus kita tingkatkan dan kembangkan pada tahun yang akan datang.

Sambutan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala disampaikan oleh Direktur Museum. Penyematan tanda peserta Workshop Pelayanan Museum tahun 2010 secara simbolis oleh Direktur Museum kepada perwakilan peserta dari Museum Negeri Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Munadi,S.Pdi. dan dari Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih, Drs. Sahidin. Acara ini diakhiri dengan pembacaan doa sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa dan memohon ridho-Nya agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik sampai akhir rangkaian kegiatan. Pembacaan doa oleh Bapak Nardi dari Museum Kebangkitan Nasional. Dalam paparan beliau secara garis besar menyatakan bahwa kondisi museum di Indonesia secara eksternal dan internal saat ini meliputi enam hal: 1) Organisasi museum, 2) Pengelolaan koleksi di museum, 3) Pengunjung museum, 4) Pengendalian museum, 5) Aktivitas penelitian di museum, dan 6) Hubungan masyarakat dan pemasaran.

Responses

  1. keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: