Oleh: museumku | 18 November 2016

Tata Pameran Museum yang Atraktif Berdasarkan Anthropometri dan Ergonomi

heru-01Heru Budi Kusuma, staf pengajar Universitas Tarumanagara sedang memberi ceramah tentang tata pameran museum 

Bagaimana jadinya jika untuk melihat sebuah koleksi saja pengunjung museum harus berdiri, lalu membungkuk, selanjutnya jongkok. Kalau hal tersebut dilakukan berulang-ulang tentu ada rasa ketidaknyamanan pengunjung. Bukan tidak mungkin akan terjadi cedera.

Begitu pula ketika pengunjung harus melihat koleksi dengan cara menengadah karena letak koleksi terlalu tinggi. Ada rasa pegal atau sakit di tengkuk. Bagaimana dengan letak koleksi yang terlalu rendah? Sama saja. Yang jelas banyak rasa tidak nyaman jika penataan koleksi tidak sesuai dengan standar.

Heru Budi Kusuma, pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tarumanagara, selama beberapa waktu melakukan kajian di Museum Nasional. Hasil kajiannya itu kemudian ia paparkan dalam kegiatan ceramah ilmiah “Tata Pameran yang Atraktif Ditinjau dari Anthropometri dan Ergonomi (Studi Kasus di Museum Nasional Indonesia)”, Kamis, 17 November 2016.

Menurut Heru, tata pameran koleksi museum harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh museum tanpa meninggalkan aspek-aspek keindahan yang tak dapat dilepaskan dari setiap pola dan metode presentasi. “Kekayaan koleksi museum menunjukkan kekayaan data dan informasi yang dimiliki museum tersebut. Selanjutnya kekayaan data dan informasi itu haruslah diimbangi dengan kemudahan bagi pengunjung guna mengakses atau mendapatkan informasi dan berinteraksi dengan koleksi tersebut dalam suatu tata pameran yang baik. Pengalaman yang menyenangkan selama pengunjung menikmati pameran di museum mempunyai nilai spontan terhadap peristiwa artistik dan estetik yang bernilai secara intrinsik. Untuk itu diperlukan kerangka desain yang mengolah elemen desain dan prinsip desain yang digunakan dalam tata pamerannya,” kata Heru.


Anthropometri dan Ergonomi

Tata pameran museum, menurut Heru, berkaitan erat dengan anthropometri dan ergonomi. Anthropometri adalah ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia guna merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu ataupun kelompok dan lain sebagainya. Sementara ergonomi adalah studi tentang berbagai permasalahan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Bisa dikatakan ilmu yang berusaha untuk mengadaptasi kerja atau kondisi-kondisi kerja agar sesuai dengan pekerjanya.

heru

Jarak pandang pada objek pameran (Dok. Budi HK)

“Ergonomi adalah hubungan fisiologi manusia dengan lingkungan fisik. Ergonomi menggunakan informasi yang dikembangkan oleh anthropometri, mempelajari mengenai bagaimana proses interaksi manusia dengan benda-benda fisik. Dengan mengetahui dan memahami bagaimana ergonomi, maka dapat dirancang fasilitas fisik yang memberikan kenyamanan di saat beraktivitas,” jelas Heru.

Dalam melakukan penelitian, Heru menggunakan sejumlah peralatan, antara lain meteran manual dan laser light meter. Selain itu diperhatikan tinggi badan dan tinggi mata pengunjung. Lalu pencahayaan lampu, termasuk penyinaran. Soalnya di tempat terang pupil mengecil dan di tempat gelas pupil membesar.

heru-03Slide pada kiri atas menunjukkan penataan yang ideal

Heru memberi contoh beberapa koleksi yang diamati. Prasasti, misalnya, dapat diamati dari jarak 120 cm. Selanjutnya uang kolonial cukup jelas pada jarak 35 cm. “Ini tidak sekadar melihat tapi mengamati detailnya agar terbaca,” jelas Heru. Dari sejumlah objek yang diteliti, ternyata hanya ada satu yang dianggap ideal, yakni Candi Borobudur yang terdapat pada vitrin.

Memang, karena pengunjung museum heterogen, artinya dari anak-anak hingga orang dewasa, maka penataan menjadi relatif sulit. Heru memberi simpulan bahwa Museum Nasional harus memperhatikan kebutuhan pengunjung potensialnya, yaitu anak-anak usia 6-17 tahun, dengan cara menyediakan area display untuk materi koleksi.***

Penulis: Djulianto Susantio


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: