Oleh: museumku | 8 Mei 2011

Relevansi Museum dalam Dunia Modern

Pembukaan dari silinder Cyrus di Museum Nasional Iran tahun lalu. (AFP/GETTY IMAGES)

epochtimes.co.id, Selasa, 3 Mei 2011 – Kebanyakan orang pasti menyukai menonton film-film box office di bioskop, maupun menonton pertunjukan-pertunjukan live music. Tetapi jika ditanya tentang museum, mereka pasti akan menjawab: tidak. Bagi anggapan kebanyakan orang, museum hanyalah sebuah bangunan dengan lantai berdebu, penuh dengan tumpukan barang-barang kuno peninggalan masa lalu.

Dan untuk menyiasati hal ini, kini museum-museum di luar negeri sudah mulai banyak melakukan inovasi untuk menarik lebih banyak pengunjung. Diantaranya melalui interaksi dengan menggunakan multi media, display digital, dan bahkan pertunjukan live.

Andrew Sayers, direktur Museum Nasional Australia, yang berbasis di Canberra, mengatakan bahwa museum harus mempertimbangkan kembali bagaimana agar dapat menarik minat publik, yang tentu saja harus relevan dengan kondisi masyarakat sekarang.


Identitas Nasional

“Bagaimanapun, untuk mengembangkan museum ini merupakan sebuah proses yang kompleks,” kata Andrew, mengutip saran Presiden Prancis, Nicholas Sarkozy bahwa sebuah museum baru sejarah Perancis, yang akan didirikan di gedung Arsip Nasional di Paris, akan “memperkuat identitas nasional”.

Sedangkan asumsi bahwa museum merupakan identitas nasional tidak dapat didasarkan pada satu identitas dominan suatu negara, Andrew mengatakan bahwa suatu kebudayaan tak dapat dipisahkan dengan batas-batas negara, hal itu dihubungkan oleh satu kesamaan.


Soft Power

“Dan kini tanggung jawab sebuah museum tidak hanya memperkenalkan benda-benda antik kepada masyarakat lokal, tetapi kini sudah semakin internasional,” tutur Andrew.

Berpidato di Lowy Institute Sydney, Mr. Sayers mengatakan bahwa museum juga dapat berperan sebagai “duta besar soft power”.

Pemerintah Inggris misalnya, memiliki strategi yang jelas mengenai masalah pertukaran budaya sebagai cara untuk melanjutkan hubungan dengan negara lain.

Andrew juga mengutip perkataan Sekretaris Negara Inggris Jeremy Hunt, melalui sebuah surat yang ditujukan ke Museum British. Jeremy Hunt menekankan bahwa amat penting bagi Museum British untuk mengadakan pertukaran budaya melalui Departemen Luar Negeri, dengan negara-negara yang terikat kerja sama dengan Kerajaan Inggris.

Dan Direktur Museum British segera menambahkan bahwa lembaga kebudayaan tidak harus dilihat sebagai corong bagi propaganda pemerintah.

“Yang menjadi poin penting adalah, bahwa lembaga budaya secara terbuka menyatakan bahwa mereka bersifat independen, dan hanya akan membahas masalah konten budaya,” ujar Andrew kepada penonton di Institut Lowy.

“Namun museum juga sangat menyadari peran penting mereka dalam menjembatani kesenjangan dan menciptakan sebuah inisiatif untuk menjalin relasi,” tambah Andrew, dengan mencontohkan Museum Inggris yang pada tahun ini meminjam sebuah tabung runcing dari zaman Babylonia kuno, yaitu Tabung Cyrus, dari Museum Nasional Iran.

Mr Sayers juga mengutip perkataan Karen Armstrong, wali dari British Museum, yang mengatakan: “Pertukaran budaya ini mungkin hanya memberikan kontribusi yang kecil, namun ini dapat menjadi sebuah langkah awal menuju terciptanya hubungan yang lebih baik antara negara Barat dan Iran”


Pengembalian Artefak

“Dalam dunia museum, bagaimanapun telah terjadi perdebatan mengenai kepemilikan artefak. Suatu artefak yang berada di museum suatu negara hendaknya menjadi milik negara tersebut ataukah menjadi milik bersama dunia internasional,” kata Andrew, mengacu pada perkara yang sedang dihadapi oleh pihak Museum British dalam menghadapi permintaan pemerintah Yunani yang menuntut pengembalian Elgin Marbles (pahatan dan patung marmer karya seniman besar Yunani: Phidias).

Karya seni marmer yang terkenal itu diambil dari kuil Parthenon dan bangunan lainnya di Akropolis, Athena pada awal 1800-an, oleh Duta Kerajaan Inggris untuk Kekaisaran Ottoman kala itu, Thomas Bruce, yang bergelar Earl Elgin VII.

Menurut Andrew, sesungguhnya pemulangan artefak budaya ke tempat asalnya juga merupakan salah satu bagian penting dari peran museum. Dia merujuk kepada Museum Nasional Australia, yang telah mengembalikan peninggalan suku Aborigin dan komunitas Torres Strait Islander.

“Ini adalah semacam pertukaran internasional 2 arah. Museum Nasional membantu dalam pemulangan benda budaya dari museum negara lain yang bersedia melakukan pengembalian (kebanyakan dilakukan secara diam-diam, tanpa publisitas),” jelas Mr. Sayers.

Sementara itu direktur museum perlu mencari cara agar museum dapat menjadi lebih bermanfaat dan dapat menarik lebih banyak pengunjung. Andrew mengatakan bahwa faktor penting terletak pada peningkatan relevansi museum terhadap dunia yang kian modern.

“Yang sering diabaikan oleh pengelola museum biasanya adalah unsur manusia, bahwa benda-benda artefak ini dipamerkan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Seringkali kita melihat koleksi museum yang diperhatikan adalah hanya menyusun sebuah obyek, tanpa memperhatikan kenyamanan dan kesenangan pemirsanya,” tambah Andrew. (Shar Adams / The Epoch Times / osc)

Iklan

Responses

  1. Permisi, saya buat tautan dari blog saya untuk tulisan ini.ya… Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori