Oleh: museumku | 12 November 2010

Surabaya Perlu Museum Representatif

* Banyak Peristiwa Sejarah yang Layak Diabadikan di Museum

KOMPAS Jawa Timur, Selasa, 9 Nov 2010 – Surabaya perlu memiliki museum lengkap dan representatif untuk menggambarkan sejarah kota ini. Sejauh ini, tujuh museum di Surabaya hanya berisi koleksi parsial yang bahkan belum lengkap untuk porsi masing-masing.

Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Aminuddin Kasdi mengatakan, belum ada museum yang merekam sejarah Surabaya. Padahal, Surabaya punya banyak peristiwa sejarah yang seharusnya diabadikan di museum. “Kota-kota dengan sejarah panjang di luar negeri punya museum masing-masing, seperti Leiden dan Amsterdam (Belanda). Surabaya sampai sekarang belum punya museum representatif,” tuturnya di Surabaya, Senin (8/11).

Padahal, ada banyak peristiwa besar di Surabaya seperti peristiwa 10 November 1945 yang kemudian menjadi Hari Pahlawan. Pengusiran pasukan Tar-tar oleh Raden Wijaya. Surabaya juga punya beberapa pahlawan lokal seperti Sawunggaling, Cak Durasim, dan Pangeran Pekik yang selayaknya diabadikan kiprahnya di museum.

Peristiwa dan pahlawan lokal itu belum punya museum yang layak. Museum 10 November di kompleks Tugu Pahlawan sekalipun belum benar-benar lengkap merekam pahlawan di Surabaya. “Museum itu (museum 10 November) belum lengkap merekam peristiwa 10 November,” tuturnya.

Karena itu, Surabaya perlu membuat museum yang representatif. Kekurangan anggaran tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak segera membangun. Selama ini yang terjadi sebenarnya lebih karena tidak ada prioritas untuk membangun museum representatif.


Atraksi museum

Sementara Ketua Dewan Pariwisata Indonesia, Yusak Anshori (bukan Yusak Sutanto seperti tertulis sebelumnya) mengatakan, museum tidak hanya memamerkan koleksi. Museum perlu membuat kegiatan bersifat tematik yang disesuaikan dengan peristiwa pada waktu-waktu tertentu.

Atraksi-atraksi itu akan membuat wisatawan tertarik terus berkunjung. Kunjungan terus menerus akan menguntungkan Surabaya karena ada potensipendapatan baru dari belanja wisatawan. “Kalau hanya memamerkan itu-itu saja, pengunjung akan bosan,” tuturnya.

Atraksi atau kegiatan itu tidak harus berbiaya mahal. Lebih penting membuat konsep acara menarik dan rutin. Setelah siap, kegiatan itu dipromosikan secara luas agar wisatawan tahu. “Saya pikir bisa saja dibuat seperti itu. Bisa dimulai dengan memanfaatkan museum yang sudah ada,” ujar General Manager Surabaya Plaza Hotel ini.

Sementara Wakil Ketua Surabaya Heritage Freddy H Istanto mengatakan, keberadaan museum saat ini perlu dimaksimalkan. Dari tujuh museum di Surabaya, belum tentu dikenal publik. “Sambil menunggu museum representatif terbangun, museum sekarang diperkenalkan lagi lebih luas,” ujarnya.

Pemerintah bisa merangsang kunjungan-kunjungan ke museum pada waktu-waktu tertentu. Peringatan Hari Pahlawan pada November seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kunjungan itu. “Kunjungan ke museum akan membantu masyarakat membangun keterikatan dengan masa lalu,” ujarnya.

Kunjungan juga akan membantu masyarakat memahami perkembangan suatu kota dan masyarakatnya. Namun, hal itu sulit terwujud jika tidak ada museum representatif. “Untuk kota setua Surabaya, layak punya museum representatif,” tuturnya. (RAZ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: