Oleh: museumku | 16 Desember 2010

Melihat Kabah di Museum

Oleh: Rajab Ritonga

oase.kompas.com, Selasa, 9 November 2010 – Pada musim haji 1431 Hijriyah yang saat ini sedang berlangsung, sekitar dua juta umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di kota suci Mekkah guna memenuhi panggilan Allah, Wukuf di Padang Arafah pada 9 Zulhijah.

Sambil menunggu masa itu tiba mereka beribadah di Masjidil Haram Mekkah ataupun di Masjid Nabawi Madinah.

Di Masjidil Haram, saat melakukan tawaf, jamaah calon haji selalu berupaya untuk bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad, memegang pintu Kakbah, shalat di Hijir Ismail, ataupun menyentuh “maqam” Ibrahim (tempat tanda telapak kaki Nabi Ibrahim AS).

Adakalanya jamaah berdoa sambil menangis tersedu, bahkan histeris, membuat askar yang bertugas menghalau mereka sambil berujar: “haram, haram” karena menyangka jamaah menyembah benda-benda tersebut.

Begitu juga di dalam Masjid Nabawi Madinah, jamaah berebutan untuk melaksanakan shalat sunnah di Raudah (Taman Surga) yang berada di sebelah kiri makam Nabi Muhammad SAW. Ada yang menangis meraung-raung berlama-lama saat memegang pintu makam Nabi, sampai dihalau askar berseragam loreng yang menjaga makam itu.

Kecuali Hajar Aswad, batu hitam yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril, dan Hijir Ismail, maka benda-benda lainnya yang ada di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi adalah buatan manusia. Bahkan beberapa dari benda-benda itu telah diganti karena sudah usang dimakan usia. Benda-benda yang sudah “afkir” tersebut kini disimpan di Museum Kakbah di Ummul Joud, pinggiran kota Mekkah.

Di Museum itu, pengunjung bisa menyaksikan, menyentuh, dan mencium (kalau mau) benda-benda tersebut sepuasnya.

Bedanya, di museum itu tidak ada jutaan umat yang menangis tersedu-sedu, atau histeris saat memegang pintu bekas Kakbah, pintu bekas makam Nabi Muhammad SAW, maqam (tempat berpijak atau telapak kaki) Nabi Ibrahim AS yang bentuknya seperti “sangkar burung” itu ataupun memegang Kiswah (kelambu hitam) bekas penutup bangunan Kakbah.

Juga tidak ketinggalan di sana ada pintu bekas Masjidil Haram, maupun pintu eks Masjid Nabawi.

Bukan hanya itu saja. Di sana juga tersimpan satu dari tiga bekas tiang penyangga di dalam Kakbah yang tingginya sekitar 14 meter. Juga ada tangga Kakbah dari kayu yang usianya lebih dari 400 tahun.

Dulu rupanya Kakbah menggunakan tangga bila mau masuk ke dalamnya. Begitu juga pancuran air dari emas Kakbah (Mizab Rahman) juga dapat disaksikan di museum.

Suasana di dalam Kakbah juga bisa diperoleh dengan mengunjungi museum. Di sana tersimpan kain pelapis dinding Kakbah yang pernah digunakan, baik saat berwarna merah maupun hijau yang saat ini digunakan. Pelindung Hajar Aswad, berupa lempengan perak berbentuk oval, dan pelindung cetakan kaki Nabi Ibrahim yang ada di Maqam Ibrahim juga bisa disaksikan di museum.


Membuat Kiswah

Di sebelah kanan museum ada pabrik tekstil milik kerajaan Arab Saudi, tempat kiswah, atau kelambu warna hitam yang menutupi Kakbah diproduksi.

Pabrik itu membuat kiswah sejak berbentuk benang sutera, ditenun jadi kain sutera, diproses hingga menjadi kain berwarna hitam, dan setelah itu disulam berhiaskan kaligrafi indah ayat-ayat kitab suci Al Quran.

Pekerjaannya dilakukan dengan kombinasi mesin modern dan tradisional. Alat tradisional digunakan untuk memintal benang sutra menjadi kain.

Begitu juga Kaligrafi dibuat melalui tangan-tangan terampil yang menyulam satu demi satu ayat-ayat kitab suci Al Quran secara manual menggunakan jarum tangan. Mesin modern baru bekerja ketika menyatukan bagian demi bagian yang dihasilkan para penyulam.

Setiap tanggal 9 Zulhijah, saat Kakbah sepi karena semua umat berada di padang Arafah, sebuah kiswah yang baru dipasang menggantikan kiswah tahun sebelummya.

Bicara soal kiswah yang menjadi “baju” Kakbah tentu sangat menarik. Kiswah pertama di zaman jahiliah dibuat oleh Raja Abu Karab Asaad Al Hamiri, sampai kemudian datangnya Islam, dan Nabi Muhammad SAW mengambil alih pembuatan kiswah. Selanjutnya diteruskan Khafilah Al Rashidin, dan penggantinya sampai ke sekarang.

Waktu Raja Al Malik Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud berkuasa, ia membangun pabrik kiswah tahun 1346 Hijriyah, dan kembali membuat pabrik modern di Ummul Joud pada 7 Rabiul Akhir 1397 Hijriyah.

Sebuah kiswah menghabiskan biaya sampai Rp42 miliar, dengan sutra yang diperlukan 670 kilogram. Tinggi kiswah mencapai sekitar 14 meter, dengan lebar antara dua rukun 10,18 meter, di sisi Multazam selebar 12,50 meter, sisi Hajar Aswad 10,50 meter.


Beberapa keterangan tentang Kiswah:

Tinggi Kiswah 14 meter
Berat sutera yang digunakan 670 kg
Lebar kiswah dari pintu 11,67 m
Antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani 10,18 m
Hijir Ismail 9,90 m
Antara Rukun Yamani dan Rukun Syami 12,04 m
Luas atap Kiswah 658 meter persegi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori