Oleh: museumku | 8 Maret 2017

Arti Penting Museum Daerah Sebagai Cerminan Identitas Budaya Lokal

Kretek-02Museum Kretek di Kudus (Foto: Djulianto Susantio)

Indonesia merupakan negeri dengan “seribu satu” macam budaya. Masing-masing memiliki ciri khas dan berbeda dengan lainnya.  Keberagaman budaya ini tidak diimbangi dengan kesadaran dalam diri masyarakatnya. Utamanya tentang arti penting sebuah budaya sebagai jati diri masyarakat yang dapat membuat mereka menjadi berbeda satu dengan yang lain. Derasnya arus globalisasi yang masuk ke Indonesia, turut membawa budaya-budaya asing. Hal ini tentu saja  semakin mempermudah proses melupakan jati diri lokal dalam diri masyarakat Indonesia, utamanya para generasi muda.

Berawal dari tertarik kemudian jatuh cinta kepada budaya asing. Sebagian besar kaum muda menjadi enggan untuk melestarikan budayanya sendiri dengan berbagai alasan yang menurut mereka adalah benar. Salah satu alasan yang kerap kali dilontarkan oleh anak muda yang terkena virus cinta budaya bangsa lain adalah budaya bangsa ini sudah ketinggalan zaman. Ada lagi budaya bangsa ini tidak keren. Fenomena ini kemudian dibarengi dengan kurang dan tidak sadarnya masyarakat sekitar, seperti keluarga, guru, dan teman, bahwa tanpa upaya melestarikan budaya bangsanya sendiri, bangsa yang kaya ini akan hilang satu demi satu.

Masalah terbesar yang memerlukan jalan keluar pada masa sekarang ini adalah bagaimana caranya membuat kaum muda, yang kelak akan menjadi penerus bangsa Indonesia, menjadi tertarik untuk mempelajari sekaligus memakai budaya bangsanya sendiri. Tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah atau masyarakat. Hal ini merupakan tanggung jawab dari semua pihak.

Masyarakat sebagai pelaku, sekaligus pengontrol harus mampu menjadi jembatan antara kaum muda dengan budaya yang mereka anggap telah tua. Masyarakat di sini bisa diartikan sebagai orang tua, sesepuh, tokoh masyarakat, hingga komunitas-komunitas pelestari budaya yang tersebar di daerah-daerah. Pemerintah sendiri bukannya tidak perlu melakukan kontrol. Peranan pemerintah untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri di dalam hati kaum muda jauh lebih kompleks. Hal ini karena pemerintah diharapkan mampu mengontrol arus informasi yang masuk ke dalam dunia bangsa Indonesia melalui siaran televisi maupun internet. Selain itu, pemerintah wajib memberikan dukungan serta fasilitas kepada setiap kegiatan masyarakat yang bertujuan melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya Bangsa Indonesia umumnya, dan budaya lokal daerah masing-masing khususnya.

Pemerintah melalui dinas-dinas terkait dengan sejarah dan kebudayaan telah memberikan kesempatan bagi banyak golongan, individu maupun kelompok untuk menunjukkan, khususnya kepada kalangan muda, bahwa budaya di Indonesia juga tidak kalah menarik dengan budaya bangsa luar. Selain mengadakan kegiatan-kegiatan seperti menonton wayang kulit bersama, turut serta mendanai kirab budaya, melakukan penyelamatan-penyelamatan terhadap benda-benda bersejarah, hingga merekonstruksi ulang budaya-budaya yang hampir dan telah hilang, pemerintah juga telah memberikan ruang yang cukup bagi kalangan muda untuk mempelajari sejarah dan budaya daerahnya masing-masing melalui pendirian museum tingkat kabupaten atau museum daerah. Sangat disayangkan sekali, pendirian museum daerah di Indonesia masih belum merata. Padahal, arti dan peranan dari keberadaan museum daerah itu sendiri sangatlah penting. Bukan hanya sebagai sarana belajar sejarah dan budaya daerah, tetapi juga sebagai ikon atau simbol dari kepedulian dan kemajuan berfikir pemerintah kabupaten terhadap sejarah dan budaya daerahnya.


Peranan Museum

Sejarah permuseuman di Indonesia sendiri cukup panjang. Bermula dari berdirinya Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Lembaga ilmu pengetahuan tersebut kemudian berganti nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1959-1962. Selanjutnya pada 28 Mei 1962 pengelolaannya berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan disebut Museum Pusat. Setelah itu berubah menjadi Museum Nasional.

MuseumBPK-5Museum Badan Pemeriksa Keuangan di Magelang (Foto: Djulianto Susantio)

Pada 1966 Lembaga Museum-Museum Nasional berubah nama menjadi Direktorat Museum dalam lingkungan Direktorat Jendral Kebudayaan. Tahun 1971, Direktorat Museum mengelompokkan museum dalam tiga kelompok menurut jenis koleksinya, yaitu Museum Umum, Museum Khusus, dan Museum Pendidikan. Pada 1980 pengelompokkan tersebut diubah menjadi Museum Umum dan Museum Khusus saja. Berdasarkan tingkat kedudukan, Direktorat Permuseuman mengelompokkan Museum Umum dan Museum Khusus menjadi Museum Tingkat Nasional, Museum Tingkat Regional, dan Museum Tingkat Lokal.

Museum sendiri, menurut ICOM (International Council of Museums) adalah sebuah lembaga permanen yang terbuka untuk umum, tidak mencari keuntungan, dalam perkembangannya mengumpulkan, mencatat, merawat, meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan serta menerbitkan benda–benda hasil pembuktian manusia dan lingkungannya untuk kepentingan studi, pendidikan dan rekreasi. Sedangkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 menjelaskan bahwa Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. J. Mattitaputty dalam Jurnal Kapata Arkeologi edisi khusus menjelaskan bahwa museum memiliki  tiga peran utama, yaitu sebagai pusat pewarisan nilai-nilai budaya, sebagai pusat penelitian, dan sebagai media pembelajaran, termasuk di dalamnya tentang nilai perjuangan dan kejuangan bangsa.

Museum sebagai pusat pewarisan nilai-nilai budaya, dapat diartikan melalui museum kita bisa mendapatkan informasi mengenai perjalanan budaya Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Suwati Kartiwa dalam Museografia (2009: 10), Koleksi Museum Nasional menginformasikan tentang perjalanan sejarah budaya bangsa Indonesia dari masa prasejarah, masa klasik dari abad empat sampai abad ke-15, kemudian sekitar abad ke-16 masuknya pengaruh agama Islam, dan masa pemerintahan Hindia Belanda sekitar abad ke-17 sampai saat ini. Selain itu, melalui koleksi Museum Nasional, kita dapat melihat berbagai hasil karya dari berbagai etnik yang dapat mewakili 525 etnik dari Sabang sampai Merauke. Melalui museum, kita memperoleh pengetahuan tentang identitas budaya bangsa yang dikenal melalui karya-karya budaya yang tidak saja secara visual dapat dilihat dan dinikmati tetapi juga isi pesan nilai-nilai budaya yang menjadi latar belakang dari karya tersebut (Museografia, 2009: 10).

Museum sebagai pusat penelitian, berarti keberadaan museum bukan hanya tempat dimana benda-benda yang memiliki nilai penting dalam sebuah budaya disimpan dan dirawat. Tetapi museum juga sebagai tempat para akademisi melakukan kajian-kajian dan penelitian-penelitian guna mempelajari perkembangan budaya suatu bangsa, kelompok, atau masyarakat. Seorang peneliti ketika hendak melakukan kajian terhadap budaya suatu masyarakat di wilayah tertentu akan menjadikan museum sebagai tempat yang wajib dikunjungi, karena benda-benda yang disimpan di museum adalah suatu bukti konkret dari budaya suatu masyarakat. Dengan peranannya sebagai pusat penelitian, museum juga memiliki kewajiban untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian tentang benda-benda peninggalan budaya masyarakat yang tersimpan di dalamnya, sehingga peran museum yang juga sebagai media pembelajaran terpenuhi.

Museum sebagai media pembelajaran, berarti museum harus dapat dijadikan sarana untuk memahami budaya dan sejarah suatu masyarakat, kelompok, atau bangsa oleh segala golongan. Sebagaimana pengertian museum menurut ICOM yang terbuka untuk umum, sebuah museum, baik milik pribadi maupun golongan, milik pemerintah ataupun swasta, haruslah terbuka untuk umum sehingga semua pengetahuan yang ada di dalamnya bisa diakses oleh seluruh masyarakat dari semua golongan tanpa pengecualian. Museum sebagai media pembelajaran juga diartikan bahwa museum memiliki peranan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mempelajari sejarah bangsa yang dalam hal ini adalah Bangsa Indonesia. Dalam dunia pendidikan, terdapat sebuah teori belajar yang mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap suatu materi, diperlukan adanya keterkaitan antara materi yang disampaikan dengan apa yang dapat dilihat peserta didik di lingkungannya secara nyata. Hal ini berarti, seorang peserta didik mampu lebih memahami sejarah dan budaya bangsanya, diperlukan sebuah bukti nyata. Hal-hal tersebut biasanya disimpan dalam museum. Contohnya, untuk membuat peserta didik lebih memahami bahwa Indonesia adalah sebuah negara maritim, maka peserta didik perlu diajak berkunjung ke museum yang berkaitan dengan kemaritiman. Dengan demikian mereka memahami apa itu yang dimaksud dengan maritim, sekaligus memahami kebesaran Indonesia di bidang maritim secara langsung.


Museum Daerah dan Arti Pentingnya

Museum Daerah, berarti lokasi atau keberadaan museum ini berada di tingkat lokal atau kabupaten/kota/madya. Museum Daerah yang statusnya sebagai museum lokal milik pemerintah kabupaten, pengelolaannya berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten setempat. Berbeda dengan Museum Nasional, museum daerah lebih mengkhususkan diri untuk mengumpulkan, mencatat, merawat, meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan serta menerbitkan benda–benda material hasil budaya masyarakat daerah tersebut guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya daerah masing-masing.

Perkembangan museum daerah di Indonesia cukup bagus, meskipun masih memerlukan peningkatan-peningkatan agar Bangsa Indonesia bisa benar-benar menjadi bangsa yang mengenal dan menghargai sejarah pendahulunya. Hal ini karena keberadaan museum daerah di Indonesia masih belum merata. Banyak kabupaten di Indonesia masih belum memiliki museum daerah, padahal peninggalan-peninggalan budaya dan sejarah di kabupaten tersebut sangat banyak. Sebut saja Kabupaten Jember dan Kabupaten Lamongan. Kabupaten Jember dengan peninggalan budaya Megalitikum yang begitu kaya dan Kabupaten Lamongan dengan peninggalan masa klasik yang begitu besar, hingga detik ini masih belum memiliki museum daerah.

Museum daerah, meskipun sering kali dipandang tidak lebih penting dari Museum Nasional atau museum provinsi, pada kenyataannya memiliki arti yang jauh lebih besar nilainya dibanding Museum Nasional dan provinsi. Untuk mengenal budaya dan sejarah Bangsa Indonesia secara keseluruhan, kita dapat melihatnya dengan mengunjungi Museum Nasional. Untuk dapat melihat kebudayaan masyarakat di suatu provinsi, kita bisa datang ke museum tingkat provinsi yang di dalamnya berisi benda-benda peninggalan sejarah dan budaya dari beberapa kabupaten. Akan tetapi, untuk mempelajari suatu masyarakat dalam lingkup kota atau kabupaten, kita harus datang ke museum daerah. Dibandingkan dengan Museum Nasional atau museum provinsi, di museum daerah kita akan mengenal karakteristik suatu kelompok masyarakat dengan lebih rinci. Sebagaimana fungsi museum sebagai pusat penelitian, museum daerah berperan penting dalam kajian-kajian yang berkaitan dengan kajian antropologi, kajian etnografi, studi kesejarahan dan arkeologi untuk wilayah tertentu, hingga untuk mempelajari perkembangan budaya masyarakat dalam lingkup wilayah penelitian yang lebih sempit.

Selain itu, museum daerah juga memegang peranan penting dalam menunjang media pembelajaran, utamanya bagi siswa-siswa mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Mereka—para  pelajar itu—adalah  bibit-bibit emas yang sejak dini harus dipupuk dengan rasa cinta terhadap budaya dan sejarah pendahulunya. Ada banyak kasus dimana anak-anak muda yang tertarik untuk mempelajari sejarah dan budaya daerahnya mengalami kesulitan untuk melihat bentuk bendanya secara langsung karena disimpan di Museum Nasional atau provinsi. Seperti yang terjadi di Kabupaten Lumajang, prasasti yang berasal dari daerah Pasru Jambe, Lumajang, sebanyak 19 buah disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. Pihak pemerintah Kabupaten Lumajang sendiri hanya menyimpan satu buah. Akibatnya, banyak anak muda tidak dapat benar-benar mengetahui bagaimana bentuk prasasti yang asli berasal dari tanah kelahiran sendiri. Dengan adanya museum daerah, benda-benda bersejarah dari lingkup kabupaten bisa disimpan dan dapat dipelajari secara langsung tanpa adanya halangan yang berarti.

Dari semua hal di atas, hal terpenting dari keberadaan museum daerah adalah lewat benda-benda peninggalan sejarah dan budaya, yang ditemukan di atas tanah yang sama dengan tanah tempat mereka hidup saat ini, para guru, orang tua, dan masyarakat bisa mempelajari makna atau arti dari sebuah kebhinekaan. Bhineka Tunggal Ika, Berbeda Tetapi Tetap Satu. Artinya, sebelum mereka—individu-  individu masyarakat itu—berkata  tentang menjadi satu Indonesia, mereka haruslah mampu menunjukkan ke-bhineka-an nya dulu. Karena kata satu atau Ika tersusun dari bhineka (berbeda) bukan eka (satu). Di sinilah eksistensi museum daerah, sebagai pusat pewarisan nilai-nilai budaya, sebagai pusat penelitian, sebagai media pembelajaran, bisa terpenuhi dengan nilai baik bahkan lebih dari sekadar baik.

Dengan mengetahui dan mempelajari benda-benda peninggalan dari lingkup lokal terlebih dahulu, akan memunculkan pengertian dalam diri masyarakat bahwa sejarah dan budaya kabupaten mereka adalah bagian dari sejarah dan budaya Indonesia. Museum daerah akan menjadi fasilitator antara masyarakat dengan budaya dan sejarah melalui koleksi-koleksi yang dipamerkan. Sebagaimana yang dituliskan oleh Siti Khoirnafiya, dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Peranan Museum Bagi Masyarakat Masa Kini”, museum diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antardaerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa. Museum membantu mengintegrasikan perubahan dalam masyarakat dan menciptakan keseimbangan dalam peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan terus melestarikan kepribadian suatu bangsa melalui nilai-nilai dan pola-pola budaya yang terkandung di dalamnya. Di sinilah museum dapat berperan dalam membantu generasi muda dalam membentuk benteng dan filter berupa patriotisme dan nasionalisme  guna menghadapi globalisasi yang menjadikan dunia semakin tanpa batas.

Dengan fungsi dan perannya yang sangat penting, adalah hal yang sangat menarik untuk dipertanyakan, kenapa masih banyak kabupaten/kota di Indonesia yang belum memiliki museum daerah? Dengan sejarah dan budaya yang besar, mengapa pemerintah Indonesia, baik di tingkat pusat, provinsi, atau kabupaten, tampak masih kurang mempedulikan perlindungan dan pelestarian terhadap sejarah dan budaya bangsanya sendiri? Mengutip dari apa yang pernah dikatakan oleh teman sekaligus guru saya, pemerintah kurang mempedulikan aspek budaya dan sejarah karena dianggap kurang menghasilkan. Apakah kalangan atas negeri ini memang benar demikian adanya? Sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban.***

Penulis: Wulan Agustri Ayu
Mahasiswa S-1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori