Oleh: museumku | 25 April 2014

Museum Jadi Zona Budaya (Galeri Nasional Juga Dirombak)

Ultah-02Mantan Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati sedang memaparkan makalah “Museum Nasional: Tinjauan Konten dan Konteksnya”

JAKARTA, KOMPAS — Museum Nasional membutuhkan sentuhan kekinian agar mampu merangkul generasi masa kini. Lebih jauh lagi, Museum Nasional harus menjadi zona persentuhan budaya bagi masyarakat. Untuk itu, Museum Nasional perlu dirombak dan diperbarui.

Hal itu meliputi perombakan bangunan, penataan koleksi, sumber daya manusia, manajemen, hingga program. Untuk perombakan fisik, pemerintah tahun ini menganggarkan dana Rp 50 miliar.

”Kami membangun gedung baru tujuh lantai di bagian belakang. Saat ini sudah mulai dikerjakan. Pemasangan pancang sudah dimulai,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan, di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (24/4). Museum Nasional pada 24 April 2014 berumur 236 tahun.

Gedung itu nanti selain untuk pemajangan koleksi, kata Kacung, juga dilengkapi panggung teater. Di tengah-tengah ada area publik, toko buku, dan kedai kopi juga. Koleksinya bisa saja lama, tetapi ada sentuhan baru. Jadi, orang-orang yang datang tidak hanya melihat-lihat, tetapi juga kongko dan berdiskusi. ”Itulah yang saya maksud dengan contact zone atau zona persentuhan budaya di museum,” ujarnya.

Selain merombak museum, Kacung juga merombak Galeri Nasional sebagai museum seni. ”Kami mau mengembangkan dua museum besar, museum umum, dan museum seni. Saat ini infrastruktur masih belum cukup bagus, penataan koleksinya juga,” kata Kacung.

Galeri Nasional juga akan dirombak lebih bagus dan tertata lagi. Konsepnya sama dengan Museum Nasional. Perombakan Museum Nasional direncanakan selesai pada akhir 2016 dengan dana total ratusan miliar rupiah.

Kacung juga bermimpi untuk membangun semacam jalan kebudayaan di bawah tanah yang menghubungkan Museum Nasional, Monumen Nasional, dan Galeri Nasional. ”Ini mimpi saya, ya. Memang mimpi karena dananya pasti sangat besar dan dukungan masyarakat juga harus besar. Untuk museum, saya bilang sebagai proyek mercusuar kita. Saya enggak mau yang ecek-ecek,” papar Kacung.


Konservasi

Museum juga membutuhkan sarana konservasi koleksi. Konservasi ini bukan hanya sekadar memelihara, melainkan juga meneliti lebih dalam.

”Koleksinya kan ada yang dari batu, kayu, tekstil, keramik, yang butuh konservasi. Kita bisa menggali lebih dalam informasi teknologi yang ada di balik benda-benda koleksi ini. Kita bisa mengintervensi dengan ’merusak’ benda untuk mengetahui struktur benda,” kata Guru Besar Arkeologi dari Universitas Indonesia Edi Sedyawati.

Edi mencontohkan konservasi lukisan di sebuah museum di Perancis. ”Kita jadi tahu berapa lapis cat yang dipakai pelukis, mulai dengan cat warna apa,” katanya. Hal yang sama bisa dilakukan pada kain tenun, misalnya. (IVV)

(Sumber: Kompas, Jumat, 25 April 2014)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: