Oleh: museumku | 5 November 2010

Pameran Museum : Mereka Berharap Museum Selalu Dekat

KOMPAS Jawa Barat, Selasa, 2 Nov 2010 – Pandangan Euis Aisah langsung tertuju pada sebuah kotak kaca. Tiga ruang pamer dan beberapa kotak kaca telah dia lewati dan amati, tetapi empat benda di dalam kotak itu benar-benar memikat perhatiannya.

Empat benda itu adalah mesin odner/kashregester atau mesin hitung manual yang mirip sempoa buatan akhir abad ke-19, alat penghangat ruangan berbahan bakar spirtus buatan Inggris abad ke-18, gramofon lawas, serta kamera foto produksi 1938.

Siswi kelas II SMKN 2 Karawang itu bergegas mengeluarkan buku tulis. Dicatatnya informasi yang tertera di benda-benda koleksi Museum Sri Baduga Bandung tersebut. “Saya belum pernah tahu sebelumnya. Dibandingkan dengan benda lain, ini lebih menarik perhatian saya. Unik dan canggih untuk ukuran zaman dulu,” katanya.

Dudung tak kalah antusias. Datang bersama teman-temannya dari SMPN 3 Karawang Barat dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer, Dudung menuju ruang pamer Museum Geologi Bandung.

Penuh rasa penasaran, dipegangnya batu-batu vulkanik dan diamatinya fosil-fosil purba yang dipamerkan pada Pameran Keliling Museum 2010 tersebut. Acara digelar di Aula Husni Hamid Kompleks Pemerintah Kabupaten Karawang selama empat hari sejak Senin (1/11).

Puas dengan fosil dan bebatuan vulkanik, Dudung menghampiri papan-papan informasi dan membacanya. Dengan muka serius, dia baca informasi dan grafik tentang proses terbentuknya kepulauan Indonesia, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, juga gunung api. “Baru sekali ini saya melihat koleksi museum,” katanya.


Dekat

Siang itu, ratusan pelajar, guru, dan beberapa warga masyarakat hadir menyaksikan pameran. Seperti Dudung dan Euis, sejumlah pengunjung mengapresiasi positif acara tersebut. Mereka berharap pameran digelar lebih sering.

Pameran keliling itu rutin digelar Museum Sri Baduga dalam beberapa tahun terakhir. Di Karawang, kegiatan itu diikuti Museum Geologi, Museum Palagan Perjuangan 1945 Bojong Kokosan Sukabumi, Museum Basoeki Abdullah, Museum Perdjoeangan Bogor, Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Pos Indonesia, Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang, serta Site Museum Tambaksari Ciamis.

Bupati Karawang Dadang S Muchtar berharap pameran dapat menjadi jendela informasi budaya dan sejarah. Dadang menilai positif upaya mendekatkan museum kepada masyarakat tersebut. Dia bahkan meminta sekolah dan dinas pendidikan memberikan kesempatan kepada siswanya untuk menyaksikan pameran.

Kepala Museum Pos Indonesia Rahmat menambahkan, kegiatan dalam rangkaian Gerakan Nasional Cinta Museum itu mampu meningkatkan angka kunjungan. Di Museum Pos Indonesia, misalnya, jumlah pengunjung tahun ini meningkat sekitar 10 persen menjadi 33.000 orang, antara lain karena promosi lewat pameran. (Mukhamad Kurniawan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: