Oleh: museumku | 29 Oktober 2012

Museum Ledalero: Sumber Inspirasi Ilmuwan yang Jarang Diminati

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Museum Ledalero

KOMPAS, Kamis, 25 Oktober 2012 – Saing gun saing nulung, saing bikon, saing blewut. Saing wato wuan nurak, saing tanah puhung kleruk, deot reta wula wutun. Kela bekong niang tanah lero wulan.

Syair tua ini dituturkan dalam bahasa Sikka, Flores, yang artinya sejak zaman purbakala, ketika batu seperti buah muda dan bumi seperti kembang yang baru mekar, Tuhan di angkasa menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya.

Kalimat ini menjadi falsafah dasar pengumpulan benda-benda zaman purbakala untuk Museum Bikon Blewut di Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, Flores. Di museum berukuran 15 meter x 20 meter ini terkumpul benda-benda tua kategori biologi, zoologi, sejarah, filologi, biografi, etnografi, musikologi, etnomusikologi, numismatika (mata uang), keramba, dan kepustakaan berupa legenda-legenda tua.

Staf Museum Bikon Blewut milik Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, Flores, Endy Padji, di Maumere, akhir Agustus 2012, mengatakan, benda-benda yang terkumpul, selain dari daratan Flores juga Sumba, Timor, Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai dari luar negeri.

Benda-benda yang terkumpul di museum itu paling lama berusia 18.000 tahun, yakni gading dan rahang gajah purba. Benda purba sebagai inspirator, yang mengingatkan manusia yang hidup pada zaman ini akan sebuah kearifan, kebesaran, dan keagungan pada masa lalu. Kebesaran masa lalu memiliki keunggulan nilai luar biasa yang tidak dimiliki manusia zaman ini.

Sejarah masa lalu yang terungkap dalam benda-benda tua seakan diungkapkan kembali dalam kehidupan nyata. Suatu suku bangsa pernah dan mungkin masih memiliki kekayaan sumber daya alam.

”Sebagian suku di NTT sampai hari ini masih memiliki mas kawin batang gading gajah seperti warga Kabupaten Flores Timur, Lembata, Alor, dan Sikka. Seorang anak gadis yang dipinang harus menyertakan batang gading gajah antara 1-5 batang, tergantung status sosial kedua pihak,” kata Padji.

Gading-gading gajah yang beredar itu sebagian sudah sangat tua dan lapuk, berusia ribuan tahun. Konon sebelum terjadi pergeseran lempeng Australia dengan lempeng Asia, daratan itu masih satu.

Gajah-gajah dari Sumatera dan Jawa dengan leluasa masuk sampai daratan Sumba, Flores, dan Timor. Ini terbukti dengan penemuan sejumlah rahang dan gading gajah yang tersebar di hutan-hutan sampai tahun 1500-an.

Di Museum Bikon Blewut atau Museum Ledalero, gigi geraham gajah purba berusia 18.000 tahun masih tersimpan. Di rumah-rumah penduduk, khususnya rumah adat Suku Lamaholot (Flores Timur, Lembata, dan Alor) dan Sikka, masih tersimpan gading gajah berusia ratusan sampai ribuan tahun. Gading ini diakui sebagai warisan leluhur, benda keramat yang tak boleh diperjualbelikan.

Manusia kerdil Flores di Liangbua, Manggarai, Flores, ternyata tulang tengkorak mereka yang sudah tersimpan di museum itu sebelum ditemukan dan diumumkan para ilmuwan pada 2004-2005. Namun, pihak pengelola museum tidak menyebutkan, tulang tengkorak itu adalah asal-usul manusia Flores, hanya manusia zaman dulu.


Sejak 1927

Ia menuturkan, benda-benda tua itu diperoleh dari masyarakat dan hasil temuan para antropolog dan sosiolog dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores. Pengumpulan dilakukan sejak 1927. Prioritas, benda-benda berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Sebagian diminta begitu saja, tetapi sebagian lagi harus dibeli karena termasuk benda keramat atau milik suku.

Pengelola museum bekerja sama dengan para pastor yang bertugas di desa-desa, mengumpulkan benda-benda purba yang bereda di masyarakat. Umumnya, benda-benda ini tersimpan di rumah adat atau diakui sebagai benda keramat, warisan leluhur.

Para pastor yang berminat di bidang antropologi-budaya—berkebangsaan Eropa dan Indonesia yang juga dosen di Seminari Ledalero—terus mengoleksi benda-benda purba di Flores, Timor, Sumba, Alor, dan kawasan Asia lain. Para misionaris dari luar negeri pun membawa sejumlah benda tua masuk ke museum ini.

Namun, museum ”terlengkap” dan dikelola secara lebih teratur di NTT ini tidak banyak dimanfaatkan sebagai pusat studi kaum akademisi dan masyarakat kecuali mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero untuk penulisan skripsi, tesis, dan tugas-tugas lain. Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero memanfaatkan museum tersebut sebagai referensi dan pendukung mata kuliah antropologi, sosiologi, dan misiologi.

Jumlah kunjungan ke museum rata-rata 1.000 orang per tahun. Rata-rata satu bulan sekitar 83 pengunjung atau satu hari 2-3 pengunjung. Karcis masuk Rp 5.000 per orang untuk peneliti, warga asing Rp 10.000 per orang, warga sekitar Rp 2.000 per orang, dan anak sekolah Rp 1.000 per anak.

Museum ini didirikan tahun 1926 di Seminari Menengah Todabelu, Mataloko, Kabupaten Ngada, oleh Pastor Verhoeven SVD. Tahun 1937, bersamaan dengan pendirian Seminari Tinggi Ledalero, museum pun pindah ke Seminari Ledalero.

Selain gading, juga ada keramik China, gelang tembaga dari China dan Jawa, patung-patung kuno berbentuk manusia dari tanah liat, batu-batuan, dan lainnya.

Museum ini berkembang secara pesat saat dikelola Pastor Piet Sareng Orinbao SVD (alm), putra asli Sikka, Maumere, juga seorang antropolog. Pada masanya, koleksi di museum ini berlimpah mencapai ribuan benda dari hampir semua kategori, dilengkapi dengan caption asal-usul benda itu. (KORNELIS KEWA AMA)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori