Oleh: museumku | 7 November 2011

Belajar Sejarah di Inggil Museum Resto

MI/BAGUS SURYO

mediaindonesia.com, Jumat, 28 Oktober 2011 – HUJAN baru saja mereda setelah sekitar satu jam mengguyur Kota Malang, Jawa Timur, kemarin. Terik panas matahari sontak berganti dengan udara sejuk nan segar.

Sore itu sejumlah wisatawan berjalan kaki dari arah Balai Kota Malang dan melangkah pasti memasuki pelataran Inggil Museum Resto yang letaknya tak jauh dari situ. Tepatnya di Jalan Gajah Mada 4 Malang.

Restoran unik yang menggabungkan konsep rumah makan dan museum tersebut selama ini memang menjadi jujugan wisatawan domestik dan mancanegara. Pada masa pemerintahan Belanda sekitar 1928-1935 bangunan itu menjadi rumah pejabat tinggi dan menjadi bagian perumahan pertama di Kota Malang.

Keunikan ini ditunjang dengan lokasinya yang sangat strategis di pusat kota, hanya berjarak sekitar 100 meter dari Alun-Alun Tugu dan berada satu kompleks dengan gedung-gedung bernilai sejarah lainnya. Bahkan hanya berjarak sekitar 300 meter dengan Stasiun Kota Baru Kota Malang yang juga merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Hebatnya, arsitektur bangunan lama gedung resto dan museum ini masih dipertahankan keasliannya dan belum dipugar sama sekali.

“Bangunan tetap dibiarkan asli. Bahkan lantainya juga masih sama seperti yang dulu,” ungkap Direktur Inggil Museum Resto dan Inggil Kreatif Souvenir Dwi Cahyono kepada Media Indonesia, kemarin.

Ia menjelaskan Inggil tidak saja restoran yang menjual makanan, minuman, dan suvenir, tetapi ada nilai tambah dengan menggabungkan konsep museum yang dikemas dengan cara tidak membosankan. Belajar, bernostalgia, dan bangga dengan perjuangan para pahlawan, sekaligus mengingat budaya tinggi para leluhur bangsa.

Berdirinya restoran ini berlatar belakang dari keprihatinan lulusan D-3 Economic Programs ICCT Sydney Australia itu terhadap banyaknya bukti sejarah kebesaran bangsa, tetapi tidak dipahami secara tepat.

“Kebanggaan terhadap sejarah bangsa itu menjadi pagar, kepribadian, dan jati diri. Inggil berupaya ke arah itu. Inggil itu artinya tinggi. Saya ingin menunjukkan bahwa berdirinya suatu bangsa memiliki sejarah titik awal,” ujarnya.


Tempo dulu

Interior resto ini memang cukup menarik. Di ruang teras dan ruang tengah tertempel foto-foto bangunan tempo dulu Kota Malang sekitar tahun 1900. Pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai foto dan dokumen peristiwa penting yakni peristiwa Malang Bumi Hangus dan Kongres KNIP yang digelar di Gedung Concordia yang kini menjadi pertokoan Sarinah.

Juga ada foto peristiwa peresmian tugu di alun-alun bunder oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953. Ada pula dokumen sejarah Kabupaten Malang sehingga pengunjung bisa menikmati sejarah pers dan fotografi.

Masuk ke ruang belakang lebih unik lagi. Pada depan pintu, pengunjung disambut dengan puluhan Topeng Malangan. Setelah itu, di sisi kiri terpampang foto-foto dan lukisan tempo dulu, wayang, keramik, dan numismatik. Berbagai prangko zaman kolonial pun bisa dilihat di sini.

Kebesaran budaya peninggalan Kerajaan Majapahit, Demak, dan Mataram Islam dihadirkan secara lengkap.

Ruang belakang restoran ini dilengkapi dengan panggung pertunjukan tobong 1930-1940. Gambar-gambar poster berbagai merek rokok lawas sejak zaman kolonial memenuhi dinding. Juga barang kuno seperti radio, tape, mesin ketik, dan perkakas rumah tangga juga menjadi daya tarik.

Total ada sekitar 4.500 foto tempo doeloe dipertunjukkan dan sekitar 1.500 buah artefak dihadirkan.

“Sejarah industri tentang batik, rokok, dan kecap. Life style ada ratusan jenis peninggalan zaman kolonial, misalnya alat keriting rambut, radio, mesin ketik,”.

Tidak mengherankan bila 60% pengunjung resto ini merupakan wisatawan asing dari total jumlah kunjungan per bulan sekitar 300 orang. Wisatawan asing kebanyakan dari Belanda, Malaysia, Prancis, dan Amerika.

Pengunjung asal Lawang, Malang, Wuwuk Dwi Harminarti, mengaku menjadikan Inggil Museum Resto menjadi restoran favorit.

“Restoran ini unik, menarik, nyaman, dan sekaligus menjadi tempat belajar. Berwisata di tempat ini lengkap, bisa melihat Kota Malang tempo doeloe secara keseluruhan lengkap dengan penjelasan sejarahnya,” kata dia. Bagaimana dengan Anda, tertarik? (S-2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori