Oleh: museumku | 18 Maret 2016

Kajian Pengunjung Museum: Upaya Menarik Pengunjung Potensial ke Museum

MKN-01Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdurahman Saleh 26, Jakarta Pusat

Pendahuluan

Kajian mengenai pengunjung museum (visitor studies) merupakan hal yang sering kali didengungkan namun masih jarang dilaksanakan oleh museum-museum di Indonesia. Kajian pengunjung sering kali dipersempit maknanya hanya sebatas studi atau kegiatan evaluasi yang berhubungan dengan pengunjung museum, yaitu orang-orang yang datang ke museum. Padahal, kajian pengunjung museum mencakup berbagai hal terkait evaluasi dan penelitian yang melibatkan tidak hanya pengunjung, tetapi audiens museum. Hooper-Greenhil (2008: 363) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan audiens museum bukan hanya mereka yang telah datang berkunjung ke museum, tetapi juga mereka yang belum menjadi pengunjung museum atau belum pernah mengunjungi museum (potential visitors) dan pengunjung virtual (virtual visitor).

Kajian pengunjung memiliki beberapa istilah lain yang mengacu pada kegiatan yang sama, antara lain riset pengunjung (visitor research), studi pengunjung, survei pengunjung, dan sebagainya. Graham Black (2005: 9) menyatakan bahwa analisis terhadap pengunjung potensial ke museum biasanya diberi definisi sebagai “market research”, walaupun batasan ini tidak menegaskan sepenuhnya partisipan yang diteliti. Lebih lanjut, Black menyatakan bahwa aktivitas ini mencerminkan sebagian pekerjaan yang dilakukan oleh museum karena mereka mencoba mengembangkan suatu pemahaman yang penuh dari pengunjung, termasuk motivasi mereka, kebutuhan terhadap museum, harapan, cara mengeksplorasi, layanan staf museum, dan apa yang diperoleh oleh pengunjung dari pengalamannya ke museum (Black, 2005: 9).

Pergeseran paradigma museum yang mengalihkan orientasinya kepada masyarakat menimbulkan konsekuensi bahwa peran riset yang menjadi salah satu kunci aktualisasi museum harus dimaksimalkan. Riset ini tidak terbatas hanya pada koleksi museum untuk meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat, tetapi juga untuk mengkaji pengunjung dan calon pengunjung museum itu sendiri. Namun, riset atau kajian pengunjung yang ada saat ini lebih banyak dilakukan bukan oleh museum, tetapi dari kalangan mahasiswa atau akademisi yang mempelajari ilmu psikolosi, sosiologi, pemasaran, komunikasi dan desain, untuk mencari tahu perilaku pengunjung ketika datang ke museum, atau menguji efektivitas pameran di museum. Sebagian besar riset tersebut juga masih dilakukan terbatas kepada pengunjung museum, artinya hanya kepada orang-orang yang datang ke museum dan belum kepada mereka yang masih menjadi “calon” pengunjung museum.

Tulisan ini akan membahas lebih lanjut mengenai kajian pengunjung museum untuk menarik masyarakat yang berpotensi menjadi pengunjung museum, dengan studi kasus kajian pengunjung yang telah dilakukan di Museum Kebangkitan Nasional.


Kajian Pengunjung Museum

Di era moderen ini, museum menyadari bahwa sangat penting untuk mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terhadap museum. Hal ini karena suatu kesadaran bahwa museum memiliki peranan di tengah-tengah masyarakat, yaitu untuk memenuhi kebutuhan mereka dari segi pengetahuan, rekreasi, refleksi identitas diri, pewarisan budaya, dan seterusnya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi museum perlu untuk mengetahui persepsi, apresiasi, kebutuhan dan yang paling penting adalah apakah pesan yang ingin disampaikan oleh museum lewat pameran dan program-program publiknya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pentingnya museum mengkaji pengunjungnya diawali dengan sebuah pertanyaan, “Apakah arti dari keseluruhan jumlah pengunjung?”. Pertanyaan ini kemudian menurunkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yaitu, siapakah para pengunjung museum tersebut, darimana mereka berasal, apa yang mereka inginkan dari museum, dan seperti apa pengalaman yang mereka dapatkan di museum.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang bersifat kualitatif, membutuhkan penjelasan secara mendalam, dan tidak hanya sebatas jawaban di permukaan. Kajian pengunjung muncul untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahkan sebagai efek berantai, hasil dari kajian pengunjung dapat menggiring museum untuk mempertanyakan kembali apakah mereka menginginkan pengunjung dalam jumlah yang lebih besar untuk datang ke museum? apakah museum menginginkan pengunjung yang datang lebih beragam? atau apakah museum lebih menginginkan pengunjung yang datang bisa mendapatkan pengalaman yang paling baik ketika mereka datang ke museum?

Menurut Committee of Audience Research and Evaluation in the American Association of Museum, kajian pengunjung (visitor studies) adalah sebuah proses menghimpun pengetahuan secara sistematis dari dan tentang pengunjung museum, yang aktual dan potensial, dengan tujuan untuk memanfaatkan dan meningkatkan pengetahuan mengenai perencanaan dan pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan publik (CARE, 2012, dalam Falk, 2012: 1). Dengan demikian, batasan mengenai pengunjung museum itu sendiri tidak hanya merujuk pada orang-orang yang datang ke museum dengan berbagai kepentingan, tetapi juga mereka yang belum menjadi pengunjung museum.

Kajian pengunjung museum memiliki beberapa cakupan, antara lain:

1. Audience research and development

Pada kajian ini, fokus museum adalah untuk mencari tahu alasan mengapa orang datang berkunjung atau tidak datang berkunjung ke museum, hal-hal apa yang menarik dari suatu kunjungan, bagaimana menciptakan audiens baru dan memahami persepsi publik tentang museum.

2. Exhibit design and development

Kajian terhadap pengunjung terkait dengan desain pameran di museum difokuskan mulai dari perancangan/persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi akhir dari pameran tersebut. Kajian ini adalah upaya untuk mencari tahu efektivitas dari sebuah pameran di museum.

3. Program design and development

Seperti halnya kajian pengunjung yang dilakukan pada exhibit design, kajian pengunjung yang dilakukan pada program design and development ini berupaya untuk mencari tahu apakah sebuah program yang digagas oleh museum tepat sasaran bagi pengunjung atau calon pengunjung museum.

4. General facility design

Kajian pengunjung pada general facility design berfokus pada upaya memenuhi kebutuhan pengunjung terhadap fasilitas umum yang terdapat di museum.

5. Visitor services

Visitor services berkaitan dengan upaya museum untuk mengetahui apakah layanan yang diberikan oleh museum (tangible dan intangible) telah memenuhi kebutuhan pengunjung terhadap museum tersebut.

Dengan melakukan kajian pengunjung, museum pada akhirnya dapat mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

  • Kebutuhan masyarakat terhadap museum
  • Menilai efektivitas pameran dan program yang dikemas oleh museum
  • Perancangan program-program museum
  • Menentukan kembali visi museum


Mengenali Pengunjung Museum

Pengunjung museum memiliki keragaman yang dapat diamati dari segi demografis, geografis, psikografis, dan perilaku. Oleh sebab itu, untuk mengamati siapa yang menjadi pengunjung museum, diperlukan adanya pembagian pengunjung atau lazim disebut dengan segmentasi pengunjung. Segmentasi yang paling umum digunakan oleh berbagai museum adalah segmentasi demografis, yang membagi pengunjung ke dalam kategori dasar seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan lain sebagainya.

Keragaman pengunjung museum juga dapat diamati dan dikelompokkan dalam berbagai kategori. Seperti kategori pengunjung yang dibuat oleh Direktorat Museum dalam Pedoman Museum Indonesia (2010), yang mengelompokkan pengunjung museum berdasarkan intensitas dan tujuan kunjungannya. Berdasarkan intensitasnya, pengunjung dibagi menjadi:

  1. Kelompok yang secara rutin berhubungan dengan museum, seperti kolektor, seniman, desainer, ilmuwan, mahasiswa dan pelajar.
  2. Kelompok orang yang baru mengunjungi museum.

Sementara dari tujuan kunjungan, pengunjung museum dibedakan menjadi:

  1. Pengunjung pelaku studi
  2. Pengunjung tujuan tertentu
  3. Pengunjung pelaku rekreasi (Direktorat Museum, 2010: 22 – 23)

Berbeda dengan kategori yang dibuat oleh Direktorat Permuseuman, Graham Black (2005: 11) membagi pengunjung museum dalam kategori sebagai berikut:

  1. Demografi: sebagai contoh adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas sosial/pekerjaan.
  2. Geografi: lokal, turis nasional atau internasional
  3. Sosio-ekonomi: (A) manajer tingkat atas, administrator atau professional. (B) manajer tingkat menengah, administrator atau profesional. (C1) pengawas, tata usaha atau manajerial. (C2) pekerja manual terlatih. (D) pekerja manual semi dan tidak terlatih. (E) pensiunan, tidak bekerja, pekerja kelas bawah.
  4. Struktur pendidikan: pendidikan primer/dasar (sampai usia 11 atau 12), pendidikan menengah/atas (usia 11 sampai 16 atau 18), perguruan tinggi/universitas.
  5. Minat khusus: spesialis subjek tertentu, pembelajar mandiri, komunitas misalnya komunitas sejarah lokal.
  6. Psikografi: gaya hidup, opini, perilaku.

Kategori pengunjung yang berbeda dibuat oleh Hooper-Greenhil (1994: 100 – 112), yang membagi kategori pengunjung berdasarkan kebutuhan dasarnya, yaitu:
a. Pengunjung keluarga (orang tua yang membawa anaknya ke museum)
b. Pengunjung dari kelompok pendidikan (siswa sekolah, mahasiswa, guru)
c. Pengunjung dengan kebutuhan khusus (pengunjung difabel)
Kategori-kategori yang telah disebutkan sebelumnya hanya sebagain kecil dari berbagai kategori pengunjung yang dibuat oleh para ahli permuseuman. Secara tersirat, kategori pengunjung tersebut memberikan arahan bahwa ada kelompok-kelompok masyarakat yang belum tersentuh oleh museum. Kelompok-kelompok masyarakat inilah yang kemudian disebut dengan pengunjung potensial, yaitu mereka yang belum menjadi pengunjung museum dan berpotensi untuk menjadi pengunjung museum.

Pengunjung potensial dapat diketahui dengan melakukan kajian pengunjung di beberapa tempat, seperti wilayah sekitar museum, museum-museum lain dan dengan mengamati pengunjung virtual yang mengakses website museum. paling tidak, dalam kategori ini pengunjung potensial dapat dibedakan menjadi:
a. “Tetangga museum”
Siapa tetangga terdekat museum? apa yg mereka pikirkan tentang museum anda? bagaimana melibatkan mereka pada museum anda?
Kajian pengunjung dengan menelisik “tetangga terdekat” bertujuan untuk mengetahui dan menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat sekitar terhadap museum. Jika rasa kepemilikan itu dimiliki oleh masyarakat maka mereka dapat menjadi duta museum yang terpercaya sehingga membantu perkembangan sosial museum ke depannya.
b. Pengunjung museum lain
Apakah mereka mengetahui tentang keberadaan museum anda? mengapa mereka tidak/belum mengunjungi museum anda? apakah mereka ingin mencari tahu mengenai museum anda?
Tujuan dari kajian pengunjung yang dilakukan di museum-museum lain adalah untuk memberikan gambaran mengenai masyarakat yang berpotensi untuk menjadi pengunjung museum anda, alasan mengapa mereka belum mengunjungi museum anda, dan efektifitas penyampaian informasi museum kepada masyarakat luas.
c. Pengunjung virtual
Berasal darimanakah mereka? mengapa mereka tidak/belum mengunjungi museum anda? apakah mereka tertarik untuk datang ke museum anda?
Kajian pengunjung yang dilakukan terhadap pengunjung museum secara virtual bertujuan untuk memberikan gambaran cakupan wilayah penyampaian informasi museum kepada masyarakat luas, serta untuk mengetahui sekaligus meningkatkan instrumen yang digunakan oleh museum dalam bentuk museum virtual.


Kajian Pengunjung untuk Menarik Pengunjung Potensial

Setelah mengetahui bahwa terdapat pengunjung potensial yang belum tersentuh oleh museum, maka langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh museum adalah merancang sebuah kajian pengunjung yang berfokus untuk menggapai dan menarik pengunjung potensial ini agar datang ke museum. Tentunya tidak hanya sekadar datang, museum juga harus memiliki perencanaan untuk melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang digagas oleh museum, atau bahkan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkegiatan di museum.

Kajian pengunjung dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu, kualitatif dan kuantitatif. Bahkan, menurut Hooper-Greenhill, penelitian terhadap pengunjung museum (visitor studies) memerlukan pendekatan kualitatif sekaligus kuantitatif, karena pentingnya alat pengumpulan informasi yang diperlukan dalam dua pendekatan tersebut (Hooper-Greenhill, 1996: 68). Penelitian kualitatif sendiri adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2005: 6).

Sementara penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui (Kasiram, 2008: 149). Penelitian kuantitatif bertujuan memperoleh pemahaman umum dan dari pemahaman umum atau generalisasi ini dapat dibuat perkiraan atau prediksi, dan penelitian kualitatif cenderung menghasilkan sebuah pemahaman yang terikat pada konteks.

Perangkat yang digunakan untuk melakukan kajian pengunjung ini bermacam-macam, tergantung pada permasalahan dan tujuan dari dilakukannya kajian tersebut. Menurut Bagong Suyanto dan Karnaji dalam Nasution (2011: 77 – 78), ada dua jenis instrumen penelitian yang dikenal, yaitu kuesioner dan pedoman wawancara. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan terstruktur dengan alternatif jawaban yang telah tersedia sehingga responden tinggal memilih jawaban sesuai dengan aspirasi, persepsi, sikap, keadaan atau pendapat pribadinya. Sementara pedoman wawancara umumnya berisi daftar pertanyaan yang sifatnya terbuka atau jawaban bebas agar diperoleh jawaban yang lebih luas serta mendalam.

Dalam penelitian kuantitatif yang biasa digunakan adalah perangkat atau instrumen penelitian dengan menggunakan kuesioner, sehingga hasilnya dapat diukur dan dihitung. Pengunjung atau calon pengunjung museum yang menjawab pertanyaan penelitian disebut dengan responden dan jawabannya disebut dengan respon. Sedangkan dalam pendekatan kualitatif, perangkat yang digunakan adalah daftar pertanyaan wawancara yang mendalam (in-depth) untuk mendapatkan jawaban yang luas dan mendalam. Orang yang menjawab pertanyaan disebut dengan informan, dan hasil jawabannya disebut informasi (Marzuki, 2002: 55 dalam Nasution, 2011: 83).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa dalam kajian pengunjung sering kali dua pendekatan ini digunakan secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang saling mendukung. Oleh sebab itu, perangkat kajian dilengkapi pula dengan hasil data yang diperoleh dari kegiatan observasi terhadap perilaku pengunjung.


Kajian Pengunjung Museum di Museum Kebangkitan Nasional

Belum banyak museum-museum di Indonesia yang melakukan kajian terhadap pengunjung museumnya, terlebih lagi terhadap pengunjung potensial. Salah satu museum yang telah melakukan kajian pengunjung dan pengunjung potensial adalah Museum Kebangkitan Nasional. Kegiatan kajian tersebut dilakukan pada tahun 2014 dengan dengan judul kajian “Hubungan Museum Kebangkitan Nasional dengan Masyarakat”. Kajian ini bertujuan agar Museum Kebangkitan Nasional dapat mengenali dan memahami kebutuhan pengunjung museum dan masyarakat yang menjadi audiensnya. Lebih lanjut, kajian ini bertujuan agar perancangan program aktivitas museum kedepannya lebih tepat guna dan tepat sasaran. Pada kajian ini, yang menjadi sasaran adalah pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar museum dan pengunjung museum-museum lain.

Dengan menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, instrumen penelitian dalam bentuk kuesioner diberikan kepada pengunjung Museum Kebangkitan Nasional untuk mendapatkan gambaran demografi pengunjung museum dan mengetahui persepsi, kebutuhan pengunjung dari segi fasilitas dan efektivitas penyampaian informasi yang diberikan oleh Museum Kebangkitan Nasional. Dengan menggunakan perangkat yang sama namun dengan pertanyaan yang berbeda, kuesioner juga diberikan kepada pengunjung museum lain, yaitu pengunjung Museum Nasional, Museum Monumen Nasional, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Bank Indonesia. Kajian terhadap pengunjung di museum-museum tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran apakah mereka mengetahui keberadaan Museum Kebangkitan Nasional serta alasan mengapa belum mengunjungi museum tersebut.

Kemudian, dengan perangkat yang berbeda dilakukan kajian terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar Museum Kebangkitan Nasional. Melalui observasi, wawancara dan focus group discussion berhasil didapatkan informasi mengenai visibilitas Museum Kebangkitan Nasional dan pandangan serta harapan mereka terhadap Museum Kebangkitan Nasional.

Dian-01

Foto 1. Kegiatan Survei di Museum Kebangkitan Nasional
(Dok. Museum Kebangkitan Nasional, 2014)

Dian-02

Foto 1. Kegiatan Survei di Museum Nasional dan Museum Monumen Nasional
(Dok. Museum Kebangkitan Nasional, 2014)

Dian-03

Foto 1. Kegiatan Wawancara Masyarakat di Sekitar Museum Kebangkitan Nasional
(Dok. Museum Kebangkitan Nasional, 2014)

Hasil kajian terhadap calon pengunjung atau pengunjung potensial yang menarik di sini adalah beberapa jawaban pengunjung terkait visibilitas dari Museum Kebangkitan Nasional (MKN). Walaupun sebagian besar responden (62%) pernah mendengar tentang MKN (lihat diagram 1), namun tidak semuanya pernah mengunjungi MKN, karena hanya 76% yang pernah mengunjungi MKN (lihat diagram 2). Sebagian besar dari yang sudah pernah mengunjungi berpendapat bahwa bangunan MKN lebih menarik daripada koleksinya (lihat diagram 3), dan sebagian besar dari mereka tidak begitu terkesan dengan fasilitas dan staf museum (lihat diagram 4). Mereka yang pernah berkunjung ke MKN ini juga mengutarakan saran perbaikan untuk MKN yang sebagian besar pada aspek fasilitas (50%), Tata pamer (40%) dan Koleksi (10%). Kemudian hal yang harus dipertahankan adalah bangunan (67% dan koleksi (33%) (Museum Kebangkitan Nasional, 2014).

Dian-04

Dian-05

Dian-06

Hasil kajian terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar Museum Kebangkitan Nasional juga memperlihatkan hasil bahwa tidak semua orang yang bertempat tinggal atau bekerja di kawasan yang sama dengan MKN mengetahui tentang keberadaan MKN. Responden yang berdomisili tetap memiliki beberapa program kemasyarakatan yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan dan pendidikan. Mayoritas responden secara umum tidak tertarik mengunjungi museum karena museum dinilai membosankan. Sejak di tahun 2013 penduduk setempat merasakan keterbukaan MKN yang sebelumnya MKN selalu tertutup.

Museum Kebangkitan Nasional merupakan salah satu museum yang menyadari pentingnya peranan museum di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat sekitar yang berdomisili sebagai penduduk tetap merasakan kehadiran museum di lingkungan tempat tinggal mereka. Aksi nyata yang dilakukan oleh Museum Kebangkitan Nasional adalah dengan mengoperasikan poliklinik di salah satu ruang di museum untuk memfasilitasi masyarakat sekitar yang ingin memeriksakan diri. Poliklinik ini didirikan bekerja sama dengan pemda setempat dan mulai beroperasi di tahun 2013 hingga kini, tanpa menarik biaya dari pasien. Selain itu, pada saat terjadi kebakaran di kawasan tersebut yang menimpa rt 3, 4 dan 10 rw 5, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Museum Kebangkitan Nasional memberikan salah satu ruang di museum sebagai tempat tinggal sementara bagi warga yang terkena musibah. Museum pun aktif melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di museum, misalnya setiap peringatan hari-hari besar nasional, warga turut diundang baik untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, Museum Kebangkitan Nasional juga melakukan kerja sama dengan Yayasan Belantara Budaya Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mendirikan PAUD dan Sekolah Tari Tradisional dan Musik. Program PAUD ditujukan bagi anak-anak usia dini yang tidak mampu dan bertempat tinggal di sekitar museum sejak 2014 hingga sekarang. Sekolah Tari Tradisional dan Musik juga mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari masyarakat. Tidak hanya diikuti oleh anak-anak, latihan tari dan musik di museum ini diikuti oleh berbagai tingkat usia dengan jumlah peserta hingga ratusan orang.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Museum Kebangkitan Nasional telah mematahkan stigma bahwa museum adalah tempat yang eksklusif, membosankan dan kurang memiliki manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan museum. Keterbukaan Museum Kebangkitan Nasional terhadap masyarakat sekitar telah membuka peluang museum untuk menarik pengunjung potensial yang sebelumnya belum pernah mengunjungi museum.

Dengan melakukan kajian pengunjung terhadap pengunjung museum-museum lain dan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar museum semakin membuka akses museum untuk memperbaiki visibilitas agar dapat menarik pengunjung untuk datang ke museum.

Dengan melakukan kajian pengunjung, baik terhadap pengunjung tetap maupun pengunjung potensial, Museum Kebangkitan Nasional memiliki beberapa perencanaan kedepan yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Membuat jaringan komunikasi dengan masyarakat, komunitas dan museum lain,
b. Membuat jaringan komunikasi dan kerja sama dengan institusi non museum yang berada di sekitar lokasi MKN untuk menarik pengunjung baru,
c. Menyusun perangkat pemasaran (marketing tools) untuk memberikan penerangan terhadap akses publik yang ingin berkunjung (rambu arah, papan nama yang atraktif, brosur, website dan lain-lain),
d. Mengadakan evaluasi dalam aspek pelayanan publik onsite dan melakukan peningkatan dalam SOP dan infrastruktur,
e. Mengemas tema-tema baru yang diminati oleh masyarakat dalam bentuk program publik.


Penutup

Kajian pengunjung museum (visitor studies) yang mulai berkembang sejak pertengahan tahun 1960 ternyata masih belum mendapatkan tempat khusus di museum-museum yang ada di Indonesia. Kajian terhadap pengunjung museum yang dilakukan sebagian besar berasal dari kalangan akademisi yang meneliti mengenai persepsi, motivasi dan efektivitas layanan museum terhadap pengunjung. Padahal, pergeseran orientasi museum dari koleksi kepada masyarakat memerlukan adanya studi yang mendalam mengenai masyarakat yang menjadi pengunjung museum tersebut.

Berbagai hal dapat diketahui dengan melakukan kajian terhadap pengunjung museum, mulai dari efektivitas penyampaian informasi hingga terkait fasilitas dan layanan yang disediakan oleh museum untuk pengunjung. Melalui kajian pengunjung ini museum juga dapat mengetahui bahwa ada masyarakat yang berpotensi untuk menjadi pengunjung potensial, yaitu mereka yang belum pernah mengunjungi museum.

Paling tidak, pengunjung potensial ini dapat ditemukan antara lain di lingkungan sekitar museum itu berada, di museum-museum lain yang menjadi kompetitor museum itu sendiri, dan pengunjung virtual. Namun, pengunjung virtual cenderung sulit ditemukan di Indonesia karena belum ada museum yang menggunakan teknologi virtual untuk mengemas eksibisinya. Sehingga dalam hal ini, masyarakat yang berada di kawasan sekitar museum dan pengunjung museum lain merupakan para pengunjung potensial yang dapat dikaji lebih dalam melalui kajian museum.

Satu hal yang terpenting bagi museum untuk melakukan kajian pengunjung adalah untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terhadap museum, termasuk kebutuhan mereka yang belum menjadi pengunjung museum. Dengan demikian, upaya museum untuk menarik pengunjung potensial ke dalam museum akan lebih maksimal, karena museum telah menyesuaikan kebutuhan para pengunjung tersebut.


Daftar Pustaka

Bitgood, Stephen dan Shettel, Harris. H. 1996. “An Overview of Visitor Studies”, dalam The Journal of Museum Education. Vol.21 No.3. Maney Publishing. Hlm. 6 – 10.

Black, Graham. 2008. The Engaging Museum: Developing Museums for Visitor Involvement. Routledge.

d’Harnoncourt, Anne. 1991. “Museum and the Public”, dalam National Bureau of Economic Research. Martin Feldstein (ed.). University of Chicago Press. Hlm. 35 – 60.

Direktorat Museum. 2010. Pedoman Museum Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Falk, John. 2012. “Visitor Studies”, dalam Encyclopedia of Science and Education. Springer: Netherlands.

Hooper-Greenhill, Eileen. 1994. The Educational Role of the Museum. 2nd edition. London: Routledge.

1994 The Educational Role of the Museum. 2nd edition. London : Routledge.

Hooper-Greenhill, Eileen. 2006. “Museum Studies: An Introduction, dalam A Companion to Museum Studies. Sharon MacDonald (ed.). P. 362 – 376. Blacwell Publishing Ltd: USA, UK and Australia.

Moh. Kasiram. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Malang: UIN-Maliki Press.

Moleong, Lexy. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.

Museum Kebangkitan Nasional. 2014. Laporan Studi Hubungan Museum Kebangkitan Nasional dengan Masyarakat. Jakarta.

Nasution, Isman Pratama. 2011. “Teori Penyusunan Instrumen Penelitian Pengunjung”, dalam Museografi Vol. V No. 8. Direktorat Permuseuman Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hlm. 73 – 90.

*Makalah disampaikan pada acara Diskusi “Kajian Pengunjung Museum”, yang diselenggarakan oleh Museum Kebangkitan Nasional, 29 Februari 2016.

Penulis: Dian Sulistyowati
Staf pengajar Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: